
Seminggu sudah berlalu, hubungan Aldo dan Bianca seperti biasanya saja, di mana Bianca yang berusaha untuk menunjukkan pada Aldo bagaimana cara mendapatkan hati seorang perempuan. Sementara Aldo selalu dibuat bingung dengan maksud wanita tersebut. Dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Bianca, tetapi meski pun dia sudah bertanya, jawabannya selalu tidak dapat dimengerti olehnya.
Aldo membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya jari-jarinya hampir patah karena terlalu lama menari di atas keyboard laptop, tapi mau bagaimana lagi, itu memang sudah menjadi pekerjaannya.
Saat Aldo memejamkan matanya, dia seketika teringat dengan adegan yang terjadi di dalam mobil hari itu. Buru-buru dia segera membuka matanya.
"Astaga, Aldo. Bahkan kejadian itu sudah terlewat seminggu yang lalu, tapi kenapa kau masih mengingatnya? Tapi kenapa bibir itu masih terasa?" Aldo menghembuskan napas berat, tidak bisa dipungkiri selama seminggu ini dia berusaha bersikap biasa saja di hadapan bosnya, meski faktanya jantungnya selalu berdegub kencang.
"Aneh, kenapa aku malah berdebarnya sejak ciuman itu? Pesona Nona Bianca memang tidak perlu diragukan lagi, tapi ... kenapa berdebarnya sekarang?" Aldo bergumam. Sangat aneh! Dia memang suka dengan bosnya itu sejak lama, tetapi dia tidak pernah berdebar berada di dekat wanita itu. Tetapi sejak ciuman pertamanya tersebut, dia selalu berdebar, meski hanya melihat wanita itu. Bahkan tidak bisa dipungkiri kalau dia mulai berdebar sejak tingkah bosnya itu aneh. Hanya saja, debaran itu semakin kencang sejak ciuman tersebut.
"Lo nggak boleh jatuh cinta dengannya, Al! Dia bosmu. Tidak mungkin dia mau dengan sekretarisnya sendiri." Aldo bertekad untuk membuang perasaan itu jauh-jauh, karena itu sangat tidak mungkin jika bos jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri.
Tiba-tiba saja Aldo teringat dengan permintaan Barrack semalam, yaitu meminta padanya untuk mengajari Bianca seni bela diri, sehingga dia bisa menjaga dirinya sendiri.
FLASH BACK
"Ada apa Tuan meminta saya untuk bertemu?" tanya Aldo dengan formal, sama seperti biasanya.
"Aldo, aku ingin kau mengajari adikku beberapa seni bela diri, agar dia bisa menjaga dirinya sendiri," jawab Barrack to the point.
Aldo mengerutkan keningnya. "Kenapa harus belajar seni bela diri? Bukankah saya bisa menjaganya?" tanya Aldo heran.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, Al. Bisa saja kejadian yang sama terulang kembali, dan bagaimana jika hanphone Bianca habis batrey? Bagaimana dia bisa menghubungi kita?" tanya Barrack, yang sontak saja membuat Aldo terdiam, karena ada benarnya juga.
"Baiklah!"
FLASH BACK OFF
Aldo segera mengambil handphonenya, lalu menelpon bosnya.
Tidak memerlukan waktu lama, Bianca segera mengangkatnya.
"Halo, Al?" jawab Bianca di seberang saja.
'Astaga, bagaimana mungkin aku berdebar hanya karena mendengar suara merdunya saja?'
"Nona, besok 'kan hari libur, saya ingin mengajak Anda ke suatu tempat," ucap Aldo to the point.
"Tempat? Kemana?"
"Rahasia, Nona." Barrack memang sudah mengatakan jika ingin mengajak Bianca, maka jangan mengatakan tempat sebenarnya, oleh sebab itu Aldo menurutinya.
"Ckk ... kau sudah main rahasia-rahasian, Al?" Terdengar jika Bianca sepertinya sedang kesal, tetapi faktanya wanita itu sedang tersenyum dengan sangat cerah, bahkan rasa kantuknya seketika hilang, digantikan dengan rasa senang. Bianca hanya berusaha untuk menahan dirinya agar tidak berteriak atau bahkan berjingkrak di dalam kamarnya.
"Maaf, Nona. Kalau begitu saya matikan. Besok saya akan menjemput Anda jam delapan pagi." Setelah mengatakan kalimat tersebut, Aldo segera mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
"Astaga, apakah umurku sudah tidak lama lagi?" gumam Aldo sambil meletakkan tangannya di atas dadanya yang sedang berdegub kencang.
********
Bianca yang baru saja selesai membersihkan diri langsung menyambar handphonenya yang berada di atas nakas. Begitu benda pipih itu berada di dalam genggamannya, tiba-tiba muncul di layar nama Aldo, pertanda laki-laki itu sedang menelpon.
"Tumben dia menelpon lebih dulu," gumam Bianca, tapi meski pun demikian, segera dia angkat panggilan tersebut sebelum berakhir.
Mendengar Aldo yang mengatakan ingin mengajaknya ke suatu tempat, senyum manis mengembang, dia pikir laki-laki itu akan mengajaknya ke suatu tempat yang romantis.
Setelah panggilan berakhir, Bianca meloncat-loncat di atas kasur dengan girang, bahkan sekarang dia hanya menggunakan bathrobe saja.
"Yes! Akhirnya perjuangan ku tidak sia-sia. Akhirnya Aldo berniat juga menyatakan cintanya lagi dengan cara yang romantis!" Bianca berteriak di dalam kamar tersebut dengan senyum yang tidak luntur sama sekali.
Ceklek ....
"Ca, kam—" Seketika ucapan Bryana terhenti saat melihat putrinya yang meloncat-loncat di atas kasur dengan sangat girang.
"Yes! Yes! Yes!" Bianca terus berteriak kata yes sambil tubuhnya yang melenggok dengan gaya yang sama sekali tidak ada anggunnya.
Begitu Bianca berbalik, tubuhnya sontak membeku melihat keberadaan mama-nya. Perlahan tangannya turun.
"Ma—Mama sejak kapan ada di situ?" Suara Bianca sedikit berkata.
"Sejak, yis! Yis! Yis!" Bryana menirukan gaya putrinya itu dengan bibir yang dimajukan.
"Emangnya ada lagi?" Bryana memicingkan matanya menatap Bianca.
"Enggak ada sih." Bianca cengengesan, kini dia bisa bernapa lega karena mama-nya ternyata baru saja datang. "Ada perlu apa Mama ke sini?"
"Kenapa kamu? Kok kayak lagi girang banget?" tanya Bryana tanpa beranjak dari samping pintu.
"Eum ... itu ... Caca tadi nemu uang seratus ribu di tengah jalan," jawab Bianca asal.
"Alasan macam apa itu? Bukannya dikembaliin, malah diambil!" Bryana menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya jawaban putrinya tersebut sama sekali tidak masuk akal.
"Ada apa perlu apa Mama ke sini?" Bianca berusaha mengubah topik pembicaraan, berharap mama-nya tidak membahas masalah tadi.
"Enggak ada sih, tadi Mama cuman ngeliat kamu udah tidur atau belum. Tapi ternyata Mama justru melihat putri Mama yang bertingkah aneh, udah kayak ABG aja." Bryana sengaja menyindir putrinya, yang sontak saja membuat Bianca mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah Mama pergi sana! Caca mau tidur!" sahut Bianca sedikit ketus.
Bryana terkekeh melihat putrinya yang kesal. Karena tidak mau membuat putrinya itu semakin kesal, dia lalu menutup pintu dan pergi dari sana.
Melihat mama-nya yang sudah menutup pintu, buru-buru Bianca berlari, dan langsung mengunci pintu, takut jika mama-nya kembali datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Ahk ... Aldo, akhirnya kamu paham juga bagaimana cara menyatakan cinta pada seorang wanita!" Bianca berteriak, lalu kembali menaiki atas kasur, dan mulai melompat-lompat lagi.
"Oke, pokoknya gue harus berpenampilan wow besok, kalau perlu pakai gaun yang merak kayak gaun pengantin aja, karena besok adalah momen bahagia," kekeh Bianca.
Bianca turun dari atas kasur tersebut, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Begitu lemari itu dibuka, terlihat pakaian miliknya berjejer rapi di sana.
Bianca mulai mengeluarkan satu persatu pakaian miliknya, lalu mencocokkan ke tubuhnya, memastikan jika itu akan cocok digunakannya besok.
"Ini?" Bianca mengambil dress berwarna ungu dengan motif yang sangat cantik. "Enggak deh, gue 'kan mau ditembak, bukan mau diceraikan! Warna ungu 'kan warna janda." Bianca melempar dress itu ke atas kasur.
"Ini? Kayaknya kurang bagus deh."
"Ini? Ckk ... enggak deh! Ini 'kan udah pernah gue pakai!"
"Ini? Warnanya terlalu tua!"
"Ini dia! Eh, nggak cocok banget, masa iya pakai baju yang warna biru!"
Begitu seterusnya, hingga perlahan pakaian yang ada di dalam lemari itu tinggal sedikit, hingga akhirnya semua sudah dikeluarkan Bianca, tetapi di matanya sama sekali tidak ada yang cocok.
Bianca membaringkan tubuhnya di atas kasur, lalu menghembuskan napas kasar. "Huh ... gue nggak punya baju lagi buat ngedate besok," gumam Bianca dengan pandangan sendu, padahal di depan matanya dress miliknya bertumpuk seperti gunung.
"Ah, terserah! Mending gue tidur aja, siapa tau besok tiba-tiba muncul baju Cinderella di depan gue." Bianca menjadi kesal sendiri. Dia lalu memilih menggantikan bathrobe-nya dengan daster tipis, pakaian tidur yang sering dia pakai.
'Semoga malam ini berjalan dengan cepat.'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.