Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Masak Bersama (VISUAL)


__ADS_3

"Dia ... Adit!" ucap Bianca, senyum kecil terbit di bibir Bianca saat mengingat masa-masa kecilnya dulu. Entah kenapa dulu dia sangat suka berteman dengan Adit, padahal laki-laki itu selalu menolak kehadirannya, tetapi dia tidak menyerah begitu saja, dia terus mendekati Adit, hingga akhirnya laki-laki itu mau berteman dengan dirinya.


Namun sangat disayangkan, ternyata tak lama kemudian orang tuanya mengatakan jika mereka akan segera pindah. Dia yang masih kecil waktu itu tentu sangat sedih, apalagi dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan sahabatnya tersebut. Sebelum dia pergi, dia sempat memberikan ikat rambut yang sering dia gunakan. Dia memberikan itu karena dia tidak tahu ingin memberikan apa pada laki-laki itu sebagai kenangan. Jadi, dia kasih saja barang yang sering dia gunakan dan sangat dia sayangkan.


"Dia Adit, teman sewaktu kecil dulu," sambung Dara dengan santai, lalu dia perlahan mendekati Aldo. Bau strawberry menyeruak dari tubuh Bianca, sehingga membuat Aldo meneguk salivanya susah payah.


"Lalu, di mana dia sekarang?" Aldo bertanya hanya untuk memastikan apakan Bianca adalah Lala, teman sewaktu dia masih kecil dulu.


Bianca sempat terdiam sebentar, kemudian dia menghela napas kasar. "Aku sendiri juga nggak tau dia di mana. Aku sempat nyari dia di kota lama, tetapi kata orang-orang dia juga sudah pindah ke kota ini. Tetapi sayangnya sampai sekarang aku masih belum bertemu dengan dia. Entah seperti apa dia sekarang, tetapi dia sangat tampan sewaktu kecil dulu." Bianca kembali mengingat wajah teman masa kecilnya tersebut.


Senyum kecil terbit di wajah Aldo. Ternyata perempuan itu mengakui jika dirinya memang tampan sewaktu kecil.


'Dan bocah kecil itu ada di hadapanmu dengan wujud dewasanya.'


"Bagaimana jika dia kembali? Apakah kamu akan meninggalkan ku?" tanya Aldo yang sontak mendapat gelengan kuat dari Bianca.


"Tentu saja tidak!" jawab Bianca dengan cepat. "Aku tidak akan pernah meninggalkan mu! Lagian dia juga teman masa kecil ku doang kok!" sambungnya. Dia takut jika Aldo berpikir yang tidak-tidak.


"Aku percaya kok!" Aldo mengacak gemes rambut Bianca yang masih basah tersebut.


"Kamu mau aku yang ngeringin rambut kamu?" tawar Aldo dengan lembut.


"Boleh, boleh!" Bianca mengangguk antusias, lalu menarik tangan Aldo untuk mendekat ke meja rias.


Segera Bianca berikan hair dryer pada Aldo, dan diterima Aldo dengan senang hati.


Aldo mulai menyalakan hair dryer tersebut, lalu mengacak-acak rambut Bianca agar segera kering. Dia tahu caranya tentu karena dulu ibunya pernah meminta tolong untuk diantarkan ke salon.


"Jika kita sudah menikah nanti, aku akan selalu membahagiakanmu, salah satunya aku yang akan mengeringkan rambutmu seperti ini," ucap Aldo, tersenyum menatap cermin yang ada di depannya.


"Menikah dengan siapa? Memangnya aku pasti mau sama kamu?" canda Bianca, tetapi candaan tersebut membuat Aldo tidak suka mendengarnya.


"Yasudah! Jika kamu tidak mau, maka aku akan mencari wanita lain!" ketus Aldo sambil memanyunkan bibirnya.


Bianca terkekeh lucu melihat Aldo yang ngambek. Dia belum pernah melihat Aldo memanyunkan bibirnya sebelemnya. Aldo yang dia kenal adalah laki-laki yang tegas, tidak seperti ini! Tetapi sikap Ald yang seperti inilah yang dia suka.


"Becanda! Aku pasti mau kok menjadi istrimu!" ucap Bianca yang sontak membuat Aldo tersenyum tidak jelas.


Setelah rambut Bianca sudah kering, Aldo lalu mematikan hair dryer tersebut. "Udah kering!" celetuk Aldo, lalu meletakkan kembali alat itu di tempat semula.


"Terima kasih!" sahut Bianca dengan tersenyum manis. Segera Bianca mengaplikasikan vitamin ke rambutnya agar tetap sehat, kemudian dia mengambil lipgloss berwarna merah muda, dan mengoleskannya di bibirnya.


Apa yang dilakukan Bianca tentu tidak luput dari pandangan Aldo. "Bisa aku merasakan lisptiknya?" tanya Aldo yang membuat Bianca terkejut. Hah? Ingin mencoba lipstiknya? Yang benar saja! Diakan laki-laki.


"Bo–boleh!" jawab Bianca dengan sedikit terbata-bata.


Cuppp


Aldo lal mengecup singkat bibir Bianca, sehingga membuat Bianca menegang.


"Manis! Rasa strawberry! Apakah aku boleh mencobanya lagi?" tanya Aldo.


Bianca tidak menjawab, dia masih terdiam di atas kursi. Dia pikir Aldo memang benar-benar ingin mencoba liplossnya, tetapi ternyata bukan itu maksud laki-laki itu.


Tanpa menunggu persetujuan Bianca, Aldo segera kembali mengecup bibir itu. Tetapi kali ini bukan hanya kecupan semata, karena bibir Aldo perlahan beraksi.


Aldo mencium bibir Bianca dengan lembut, dengan penuh kasih sayang, sehingga membuat Bianca memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut mereka.


Aldo segera melepaskan ciumannya. Kali ini dia memang hanya berciuman, tidak sampai bermain lidah. Dia takutnya khilaf, apalagi sekarang mereka sedang berada di dalam kamar.


Setelah mencium bibir Bianca, Aldo lalu mengecup kening wanita itu dengan lembut.


"Aku mencintaimu," bisik Aldo di samping telingga Bianca.


"Aku juga!" balas Bianca, lalu memeluk laki-laki itu, membenamkan kepalanya di dada bidang milik Aldo.


"Yaudah! Aku lapar, bagaimana jika kita makan?" Aldo cengar-cengir tidak jelas. Dia merasa lapar, dan terlalu lama di dalam kamar wanita takut membuatnya lupa diri, yang ada justru wanita itulah yang akan dia lahap nanti.


"Ah? Kamu lapar, ya? Yaudah ayok turun ke bawah, siapa tahu ada makanan!" Bianca segera menggandeng tangan Aldo, menariknya berjalan menuju meja makan yang ada di dapur.


Ketika mereka sudah berada di dapur, mereka sama sekali tidak mendapatkan makanan apa pun, begitu pun ketika membuka kulkas, tidak ada makanan yang bisa dimakan, hanya bahan mentahnya saja.


"Huh ... nggak ada makanan, Al! Gimana kalau kita pesan aja?" usul Bianca yang mendapat gelengan dari Aldo.

__ADS_1


"Kenapa tidak masak sendiri aja? Kan lebih hemat dan lebih sehat?" Aldo memberika usulan yang baik, tetapi Bianca terdiam mendengarnya.


Memasak? Tapi dia tidak pernah memasak sebelumnya! Selama ini dia hanya sibuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Sangat jarang dirinya, lebih tepatnya dia tidak pernah turun ke dapur, karena begitu dia sampai di dapur, makanan selalu tersedia oleh ibunya.


"Kenapa tidak order saja biar cepat?" Bianca berusaha untuk menolak, kan tidak mungkin dia mengatakan jika dia tidak bisa memasak! Dia sebagai perempuan tentu malu!


"Tapi makan bikinan sendiri lebih sehat, Ca. Lagian nggak lama kok kalau masak. Masak aja, ya?" Sebenarnya Aldo tau maksud Bianca yang berusaha untuk menolak tersebut. Dari gaya bahasanya, Aldo dapat menyimpulkan jika wanita itu tidak bisa memasak, makanya dia berusaha menolak.


"Al," cicit Bianca dengan suara pelan, nyaris berbisik.


"Hah? Ada apa?" tanya Aldo, dia berusaha untuk menahan mati-matian agar tidak tertawa saat melihat Bianca yang menunduk.


"Sebenarnya aku tidak bisa memasak," lirih Bianca. Ah, hancur sudah harga dirinya sebagai seorang perempuan. Bagaimana mungkin 27 tahun dia hidup, tetapi masih tidak bisa memasak?


"Hah? Seriusan? Selama kamu hidup kamu nggak pernah masak? Masa iya di umur kamu yang segini kamu masih nggak bisa masak?" Aldo menunjukkan wajah terkejutnya, seolah-olah dia memang terkejut mendengar pengakuan Bianca, tetapi sebenarnya tidak sama sekali!


Bianca mendongakkan kepalanya, lalu menatap Aldo dengan pandangan yang sulit diartikan. "Apa kamu nggak akan menikahiku jika aku nggak bisa masak?" tanya Bianca yang kini suaranya mulai bergetar. Seketika dia berpikir jika Aldo tidak akan menikahinya karena dia tidak bisa masak. Ah, mendadak Bianca takut membayangkannya.


Aldo terdiam sebentar, meletakkan jari telunjuknya di dagu, seolah sedang menimbang pertanyaan wanita yang ada di hadapannya. Sementara Bianca diam mununggu jawaban dari Aldo.


'Ah, masa iya cuman karena nggak bisa masak, Aldo tidak akan menikahiku? Tapi, bukannya istri memang harus bisa masak, ya?'


Aldo menatap wajah Bianca dengan serius. "Tidak!" jawab Aldo singkat, tetapi mampu membuat Bianca terbelalak kaget. Apa Aldo serius?


"Tidak mungkin aku tidak menikahimu! Aku pasti akan menikahimu kok! Aku itu mencari istri, bukan mencari pembantu!" sambung Aldo dengan suara lembut.


"Tetapi alangkah baiknya kalau kamu bisa memasak, Ca!" Meski dirinya memang mencari istri, bukan pembantu. Tetapi tidak usah ditanyakan lagi karena urusan masak-memasak juga tugas seorang istri.


"Baiklah, aku akan belajar dari Mamah nanti!" sahut Bianca dengan pasrah. Ya, mau bagaimana lagi? Memasakkan memang tugas seorang istri?


"Jadi kita makan di luar aja, ya? Aku kan nggak bisa masak," ucap Bianca sambil cengengesan, meski faktanya dia merasa malu.


"Untuk apa makan di luar, kalau masih bisa makan di rumah?" Aldo menggulungkan lengan bajunya sampai siku, lalu kembali membuka kulkas. Dia mulai mengeluarkan berbagai jenis sayuran, dan ayam yang terlihat segar.


"Kamu mau ngapain, Al?" tanya Bianca yang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Aldo.


"Masak!" jawab Aldo singkat.


"Emangnya kamu bisa masak?" tanya Bianca meremehkan kemampuan Aldo. Jika dia tidak bisa masak, apalagi laki-laki itu! Pikirnya.


Bianca mangut-mangut mendengarnya. Ah, dia jadi sangat malu sekarang, bagaimana mungkin seorang laki-laki yang memasakkan untuk perempuan? Kan terbalik!


Seakan tahu dengan pikiran wanita itu, Aldo lantas berkata, "Jangan malu! Anggap saja aku sedang memasak untuk kekasihku, jadi wajar saja jika memasak."


Bianca cengengesan karena laki-laki itu bisa menebak pikirannya.


"Aku bantu, ya?" tawar Bianca mendekati Aldo yang sibuk memotong dada ayang tersebut.


"Boleh! Siapa sih yang nggak mau dibantuin sama cewek cantik?" goda Aldo yang langsung membuat pipi Bianca ngeblus.


Aldo terkekeh melihat wajah lucu Bianca.


Aldo mulai membaluri potangan ayam tersebut dengan tepung terigu. Dia memang hanya berniat membuat ayam goreng saja, karena lebih simple menurutnya. Sementara Bianca ditugaskan mengiris bawang yang akan dia gunakan untuk menumis kangkung.


"Hiks ... hiks ...."


Aldo terkejut mendengar isak tangis yang berasal dari sampingnya. Segera dia menengok Bianca, dan mendapati wanita itu yang sedang menangis.


"Astaga, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Aldo dengan panik. Tetapi respon Bianca hanya menggeleng kepalanya saja, lalu menyeka air matanya yang justru membuatnya tidak bisa berhenti menangis.


Aldo yang melihatnya semakin dibuat panik. "Kenapa hmm? Kenapa kamu menangis? Karena nggak bisa masak? Kamu tenang aja, aku nggak akan paksain kalau kamu emang nggak bisa masak, karena aku memang mencari istri, bukan pembantu. Udah ya nangisnya, jangan nangis mulu," ucap Aldo sambil menyeka air mata Bianca.


"Periiiiih, Al!" pakik Bianca.


"Apanya yang perih? Kamu ada luka?" Aldo seketika dibuat bingung.


"Bawangnya nyebelin! Mata aku perih karena ngiris bawang, bukan karena aku cengeng!" ketus Bianca.


"Astaga!" Aldo terkekeh, padahal dia sudah berpikir jika Bianca kembali sedih karena tidak bisa masak, tetapi wanita itu menangis hanya karena mengiris bawang. Ya, jika tidak terbiasa memotong bawang merah, mata akan terasa perih dan pastinya akan menangis.


Aldo menangkup pipi Bianca. Dia tidak sadar saja tangannya di penuhi tepung karena habis membaluti ayam tadi.


"Sini aku tiupin!" Aldo lalu meniup mata Bianca dengan pelan. Ah, andai ada yang melihat apa yang mereka lakukan pasti akan merasa iri, karena posisi Aldo dan Bianca memang sangat dekat.

__ADS_1


"Udah, ya! Kalau kamu nggak sanggup nggak usah aja! Biar aku yang masak," ucap Aldo lembut. Dia merasa tidak tega melihat wanitanya merasa kesakitan. Cukup dia saja!


"Enggak mau! Mau bantuin!" Bianca tetap kekeuh, masa laki-laki yang masak, dan dia malah hanya menonton saja.


"Yaudah nggak usah ngiris bawang aja. Kamu potong kangkung itu!" Melihat Bianca yang tersiksa jika memotong bawang, Aldo menjadi tidak tega. Jadi, dia menyuruh Bianca untuk memotong sayur saja.


Bianca mengangguk saja. Setelah itu Aldo melepaskan tangannya dari kedua pipi Bianca. Mata Aldo membelalak saat melihat wajah Bianca yang cemong karena dipenuhi tepung. Mati-matian dirinya menahan diri agar tidak kelepasan tertawa.


"Ca ... bentar! Coba kamu lihat tangan aku!" Aldo menunjukkan kedua telapak tangannya yang dipenuhi tepung.


Kening Bianca mengerut. "Tepung? Kenapa? Pengen dibersihin?" tanya Bianca lembut.


"Tangan inilah yang baru saja menangkup kedua pipimu," sahut Aldo polos.


Bianca melotot, lalu matanya menatap kaca lemari. Ternyata benar! Mukanya sangat cemong sekarang.


"AH, ALDO SIALAN!" pekik Bianca.


"Maaf," cicit Aldo, tapi dia tetap terkekeh lucu. Andai dia berani, mungkin akan dia abadikan wajah Bianca dalam bentuk foto.


Segera Bianca membersihkan wajahnya di westafel. Sungguh, dia benar-benar dibuat kesal pada Aldo! Padahal tadi dia dibuat baper saat laki-laki itu meniup pelan matanya. Tetapi kini dia justru kesal setengah mati.


"Maaf, ya." Aldo menunjukkan puppy eyes-nya, berharap Bianca akan luluh dan memaafkannya.


"Ckk ... yaudah nggak apa-apa!" ketus Bianca, toh cuman tepung doang, kan?


Bianca kembali mengiris kangkung yang ada di depannya. Sementara Aldo sudah selesai menggoreng ayam, dan lanjut mengiris bawang.


Bianca dibuat specchless saat laki-laki itu yang memotong bawang tanpa menangis sedikit pun.


"Kenapa kamu nggak menangis?" tanya Bianca polos.


"Karena aku sudah biasa memotong bawang," jawab Aldo apa adanya. Ketika dia menginap di apartemen, dia memang sering masak, dan selalu ingin memakan makanan yang enak-enak.


"Aku jadi malu dengan kamu! Masa iya kamu bisa masak, sementara aku nggak bisa!"


"Enggak apa-apa! Nanti aku ajarin kok, lagian kalau kamu jadi istriku, aku nggak suka kalau kamu terlalu capek!" ucap Aldo lembut.


"Manis banget sih ucapannya! Entar aku diabetes lho!" canda Bianca, yang hanya dibalas kekehan oleh Aldo.


Tak berselang lama, makanan yang dibuat mereka akhirnya jadi, yaitu ayam goreng dan tumis kangkung. Segera mereka menghidangkannya di atas meja. Aldo dan Bianca segera duduk di sana. Bianca dengan telaten menyiapkan nasi dan lauknya untuk Aldo.


"Sini aku suapin. Dulu kan kamu pernah minta aku buat suapin kamu, tapi malah buat aku bingung," kekeh Aldo.


"Arg, jangan diingatin, Al!" Bianca menjadi malu saat mengingat dirinya yang dulu. Ah, betapa memalukannya kejadian itu!


Aldo semakin terkekeh, lalu dia mengambil alih piring Bianca.


"Aaaaa!"


Bianca dengan senang hati menerima suapan dari Aldo. Kini mereka justru makan sepiring berdua, karena setelah Bianca yang makan, maka gantian ke dia.


"Enak banget!" Bianca mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Aldo. Rasanya benar-benar enak, apalagi yang membuatnya orang yang kita cintai.


"Jelaslah, orang yang nyuapin kamu kan ganteng," sahut Aldo penuh percaya diri.


"Dih ... kepedean!" ketus Bianca, lalu mereka berdua tertawa bersama-sama di meja makan tersebut.




TBC



Nih, visual mereka versi aku \><



![](contribute/fiction/5356064/markdown/36328969/1661907227772.jpg)


__ADS_1


![](contribute/fiction/5356064/markdown/36328969/1661907227770.jpg)


__ADS_2