
Aldo tersenyum kaku pada Bayu. "Terima kasih banyak, Tuan!" Segera Aldo masuk ke dalam rumah keluarga Grissham, dan duduk di atas sofa setelah dipersilahkan.
"Langsung saja, Aldo! Apa yang sebenarnya terjadi pada Bianca? Dia selama ini selalu uring-uringan, sampai-sampai kami selaku orang tuanya dibuat pusing dan tentunya kasihan melihat dia yang terus menangis tidak jelas. Barrack sudah mengatakan jika kau yang tau semuanya." Langsung saja Bayu bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Maaf, Tuan, tapi sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang menjadi penyebab Nona Bianca sampai uring-uringan seperti itu. Ini hanya kemungkinannya saja." Sebelum Aldo menjelaskan, dia lebih dulu memberi pengertian bahwa ini mungkin saja bukan alasan utama Bianca bersikap seperti itu.
"Tidak masalah! Barrack sangat jarang sekali salah mendapatkan informasi!" sahut Bayu mantap.
"Iya, Aldo. Katakan saja!" Bryana ikut mendesak laki-laki itu untuk berbicara.
Aldo menghembuskan napas panjang terlebih dahulu sebelum bercerita.
"Jadi begini Tuan, Nyonya ...." Aldo mulai menceritakan semuanya, sama seperti cerita yang dia sampaikan pada Barrack tadi.
Baik Bayu mau pun Bryana sama-sama dibuat melonggo, mereka bahkan membuka mulut mereka dengan lebar. Apakah itu benar?
Bryana dan Bayu kompak saling pandang, seolah berbicara melalu bahasa mata. Apakah kau percaya? Begitulah maksud pandangan mereka.
"A–apa kau serius, Al?" Mati-matian Bayu menahan tawanya agar tidak pecah. Entah bagaimana perasaannya, tetapi dia ingin tertawa, dan juga menangis membayangkan ada di posisi putrinya. Ah, pasti sangat sakit, pantas saja putrinya selalu mengatakan ingin menghilang dari dunia.
"Jika ceritanya, itu semua benar, Tuan. Saya yang mendengar sendiri jika Nona Bianca mengatakan, 'apakah kau tidak menyatakan cinta padaku saat itu?' Tetapi untuk alasan kenapa Nona Bianca bersikap seperti ini saya sendiri kurang yakin. Mungkin saja ada alasan lain." Aldo berusaha menjelaskannya kembali, takut kedua orang dewasa tersebut mengira jika itulah alasan utama kenapa putri mereka bersikap aneh akhir-akhir ini. Dia takutnya kalau ternyata itu bukanlah alasan utama kenapa Bianca bersikap aneh seperti itu.
"Na, apakah aku diperbolehkan untuk tertawa?" Bayu bertanya dengan menunjukkan dirinya sendiri, dan menatap wajah cantik istrinya yang juga sedang melonggo.
"Mas, kenapa putri kita bisa melakukan hal memalukan seperti itu?" Bryana justru ikut bertanya tanpa menjawab pertanyaan suaminya terlebih dahulu.
"Bagaimana jika kau yang berada di posisi Caca?" Kedua pasangan suami istri tersebut terus bertanya satu sama lain, dan mengabaikan keberadaan Aldo di sana.
"Mungkin aku akan gantung diri saja saking malunya," gumam Bryana yang diangguki oleh Bayu. Mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi Bianca.
"Apa kita gantung saja Bianca biar dia nggak malu lagi?" celetuk Bayu yang sontak membuat Bryana sadar. Sontak saja pria itu mendapat pukulan dari istrinya.
"Kalau ngomong itu yang benar dikit, Mas!" tegur Bryana dengan ketus.
Hahaha
Tawa Bayu sontak pecah di ruang tamu tersebut. Sumpah, ini adalah momen paling terlucu di hidupnya, bahkan ini adalah kali pertamanya dia tertawa lepas seperti ini.
Bryana yang melihat suaminya tertawa tidak bisa menahan diri, tawanya sontak saja ikut pecah. Akhirnya kedua manusia tersebut tertawa bersama-sama, bahkan Bryana terus memukul bantal sofa saking gemesnya.
"Mas, aku ingin tukar anak aja! Aku yang mendengarnya saja sudah sangat malu, lalu bagaimana nasib Bianca?" Bryana tidak mampu mengontrol tawanya, sehingga dia terus tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi! Awalnya aku sangat kasihan padanya, tetapi kini kenapa aku malah tertawa mengingat kondisinya!" Bayu yang awalnya merasa kasihan dengan putrinya kini malah dibuat tertawa saat mengingat Bianca yang terus menangis, berteriak frustasi, bahkan sampai tidak mau makan.
"Maaf, Tuan, Nyonyo. Tadi Tuan Barrack mengatakan jika Nona Bianca belum makan seharianan ini, apakah saya boleh menjenguknya?" Melihat mereka yang terus tertawa membuat Aldo sedikit jengkel. Apa mereka tidak kasihan pada kondisi putri mereka tersebut?
"Tunggu! Apa kau mencintai putriku, Al?" Sebelum memberi ijin, Bryana lebih dulu menanyakan pertanyaan yang kembali membuat tubuh Aldo membeku. Jika faktanya ternyata Aldo tidak mencintai putrinya, maka dia sangat kasihan pada Bianca, karena cinta putrinya bertepuk sebelah tangan.
'Kenapa mereka selalu menanyakan pertanyaan yang sama?' Aldo tentu merasa jengkel dengan pertanyaan tersebut. Apakah tidak ada pertanyaan lain selain menanyakan tentang perasaannya?
"Iya!" Entah datang dari mana keberanian itu, Aldo dengan mantap menjawab iya. Ya, dia sangat yakin jika ini adalah perasaan cinta pada wanita itu. Meski Aldo sedikit takut, karena takutnya kedua orang tua Bianca tidak akan suka padanya, mengingat dia hanyalah seorang sekretaris. Tapi, sudahlah! Jika dia terus memendam ini, maka tidak akan ada habisnya, dan mungkin saja dia akan kehilangan wanita itu nanti jika terlambat.
__ADS_1
Bayu yang sejak tadi masih belum bisa berhenti tertawa sontak terdiam mendengar ucapan tegas laki-laki muda di depannya. Begitu pun dengan Bryana, dia dibuat terkejut, meski pun jawaban itulah yang dia inginkan, tetapi tetap saja. Padahal mereka sering memantau perkembangan Bianca dan Aldo, tetapi tetap saja! Tidak ada yang berubah dari hubungan mereka. Mereka bahkan sudah pasrah jika tidak bisa memiliki Aldo sebagai menantu, mungkin memang bukan jodoh putri mereka.
Tetapi siapa sangka ternyata orang yang bertugas memantau perkembangan hubungan putri mereka justru melewatkan momen ini dan tidak tahu apa-apa. Dia hanya mengatakan jika tidak ada yang special dengan hubungan Bianca dengan laki-laki bernama Aldo tersebut.
"Kau tadi mengatakan apa?" Bayu bertanya untuk memastikan jika dia tidak salah dengar barusan.
"Saya memang mencintai Nona Bianca, Tuan! Jujur saja sedari awal saya sudah memiliki perasaan pada dia. Pesona Nona Bianca ternyata bisa meluluhkan hati saya yang awalnya memang tidak pernah tertarik dengan wanita menjadi tertarik. Tetapi dulu saya berusaha untuk meyakinkan diri saya bahwa itu bukan perasaan cinta, melainkan hanya perasaan kagum semata. Tetapi sejak perubahan sikapnya, membuat saya benar-benar sadar jika ini adalah perasaan cinta, bukan hanya kagum semata. Tetapi saya terlalu takut untuk menyatakan cinta saya padanya, mengingat derajat kami berbeda. Rasanya tidak cocok jika seorang CEO menjalin hubungan dengan sekretarisnya sendiri. Tetapi mengetahui fakta bahwa Nona Bianca salah paham membuat saya sadar jika dia juga memiliki perasaan yang sama pada saya, sehingga membuat saya berani. Maaf jika saya sudah lancang jatuh cinta pada putri kalian." Aldo menunduk hormat. Akhirnya dia berani juga berbicara panjang tentang perasaannnya.
Bayu dan Bryana terdiam, mereka saling pandang, tetapi pandangan mereka kali ini seolah mengatakan 'Ternyata tidak sia-sia kita mendekati mereka!'
Perlahan Bayu mendekati Aldo. "Aku percaya padamu! Jaga putriku!" Bayu menepuk pelan bahu Aldo.
"Baiklah, sebentar, aku ambilkan makanan untuk Bianca dan kau yang mengantarnya!" Bryana segera bangkit, lalu berjalan cepat menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk putrinya. Perasaannya benar-benar bahagia, karena dia tahu seperti apa sosok Aldo. Dia sangat bersyukur jika putrinya bisa bersanding dengan laki-laki seperti Aldo.
Tak berselang lama Bryana kembali dengan membawa nampan berisi makanan, minuman, dan juga sebotol obat. Karena terus menangis, Bianca sampai pilek dan juga demam ringan.
"Nih, antarkan ke Bianca ya calon mantu!" Dengan isengnya Bryana memanggil Aldo dengan sebutan calon mantu, sehingga pipi Aldo terasa panas. Ah, apakah wajahnya memerah sekarang?
"Ba–baik, Nyonya!" Aldo menjawab dengan sedikit terbata-bata.
"Ckk ... jangan panggil, Nyonya! Panggil aja Tante!" perintah Bryana tegas.
"Ba–baik ..., Tante!" Rasanya lidah Aldo masih kelu untuk memanggil wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan Nyonya malah sekarang disuruh memanggil dengan panggilan Tante.
"Yaudah antar makanan itu segera! Dan ... katakanlah perasaanmu padanya." Bayu memberi saran, mengira jika Aldo sangat polos sehingga tidak tahu apa yang akan dia katakan nanti.
"Pasti, Tuan!" jawab Aldo mantap.
Melihat Aldo yang sudah pergi, Bryana menatap suaminya dengan mata yang berbinar.
"Ternyata tidak sia-sia kita mendekati mereka seperti ini, Mas!" ucap Bryana dengan antusias.
"Kau benar, Na! Aku pikir kita gagal, tapi ternyata kita berhasil, meski pun cara penyatuannya terdengar lucu," kekeh Bayu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku yakin jika Bianca akan hidup bahagia jika bersama Aldo. Laki-laki itu terlihat sangat baik, hanya saja tertutupi oleh wajah dinginnya. Aku percaya kalau Bianca pasti mampu mengubah sikap Aldo menjadi bucin!" Bryana berkata dengan penuh keyakinan. Pasti! Pasti putrinya akan bahagia jika bersama Aldo.
"Kita berdoa saja yang terbaik untuk putri kita," sahut Bayu dengan bijak.
*******
Aldo segera menaiki tangga, lalu berhenti setelah berada di depan pintu yang terdapat gantungan pintu bertuliskan tanggal lahir Bianca.
Aldo menghembuskan napas secara perlahan. Ini adalah kali pertamanya dia masuk ke dalam kamar seorang wanita, dia bahkan tidak pernah masuk ke dalam kamar orang tuanya.
"Lo pasti bisa, Al!" Aldo menyemangati dirinya agar tetap tenang. Dia benar-benar gelisah sekarang, takutnya dia justru tidak berani mengatakan apa-apa pada wanita itu nanti.
Ceklek ....
Secara perlahan Aldo membuka pintu kamar, lalu melihat sekeliling kamar wanita yang menjadi bosnya tersebut. Pandangan Aldo jatuh pada seorang wanita yang sedang tertidur dengan selimut yang menutup sampai lehernya.
"Ternyata dia sedang tidur," gumam Aldon dengan suara pelan.
__ADS_1
Senyum terbit di wajah Aldo saat melihat wajah polos Bianca. Wanita itu terlihat sangat cantik, meski pun matanya terlihat membengkak, mungkin karena terlalu lama menangis.
"Dia benar-benar terlihat sangat cantik. Rasanya aku ingin sekali memilikinya."
Perlahan Aldo mendekati wanita itu, berniat untuk membangunkannya, karena bagaimana pun wanita itu perlu asupan makanan, apalagi kondisinya yang tidak sepenuhnya sehat.
Aldo meletakkan nampan berisi makanan, minuman, dan obat tersebut di atas nakas. Perlahan dia duduk di pinggir kasur, memandangi wajah cantik wanita yang dia cintai tersebut dari dekat.
"Sangat cantik!" Aldo terus memuji kecantikan yang dimiliki Bianca. Rasanya ingin sekali dia memberikan banyak kecupan di wajah putih Bianca, tetapi dia masih tahu batasan, dan tidak mungkin seberani itu, kecuali khilaf.
"Al–Aldo ... Al–Aldo!" Aldo sedikit terkejut saat mendapati wanita itu yang sedang mengigau, dan menyebutkan namanya. Suara wanita itu bahkan terdengar gemetar.
"Saya di sini, Nona!" ucap Aldo dengan suara pelan. Aldo lalu merapikan anak rambut Bianca yang menutupi pemandangan yang sangat langka tersebut.
"Shhh, panas!" Aldo sedikit meringis saat tangannya tidak sengaja menyentuh kening Bianca.
"Astaga, Nona! Kenapa tubuh Anda sangat panas?" Seketika Aldo menjadi panik setelah tangannya kembali menempel di kening Bianca, lalu merasakan panas di telapak tangannya.
Bianca yang sedang tertidur terganggu mendengar suara Aldo. Matanya lalu terbuka secara perlahan.
"Al–Aldo?" Bianca bergumam saat melihat wajah Aldo di depannya.
"Ya, Nona?"
"Di–dingin! Hiks ... kenapa aku sampai seperti ini? Kenapa aku sampai menghayal melihat keberadaanmu di sini? Hiks ... hiks ...." Bianca menangis, padahal dia sudah cukup tersiksa karena terus bermimpi bertemu dengan Aldo, tetapi kenapa bayang-bayang laki-laki itu kini seperti nyata saja?
"Nona, ini memang saya! Jangan menangis! Jangan membuat saya merasa bersalah!" Aldo terlihat panik, bingung ingin melakukan apa.
Bianca hanya tersenyum, perlahan matanya kembali tertutup.
"NONA! BANGUN!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.