
"Makasih, Adit." Bianca menyahut dengan lembut, lalu kembali memeluk laki-laki itu.
"Cih ... belum pacaran aja bucinnya udah kelebihan dosis. Ati-ati lho, entar salah paham nyesek lagi, nangis lagi, ujung-ujungnya uring-uringan lagi!" Sudah tahu bukan siapa yang mengatakannya? Tentu saja Barrack! Memangnya siapa lagi jika bukan laki-laki itu?
Bianca berdecak kesal mendengar ucapan abangnya yang asal nyerocos saja seperti rel kereta api!
Baik keluarga Bianca mau pun keluarga Aldo sama-sama tertawa kecil mendengar ucapan Barrack. Ya, mereka semua sudah tau jika hubungan anak-anak mereka itu diawali oleh kesalahpahaman saja. Andi dan Sophia tentu saja bingung ingin merespon seperti apa, ingin tertawa tapi kasihan, tapi jika ditahan akan sakit, jadi mereka tertawa aja sekeras-kerasnya saat di dalam rumah.
Bianca yang tak sengaja melihat wajah orang tuanya dan orang tua Aldo seketika malu, pasti mereka teringat kejadian itu! Ah, benar-benar memalukan.
Seakan tahu apa yang ada di pikiran wanita yang dicintainya, Aldo perlahan mencondongkan wajahnya, lantas berbisik, "Nggak usah malu. Aku sangat mencintai kamu kok." Aldo berbisik dengan suara lembut. Napas Aldo yang menyapu tengkuknya secara lembut sontak membuat Bianca merinding, merasakan getaran aneh di tubuhnya.
Bianca tersenyum malu karena ketahuan oleh Aldo jika dia sedang malu.
"Yaudah buruan potong kue-nya! Gue udah nggak sabar makan kue buatan calon suami lo ini!" Ucapan Barrack sontak membuat Bianca terdiam dengan kerutan di dahinya yang sangat kentara. Apa tadi maksud kakak-nya? Kue buatan calon suaminya? Apakah yang dimaksud Barrack adalah Aldo? Seriusan laki-laki itu membuatkan kue ulang tahun untuk dirinya?
"Emangnya yang bikin kue ini siapa?" tanya Bianca sambil menunjuk kue yang ukurannya tidaklah terlalu besar.
"Emang calon laki lo ada berapa?" Barrack menatap garang adiknya tersebut. "Ya udah pasti Aldo lah!" sambung Barrack dengan ketus.
Bianca menatap wajah Aldo. "Seriusan kamu yang bikin?" Bianca bertanya untuk memastikan.
Aldo tersenyum lembut, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku buat special buat orang yang special!" jawab Aldo yang kembali membuat pipi Bianca terasa panas. Aldo sendiri sedikit terkekeh melihat wajah memerah wanita yang dia cinta itu, dia memang paling suka membuat wanita itu ngeblush.
"Udah! Bucin mulu kalian ini! Cepat doa, Caca!" Kali ini Barrack membentak, tetapi gayanya seperti emak-emak yang sedang memarahi tukang kredit, sangat lucu.
"Iya! Iya! Heran, udah kayak orang yang nggak pernah makan kue aja!" gerutu Bianca dengan suara pelan.
Bianca lalu berjalan mendekati meja yang terdapat beberapa kue di sana, tetapi fokusnya hanya pada kue yang katanya dibuat oleh Aldo, laki-laki yang sangat special di hidupnya.
__ADS_1
Perlahan Bianca memotongnya, lalu memberikan pada Barrack dalam dengan ukuran yang sangat kecil, sehingga membuat laki-laki itu melonggo.
"Cuman ini doang?" tanya Barrack dengan mulut yang mesih menganga.
"Syukuri apa yang ada, Bang," sahut Aldo, yang langsung membuat Barrack semakin jengkel. Tanpa basa-basi potongan kue itu langsung masuk begitu saja ke dalam mulutnya dalam sekali masuk.
Bianca terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan kakaknya. Segera dia potong kue yang sudah dibuat Aldo, lalu membagikannya kepada seluruh keluarga besar. Terakhir Bianca mengambil potongan kue untuk Aldo, laki-laki yang sangat special di hidupnya.
"Aaaa!" Bianca menyodorkan sesendok kue di hadapan Aldo yang langsung dituruti laki-laki itu.
Bianca menyodorkan kue tersebut dengan perlahan, lalu ketika sudah dekat ...
Cup
Satu kecupan justru mendarat di pipi laki-laki itu. Bianca terkekeh melihat Aldo terkejut. Tetapi sedetik kemudian Aldo tersenyum manis mendapat ciuman itu. Barrack yang melihatnya ingin muntah, tetapi tetap dia usahakan untuk menatap kedua manusia tersebut, meski pun terasa sesak.
Aldo menyodorkan sesendok kue tersebut, lalu segera diterima Bianca dengan senang hati. Saat potongan kue tersebut sudah berada di dalam mulutnya, dia tersenyum senang karena rasanya memang sangat enak, apalagi yang membuatnya adalah orang yang dia cintai.
Setelah selesai acara suap-suapan, kini hening sesaat. Bianca sendiri bingung ingin melakukan apa, tiba-tiba suasananya berubah kali ini.
Klik
Tiba-tiba muncul lampu yang menyoroti tempat Bianca berdiri, dan seluruh lampu lainnya padam. Bianca sendiri sedikit bingung. Perlahan kembali terdengar suara tapak kaki yang cukup nyaring. Sebenarnya Aldo tadi memang meminta ijin untuk ke toilet sebentar, hanya saja dia belum kembali sampai detik itu.
Bianca sedikit terkejut melihat Aldo yang berjalan dengan gagah sambil membawa 1 buket bunga besar.
Aldo tersenyum manis saat berada di depan wanita yang dia cintai.
"Bianca ...." Aldo menyerahkan sebuket bunga besar itu untuk wanita yang ada di depannya, kemudian berlutut di hadapan wanita itu. Bianca yang awalnya tersenyum senang menerima buket bunga itu seketika terkejut melihat Aldo yang berlutut. Apa yang sedang laki-laki itu lakukan?
__ADS_1
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Meminta pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Karena satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. Karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Aku tau jika ini mungkin terdengar terlalu cepat, tetapi aku sudah memutuskannya secara matang." Aldo berkata dengan lembut. Dia menatap dalam mata Bianca.
Aldo mengeluarkan sekotak merah yang dia sembunyikan tadi. "WILL YOU MERRY ME?" Aldo berkata dengan lantang, kemudian membuka kotak merah tersebut, sehingga munculah cincin yang sangat indah.
Bianca membekap mulutnya, merasa tidak percaya jika Aldo melamarnya secepat ini. Sungguh, dia sama sekali tidak kepikiran sampai sana! Perlahan air matanya jatuh, dia benar-benar terharu mendengar pernyataan cinta laki-laki itu. Padahal mereka saja belum berpacaran, tetapi Aldo justru langsung melamarnya sekarang.
"YES! I WILL!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1