
Barrack yang baru saja sampai di Indonesia, langsung tancap gas menuju rumah sakit miliknya di mana adiknya sedang dirawat saat ini. Dia benar-benar dibuat khawatir dengan kondisi adiknya tersebut. Dia tidak menyangka jika kondisi Bianca bisa separah ini. Padahal dia pikir Bianca hanya malu saja, tetapi tidak menyangka sampai terkena depresi ringan. Tapi wajar saja, mengingat kesalahpahaman itu benar-benar memalukan!
Begitu Barrack sampai di rumah sakit, dia segera berlari dan manaiki lift agar segera sampai di ruangan VIP. Sebelum ke sini Barrack sudah menghubungi pihak rumah sakit, dan menanyakan di ruangan mana adiknya dirawat. Jadi, sekarang dia tidak perlu repot-repot bertanya pada receptionist karena sudah tahu. Lagian dua juga sudah hafal dengan ruangan-ruangan rumah sakit tersebut.
Begitu Barrack membuka pintu ruangan di mana Bianca dirawat, dia sempat dibuat melongo melihat sepasang kekasih yang sedang asik berc*mbu. Dia awalnya berpikir jika mungkin saja dia salah masuk kamar, tetapi ternyata tidak! Dia dapat melihat dengan jelas jika itu adalah adiknya dan Aldo!
'Ya Allah, jiwa jomblo ku seketika meronta-ronta!' pekik Barrack dalam hati.
"ASTAGFHIRULLAH! GUE CAPEK-CAPEK PULANG DARI AMERIKA KARENA KHAWATIR SAMA BIANCA. EL LO PADA MALAH KEENAKKAN CIUMAN!" teriak Barrack sangat nyaring, sehingga membuat sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara tersebut menghentikan kegiatan mereka.
********
Baik Bianca dan Aldo sama-sama terlonjak kaget mendengar suara yang sangat melengking tersebut.
Bianca yang terkejut refleks mendorong dada Aldo dengan kuat, sehingga hampir membuat laki-laki itu terjatuh jika saya dia tidak segera menahannya.
Kedua manusia tersebut langsung menoleh dari asal suara. Seketika mereka tersenyum canggung melihat keberadaan Barrack. Sebenarnya mereka sedikit kesal karena kegiatan mereka tadi terhenti akibat kedatangan Barrack, tetapi mereka juga malu karena sudah dipergoki seperti ini.
'Sumpah, gue pengen menghilang aja! Malu woy!' Bianca berteriak frustasi di dalam hati.
'Sumpah, aku ingin menghilang saja! Mana Kakak-nya sudah melihat lagi!' Aldo juga berteriak frustasi di dalam hati.
"Kenapa berhenti! Lanjutin aja! Gue nggak apa-apa kok. Gue ikhlas, gue tau kalau lo berdua memang nggak punya perasaan kasihan sama gue. Gue jomblo woy! Lo berdua nggak kasihan apa sama gue yang udah lumutan begini? Mana udah kepala tiga lagi! Dan seenak jidatnya kalian berciuman? Merusak mataku yang masih perjaka ini?" Barrack mulai bergaya lebai, dia bahkan pura-pura mulai menyeka air matanya yang sama sekali tidak menetes sedikit pun.
"Kak Rack kapan pulang?" Bianca berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar kakaknya itu tidak terus membicarakan tentang ciuman tadi.
'Cih ... mengubah topik pembicaraan!' Barrack menggerutu di dalam hati saat tahu jika adiknya tersebut sedang berusaha untuk mengubah topik pembicaraan.
"Baru aja sampai! Begitu sampai Kakak langsung dateng ke sini karena benar-benar khawatir sama kamu! Tapi apa? Kakak malah menyesal usah dateng! Tau gitu mending di Amerika aja, meski pun ada cewek aneh itu, tetapi that's okey lah! Kakak pikir penyakit kamu benar-benar sembuh, tapi kayakanya sekarang udah sembuh deh. Apa iya efek dari ciuman Aldo?" Dengan gamblangnya Barrack bertanya, tanpa memikirkan perasaan kedua manusia tersebut yang benar-benar terlihat malu sekarang.
"Tuan, sepertinya saya harus pergi—"
"Ckk ... kau tidak boleh pergi ke mana-mana, Al! Aku bahkan belum mengintrogasimu!" Barrack menatap tajam Aldo, yang seketika membuat nyali laki-laki itu menciut. Apa yang akan dia ceritakan? Ah, rasanya terlalu malu mengulang kembali cerita yang sama.
"Duduk!" perintah Barrack dengan suara tegas.
Dengan patuh Aldo duduk kembali di kursi sambil menunduk. Bianca sendiri terlihat jengkel dengan sifat kakaknya tersebut, padahal dia melihat dengan jelas jika Aldo terlihat tidak nyaman, tetapi kakaknya tersebut terlihat tidak peduli.
"Ceritakan, Al! Bagaimana mungkin kau bisa berciuman dengan adikku? Bukankah baru semalam kau mengatakan jika kau sendiri bingung dengan perasaanmu? Lantas, kenapa sekarang kalian terlihat seperti sepasang kekasih, apalagi sampai berciuman?" Barrack memicingkan matanya menatap Aldo dengan penuh curiga.
"Ishh, Kak Rack kenapa kepo banget sih!" Bianca justru dibuat kesal dengan tingkah kakaknya tersebut. Terlalu kepo menurutnya!
"Diam, Bianca! Aku perlu menyeleksi terlebih dahulu laki-laki yang akan menjadi calon suamimu ini!" tegas Barrack tak ingin dilawan. Seketika Bianca yang mendengar suara tegas kakak-nya langsung terdiam.
Aldo menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Sebenarnya saya sudah meyakinkan diri saya sejak empat hari yang lalu bahwa apa yang saya rasakan benar-benar murni perasaan cinta, karena sebelumnya saya memang selalu dibuat berdebar jika berhadapan dengan Bianca. Hanya saja saya masih belum berani mengatakannya pada Anda. Setelah saya pergi ke kediaman keluarga Grissham sesuai perintah Anda, di sana saya juga ditanyakan pertanyaan yang sama oleh Tuan dan Nyonya besar. Sehingga saya memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya," jawab Aldo yang membuat Barrack mangut-mangut. "Dan saya baru saja menyatakan cinta pada Bianca, karena saya ingin memilikinya. Saya ijin pada Anda Tuan untuk mengijinkan saya bersanding dengan Bianca." Aldo berkata dengan mantap, sehingga membuat Bianca merasa tersentuh dengan ucapan, apalagi tutur bahasa Aldo yang terdengar sopan, padahal kakaknya tersebut adalah tipe orang yang santai saja.
"Apakah kau diterima?" tanya Barrack pada Aldo.
__ADS_1
"Dicancel, Tuan!" jawab Aldo jujur sekaligus polos.
"Hah? Dicancel? Maksudnya gimana?" Barrack justru dibuat bingung. Kenapa seperti barang saja yang bisa dicancel?
Sementara Bianca yang mendengar jawaban polos Aldo rasanya ingin sekali mencelupkan kepala laki-laki itu di dalam kolam, kan siapa tahu dengan cara itu Aldo bisa berubah, dan tidak sepolos itu lagi?
'Akh, nih cowok polosnya emang udah kelewat batas!' Bianca berteriak di dalam hati, kenapa harus pakai acara jujur segala sih?
"Iya, Tuan. Bianca bilang dia ingin ditembak di tempat yang romantis, bukan di rumah sakit!" Aldo kembali menjelaskan sesuai dengan fakta.
'Pengen banting Aldo boleh nggak sih?'
Barrack sempat terdiam sebentar, tapi tak lama kemudian tawa Barrack sontak pecah. Astaga, susah payah dia memahami maksud cancel itu, ternyata begitu maksud Aldo.
"Yaudah, bawa aja ke kantor polisi! Tembak di sana aja!" saran Barrack yang mendapat delikkan tajam dari Bianca. Apa-apaan maksud kakaknya tersebut berbicara seperti itu? Tembak yang di maksud di sini kan bukan seperti itu konsepnya!
"Dasar tidak tahu malu! Kakak pikir kamu mungkin bakal gantung diri, Ca!" kekeh Barrack menggoda adiknya tersebut.
"Diam, Kak Rack!" cetus Bianca yang jengkel karena kakak-nya tersebut benar-benar sangat usil padanya.
"Baiklah, Aldo. Aku akan merestui hubunganmu dan Bianca. Tetapi dengan satu syarat!" ucap Barrack yang kini kembali serius..
"Syarat? Syarat apa, Tuan? Jika saya bisa memenuhinya, saya janji pasti akan menepatinya!" sahut Aldo mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
"Syaratnya adalah ... jangan panggil aku dengan panggilan Tuan lagi! Tetapi panggil aku dengan panggilan Abang saja! Aku tidak suka calon adik iparku memanggil dengan panggilan Tuan!" ucap Barrack dengan suara tegas.
Aldo terdiam sebentar. Padahal dia juga berpikir jika Barrack akan meminta banyak hal padanya, tetapi ternyata tidak! Permintaan laki-laki itu bahkan cukup simple.
"Baik, Tu— maksud saya, Bang!" Aldo tersenyum canggung, pendengarannya terasa geli mendengar suaranya yang memanggil dengan panggilan Abang, padahal sebelumnya dia tidak pernah memanggil orang dengan panggilan Abang.
"Good job!" Barrack mengacungkan kedua jempolnya pada Aldo.
"Akhh, kalau begitu aku pulang aja! Badanku benar-benar terasa lengket karena berkeringat. Rasanya percuma aku cape-cape khawatir pada adik kesayanganku, padahal dia lagi asik-asiknya berciuman! Cih ... kenapa nggak jadi menghilang dari dunia ini aja?" sinis Barrack menatap Bianca.
Bianca memanyunkan bibirnya. Hendak protes, tetapi protes apa? Memang itu kan faktanya!
Barrack mendekati Aldo, lantas membisikkan sesuatu tepat di samping telinga laki-laki itu.
"Ingat batasan! Aku tak melarang jika kalian hendak berciuman, karena kalian berdua sudah sama-sama dewasa! Tetapi aku tidak pernah terima hamil diluar nikah! Aku mempercayakan Adikku padamu karena aku percaya jika kau laki-laki yang bisa diandalkan. Jangan hancurkan kepercayaanku!" bisik Barrack dengan suara tegas miliknya.
"Pasti, Bang! Aku janji!" sahut Aldo dengan suara pelan, tetapi bersungguh-sungguh.
Barrack yang mendengarnya tersenyum. Dia sangat yakin jika Aldo bukanlah laki-laki yang br***sek!
"Yaudah, kalau gitu aku pamit! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Aldo dan Bianca kompak membalas salah Barrack.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, Bang!" ucap Aldo yang dibalas acungan jempol dari Barrack.
Setelah Barrack pergi, Bianca menatap Aldo dengan pandangan yang Aldo sendiri tidak paham.
"Ada apa?" tanya Aldo yang heran dengan ekspresi wanita itu.
"Cie ... udah dapat restu dari Kak Rack nih yee." Bianca menggoda Aldo, lalu menaik-turunkan alisnya, sehingga membuat Aldo terkekeh dengan tingkah menggemaskan Bianca.
"Tidak hanya dari Kakakmu, aku bahkan sudah mendapat restu dari kedua orang tuamu!" sahut Aldo dengan bangga.
"Hah? Kapan?" Bianca tentu terkejut mendengarnya, dia sama sekali tidak tahu.
"Semalam, sewaktu aku datang ke rumahmu! Aku menjelaskan perihal kemungkinan kamu yang terus uring-uringan! Tiba-tiba ibumu bertanya apakah aku mencintai kamu, dan aku menjawab iya, lalu mereka memberiku restu dan berkata ingin sekali memiliki menantu sepertiku!" jawab Aldo apa adanya. Bryana memang ada mengatakan itu semalam.
"Seriusan? Berarti kamu sudah mengantongi semua restu dari keluargaku dong?" Seketika Bianca menjadi bahagia, ternyata seluruh keluarganya mendukung jika dirinya bersama Aldo.
"Tentu saja! Tinggal menikahimu saja lagi yang belum. Kenapa? Apa kamu mau segera menjadi istriku?" Aldo semakin gencar menggoda Bianca. Ah, di mana sifat dingin dan kaku laki-laki itu? Kenapa sekarang dia terlihat sangat pede? Apakah sebegitu berpengaruhnya Bianca di hidup laki-laki itu?
Pipi Bianca sontak panas mendengar pertanyaan akhir laki-laki itu. Akh, apakah pipinya merah sekarang.
Aldo terkekeh melihat pipi Bianca yang memerah. "Sabar, ya. Aku pasti akan menikahimu kok, tapi belum saatnya. Kita harus menghargai Abangmu yang masih jomblo itu!" Tawa Aldo sontak pecah di dalam ruangan tersebut. Ah, untung saja Barrack sudah pergi! Pikir Aldo.
Ceklek ....
"Sialan kalian!" Barrack masuk, lalu berkata dengan ketus saat tidak sengaja mendengar ejekan dari Aldo. Belum menjadi adik ipar sudah membuat masalah saja! Tidak dapat restu dari Barrack baru tahu rasa!
Barrack segera mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas, lalu tanpa basa-basi segera pergi dari sana dengan menutup pintu cukup kasar.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.