
"La—latihan?" Bianca tentu terkejut mendengar ucapan abangnya tersebut, lalu matanya menatap Aldo seolah meminta penjelasan.
Aldo yang paham lalu mengangguk kepalanya dengan mantap. "Benar, Nona. Karena kita takut ada sesuatu yang terjadi lagi, maka kami memutuskan untuk mengajarkan Anda beberapa seni bela diri, sehingga jika sewaktu-waktu Anda dalam bahaya, tetapi kami tidak bisa dihubungi, atau handphone Anda habis batrey, maka Anda bisa melawan orang jahat tersebut," jelas Aldo panjang lebar.
Mendengar penjelasan Aldo, tangan Bianca sentak mengepal dengan erat. Bianca memejamkan matanya. Jika mereka hanya akan pergi ke tempat latihan bela diri, lalu kenapa laki-laki itu sampai merahasiakannya? Tidak bisakah dia langsung mengatakannya saja?
"Lalu kenapa kau tidak bilang dari awal, Al?" lirih Bianca, berusaha menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Rasanya hendak sekali dia memberikan tinjuan pada laki-laki yang ada di sampingnya itu. Bagaimana mungkin dia sudah berekspektasi tinggi jika laki-laki itu pasti akan menyatakan cinta padanya hari ini? Tetapi dia justru dihempaskan begitu saja. Apalagi saat mengingat laki-laki itu mengatakan rahasia, tentu saja pikirannya lalu mengarah ke sana.
"Maaf, Nona. Tetapi Tuan Barrack mengatakan untuk tidak memberitahukan perihal itu pada Anda," jawab Aldo dengan jujur. "Lagian saya juga tidak menyangka Anda akan berpenampilan seperti ini," sambung Aldo dengan suara pelan, tetapi masih dapat didengar oleh Bianca.
"Lalu apakah aku harus menggunakan pakaian compang-camping? Apakah aku harus berpenampilan seperti pengemis?" bentak Bianca tanpa sadar, sehingga membuat Aldo sedikit terhendak dengan suara bosnya yang meninggi.
'Siapa pun, tolong gue! Bawa gue pergi dari dunia ini! Kalau perlu pindah planet aja!' Bianca berteriak dalam hati. Andai dia seorang jin, maka dapat dipastikan dia akan langsung menghilang dari sana.
"Ma—maaf, Nona. Saya minta maaf atas ucapan saya tadi." Aldo menunduk hormat, sehingga membuat Bianca semakin frustasi.
"Udah, jangan marah-marah dong cewek cantik," goda Barrack pada adik manisnya tersebut. Jujur saja, Barrack sedikit bingung dengan tingkah aneh adiknya tersebut. Dia mengatakan pada Aldo agar tidak memberitahukan kemana mereka akan pergi karena dia takut adiknya itu akan menolak. Tetapi yang membuatnya sangat bingung adalah, wanita itu yang berpenampilan sangat cantik, berbanding terbalik dengan hari-hari biasanya, bahkan ketika adiknya pergi ke kantor, penampilannya tidak sampai seperti itu.
Bianca hanya diam, dia merasa marah sekaligus malu di waktu yang bersamaan.
"Emangnya Aldo bilangnya kemana sampai cantik begini?" tanya Barrack dengan suara mengejek.
"Saya hanya menjawab rahasia, Tuan. Sama seperti yang Anda katakan." Bukan Bianca yang menjawab, tetapi Aldo lebih dulu menjawabnya karena takut ada kesalahpahaman, padahal Barrack hanya bercanda saja.
"Oh, rahasia. Aku kira tadi dijanjikan ke sebuah pesta," ejek Barrack lagi yang semakin membuat Bianca menjadi sangat malu. Sementara Aldo, dia hanya diam, bingung ingin merespon apa, karena tidak benar-benar memahami maksud kakak beradik tersebut.
Ada satu pertanyaan yang ada di benak Barrack. Apakah adiknya itu menyukai sekretarisnya sendiri? Tetapi bagaimana mungkin respon yang diberikan Aldo biasa saja?
"Abang diam!" bentak Bianca lagi. Dia tidak peduli lagi dengan yang namanya image. Sudah habis kesabarannya menghadapi Aldo, bagaimana mungkin laki-laki tidak bisa peka juga setelah apa yang sudah dia ajarkan padanya? Bahkan laki-laki itu tidak pernah lagi mengungkit perihal dia yang pernah menyatakan cinta pada dirinya.
"Aduh, duh. Galak amat cewek cantiknya. Yaudah, berhubung Abang pengen nyari jodoh, jadi Abang tinggalin aja kalian berdua, ya. Bayangin aja, Dek. Umur Abang udah 32 tahun, tapi masih jomblo." Barrack bergaya seolah-olah dia sedang sedih dengan nasibnya.
"Semoga Anda segera mendapat jodoh Anda, Tuan." Aldo berkata dengan tulus.
"Terima kasih, Al. Tetapi kau juga harus berdoa untuk dirimu sendiri," kekeh Barrack.
"Ya, Tuan? Memangnya apa yang salah dengan diri saya?"
"Kita hanya berbeda 3 tahun saja, dan kau juga masih jomblo, Al!" jawab Barrack dengan malas. Jujur saja, dia sedikit malas mengajak Aldo berbicara, pasalnya ekspresi laki-laki itu sangat datar.
"Karena saya masih ingin menikmati kehidupan bebas, Tuan." Aldo berkata tanpa keraguan sama sekali.
__ADS_1
'Cih ... ingin hidup bebas? Lalu apa maksudmu menyatakan cinta padaku? Apakah aku salah paham? Tentu tidak, 'kan? Orang cuman kita berdua doang di dalam ruangan itu!' Bianca berdumel dalam hati. Dia sangat geram mendengar jawaban Aldo.
"Yaudah aku pergi."
Barrack segera pergi dari sana, tetapi baru saja dia memutar handle pintu, dia segera berbalik lagi.
"Ada gitu ya orang mau latihan karate pakai high heel? Baek-baek lo, Dek! Entar keseleo lagi. Mana pakai dress lagi," celoteh Barrack, berniat menggoda adiknya itu lagi.
"ABANG!" Bianca berteriak dengan suara nyaring, sehingga membuat Barrack segera keluar, takut mendapat cakaran dari macan cantik tersebut.
Melihat abangnya yang sudah pergi, Bianca menatap tajam sekretarisnya yang berada di samping.
Aldo sendiri mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya kenapa?
"Puas kau mempermalukan ku?" ketus Bianca.
"Ya, Nona? Sejak kapan saya mempermalukan Anda?" tanya Aldo polos.
'Argg! Siapa pun tolong sadarkan Aldo!'
"Ckk ... apa kau tidak bisa peka? Aku bahkan sudah berpenampilan secantik ini, tetapi kenapa kau tidak mengatakan jika kita akan ke tempat latihan bela diri saja?" ketus Bianca, bahkan wanita itu menghentak-hentakkan kakinya, sehingga di mata Aldo itu semakin menggemaskan.
"Memangnya Anda mengira saya akan membawa Anda kemana?" Aldo mengerutkan keningnya, bingung dengan maksud wanita di sampingnya itu.
'Hah? Sejak kapan orang pergi ke kuburan dengan penampilan seperti ini?' batin Aldo bertanya-tanya.
"Ah, sudahlah, sekarang aku ingin latihan bela diri." Bianca mengabaikan wajah bingung sekretarisnya, lalu celingukan melihat ke sana kemari.
"Baik, Nona. Pertama kita akan latihan ilmu dasar bela dir—"
"Ah, tidak perlu!" Bianca mengibaskan tangannya. "Aku ingin latihan tinju saja, dan kau yang menjadi samsaknya!" ketus Bianca, dia ingin sekali meluapkan segela emosinya pada laki-laki itu.
"Ya, Nona?" Mendengar bosnya yang mengatakan ingin menjadikannya sebagai samsak, Aldo tentu dibuat merinding.
"Ckk ... maksudku kau yang menggunakan Punch Mitt tersebut!"
"Tapi, Nona ... Anda harus belajar ilmu dasarnya terlebih dahulu." Aldo berusaha membujuk wanita itu, karena jika langsung latihan tinju tanpa melakukan sedikit latihan awal, maka takutnya akan terjadi cidera.
"Tidak perlu! Apa kau meragukanku?" bentak Bianca lagi dengan napas naik turun.
'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nona Bianca?' Aldo tentu merasa heran dengan perubahan bosnya tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan Anda ganti pakaian dulu, karena tidak mungkin Anda latihan tinju dengan menggunakan dress, Nona," ujar Aldo yang justru semakin membuat Bianca menjadi malu.
'Sumpah gue malu! Yakali datang ke sini pakai dress!'
"Tidak perlu, akan aku buktikan jika aku ahli dalam seni bela diri." Bianca berbicara dengan penuh percaya diri.
"Baiklah!"
*****
Saat ini Aldo dan Bianca berada di atas ring dengan Aldo yang menggunakan punch mitt, dan Bianca yang menggunakan sarung tinju. Entah kenapa melihat Aldo membuatnya semakin semangat untuk meninju laki-laki itu, bahkan jika perlu menghajarnya.
Bianca bergaya seolah siap bertarung, itu semua tentu pernah dia lihat di TV, bagaimana posisi dan gaya seorang petinju.
"Anda siap, Nona?" tanya Aldo yang kini sudah siap.
Bianca tidak menjawab, dia hanya mengangguk mengiyakan, lalu segera berjalan mendekati Aldo.
"HIA!" Bianca berteriak dengan sangat nyaring, lalu ....
Bughh
TBC
.
.
.
__ADS_1
.