Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Sebuah Pelukkan


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Bianca belajar seni bela diri, tentunya dengan Aldo yang selalu berada di dekatnya. Hampir setiap hari Bianca meluangkan waktu sibuknya hanya untuk berlatih seni bela diri. Entahlah, sejak awal latihan, dirinya menjadi sangat tertarik untuk mempelajari berbagai seni bela diri.


"Wah ... wah ... kamu hanya berlatih selama dua minggu, Nak. Tetapi lihatlah ... kamu bahkan sudah mengusai berbagai jenis bela diri dengan sangat cepat." Pria paruh baya tersebut memandang takjub Bianca, sangat jarang ada seorang wanita yang sangat cepat menguasai seni bela diri dalam waktu yang singkat, bahkan laki-laki pun mungkin memerlukan waktu yang cukup lama.


Bianca tersenyum lebar, ikut merasa bangga dengan dirinya sendiri. Kini dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Jika sewaktu-waktu ada yang ingin berbuat jahat padanya, maka dia pastikan akan memberikan pukulan keras pada orang tersebut.


Melihat wanita yang ada di sampingnya tersenyum dengan sangat lebar, entah kenapa senyum itu juga tertular pada Aldo. Laki-laki itu tersenyum tipis melihat senyum indah Bianca. Ini adalah kali pertamanya Aldo tersenyum setelah sekian lama tidak pernah menunjukkan senyumnya, mungkin terakhir kali dia tersenyum saat dia menelpon temannya untuk memberikan cara bagaimana menyatakan cinta pada perempuan, dan itu pun karena dia merasa geli dengan cara yang dia berikan, padahal dirinya sendiri tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun, hal itu tentu saja membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Ini semua juga berkat bantuan Al—do." Bianca memalingkan wajahnya ke sebelah kiri, dan dia justru melihat pemandangan yang sangat langka. Aldo! Ya, laki-laki itu sedang tersenyum. Apakah dia tidak salah lihat saat ini? Ini adalah kali pertamanya Aldo tersenyum selama dia menjadi sekretarisnya. Biasanya laki-laki itu terus menunjukkan wajah datarnya, dan mungkin hanya tersenyum paksa di depan para klien. Tetapi sekarang seperti ada keajaiban, dia tersenyum tipis, tetapi senyum tipis itu justru membuat kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


"Baiklah, saya harus pergi sekarang, maaf mengganggu kalian," ujarnya dengan tersenyum sopan.


Aldo mengangguk, sementara Bianca justru terus terdiam layaknya orang idiot sambil terus memandangi wajah tampan Aldo.


Aldo yang menyadari seperti ada yang memperhatikannya sontak menatap ke samping, dan justru dihadapkan dengan wajah menggemaskan bosnya, apalagi wajah itu terlihat sangat polos.


"Ada apa, Nona? Kenapa Anda melihat saya seperti itu?" tanya Aldo di tengah kegugupan yang melanda dirinya. Wajar saja, memangnya siapa yang sanggup dihadapkan dengan wajah cantik seorang Bianca.


"Apa tadi kau tersenyum?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Bianca, padahal tadi dia dengan jelas melihat jika laki-laki itu tersenyum kecil.


"Tersenyum?" beo Aldo.


"Iya, tadi kau tersenyum, benar, 'kan?" jawab Bianca dengan semangat.


"Memangnya kenapa jika saya tersenyum, Nona?" Aldo justru dibuat bingung. Apakah dia tidak diperbolehkan untuk tersenyum? Kenapa wanita itu malah membahas sesuatu yang tidak penting?


"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum? Selama ini aku tidak pernah melihat kau tersenyum?" tanya Bianca yang langsung membuat Aldo terdiam. Apakah semengerikan itu dia, sampai tidak pernah tersenyum sama sekali selama ini? Pikir Aldo.


'Tidak mungkin saya mengatakan karena Anda, Nona!'


"Ah, itu .... Saya tersenyum karena melihat Pak Dimas tadi, dia masih terlihat muda dan gagah meski pun umurnya sudah hampir mencapai setengah abad," jawab Aldo asal, tetapi anehnya dia justru berbicara tanpa terputus-putus, sehingga membuat Bianca percaya.


"Astagfhirullah, Al. Jangan bilang kau menyukai sesama jenis?" tebak Bianca dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.


"Jangan sembarang bicara, Nona!" sahut Aldo dengan intonasi tinggi. "Ah, maaf. Maksud saya, tentu tidak! Saya ini laki-laki normal," sambung Aldo dengan wajah datarnya.


Bianca menghembuskan napas lega. Setidaknya Aldo bukanlah pria gay! Pikir Bianca.

__ADS_1


"Makasih, Al." Bianca berkata dengan tulus, tetapi malah membuat Aldo bingung.


"Makasih karena sudah mau mengajariku selama ini. Makasih karena sudah berada di dekatku sampai detik ini. Makasih karena kamu tidak membenciku, padahal kau mungkin saja sakit saat itu. Maaf, maaf karena sudah menyakitimu, Al." Bianca memandang sendu Aldo, sementara yang dipandang malah mengerutkan keningnya, memangnya dia sedang sakit apa sekarang?


"Boleh aku memelukmu?" pinta Bianca dengan wajah memelas.


Aldo membelalakkan matanya. Apakah dia tidak salah dengar? Bosnya meminta ijin untuk memeluk dirinya?


"H—hah?"


Tanpa menunggu persetujuan sang empunya, Bianca langsung memeluk tubuh kekar Aldo, sehingga membuat jantung Aldo berdetak semakin cepat tanpa persetujuannya.


"Maaf, Al," sesal Bianca.


"No—Nona, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aldo tanpa memperdulikan suara detak jantungnya yang mungkin saja terdengar di telingga bosnya.


"Maaf karena sudah menolak cin—"


"Hello! How are you? Gimana latihan kalian—" Barrack sontak terdiam saat melihat kedua manusia di depannya sedang berpelukkan, dia merasa iri, tapi mau bagaimana lagi, memang seperti inilah resiko seorang jomblo.


Aldo yang melihat keberadaan Barrack langsung mendorong tubuh Bianca dengan cukup kuat, sehingga membuat wanita itu terjatuh.


Bianca melonggo mendengar suara Aldo yang terdengar seperti sedang membentaknya. Ah, laki-laki ini memang sangat pandai memainkan acting, apakah tidak sebaiknya dia menjadi seorang actor saja?


Berbeda dengan Bianca, Barrack tentu terkejut melihat adiknya yang didorong.


"Tidak perlu kasar juga, Al! Apa kau tidak bisa berkata sedikit lebih lembut?" tanya Barrack dengan suara tidak suka.


"Sudahlah, Kak. Ini memang salah ku. Wajar saja, mengingat Aldo di sini adalah pelatih, bukan sebagai sekretarisku! Jadi, kau jangan ikut campur!" ketus Bianca sambil menatap tajam kakaknya. Ah, gara-gara kakaknya pelukkan itu harus terlepas, padahal dia sangat suka dengan pelukkan Aldo, terasa sangat nyaman berada di sana.


"Ckk ... bukannya kamu berterima kasih sama Kakak. Ini malah ngomelin Kakak!" Barrack menjadi kesal sendiri, padahal niat hatinya ingin membela adiknya, tetapi justru dia yang diomel.


"Maaf, Tuan Barrack. Maaf atas kelancangan saya tadi." Aldo menunduk dengan hormat.


"Ckk ... bisakah kau tidak bersikap formal padaku, Al? Aku ini bukan bos mu! Tidak bisakah kau anggap aku seperti temanmu saja? Kau tahu, aku bahkan lebih memilih berbicara dengan batu dibandingkan denganmu!" omel Barrack seperti ibu-ibu komplek.


Sebenarnya Barrack adalah pria yang sedikit berbahaya. Dia akan menghabisi siapa pun yang berani mengusik keluarganya tanpa terkecuali! Apalagi jika ada yang berani menyakiti adik tersayangnya. Dan tentu saja, para preman yang sudah mencari masalah dengan keluarganya sudah habis ditangan Barrack, tetapi Barrack bukanlah orang yang bisa membunuh, karena menurutnya manusia tidak layak mengambil nyawa seseorang. Oleh sebab itu, Barrack hanya memberi mereka sedikit pelajaran, dan yang pastinya mereka berakhir di sel tahanan.

__ADS_1


Tetapi meski pun demikian, Barrack juga adalah pria yang hangat, dan itu semua tergantung dengan siapa dia berbicara.


"Tapi Tuan ... saya merasa tidak sopan jika memanggil Anda dengan sebutan nama saja, mengingat Anda adalah Kakak dari bos saya sendiri," jawab Aldo dengan datar, yang sontak saja membuat Barrack mendengus kesal.


"Ya sudah, kalian latihan saja! Aku tiba-tiba menjadi tidak mood melihat kalian berdua!" Setelah mengatakan itu, Barrack langsung segera pergi dari sana. Bianca memandang kepergian kakaknya dengan kesal, kenapa kakaknya harus datang hanya untuk sesuatu yang tidak berguna? Mengganggu saja!


"Al, yang tad—"


"Nona, apa yang sudah Anda lakukan sangat baik, sangat jarang ada orang bisa dengan mudah memahami berbagai seni bela diri secepat Anda. Selamat, Nona! Sekarang saya pikir Anda tidak perlu latihan lagi, Anda cukup mengasah kemampuan Anda di rumah saja," ujar Aldo yang kini suaranya sedikit lembut, meski yang lebih dominannya suara datar.


"Makasih, Al. Ini semua juga berkatmu," sahut Bianca dengan senyum yang mengembang, sehingga menambah kesan lucu, apalagi matanya hampir tertutup dengan senyum lebar itu.


'Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada bosku sendiri? Tetapi memangnya aku tahu apa tentang cinta? Sepertinya ini bukan perasaan cinta, tetapi hanya sekedar menghormati Nona Bianca, dan juga karena merasa bangga padanya.' Aldo berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang sedang dia rasakan saat ini bukanlah perasaan cinta, melainkan hanya perasaan kagum saja.


"Ini sudah hampir malam, Nona. Mari saya antar pulang." Aldo berkata setelah melihat jarum jam tanggannya yang sudah menunjukkan pukul enam tepat.


"Baiklah!"


'Sekian lama aku mengajari Aldo tentang sosok perempuan, apakah dia sama sekali tidak berniat menyatakan cintanya kembali padaku?' batin Bianca yang sedikit jengkel dengan sifat Aldo sekarang.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2