
Ceklek ....
Bryana masuk ke dalam kamar putrinya, dan mendapati putrinya yang sedang terlelap dengan sedikit dengkuran halus. Melihat putrinya yang tertidur dengan gaya tersebut, dia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bryana berjalan mendekati putrinya, lalu duduk di samping ujung ranjang. dia menepuk pelan pipi putrinya yang sudah dewasa tersebut.
"Ca, bangun!"
"Eugh ... lima menit, Ma." Bukannya bangun, Bianca justru mengeratkan pelukannya pada guling. Bukannya apa-apa, masalahnya dia semalam tidak bisa tidur, karena terus terpikir ucapan Aldo yang meminta bertemu di suatu tempat.
"Ckk ... tapi Aldo udah nungguin kamu dari tadi," sahut Bryana dengan sedikit jengkel.
Mendengar nama Aldo disebutkan, mata Bianca langsung terbuka dengan lebar. Sial! Dirinya baru ingat jika hari ini Aldo mengajaknya untuk bertemu jam 8 pagi. Tapi apa? Dia justru baru bangun di jam itu.
"Aldo nya mana?" pekik Bianca yang langsung bangkit berdiri, sehingga membuat Bryana tentu terkejut, pasalnya wanita itu langsung bangun, padahal nyawanya belum terkumpul.
"A—Aldo nya ada di ruang tamu, lagi ngobrol sama Papah kamu."
"Astaga!" Tanpa pikir panjang, Bianca segera berlari keluar kamar, dia bahkan tidak menyadari jika pakaian yang dia gunakan sangat tipis dan yang pastinya pendek.
Bianca menuruni tangga dengan sangat cepat, dan dapat dilihatnya jika Aldo sedang berbincang dengan papah-nya.
"Aldo, kau sudah lama menunggu?" tanya Bianca, sehingga membuat Aldo dan Bayu kompak mendongakkan kepala mereka, mengikuti sumber suara tersebut.
Mata Aldo melotot melihat pemandangan yang bisa dibilang sangat indah, bahkan lebih indah dari puluhan taman bunga. Bagaimana tidak, saat ini dia dapat melihat dengan jelas paha putih dan mulus wanita itu, dan tidak hanya itu, dia juga melihat bahu wanita itu yang terekpos, karena tali pakaian tidur wanita itu kecil, mungkin seperti jari kelingking saja.
"Ti—tidak! Sa—saya baru saja sampai." Aldo memalingkan wajahnya, entah kenapa, dia yang justru malu melihat pemandangan itu.
"Caca! Kenapa kamu keluar dengan pakaian seperti itu? Cepat sana masuk! Apa kamu tidak malu dilihat oleh Aldo?" tegur Bayu yang juga sama terkejutnya melihat penampilan putrinya.
Bianca melihat pakaian yang dia gunakan, dan seketika merasa malu. Bagaimana mungkin dia keluar dengan pakaian yang seperti? Ah, sudah hancur harga dirinya di depan orang yang dia sukai.
Bianca lalu segera masuk ke dalam kamarnya, dan justru dihadapkan dengan wajah mama-nya yang terlihat sedang marah.
"Kenapa ngeliat Caca sampai begitu?" tanya Bianca heran.
"Ckk ... kamu tuh apa-apaan sih, Ca! Kamu liat pakaian kamu semuanya berantakkan! Apa sih yang kamu cari sampai ngeluarin semua pakaian? Kamu tuh cewek, kenapa jorok banget sih." Bryana mulai menceramahi putrinya, sedangkan yang diceramahi hanya cengengesan tidak jelas.
"Nanti Bianca beresin deh," sahut Bianca seolah itu bukan masalah yang serius. "Aduh, Bianca harus segera pergi, Mah! Udah Mamah keluar deh, Bianca mau mandi, terus siap-siap!" Dengan sengaja Bianca mendorong tubuh mama-nya dengan pelan.
"Emangnya mau kemana sih? Ini 'kan libur, Ca?" tanya Bryana yang jiwa kekepoannya sudah meronta-ronta.
"Kepo!"
Bryana berdecak kesal mendengar jawaban putrinya, kemudian dia segera pergi dari sana. Sementara Bianca langsung berlari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Karena sedang buru-buru sekali, wanita itu bahkan menghabiskan waktu 10 menit saja untuk membersihkan diri. Segera dia memilih pakaian yang akan dia gunakan hari ini. Semua pakaian dia lembar, karena bingung ingin menggunakan yang mana.
__ADS_1
"Nah! Ini aja kayaknya bagus," gumam Bianca sambil membolak-balikkan dress berwarna peach pink.
Merasa sangat cocok, Bianca segera memasangkan pakaian tersebut di tubuhnya, dan kini penampilannya semakin memukau.
Bianca berjalan menuju meja riasnya, lalu mulai memoleskan beberapa alat make up di wajahnya.
"Perfect! Tinggal sentuhan akhir lagi!" Bianca segera mengambil sebotol parfumnya, dan mulai menyemprot parfum tersebut ke seluruh tubuhnya.
"Wonderful! Aldo pasti semakin tidak sabar ingin menyatakan cintanya padaku." Bianca terkekeh, dia merasa sangat pede jika Aldo pasti tidak sabar ingin memilikinya.
Setelah melihat penampilannya yang sempurna, Bianca segera berjalan menuju lemari yang berisi kumpulan sepatunya, lalu diambilnya sepasang sepatu berwarna peach pink yang senada dengan warna dressnya. Setelah itu diambilnya tas yang juga berwarna peach pink, sehingga yang dia gunakan semuanya berwarna peach pink. Tidak hanya itu saja, dia bahkan menggunakan jepitan rambut kecil berwarna putih, sehingga penampilannya kali ini benar-benar sangat memukau.
"Kau memang cantik Bianca Lalitha Grissham!" puji Bianca pada dirinya sendiri.
Setelah merasa tidak ada yang tertinggal, Bianca lalu turun ke bawah dengan langkah kaki yang sangat elegan, tidak lupa juga dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.
Aldo yang mendengar suara derap langkah kaki segera mendonggakkan kepalanya, dan tanpa sadar mulutnya terbuka dengan lebar saat melihat sosok bosnya yang sangat cantik dan anggun, apalagi warna dress itu senada dengan sepatu dan tasnya, ditambah jepitan rambut yang menempel di rambutnya menambah kesan imut.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu." Suara Bianca terdengar sangat lembut.
Aldo masih belum sadar, dia benar-benar terpesona dengan penampilan wanita yang akhir-akhir ini selalu menganggu pikirannya hampir setiap malam.
Bianca sedikit terkekeh melihat respon yang diberikan sekretarisnya itu, dengan pelan berjalan mendekati laki-laki itu, lalu menepuk pelan bahunya.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Bianca sedikit terkekeh.
"Kenapa? Apa aku tidak cantik berpenampilan seperti ini?" tanya Bianca.
"Sangat cantik," lirih Aldo tanpa sadar, tetapi Bianca masih dapat mendengar dengan jelas.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" Bianca bertanya seolah-olah dia tidak mendengar, padahal dia jelas mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki itu.
"Ah, tidak ada! Kalau begitu mari kita pergi." Bukannya menunggu bosnya, Aldo justru berjalan meninggalkan Bianca sendirian di sana. Tetapi meski pun demikian, Bianca tidak marah, wanita itu justru terkekeh karena merasa lucu dengan tingkah sekretarisnya tersebut. Apakah gugup juga salah satu bagian dari cinta?
Bianca segera berjalan menyusul Aldo. Sementara orang tuanya sudah pergi dari tadi, karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan.
Bianca membuka pintu mobil, dan mendapati sekretarisnya tersebut sudah siap.
"Ckk ... kenapa tidak membukakan pintu untukku?" tanya Bianca sedikit ketus.
"Ah, maaf, Nona. Kalau begitu biar saya yang membukakan pintu untuk Anda."
"Tidak! Tidak perlu, jangan merasa tersinggung, aku hanya bercanda saja," kekeh Bianca, dia merasa bahagia karena sudah menjahili laki-laki dingin plus datar tersebut.
Aldo hanya diam, setelah melihat bosnya sudah memasang seat belt, segera dia jalankan mobil tersebut menuju tempat untuk belajar bela diri. Bianca sendiri hanya diam, dia memilih untuk menatap ke luar jendela saja, ada begitu banyak tebak-tebakkan di dalam pikirannya.
Apakah Aldo akan mengajaknya ke sebuah ruangan yang sudah dia hias sedemikian rupa, dan terdapat banyak kelopak-kelopak bunga mawar yang membentuk gambar love? Atau justru Aldo akan membawanya ke pantai, lalu berlutut dengan dipenuhi orang-orang yang menyeksikan? Ah, memikirkannya saja sudah membuat Bianca bahagia.
__ADS_1
Tidak lama mobil Aldo berhenti di sebuah gedung.
"Sudah sampai, Nona." Aldo keluar dan sedikit berlari, berniat membukakan pintu mobil untuk atasannya tersebut.
"Mari, Nona."
"I—iya." Tentu saja Bianca sedikit bingung setelah melihat gedung bertuliskan 'Kemang Fight Camp'
Tunggu? Bukankan itu tempat untuk belajar seni bela diri? Apakah Aldo berniat menyatakan cintanya di sini? Pikir Bianca.
Begitu mereka masuk, banyak pasang mata yang menatap heran Bianca. Tentu saja! Mengingat penampilan wanita itu sangat berlebihan untuk datang ke tempat latihan bela diri. Bagaimana mungkin dia latihan karate, pencak silat, dan juga Taekwondo dengan pakaian yang seperti itu?
Bianca sendiri? Dia menjadi semakin gugup, entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres dengan situasi ini, tapi otaknya tidak mampu menebak apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Aldo.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah ruangan. Aldo segera masuk setelah mendapat persetujuan orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Permisi Tuan Barrack. Ini Nona Bianca," ucap Aldo dengan tegas.
Barrack yang sedang memukul samsak sontak memberhentikan aktivitasnya, dan menoleh ke belakang.
Barrack menggerjab-ngerjabkan matanya berkali-kali saat melihat penampilan adiknya yang sangat cantik, apalagi dengan balutan dress berwarna peach pink tersebut, sangat berbeda dari penampilan biasanya.
Barrack menggaruk tengkuknya, merasa sangat aneh, sebenarnya apa yang terjadi dengan adik kesayangannya itu?
"Lo kenapa berpenampilan wow banget, Dek? Kita cuman latihan bela diri aja, lho. Bukannya pengen ke pesta," celetuk Barrack, yang sontak saja membuat mata Bianca terbelalak karena terkejut.
"La—latihan?"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.