
"Eughh!" Aldo terbangun, dan menatap langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Kemudian mata elang miliknya melihat tangan yang sedang menggenggam erat tangan miliknya.
Cukup lama dirinya menatap tangan itu, sampai laki-laki itu sepenuhnya sadar. Buru-buru ia menatap ke samping, melihat siapa pemilik tangan tersebut.
Mata Aldo melotot saat ingatan tentang kejadian kemarin terlintas di dalam benaknya, bagaikan roll film. Aldo menyesal, jika saja dirinya tidak melihat bibir wanita itu yang terlihat menggoda. Tidak, tidak, jika saja seandainya wanita itu tidak membantu memasangkan seat belt, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Ah, tidak! Jika saja wanita itu tidak campur dalam perkelahian semalam, maka dia tidak akan tertusuk, dan tidak akan melakukan hal seperti itu kepada bosnya sendiri.
"My first kiss."
"My first kiss too."
"Aku harap, bibir ini hanya akan menjadi milik ku nantinya. Milik ku seorang!"
"Astagfhirullah, apa yang baru saja kau lakukan, Aldo!" Aldo memukul kepalanya dengan cukup kuat, tidak menyangka dia bisa se kurangajar itu pada bosnya sendiri.
"Bagimana mungkin kau berani mencuri ciuman pertama seseorang, dan yang lebih parahnya dia adalah bosmu sendiri? Bodoh ... bodoh ... bodoh! Itu sama saja kau sudah menghancurkan kepercayaan keluarga Grissham!" Aldo terus memaki dirinya sendiri. Apa yang akan dia katakan pada wanita itu nanti?
"Euggh!"
Melihat bosnya yang terbangun, buru-buru Aldo kembali memejamkan matanya, dia sendiri bingung apa yang harus dia katakan jika membuka mata, jadi dia memilih aman saja, yaitu berpura-pura belum bangun saja.
Bianca mengerjab-ngerjabkan matanya berkali-kali, berusaha mengumpulkan nyawanya yang sedang berkeliaran entah kemana. Setelah sadar sepenuhnya, dia langsung menatap laki-laki yang sedari kemaren dia jaga.
"Apakah dia belum bangun juga?" gumam Bianca saat melihat Aldo yang masih terbaring dengan mata yang tertutup.
"Huh ... Aldo, bangunlah! Jangan membuat ku terluka seperti ini. Hiks ...." Bianca kembali menangis, rasa bersalah menelusup ke dalam relung hatinya saat mengingat Aldo yang datang untuk membantunya hanya dengan baju kaos putih biasa.
'Hais ... kenapa Nona pakai menangis segala! Aku menjadi tidak tega jika seperti ini'
Drttt Drttt
Bianca mengambil handphonenya saat melihat benda pipih itu bergetar. Terpampang nama 'Tante Sophia' di sana. Bianca segera mengangkatnya, karena dia memang sudah mengatakan pada orang tua Aldo, jika laki-laki itu terluka dan sekarang berada di rumah sakit.
"Halo, Tante?"
"Gimana keadaan Aldo, Ca?" tanya Sophia dengan memanggil Bianca dengan panggilan Caca, panggilan yang hanya diberikan untuk orang terdekatnya.
"Aldo belum sadar, Tan." Bianca menghela napas kasar saat melihat mata Aldo yang masih tertutup.
"Yaudah, ini Tante, Om, sama keluarga mu lagi ke sana."
"Iya, Tan. Caca tunggu, kok."
Setelah mengatakan itu, Bianca lalu memutuskan panggilan.
__ADS_1
'Aduh ... kenapa mereka harus datang juga? Padahal aku tidak sekarat! Aku belum siap jika keluarga Grissham nanti tau apa yang sudah ku perbuat pada putri mereka' Aldo sedikit meringis membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti jika Bianca melapor pada keluarganya tentang kejadian semalam. Terlebih lagi Barrack, kakak dari Bianca sangatlah kejam, dia tidak akan segan menyiksa orang yang berani mengusik keluarganya.
Bianca mengenggam erat tangan Aldo. "Al, apa kau tidak bosan menutup mata terus menerus? Kenapa tidak mau bangun? Apakah kau sudah bosan menjadi sekretarisku? Jika kau bangun sekarang, maka aku janji akan menaikkan gaji mu." Bianca berkata dengan polos, karena bingung ingin mengatakan apa lagi.
'Astaga, kenapa aku semakin berdebar hanya karena tanganku digenggam saja?' Aldo sedikit tidak karuan saat tangannya digenggam erat oleh wanita yang berstatus sebagai bosnya itu.
Ceklekk ....
Tiba-tiba pintu dibuka dari luar, lalu masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut.
Bianca tersenyum lembut melihat keluarga dan keluarga Aldo yang datang berbarengan, bahkan kakaknya juga ada di sana. Mata Bianca berbinar melihat keberadaan kakaknya, padahal setahunya laki-laki itu masih berada di luar negri.
Bianca menyalami mereka satu-satu, lalu memeluk kakak tersayangnya.
"Kakak."
"Halo Adik manis." Barrack mengacak rambut adiknya dengan gemas, lalu menghujani wajah itu dengan kecupan, kecuali di bibirnya.
Semua tentu dengan jelas mendengar kecupan-kecupan yang diberikan oleh kakak kepada adiknya itu, dan mereka semua hanya tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.
Berbeda dengan mereka, rupanya ada satu laki-laki yang justru jengkel mendengarnya, bahkan tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka, dan komat-kamit, dan matanya sedikit mengintip, untuk melihat bagaimana posisi kakak beradik tersebut.
Apa yang dilakukan oleh Aldo tentu tertangkap oleh Barrack, dia yang kebetulan memeluk adiknya dengan pandangan ke arah laki-laki itu dengan jelas melihat laki-laki itu yang sedang mengintip.
'Untuk apa dia mengintip seperi itu?' Barrack bertanya-tanya di dalam hati, merasa aneh dengan tingkah Aldo yang tidak seperti biasanya.
"Kok Kak Rack nggak bilang-bilang kalau udah pulang?" Bianca mengerucutkan bibirnya kesal, seketika dia melupakan keberadaan Aldo dan keluarganya.
Barrack berdecak kesal mendengar panggilan adiknya. "Ckk ... kamu bisa panggil Kak Barra aja nggak sih, Dek? Masa manggil Kak Rack, kamu pikir Kakak nasi yang udah gosong itu!" ketus Barrack kesal.
"He-he ... itukan nama kesayangan dari Caca, Kak." Bianca terkekeh melihat wajah kesal kakaknya.
"Apa nggak ada nama kesayangan yang lebih bagus, gitu?"
"Apa pun namanya, minumannya tetap teh pucuk!" Bianca menjawab dangan asal, mengikuti iklan yang pernah dia tonton. Aldo yang mendengarnya mati-matian menahan tawa, agar tidak kelepasan, kan tidak lucu jika dia tiba-tiba tertawa, padahal dia sedang pingsan saat ini.
"Ckk ... nggak nyambung, Dek!"
"Udah-udah, jangan bertengkar mulu! Kalian nggak malu apa dilihat sama Om Andi dan Tante Sophia?" tanya Bryana, ibu dari kakak beradik tersebut.
"Iya, Mah!" jawab Bianca dan Barrack bersamaan.
"Oh, iya, apa Aldo masih belum bangun, Ca?" tanya Andi menatap Bianca.
__ADS_1
"Belum, Om." Bianca menjawab apa adanya.
"Memangnya dia ditusuk di mana?" tanya Barrack pura-pura tidak tahu, padahal Bianca sudah mengatakan sebelumnya.
"Di bahunya, Kak. Bianca bahkan nggak sanggup ngebayangin kalau Bianca yang ada di posisi itu, Kak." Bianca kembali memandang Aldo dengan sendu.
"Lemah!" sinis Barrack, yang sontak saja membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut, terlebih lagi keluarga Pratama. Bagaimana mungkin laki-laki itu berani mengatakan itu, sementara Aldo terluka juga karena menyelamatkan adiknya.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu, Bar!" ucap Bayu, ayah Barrack dengan nada tidak suka.
"Cih ... bagaimana mungkin ada laki-laki yang hampir sekarat hanya karena ditusuk di bahu saja? Apakah dia memang benar laki-laki, atau sebenarnya bencong?" Rupanya Barrack tidak menghiraukan ucapan ayahnya, dia ingin bermain-bermain dengan Aldo yang sedang berpura-pura belum sadar tersebut.
"Kak Rack!" pekik Bianca yang tidak menyangka kakaknya akan berbicara seperti itu.
"TIDAK! SAYA BUKAN LAKI-LAKI LEMAH!" teriak Aldo dengan lantang, lalu segera membuka matanya, dan bangun. Laki-laki itu tidak sadar jika dia sebenarnya sedang dikerjai oleh Barrack.
Semuanya yang ada di ruangan tersebut terlonjak mendengar teriakkan Aldo yang secara tiba-tiba. Tetapi, sedetik kemudian mereka menatap laki-laki itu dengan polos.
"Lho, bukannya kamu belum sadar, Al?" tanya mereka semua secara serempak.
Duarrrr
Tubuh Aldo sontak membeku saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Dia tidak sadar jika orang-orang taunya dia masih belum sadar. Itu semua dia lakukan karena tidak terima dikatakan lemah oleh orang lain, dia peling benci itu.
Hahahaha
TBC
.
.
.
__ADS_1
.