Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Menyuapi


__ADS_3

"A—apa yang sedang Anda lakukan, Nona?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Aldo, padahal dia dengan jelas melihat jika wanita itu sedang mengelap sudut bibirnya.


"Tentu saja membantumu membersihkan sudut bibirmu yang terdapat bekas jus tersebut," jawab Bianca apa adanya.


Itu pun Aldo tau. Tapi, maksudnya kenapa wanita itu berani sekali? "Tapi —"


"Apa kau ingin makan?" Ucapan Aldo terpotong dengan pertanyaan yang dilontarkan Bianca.


"Tidak!" jawab Aldo, tetapi sayangnya kepalanya justru mengangguk. Bianca yang melihatnya tentu tidak mampu untuk tidak tertawa. Wanita itu tertawa kecil, sehingga menambah kadar kecantikkannya.


"Kau sangat menggemaskan, Al!" kekeh Bianca, yang membuat Aldo semakin salah tingkah.


'Jika terus seperti ini, maka aku bisa gila!' Aldo berteriak di dalam hati.


"Pelayan!" panggil Bianca saat melihat salah satu pelayan yang lewat.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan yang umurnya Dara perkirakan masih remaja, mungkin sekitar 18 tahunan.


Gadis remaja itu tersenyum dengan sangat manis saat melihat wajah tampan Aldo, mungkin ini adalah kali pertamanya melihat wajah se tampan Aldo.


Aldo hanya diam, sorot matanya menajam ke arah depan seperti biasanya. Sementara Bianca berdecak kesal melihat gadis itu yang kecentilan pada calon suaminya, alias calon kekasihnya, yang entah kapan akan menjadi kenyataan.


"Aku pesan dua spaghetti!" ketus Bianca.


"Baik, Kak. Ditunggu, ya." Pelayan tersebut berkata dengan lembut, sambil pandangannya tidak lepas dari wajah tampan Aldo.


"BURUAN!" ucap Bianca sedikit membentak.


"I—iya, Kak. Saya akan segera bawakan." Pelayan tersebut tentu sedikit terkejut dengan bentakkan Bianca. Tanpa basa-basi dia segera pamit ke belakang.


Melihat pelayan tersebut yang sudah pergi, Bianca kembali berdecak kesal. "Ckk ... jadi cewek centil banget sama calon orang!" gerutu Bianca.


"Apa, Nona?" tanya Aldo yang sepertinya sempat mendengar gerutuan wanita itu. Tapi, karena takut salah dengar, dia kembali bertanya.


"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," jawab Bianca berdalih, merasa malu jika sampai Aldo sadar dia menyukai laki-laki itu. Kan tidak lucu jika Aldo tau dia menyukai laki-laki itu, sementara dia baru saja menolak cintanya.


"Ah maaf, Nona. Sepertinya pendengaran saya sedikit bermasalah tadi." Setelah mengatakan itu, Aldo terdiam, karena tidak mau membuka suaranya terlalu banyak. Sudah cukup dia banyak berbicara hari ini, padahal dia bukan tipe yang suka banyak berbicara. Tapi, entahlah, dia sendiri juga tidak tau kenapa hari ini banyak mengeluarkan suara saat bersama bosnya.


Bianca sendiri hanya diam, berpura-pura sibuk dengan handphone miliknya, meski pun dia tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Ya, maklumlah orang jomblo, jadi aplikasi warna hijau itu sangat sepi, bagaikan kuburan. Tak ada satu pun orang yang perhatian dengannya, setidaknya mengucapkan selama siang, atau mengucapkan kata-kata manis untuk menambah staminanya. Ya, maklumlah, orang jodohnya ada di sampingnya.


Tapi untuk menjaga image-nya, dan bersikap sok jual mahal, dengan terpaksa Bianca hanya menggeser-geser layar handphonenya saja.

__ADS_1


"Permisi, Kak. Ini pesanannya," ujar pelayan tadi dengan ramah sambil meletakkan dua piring berisi spaghetti yang tadi Bianca pesan. Setelah mengantarkan pesanan tersebut, dia segera pergi, karena sedikit risih dengan tatapan yang diberikan oleh Bianca. Ya, tatapan yang seolah-olah ingin membunuhnya, layaknya seorang psikopat.


"Yaudah, makan!" perintah Bianca dengan lembut, lalu memakan makanan miliknya setelah mengucap doa.


Aldo hanya diam sambil terus memperhatikan bosnya yang sedang makan dengan anggun.


Aldo hanya mampu meneguk salivanya dengan kasar saat melihat bibir wanita itu yang terus bergerak, karena sedang mengunyah makanan. Bisikan-bisikan setan terus terngiang-ngiang di telingganya, seolah menyuruhnya untuk mencium bibir s*xy tersebut.


Aldo mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan gejolak di dalam sana yang memaksanya untuk mendekat ke arah wanita itu, lalu mel*mat bibirnya untuk merasakan rasa spaghetti dari mulut yang sangat menggoda tersebut. Hal itu tidak akan pernah terjadi, karena jika dia berani, maka dia bisa saja sudah tidak bernyawa lagi, mengingat Bianca memiliki seorang kakak yang sedikit sadis.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Bianca yang sejak tadi melihat Aldo yang hanya diam saja.


"Ah, maaf Nona. Ini saya akan memakannya," jawab Aldo dengan datar, lalu tanpa basa-basi langsung menyantap spaghetti miliknya.


Bianca tersenyum melihat Aldo yang makan dengan sangat lahap. Ah, rasanya memang bahagia melihat orang yang kita cintai bertinggah menggemaskan.


Bianca kembali melahap makanannya sambil sesekali melihat Aldo yang bersikap cuek bebek. Padahal laki-laki itu berusaha untuk bersikap tidak peduli saja.


"Aaaaa!" Bianca memberikan sesendok spaghetti miliknya ke hadapan Aldo, menyuruh Aldo untuk menerima suapannya.


Uhuk Uhuk


"Ti—tidak perlu, Nona. punya kita sama saja," tolak Aldo sedikit ambigu. "Maksud saya, rasa spaghettinya yang sama." Menyadari ada yang salah dengan kata-katanya, buru-buru Aldo memperbaikinya.


"Tidak apa-apa, mungkin rasanya akan berbeda jika aku yang menyuapimu," balas Bianca santai.


"Tidak perlu, Nona."


"Makan, Aldo!" perintah Bianca tidak ingin dibantah.


"Tidak perlu, Nona. Rasanya tetap sama dengan spaghetti milik saya." Aldo tetap ngotot menolak permintaan Bianca. Bagaimana mungkin Bos dan Sekretaris bersikap layaknya sepasang kekasih? Aldo masih sadar diri, dia tidak mau jatuh cinta pada bosnya sendiri, karena u


"Aldo Raditya Pratama!" Bianca yang sudah sangat kesal langsung menyebut nama panjang laki-laki itu, pertanda dia tidak ingin dibantah, dan harus dilakukan.


"Huh ... ba—baiklah." Aldo hanya bisa pasrah saja, lalu membuka mulutnya, dan menerima suapan dari bosnya, yang menurutnya sedikit tidak sopan jika bos dan sekretaris se intim ini.


"Bagaimana rasanya?" tanya Bianca antusias.


"Sama saja, Nona. Rasanya seperti spaghetti," jawab Aldo dengan polos sekaligus jujur.


"Ckk ... ya jelaslah rasa spaghetti! Orang ini emang spaghetti! Ya kali rasanya malah kayak rasa opor ayam!" ketus Bianca. Sekretarisnya ini memang tidak peka sama sekali. Seharusnya kan rasanya berbeda, karena orang yang dicintainya yang memberikan suapan tersebut.

__ADS_1


"Oke, sekarang giliranmu yang menyuapi aku!" perintah Bianca yang kembali membuat Aldo terkejut bukan main.


"Ya, Nona?"


"Suapi aku! Aku ingin merasakan milikmu," jawab Bianca.


"Hah?" Entah kenapa otak Aldo malah mendadak traveling ke mana-mana, mendengar 'milikmu'


"Maksudku, aku ingin merasakan spaghetti milikmu."


"Ta—tapi, ini sama saja, Nona." Aldo tidak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya itu. Kenapa tiba-tiba bersikap sangat aneh seperti ini?


"Aku ingin mencobanya," rengek Bianca, dan ini adalah kali pertamanya Aldo melihat wanita itu merengek.


"Maaf, Nona. Sepertinya kita harus kembali ke kantor, jam siang sudah lewat, dan masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Setelah mengatakan itu, Aldo bangkit berdiri, dan tanpa basa-basi dia segera pergi meninggalkan Bianca duduk sendirian di dalam restoran tersebut.


"Ckk ... sok sibuk sekali dia! Padahal yang bos di sini 'kan aku, kenapa malah dia yang lebih sibuk? Jadi laki-laki tidak ada maco-nya sama sekali. Apakah dia memang tidak berniat memperjuangkan aku? Ha-ha ... secepat itukah dia melupakanku? Tapi, bagaimana mungkin dia bisa melupakan ku hanya dalam beberapa jam saja? Cih ... bagaimana mungkin malah aku yang berjuang untuk membuatnya berani menyatakan cintanya lagi padaku." Bianca terus menggerutu, merasa kesal dengan sifat Aldo yang sama sekali tidak menunjukkan sisi laki-lakinya.


Bianca lalu mengambil tas kecilnya. Tanpa basa-basi dia segera keluar dari restoran tersebut, setelah meninggalkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2