
"Akh, hari yang sangat melelahkan!" gumam Aldo setelah menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Drttt ... Drttt ....
Merasakan ada yang bergetar di saku celananya, Aldo lalu mengambil handphonenya tersebut. Terpampang nama 'Nona Bianca' di layar handphonenya.
"Tumben sekali dia menelponku." Aldo sedikit heran saat bosnya yang tiba-tiba menelpon. Apakah karena dia pergi begitu saja tadi? Tapi ....
"Halo, Nona?"
"TURUN ATAU GUE BAKAR MOBIL LO?"
"Halo, Nona? Ada apa? Apa yang terjadi?" Aldo seketika panik saat mendengar suara seorang laki-laki yang sangat nyaring. Sebenarnya apa yang terjadi dengan wanita itu?
"Nona jawab saya!" bentak Aldo lagi, tetapi tetap saja tidak ada yang menyahuti.
Aldo sadar jika wanita itu sedang dalam bahaya. Tanpa basa-basi dia segera menyambar kunci mobilnya, lalu berlari dengan cepat menuruni tangga.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Sophia, yang sedikit heran melihat putranya yang terburu-buru.
"Aldo buru-buru, Mah!" jawab Aldo tanpa menghentikan langkahnya.
"Aldo —"
"Maaf, Pah. Tapi, Aldo buru-buru, ada seseorang yang sedang dalam bahaya!" Aldo tau jika ayahnya pasti ingin menegur dia yang tidak ada sopan santunnya sama sekali dengan orang tua. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk menjelaskan pada orang tuanya.
Aldo masuk ke dalam mobilnya, kemudian menjalankan kendaraan tersebut dengan kecepatan maksimal, dia tidak peduli jika hal itu bisa saja membahayakannya. Sekarang yang dia pikirkan hanya Bianca saja, dia takut jika terjadi sesuatu pada wanita itu.
Aldo melewati jalanan sepi menuju rumah Bianca. Dia mendapati keberadaan wanita itu di jalan yang sepi. Aldo dapat melihat dengan jelas salah satu preman yang mendekati Bianca. Tanpa basa-basi dia segera keluar dari dalam mobil, lalu sedikit berlari, saat melihat preman itu yang mengangkat tangannya.
Bughh
"Akhh!" Sebelum melayangkan tamparan di pipi Bianca, preman tersebut lebih dulu terjungkal ke belakang saat seseorang menendangnya dengan sangat kuat.
"Cih ... bagaimana mungkin ada seorang laki-laki yang ingin menghajar perempuan? Lebih baik kau potong terlebih dahulu burungmu, Tuan!" ucap Aldo dengan suara dingin.
Bianca yang mendengar suara seseorang yang dia kenali sontak perlahan membuka matanya, dan benar saja, dia mendapati Aldo di depannya.
"Al," lirih Bianca dengan air mata yang menetes.
"Nona, jangan menangis. Carilah tempat yang aman, saya yang akan menghadapi para preman ini." Aldo berusaha untuk menenangkan wanita itu.
Karena saking paniknya, Bianca justru berlari ke pinggir jalan, bukan masuk ke dalam mobilnya.
Aldo menatap tajam para preman tersebut. Aura yang dikeluarkan laki-laki itu berbeda, dia merasa sangat marah saat melihat seorang wanita yang menangis akibat ulah para preman tersebut. Dia sangat benci pada seseorang yang membuat perempuan menangis, karena itu sama saja mereka menyakiti seseorang yang sudah berjuang untuk melahirkan mereka.
"Sialan! Siapa kau yang tiba-tiba datang?" tanya preman tersebut sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Kau tidak perlu tau! Kalian memang para ba***gan kecil yang perlu dibasmikan!" jawab Aldo dengan aura yang mengerikan.
__ADS_1
Hahaha
Terdengar gelak tawa dari para preman tersebut, merasa lucu dengan ucapan laki-laki itu. Aldo yang mendengarnya sontak mengepalkan tangannya.
"Memangnya kau siapa sampai bisa membasmi kami? Lagian kami bertiga, sementara kau hanya sendiri," ejek salah satu dari preman tersebut.
"Aku peringatkan kalian, pergi atau kalian akan mati di tanganku?" tanya Aldo dengan suara rendah, sehingga membuat suasana semakin mencekam.
"Kami tidak akan pergi sebelum wanita itu ikut dengan kami, karena kami ingin dia menemani kami malam ini," jawab preman yang memiliki tubuh paling besar di antara mereka.
"Baiklah jika kalian berkata seperti itu, berarti pilihannya kalian ingin mencobaiku."
Bughh
Bughh
Bughh
Dengan gerakkan cepat Aldo menendang perut para preman tersebut di saat mereka sedang lengah.
Para preman tersebut menggeram marah, berani-beraninya laki-laki itu menendang mereka.
"See!" Aldo bersmirik, entah kenapa dia menjadi sangat bersemangat, mungkin karena sudah lama tidak pernah menunjukkan keahliannya dalam seni bela diri.
"****!" umpat salah satu preman tersebut.
Para preman tersebut langsung bangkit, kemudian menyerang Aldo bersamaan.
Bughh
Salah satu preman tersebut akhirnya berhasil memberi bogeman, dan tepat mengenai sudut bibir Aldo, sehingga membuat sudut bibir laki-laki itu sedikit berdarah.
"ALDO!" teriak Bianca histeris saat melihat sudut bibir laki-laki itu yang berdarah.
"Sialan!" umpat Aldo, lalu mengusap darah di sudut bibirnya.
Bianca tidak tinggal diam, dia berusaha untuk membantu Aldo. Bianca mulai melihat sekelilingnya, berharap menemukan benda yang bisa dia gunakan untuk memukul para preman tersebut.
Mata Bianca sedikit berbinar saat melihat ada sebilah kayu yang cukup besar. Segera wanita itu mengambilnya, lalu secara perlahan berjalan, bersiap untuk memukul tengkuk salah satu preman tersebut.
"Kalian benar-benar membuatku marah!" Aldo berkata dengan suara yang nyaring dan sangat mengerikan, sehingga membuat Bianca sedikit terkejut.
Para preman tersebut sebenarnya takut, karena mereka bisa merasakan jika kemampuan bela diri laki-laki itu sangat kuat. Tetapi mereka tidak menyerah begitu saja.
Para preman tersebut saling pandang, seolah tau apa yang ada dipikiran masing-masing, mereka semua kompak tersenyum miring, lalu tanpa sepengetahuan Aldo dan Bianca, salah satu di antara mereka mengeluarkan sebilah pisau tajam secara diam-diam.
Bughh
Bughh
__ADS_1
Aldo memukul mereka secara membabi buta.
Bianca yang melihat salah satu dari preman itu berniat untuk memukul Aldo langsung segera berlari.
"Hiaaa!!"
Bughh
Bianca memukul preman tersebut tepat di tengkuknya, sehingga membuat preman itu menggeram marah. Tanpa basa-basi preman itu segera bangkit, tanpa basa-basi ....
Plak
Preman tersebut menampar pipi Bianca dengan sangat kuat, sehingga membuat wanita itu sedikit berteriak.
"Nona!" teriak Aldo yang melihat bosnya yang terjatuh.
"Nona ... Nona tidak apa-apa?" Aldo bertanya dengan wajah panik.
"Shhh ... sakit, Al." Bianca meringis sambil memegang sudut bibirnya yang sedikit robek dan berdarah. Ini adalah kali pertamanya dia ditampar oleh seseorang.
Aldo yang melihatnya seketika merasa bersalah, karena akibat ulahnya, wanita itu jadi terluka.
Melihat kedua orang tersebut yang sedang sibuk sendiri, para preman tersebut mengambil kesempatan untuk menusuk laki-laki yang sudah menghalangi niat mereka untuk bersenang-senang dengan wanita cantik itu.
Salah satu preman yang membawa sebilah pisau itu berjalan mendekati Aldo dengan langkah yang pelan, dengan tangan kanan yang menggenggam erat pisau.
Bianca menonggakkan kepalanya. Alangkah terkejutnya ia melihat salah satu preman tersebut yang sedang mengangkat sebilah pisau ke udara.
"Aldo, awas!" pekik Bianca.
Jlebbb
TBC
.
.
.
__ADS_1
.