
Tubuh Aldo membeku, apalagi melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Barrack. Apakah Bianca yang mengadu pada kakaknya? Tetapi itu terdengar sedikit tidak mungkin, apakah bosnya tersebut tidak malu mengatakan hal itu?
"Ma—maaf, Tuan. Maksud Anda apa, ya?" tanya Aldo berusahan setenang mungkin, meski jantungnya sedang berdegub sangat kencang.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu, Al! Aku mendengar sendiri adikku mengatakan first kiss-nya diambil olehmu!" Barrack semakin menatap tajam sekretaris adiknya itu, sedangkan yang ditatap semakin gelisah, keringat mulai membasahi tubuhnya.
"Tidak Tuan! Saya tidak ingat apa-apa perihal semalam." Aldo berusaha mengelak, meski cara berbicaranya terdengar jelas jika ada sesuatu yang terjadi semalam.
"Aku bahkan tidak mengatakan jika kejadiannya semalam," sinis Barrack, yang sontak saja membuat Aldo bungkam, benar juga! Barrack bahkan tidak mengatakan jika kejadiannya semalam.
"Maaf, Tuan. Tapi, saya benar-benar tidak tahu maksud Anda." Meski sudah terpojok, Aldo tetap tidak mau mengaku, karena bisa saja Barrack menghabisinya jika dia berani dengan lancangnya mencium bibir adiknya.
"Tidak perlu mengelak, Al. Yang ditusuk itu bahumu, bukan kepalamu! Jadi sangat tidak mungkin jika kau hilang ingatan!" ketus Barrack yang sudah merasa jengkel, karena Aldo tidak mau berkata jujur.
"Tapi Tuan, saya benar-benar tidak melakukan apa pun pada Nona Bianca." Aldo berusaha meyakinkan laki-laki itu agar percaya padanya.
"Baiklah, jika kau memang tidak mau mengaku, maka dengan terpaksa aku yang akan mencari tahu semuanya. Kau tidak tahu saja Al, aku sudah memasang CCTV kecil di mobilmu, jadi aku akan segera mengambil benda itu, untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi." Barrack sengaja berbohong agar Aldo mau mengaku, padahal berniat memasang CCTV di mobil adiknya saja dia tidak pernah kepikiran, apalagi memasang CCTV di mobil orang lain.
Sementara Aldo, matanya melotot. Dia berpikir jika Barrack memang berkata jujur, karena jarang sekali laki-laki itu berbohong. Tetapi bagaimana mungkin laki-laki itu bisa masuk ke dalam mobilnya.
Melihat Barrack yang perlahan beranjak dari sana, Aldo segera bangkit, dan tanpa basi-basi dia segera berlutut di depan kaki Barrack.
"Maaf, Tuan. Tapi saya benar-benar tidak sengaja melakukan hal itu semalam, saya benar-benar tidak sadar berani mengecup bibir Nona Bianca." Aldo menangkup kedua telapak tangannya di depan dada, dan mendonggak, memohon agar laki-laki itu mau memaafkan kesalahannya.
Barrack menatap tajam Aldo, siapa laki-laki itu hingga berani melakukan hal seperti itu pada adik kesayangannya?
"Mengecup? Apakah kau hanya mengecup bibir itu? Atau bahkan kau melakukan hal yang lebih?" Barrack memicingkan matanya, menatap Aldo dengan tatapan tajam.
Aldo menelan salivanya dengan kasar saat mengingat apa saja yang dia sudah lakukan pada bosnya tersebut. Tentu tidak hanya mengecup, karena dia bahkan sudah mel*mat bibir manis itu.
"I—itu ...."
"Itu apa?" Barrack menjadi tidak sabaran sendiri saat mendapati Aldo yang berbicara tidak jelas.
"I—itu ... saya sempat melakukan hal yang lebih," cicit Aldo, yang membuat Barrack mati-matian menahan tawa, pasalnya Aldo yang dia kenal bersikap dingin, tetapi sekarang dia seperti anak kecil yang dimarahi orang tuanya.
"Lebih apa Aldo!" geram Barrack.
"Mel*mat." Aldo berbicara dengan sangat pelan, bahkan hampir seperti berbisik. Tetapi meski pun demikian, Barrack masih mendengar dengan jelas ucapan laki-laki itu.
"Apa? Mel*mat? Wow ... ternyata kau laki-laki normal juga, Al. Aku pikir kau memang tidak tertarik dengan wanita." Bukannya marah, Barrack justru terkekeh lucu, sehingga membuat Aldo menatap heran laki-laki itu.
"Ya, Tuan?"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa! Oh, iya. Apakah kau mengatakan jika kau tidak ingat apa-apa pada Bianca?" tanya Barrack yang kini sudah lebih santai.
"Apakah Nona Bianca yang memberitahu Anda, Tuan?" Aldo memberanikan diri bertanya, meski pun itu terdengar tidak sopan.
Barrack menyentil kening Aldo dengan gemes. "Apa kau berpikir seperti itu? Tentu tidak! Yakali saja Bianca menceritakannya," ketus Barrack.
"Terus Anda tau dari mana, Tuan?" Jika bukan wanita itu yang memberitahu, lantas dari mana Barrack tau?
"Kau tidak perlu tau! Sekarang aku tanya, apa kau mengatakan tidak ingat pada Bianca?"
"Iya, Tuan. Saya tidak ingin Nona Bianca menganggap saya laki-laki yang br***sek, oleh sebab itu saya memilih untuk pura-pura tidak ingat," ucap Aldo jujur.
Barrack terdiam, merasa bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
'Kenapa dia malah berpikir seperti itu? Bukankah Bianca justru ingin dia mengingatnya? Ah, hubungan mereka benar-benar memusingkan!' Barrack menjadi bingung sendiri setelah mendengar penuturan Aldo.
"Ba—"
Ceklek ....
Sebelum Barrack menyelesaikan perkataannya, Bianca beserta orang tuanya lebih dulu masuk ke dalam ruangan tersebut. Tidak hanya mereka saja, bahkan orang tua Aldo juga ada di sana. Mereka semua menatap heran Aldo yang bersujud di kaki Barrack.
"Kak Rack apain Aldo!" pekik Bianca menggelegar. Aldo yang menyadari segera bangkit berdiri.
"Abang apain Aldo, hah? Dia itu lagi sakit!" Bianca bertanya dengan intonasi suara yang tinggi.
"Abang nggak apa-apain dia, Dek!" bela Barrack.
Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian, bahkan orang tua mereka juga menatap Barrack, meminta penjelasan pada pria itu.
"Bohong!" Bianca memicingkan matanya.
"Ya Allah. Oke, Abang tadi nanya apa dia benar ci—"
"TUAN!" Sebelum Barrack menyelesaikan ucapannya, Aldo lebih dulu memotong dengan suara yang sangat nyaring, sehingga membuat mereka semua yang ada di dalam ruangan tersebut terhentak, karena terkejut.
"Ma—maaf, tadi ada nyamuk raksasa."
Mereka semua menatap heran Aldo, memangnya seperti apa nyamuk raksasa tersebut? Sementara Aldo merutuki dirinya sendiri, karena memberi alasan yang tidak masuk akal sama sekali.
"Maaf, saya ijin pulang. Kalian bisa lebih lama kok di sini." Karena sudah merasa sangat malu, Aldo segera pergi dari sana tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Bahkan dia tidak memperdulikan kondisinya yang masih sedikit melemah.
'Tuhan, apa aku boleh meminta jadwal kematianku dipercepat hari ini saja? Aku benar-benar sangat malu!' Aldo berteriak frustasi di dalam hati, bagaimana mungkin sosoknya yang dingin dan datar tiba-tiba berubah seperti orang idiot saja?
__ADS_1
Aldo segera pergi dari rumah sakit tersebut. Dia bahkan tidak peduli lagi jika kelakuannya sedikit tidak sopan tadi, karena jika dia terus berada di sana, dia tidak jamin jika dia masih ingin hidup, mengingat semua perkataannya tidak masuk akal sama sekali.
Berbeda dengan Aldo, mereka yang ada di dalam ruangan tersebut mengerjeb-ngerjabkan mata berkali-kali, berusaha untuk mencerna baik-baik ucapan laki-laki tersebut.
Setelah sedikit paham, mereka saling pandang satu sama lain, seolah-olah berkata apakah kalian sependapat denganku?
"Yang sakit siapa? Kenapa malah kita yang disuruh diam di rumah sakit?" Sophia memandang polos mereka semua, dan respon mereka semua hanya mengangguk, seolah-olah membenarkan ucapan wanita itu.
"Apa kita gantian saja sakitnya biar bisa nginap di rumah sakit?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Barrack, sehingga membuat mereka semua melotot.
"AMIT-AMIT!" pekik mereka bersamaan.
"Terus apa yang harus kita lakukan biar bisa nginap di rumah sakit?" Rupanya otak Bianca juga tidak mampu bekerja dengan baik. Melihat sikap aneh sekretarisnya itu membuat otaknya tidak bisa bekerja dengan baik di detik itu.
"Ya Allah, gini amat punya anak! Ya kita pulanglah!" ketus Bryana yang sudah merasa sangat gemes dengan tingkah kedua anaknya.
"Tapi tadi Aldo nyuruh kita buat nginap," sahut Bianca dengan polos.
"Au ah terserah kamu, Ca! Capek Mamah ngomong sama kamu!" Setelah mengatakan itu, Bryana segera pergi, lalu disusul oleh mereka semua, sehingga meninggalkan Bianca sendiri di dalam ruangan tersebut.
"Lah ... ini kenapa malah Caca yang ditinggalin, padahal Caca kan nggak sakit?" gumam Bianca yang justru semakin heran.
"Ckk ... Aldo kok main pergi-pergi aja? Sebenarnya dia cinta nggak sih sama gue? Kalau malu mulu, kapan bisa dapetin gue nya?" Bianca menjadi geram sendiri. Meski pun Aldo tidak mengingat momen yang paling berkesan bagi dirinya, tetapi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk membuat laki-laki itu sadar bagaimana caranya mendapatkan hati perempuan, dan yang pastinya membuatnya mengetahui apa saja yang disukai oleh para perempuan
TBC
.
.
.
__ADS_1
.