
Mulai eps ini, POV nya berubah jadi POV orang ketiga. Jadi author tidak berperan sebagai aku.
_____________________________________________
Saat sampai rumah, Elan langsung menyuruh Rea untuk beristirahat meskipun dia tidak terlihat kelelahan. Elan tau bahwa di sekolahnya ada hunter tipe Healer, jadi para pembuli tidak pernah ketahuan dan semakin menjadi - jadi.
Keesokan harinya saat bangun, Rea terkejut saat melihat jam di rumahnya sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dia sempat marah pada Elan yang sedang masak karena tidak membangunkannya. Dan dengan wajah santai seperti tidak terjadi apapun Elan menyuruh Rea untuk tidak masuk sekolah hari ini, dia juga nyuruh Michael begitu. Sebab dia berpikir kalau Rea kena buli itu berarti pembulian Michael semakin menjadi hingga membuat Rea turun tangan dan membuatnya ikut terbuli.
Rea menangis saat itu, sekencang - kencangnya. Bahkan para tetangga kaget dan menjadi ketakutan mendengar suara tangis Rea. Dengan lembut Elan menenangkan Rea dengan mengelus elus rambutnya dengan lembut. Ga lama kemudian Rea tenang dan Elan manyajikan makanan yang ia masak ke meja makan tempat Rea dan Elan duduk nantinya.
" Apa kakak ga bisa masak yang lain? Aku lagi sedih lho. " tanya Rea kecewa sambil menangis kecil
Yang disajikan hanyalah nasi goreng dengan telur ceplok ditambah dengan sosis yang sudah digoreng
" Jangab berharap terlalu banyak denganku. " jawab Elan santai sambil mulai mengambil sesuap nasi dan diarahkan ke mulut Rea
Dan Rea mulai ketawa kecil melihat kakaknya. Perlahan dia memakannya dan terkejut ternyata masakan Elan lumayan normal.
Setelah menghabiskan makan, Elan dan Rea mengobrol dan bermain PS bersama sampai malam hari.
__ADS_1
~ ~
" Siapa yang berani mempermalukan mu? " tanya seseorang pada Fred
" Dia salah satu hunter yang ada di Indonesia, dia sangat sombong. Padahal aku hanya ingin berteman dengan adiknya. " jawab Fred sambil menangis terisak isak di telpon
" Tenang saja, aku akan membalas malu mu menjadi kematian bagi pria itu " kata orang itu dengan semangat
~~
Keesokan harinya Elan ingin mendapatkan uang yang banyak, dia ingin pindah dari sini secepatnya. Dia yakin para pembuli itu sudah tau tempat tinggalnya. Lebih aman jika pindah secepatnya. Dan karena kondisi Rea sedang buruk, tidak mungkin lagi untuknya menanyakan rumah yang Rea ingin beli.
Elan ingin memilihnya sendiri.
Aku cukup senang mendengar itu. Tapi masalahnya aku sedang memerlukan rumah baru. Dan Zen bilang ada orang yang tertarik dengannya. Elan bingung siapa orang itu, dia mengira itu Kakek tua.
" Deimos " kata Zen
Dia akrab dengan sebutan itu, ketua dari Guild terkuat di Indonesia, Deimos. Ia bertanya tanya mengapa si Deimos tertarik padanya. Apa karena pedang yang kujual? Atau ada masalah lain? Karena ini dari Zen, kipikir dia tidak mencari masalah denganku.
__ADS_1
Dia pergi ke tempat Guild Raiders berada sambil membawa Rea disampingnya. Security dengan cepat tidak memperbolehkan mereka masuk. Sedikit memaksa masuk, para security itu malah mengacungkan jari telunjuk nya dan mengancam akan membunuh kakak beradik itu. Itu membuat Elan naik pitam dan berniat untuk memenggal kepala security itu. Untungnya dengan cepat seseorang datang dan kejadian yang tidak diharapkan dapat dicegah.
Dia adalah Vivi yang baru mau masuk kantor. Dia membuat para security meminta maaf pada keduanya. Tapi Elan meminta lebih dia ingin security yang mengancamnya tadi untuk mematahkan jari telunjuknya.
" Cepat lakukan " kata Vivi dengan wajah takut
*kenapa nyonya Vivi sampai ketakutan dengan bocah - bocah ini?* kata security dalam hatinya.
" Maaf aku tidak bisa melakukan itu nyonya. Itu akan menghambat tugasku untuk kedepannya " mohon security tadi sambil menunduk ke Vivi
" Kau! berani- " ucap Vivi marah
" Kalau begitu kau tidak usah bekerja di sini lagi. Pergilah dan jangan kembali lagi. " potong Elan mengancam security tadi.
" Memangnya siap- " belum selesai ngomong
" Kau dipecat, kau boleh pulang sekarang " ucap Vivi gemetar.
Security itu sangat kecewa dengan keputusan Vivi dan sempat memprotesnya. Tapi tidak ada kesepakatan terjadi dan dia dipecat. Setelah dia pergi, Vivi meminta maaf pada kakak beradik ini dan mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1
~~