
Semua Hunter yang sedang berjaga seketika terkejut setelah melihat sesuatu di depannya. Sebuah pohon raksasa dengan sedikit daun (bisa dibilang agak kering). Padahal sesaat sebelumnya, pohon itu tidak ada disana. Apa mereka salah lihat?
"Apa Hunter bertipe Healer bisa melakukan hal semacam ini?"
Tanya Zen kepada yang lain ( sebenarnya ia curiga kalau ini adalah ulah si Elan )
"Tidak, Hunter dengan Tipe Healer hanya bisa menyembuhkan manusia dan Hewan. Kemampuan kami tidak berpengaruh terhadap tanaman."
Kata Jeibi (Kakek tua, Hunter bertipe Healer dari Malaysia).
(Zen sedikit bersyukur, perkiraannya salah)
Mendengar itu, kemudian semuanya menyimpulkan... Kalau ini adalah perbuatan Monster yang mereka cari.
Beberapa dari mereka penasaran dengan wujud dari musuh yang akan mereka hadapi. Dan beberapa lagi ada yang ketakutan, tapi berusaha untuk menyembunyikannya dalam - dalam.
Rea dan Jia Li masih terduduk rapi di sebuah ruangan (masih ditempat khusus). Mereka masih sedikit merasa takut untuk berhadapan 'lagi' dengan Monster itu. Mengingat pertarungan terakhir mereka, berakhir dengan kekalahan yang telak. Tentu saja hal itu akan membekas di pikiran seorang Hunter, tak terkecuali untuk Jia Li.
Dan semuanya memutuskan untuk memeriksa pohon itu dari dekat. Tentu saja mereka sudah bersiap siap sebelumnya. Mereka sudah dalam mode bertarung. Tapi persiapan mereka sia-sia, karena tidak ada siapa-siapa disana. Hanya beberapa bangkai hewan yang tersisa (dan itu kelihatan seperti baru).
Salah satu Hunter menyimpulkan, kalau Monster itu menggunakan hewan sebagai sumber kekuatannya.
Lalu untuk apa pohon ini? Kemungkinan pohon ini berfungsi untuk menyimpan kekuatannya. Itu adalah teori dari Serly (Hunter tipe Mage asal Indonesia).
Kemudian yang lainnya berpikiran "Itu masuk akal".
"Lalu apa? Kita harus menunggu lagi?"
__ADS_1
Kata Tez ( Hunter tipe Assassin dari Malaysia, seumuran dengan Elan )
"Sepertinya begitu.."
Jawab Zen dengan tenang
"Ahh, aku bosan.. Aku ingin segera melawan monster itu, seberapa kuat dia? Aku jadi penasaran.."
Kata Tez dengan semangat berkelahinya
Tez adalah Hunter terkuat di Negaranya. Kekuatan dan kelincahannya menjadi daya tarik utama dari Tez. Bahkan ketenarannya sudah mendunia. Dia bahkan dinobatkan sebagai Hunter Muda Terkuat.
Zen berpikir itu julukan yang jelek.
"Bisakah kau diam sebentar, kita sedang berusaha untuk fokus"
Para Hunter senior (maksudnya bukan remaja Rea dan Tez) mengamati sekitar sembari waspada dengan serangan tiba-tiba dari Monster itu. Sedangkan Tez, dia sangat berisik menggumam tentang Monster itu.
'Monster itu takut?'
'Apa dia lemah?'
'Kenapa disebut Raja?'
Kata-kata itu terus muncul setiap saat dari mulut Tez. Karena itu Zen mulai muak dan menegurnya tadi.
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus menuruti perkataan orang yang lebih lemah dariku?"
__ADS_1
Kata Tez dengan sombongnya
Ya memang benar Tez itu lebih kuat dari Zen, bahkan kalau Deimos bekerja sama dengan Zen untuk mengalahkan Tez, mungkin mereka akan berakhir seimbang. Tapi Zen tidak peduli dengan Hinaan Tez padanya tadi, dia lanjut mengawasi dan memeriksa ke berbagai tempat (menjauh dari Tez).
"Apaan, takut? Hanya begini kekuatan Hunter Rank S dari Indonesia? hmpph"
Ejekannya membuat semua Hunter yang mengikuti penyerangan ini kesal, tak terkecuali Hunter dari Malaysia. Mereka bingung kenapa anak ini bisa satu tim dengan mereka.
Tapi mereka tidak ada yang berani melawannya, setidaknya mereka masih memiliki hati untuk tidak menyerang seorang anak bau kencur sepertinya. Dia hanya tidak pernah merasakan takut dalam medan pertempuran (karena biasanya dialah yang paling kuat). Tapi...
Sesuatu menyentuh pundak Tez, tanpa ragu dia langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.
"Bisakah kau diam sebentar. Kau sedikit mengganggu disini, jadi kau boleh kembali ke penginapan"
Kata Rea dengan tatapan kosong seperti orang yang kehilangan jati dirinya
Sontak saja Hunter lain terkejut, ada yang berani menentang bocah itu.. ditambah lagi dia sendirian.
Hunter lainnya mulai berpikir kalau Rea bakal berakhir dalam serangan Tez. Tapi perkiraan mereka salah.
Tez hanya mematung, dan tak bisa berkata kata.
Setelah menegur Tez, Rea kemudian berjalan ke arah pohon raksasa...
"Apa yang tadi itu..? Apa itu yang namanya ketakutan?"
Tez bingung
__ADS_1