King Of Hunter

King Of Hunter
37. Quest Job


__ADS_3

Mohon bersabar, diawal awal ceritanya agak membosankan. Tapi itu penting untuk pembawaan karakter nantinya.


___________________________________________


Elan kagum dengan apa yang ada didepannya sekarang. Dia dapat melihat pemandangan yang sangat indah ini karena letak hutan yang lebih tinggi dari pemukiman. Dibawah sana banyak rumah - rumah dengan berbagai ukuran dilindungi oleh benteng kokoh yang melingkari rumah - rumah tadi.


*Apa ini buatanmu? Ini ga akan seru kalau endingnya sudah kau tentukan*


[ting]


[Hanya pemberitahuan, ini bukan dimensi buatanku]


*Kau belum menjawab pertanyaanku yang lain*


Setelah itu Sistem tidak menjawab. Elan hanya menghela nafas. Salia bingung melihat Elan.


Mereka sampai di depan gerbang benteng, dan disana terdapat para penjaga yang terlihat gagah. Salia menyuruh Elan untuk diam sebentar disini, dia akan meminta izin agar Elan bisa masuk. Tapi penjaga menolaknya, dengan alasan dia orang asing yang bahkan tidak memiliki tanda pengenal.


Elan agak marah karena itu, tapi rasa marahnya hilang setelah melihat senyum Salia. Salia meminta maaf karena tidak bisa membawanya masuk. Karena itu Elan diminta kembali ke hutan, Salia punya urusan penting yang harus dilakukan. Kalau sudah selesai, Salia berjanji akan menemui Elan.


Akhirnya Elan kembali ke hutan. Menyadari bahwa ujian ini bakal lama, dia membuat Rumah kecil sederhana yang dibuat dari beberapa pohon yang ditebangnya.


Malam sudah berlalu, penerangan rumah menggunakan obor dengan menggunakan kekuatan Element milik Elan. Dimalam hari, rumah yang baru Elan buat diketuk. Mungkin Salia.


Dan benar saja itu Salia, tapi kenapa matanya terlihat lembab. Namun Salia berusaha menutupinya dengan senyuman. Setelah itu Salia berusaha menyiapkan makan, dia juga bisa mengeluarkan api untuk membakar daging. Malam itu semua makanan disiapkan oleh Salia.


Satu bulan berlalu, Salia tinggal bersama Elan sejak hari itu. Alasan Salia kembali dengan mata lembab adalah karena kematian ibunya. Dia bisa ditemukan ditengah hutan karena ia sedang mencari obat untuk ibunya, namun malah berakhir gagal dan bertemu Elan.


Meskipun Salia tinggal disini, dia tetap melanjutkan pekerjaannya di kerajaan itu. Sampai sekarang Elan masih belum tau apa pekerjaan Salia. Dan Salia selalu pulang dengan mata lembab dan juga muncul beberapa luka lebam di tubuhnya. Elan sudah menanyakan itu, namun Salia selalu mengalihkan pembicaraan.


Satu bulan (lagi). Hari ini entah kenapa Salia tidak kembali. Itu membuat Elan khawatir, dia sudah menganggap Salia seperti adiknya. Ia seperti bisa melihat Rea dalam diri Salia. Semakin hari hati Elan semakin gelisah.


Seminggu sejak hilangnya Salia, datang beberapa pasukan kerajaan. Mereka diberi perintah untuk membawa Elan ke hadapan Raja. Elan menuruti mereka, karena Elan juga ingin mencari Salia.


Saat masuk ke dalam gerbang Elan heran kenapa semua penduduk keluar dari rumahnya. Dan sejauh mata Elan memandang hanya terdapat wanita dan anak - anak. Tidak ada laki - laki. Entah kenapa juga tatapan penduduk seperti melihat Elan sebagai makhluk rendahan nan hina. Rasa emosi Elan sedikit meluap.

__ADS_1


Sesampainya dihadapan raja, Elan agak terkejut melihat raja di depannya.


*Seperti ini disebut raja?*


Wajahnya sangat jelek dengan badan yang gendut dengan perut yang terekspos, dengan bada penuh keringat. Itu sangat menjijikan


"Hei, kemarin aku mendengar dari penjaga bahwa dia melihat orang yang kuat sebulan lalu, dan dia datang bersama Salia. Apa itu kau?"


Tanya Raja itu pada Elan dengan suara terengah engah. Membuat Elan sedikit jijik karenanya.


"Ya, yang mulia. Itu aku, ada apa?"


Elan berusaha bertingkah sopan


"Hmm, itu bagus. Kalau begitu kuperintahkan kau untuk bertarung digaris depan bersama kami. Kerajaan ini dan kerajaan tetangga akan berperang hari ini, kami membutuhkan pria kuat sepertimu untuk melindungi kerajaan ini, aku berjanji akan membayarmu mahal"


Kata Raja sambil tersenyum menjijikan seolah olah dia tau kalau Elan akan menerima tawarannya


"Mohon maaf aku tidak bisa, aku harus pergi bersama Salia"


Kata Elan


"Kau masih mencari Salia?"


Kata Raja membuat Elan penasaran


"Dimana Salia?"


Elan mulai curiga dengan ini


"Kau benar masih mencarinya? Hahaha"


**** dan pasukannya tertawa


"Aku tanya dimana Salia?"

__ADS_1


Kata Elan dengan wajah dingin sekaligus melepas Auranya yang dimana itu membuat yang lain diam dan gemetaran


"Ugh.. Baiklah. Aku akan memberi taumu. Tapi setelah kau menandatangani perjanjian ini"


Kata Raja tersenyum puas bisa memainkan Elan


Itu adalah perjanjian untuk menjadi prajurit kerajaan. Dengan menandatangani itu Elan resmi menjadi prajurit kerajaan ini.


"Aku sudah melakukan apa yang kau mau, dimana Salia?"


Raja yang berpikir kalau dia sudah mendapatkan prajurit baru merasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Lagipula dia sudah menandatangani kontrak... Di dunia ini kalau melanggar kontrak, maka akan dihukum oleh Sang Penguasa.


"Dia sudah rusak"


Kata Raja tersenyum puas


"Apa maksudmu?"


Pembuluh darah muncul dari leher Elan. Dia sangat marah mendengar yang dikatakan Raja yang satu ini.


"Seperti yang kubilang dia sudah rusak dan tidak bisa digunakan. Kau tau dia itu bekerja sebagai pemuas nafsu. Karena dia lumayan cantik makanya aku menyewanya dan mengurungnya di suatu ruangan. Tapi aku pernah memainkannya di depan publik. Kau tau para masyarakat melihat Salia seperti binatang hina. Dan mereka hanya ikut tertawa saat melihat Salia tersiksa. Itu sangat menyenangkan, Namun dia hanya bertahan seminggu, sayang sekali.. Hahaha"


Mendengar perkataan si Raja Elan menyimpulkan bahwa Salia sudah tewas. Pembuluh darah muncul di leher dan dahi Elan, serta matanya yang terlihat berkaca - kaca.


Prajurit yang masih tertawa tiba - tiba menjadi diam setelah melihat kepala rajanya yang sudah terpisah dari tubuhnya. Mereka ketakutan, dan mulai melihat Elan yang masih berdiri ditempatnya semula. Mereka berpikir Elan yang melakukannya, dan serentak menyerang Elan bersamaan. Namun itu tidak berguna. Kecepatan Elan jauh melampaui semuanya. Kepala mereka juga terpotong sangat rapi dengan Dagger Elan. Melihat semua yang ada disini sudah terbunuh, Elan pergi keluar istana.


Dengan menggunakan kekuatan Elemen Api, dia membakar rumah - rumah penduduk. Semuanya berteriak dan berlarian kesana kemari. Namun Elan tak peduli, karena tak ada satupun dari mereka yang peduli saat Salia terbuli. Dia tetap membakar semuanya dengan ekspresi dingin. Ada yang mencoba meninggalkan kerajaan melalui pintu gerbang, namun Elan menghalangi mereka dan langsung menebas mereka. Tidak peduli, laki - laki atau wanita, dewasa atau anak kecil. Rasa kemanusiaan dalam diri Elan tertutup oleh rasa benci yang mendalam. Dan hari ini, kerajaan ini menjadi lautan darah dan tempat pembantaian.


Para prajurit kerajaan UQ ( kerajaan tetangga ) bingung dengan keterlambatan musuhnya. Karena letaknya yang dekat, mereka bisa melihat gumpalan asap hitam di atas kerajaan musuhnya. Beberapa kali kerajaan itu mengeluarkan ledakan.


Bahkan ledakan itu sampai ke tempat mereka berdiri sekarang. Spontan mereka melindungi tubuh dan kepala mereka untuk bertahan dari puing - puing ledakan. Dan saat mereka membuka mata, muncul satu orang berjalan dengan santai kehadapan mereka.


Tempat ia berdiri harusnya diisi oleh pasukan kerajaan musuh. Ksatria kerajaan UQ mulai bingung, apa musuh hanya mengirim satu pasukan?


Elan hanya menatap mereka dengan matanya yang bersinar dari kejauhan. Dan entah kenapa itu membuat para prajurit mulai merasa waspada dan menyuruh yang lainnya untuk bersiap..

__ADS_1


Dan...


__ADS_2