
Setelah kejadian tidak meyenangkan itu, kami bertiga masuk ke dalam gedung dan menuju ruangan ketua Guild. Di dalam ruangan terlihat Deimos yang sedikit kesulitan menangani berkas - berkas yang ada di depannya. Dan setelah melihat Vivi senyum cerah terpancar di wajah Deimos. Sebab Vivi lah yang akan mengurus berkas - berkas ini nantinya.
Dan dia menunjukkan kebahagiannya dengan berdiri dan menyambut kedatangan Elan dan Rea. Mereka di suguhi beberapa makanan yang enak dan mahal tentunya. Mereka memakan itu tanpa ragu, sebab kakak beradik ini juga belum sarapan.
Setelah menghabiskan makanan yang ada di meja, sudah saatnya memulai obrolan serius antara keduanya.
" Kenapa kau bisa tertarik padaku? " tanya Elan langsung
" Jadi Zen sudah memberi tahumu ya. Itu karena pedang yang kau jual pada kami beberapa waktu lalu. " jawab Deimos dengan senyum kecil di wajahnya
" Pedang? maksudmu 3 pedang yang kujual pada kalian? Itukan hanya pedang biasa, kenapa kalian bisa sangat tertarik dengan itu? " tanya Elan tanpa jeda
" Kau tau... pedang yang kau jual adalah senjata rank S. Itu artinya senjata dengan rank tertinggi. " jawab Deimos dengan senang
" Tunggu tunggu... seingatku, aku hanya menjual pedang rank C. Kenapa bisa jadi rank S? " kata Elan bingung
" Kami juga tidak tau mengenai itu. Tampaknya kau sendiri juga tidak tau. Karena alasan inilah aku ingin kau mengunjungi Guildku lagi. Aku ingin membeli pedang mu dengan benar kali ini. " ucap Deimos sambil mengarahkan cek dengan jumlah fantastis
Rp 5.000.000.000.000
Itu jumlah yang sangat besar bagi Elan, dia sempat menelan ludah karena tidak percaya dengan jumlah uang yang ditawarkan padanya. Kemudian Elan menatap Deimos dengan serius.
__ADS_1
" Ini sungguhan bukan? " tidak yakin
" Tentu saja, aku tidak akan membohongi klienku sendiri. " jelas Deimos sambil menutup matanya dan tersenyum
Elan berusaha tenang walaupun dalam hatinya dia ingin melompat lompat ga jelas. Dan dilihat dari ekspresi Rea, mungkin 11 12 sama Elan.
Namun saat ini Elan sedang kepikiran dengan nasib adiknya, walaupun sebenarnya dia bisa menghajar bocah - bocah itu. Tapi dia tau kalau dia melakukan hal itu, baka ada masalah besar mengancamnya.
" Bisakah aku meminta hal lain? " tanya Elan menatap Deimos serius
Mendengar itu Deimos agak terkejut, tidak mungkin seseorang akan menolak uang sebanyak ini. Apa mungkin dia ingin mengambil pedang kembali? Karena pikiran seperti itu, deimos dengan segera menambah nominal uangnya menjadi 2 kali lipat.
" Lalu apa? " tanya Deimos penasaran sekaligus gugup
"Aku ingin sebuah rumah dimana ga ada yang bisa mengganggu kami disana. " pinta Elan sambil mengeluarkan ekspresi lega
Mendengar itu Deimos hanya tersenyum. Bagaimana seseorang menolak cek sebesar 10 triliun untuk sebuah rumah yang tenang.
Satu - satunya alasan Elan adalah dia malas mencari rumah yang cocok dengan apa yang dia mau. Dan mungkin saja dengan persyaratan Elan, rumah yang dia inginkan harganya melebihi ekspektasinya.
" Begitu ya.. Kalau begitu aku akan memberimu salah satu villa milikku " kata Deimos
__ADS_1
" Tempatnya tidak terlalu jauh dengan pusat kota tapi tidak ada yang bisa mengganggumu juga disana karena disana adalah tempat para pemimpin perusahaan besar di Indonesia. " tambah Deimos dengan bangga
Satu kawasan yang berisi villa besar di sekelilingnya. Yang bisa memasuki area itu hanya orang yang memiliki kartu identitas villanya. Itu untuk membuktikan bahwa dia benar - benar tinggal di kawasan elit ini.
" Aku tidak bisa menerima hadiah sebesar itu " kata Elan menolak dengan halus
" Aku memaksa, ini tempat yang kau inginkan. Sulit untuk mendapatkannya. Terimalah " paksa Deimos
Dan setelah itu aku mendapatkan sebuah kunci villa dan cek sebesar 5 triliun sebagai tambahan, mereka bilang itu sepadan dengan senjata yang kuberikan.
Setelah itu mereka berdua pulang meninggalkan Deimos yang sedang tersenyum puas.
Dan muncul sebuah pertanyaan di benak Deimos
'Mengapa dia membawa adiknya?'
'Bukankah dia bisa meniggalkan adiknya dirumah'
'Kenapa dia sampai menginginkan rumah baru'
Deimos yang terlarut oleh kebahagiaan tidak sempat menanyakan semua itu pada Elan...
__ADS_1