KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
CERMIN


__ADS_3

Sepulang sekolah Novi dan Fathir mengunjungi Kirana. Mereka mendapat kabar dari Bu Ratna kalau tadi pagi Kirana jatuh pingsan lagi.


Bu Ratna meminta mereka untuk menemani Kirana, menurutnya Kirana butuh teman agar tidak kesepian.


Novi dan Fathir masuk ke kamar Kirana setelah di persilahkan oleh Bu Ratna.


" Lihat siapa yang datang. " Ujar Bu Ratna.


Kirana menoleh ke arah pintu kamar, dia tersenyum tipis dengan raut muka yang masih murung dia memaksakan melukis senyuman di wajah nya.


" Siang Kirana, kami datang karena kangen sama kamu. " ucap Novi sambil mendekat.


Kirana lagi-lagi hanya tersenyum tanpa bersuara sedikitpun.


Novi duduk di ranjang sebelah Kirana, sedang Fathir duduk di kursi dekat ranjang. Bu Ratna sendiri mengambil minum ke belakang.


Sementara itu Bi Sari yang hendak mencuci pakaian, menemukan secarik kertas di saku seragam Kirana.


Secarik kertas yang pernah di berikan oleh Novi saat itu. Bi Sari tak berani membuka lipatan kertas itu,apalagi membacanya.


Ia segera memasukan kertas itu ke saku daster nya. Lalu kembali mencuci pakaian dengan mesin cuci.


Dia akan memberikan kertas itu pada Kirana nanti jika pekerjaannya sudah selesai.


Bu Ratna mengambil tiga gelas jus alpukat yang sudah ia blender sebelumnya. Lalu ia segera menyuguhkan jus dan beberapa camilan pada teman-teman Kirana.


" Makasih Tante, jadi ngerepotin. " ucap Novi.


" Nggak apa-apa. Oh iya ini Novi ya teman sekelas Kirana? " Tanya Bu Ratna yang kali pertama bertemu Novi.


Sebelumnya ia hanya mendengar tentang Novi dari Fathir. Novi tersenyum ramah sambil menunduk pelan.


" Iya Tante, saya teman sekelas Kirana. " Jawab Novi.


" Tante tinggal dulu yah kebelakang, masih ada kerjaan. Ayo di sambil makanan dan minumannya, pasti capek baru pulang sekolah." Tutur Bu Ratna.

__ADS_1


" Iya Tante.." Novi dan Fathir serempak.


Bu Ratna pun keluar dari kamar . Novi menatap ke seluruh penjuru kamar Kirana. Semenjak kakinya melangkah masuk ke rumah itu, ia sudah merasa ada yang tak beres di sana.


Bukan karena bangunan yang sudah tua, tapi aura yang ia rasakan sangat lain dari biasanya. Energi negatif yang teramat kuat terutama saat melewati ruang tengah menuju ke kamar Kirana.


Walau sampai detik ini, ia belum melihat sesosok makhluk tapi ia bisa merasaakan keberadaan mereka.


Dia mencoba menguatkan diri dan tetap fokus agar tidak lengah, karena sedikit saja ia lengah dan fikirannya kosong maka tak menutup kemungkinan akan kerasukan. Apalagi energi di sana sangat kuat.


" Kamu mau minum jus nya, biar aku bantu. " ujar Novi pada Kirana.


" Tidak terimakasih. Kamu dan Fathir minum gih pasti haus baru pulang sekolah. Makannanya juga di makan." kata Kirana mulai bersuara.


Lalu Novi dan Fathir pun menikmati camilan dan jus buatan Bu Ratna. Novi mengajak ngobrol Kirana, tentang keseruannya dan teman-teman yang lain di sekolah tadi.


Dia ingin menghibur Kirana agar tak murung dan melamun lagi, sekaligus dia menghibur diri nya sendiri agar fikirannya tak kosong dan lengah.


Sesekali Kirana tersenyum mendengar cerita Novi tentang kekonyolan teman-teman sekelasnya di sekolah. Fathir senang melihat Novi bisa mencairkan suasana hati Kirana. Apalagi saat Kirana mulai menampakan senyuman di bibir merah nya.


Rupanya Bi Sari membawa secarik kertas pemberian Novi, lalu ia serahkan kepada Kirana. Setelah itu Bi Sari pun kembali ke dapur.


Fathir mengernyitkan keningnya saat melihat secarik kertas di tangan Kirana.


" Kertas dari aku? " Tanya Novi yang hafal dengan warna kertas tersebut.


" Hmm. " Jawab Kirana singkat.


" Boleh aku baca? " tanya Fathir penasaran.


Novi mengangguk ke arah Kirana saat Kirana menatap padanya meminta persetujuan.


Lalu Kirana menyerahkan kertas itu pada Fathir. Fathir yakin ada sesuatu di kertas itu, tidak mungkin Novi menulis hal yang tidak penting pada Kirana.


Mata Fathir membulat saat membaca tulisan Novi. Sementara Novi mulai tak nyaman, dia mulai mendengar suara jeritan,rintihan dan tangis kesakitan.

__ADS_1


Novi memejamkan matanya. Dia merasakan banyak sekali makhluk di sekeliling mereka. Makhluk itu terus memperhatikan terutama pada dirinya.


Segera ia membuka mata karena tak mau lagi lebih jauh merasakan hal yang membuatnya tidak nyaman. Namun mata batinnya menangkap sosok wanita di cermin yang tepat berhadapan dengan ranjang.


Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Harusnya dia tidak kaget lagi melihat makhluk halus tapi kenapa kali ini dia seterkejut itu.


Fathir keheranan melihat tingkah Novi dari tadi. Dia yakin Novi melihat sesuatu di sini. Fathir menepuk pundak Novi. Gadis itu pun menatap kearah nya.


" Pe-penuh.." Ucap Novi berbisik.


" Apa maksudmu? " tanya Fathir tidak mengerti.


Sementara Kirana memperhatikan mereka berdua yang nampak bisik-bisik.


" Aku harus segera pulang." Ucap Novi yang segera mengambil tas nya.


" Loh kok pulang..aku masih kangen. " Kata Kirana heran.


" Nanti aku mampir lagi. Sekarang aku ada acara keluarga. " Novi berbohong.


" Kalau gitu kami pamit. Baik-baik yah, nanti besok kami kesini lagi, besok kan kita healing ke kota. " Ucap Fathir yang memang akan mengantar Kirana ke psikiater.


Kirana mulai menampakan barisan giginya, ia tertawa pelan. Fathir semakin senang melihat Kirana seperti itu. Kini bukan hanya senyuman tapi tawa kecil pun sudah mulai menghiasi wajah cantik nya.


Sementara Novi masih berperang dengan jiwanya. Tubuhnya sudah terasa berat namun jiwa nya mencoba kuat. Menahan gangguan makhluk yang begitu banyak menyerang setiap sel di tubuh nya.


Mereka pun pamit pulang, di teras depan Bu Ratna tengah duduk bersantai nampak heran melihat raut muka Novi saat akan berpamitan pada nya.


Fathir dan Novi menyalami Bu Ratna, lalu segera pergi dari rumah itu.


Di perjalanan menuju pulang, Novi mulai menceritakan pada Fathir tentang apa yang ia rasakan tadi. Novi bilang kalau di rumah Kirana itu aura negatif nya sangat kuat, makhluk halus nya pun banyak dan bermacam-macam.


Beberapa di antara mereka kebanyakan teriak kesakitan, seperti sedang menerima siksaan. Di kediaman Kirana pun sangat jelas terlihat oleh mata batinnya kalau alam itu menyatu tepat dengan rumah Kirana.


Bersatu tapi terpisah, terpisah tapi bersatu. Ada tapi tak terlihat, tak terlihat tapi ada dan dapat di rasakan. Begitulah kira-kira yang Novi rasakan.

__ADS_1


Novi juga menceritakan apa yang dia lihat di cermin meja rias. Cermin itu harusnya memantulkan wajah Kirana yang terbaring namun yang ia lihat Kirana berada di tempat lain yaitu di alam yang tak pernah terjamah oleh manusia. Dan di cermin itu...Novi melihat Kirana ada dalam pelukan seorang perempuan tua berkebaya merah.


__ADS_2