
Sekitar pukul lima pagi Mang Nur beserta istri sudah sampai di kediaman Pak Bahari.
Mereka masuk lewat pintu belakang, mereka memegang kunci cadangan rumah itu.
Bi Sari bergegas masuk ke gudang untuk membawa nampan sesajen, berniat untuk mencuci bekas hidangan tersebut.
Dia menyalakan lampu yang berada di samping pintu gudang tersebut, matanya membulat saat mengetahui hidangan sesajen sudah habis tak bersisa.
Dia segera mengambil nampan itu, dan membersihkan batok buah kelapa yang berserakan disana.
" Pak, makanan nya ludes. " Ujar Bi Sari pada suami nya.
" Bagus kalau habis, gak mubazir. " Mang Nur tersenyum sambil mengaduk kopi hitam yang ia buat.
" Aku kok heran ya, biasanya dulu jaman Ki Demang yang namanya sesajen itu tetap utuh. Kata nya mereka cuma mengambil sari-sari makanan saja. Lah ini kok bisa habis. " Bi Sari sedikit bingung.
" Udah lah gak usah pusing, mending urus kerjaan mu sana. Aku mau nyapu halaman. " Mang Nur tak begitu peduli.
" Apa mungkin di makan tikus? Tapi rasanya gak mungkin sampe sebanyak ini, apalagi bisa buka batok kelapa yang keras. " Bi Sari masih penasaran.
Mang Nur berlalu dari hadapan istri nya, dia tak begitu peduli mau di makan tikus atau pun setan. Yang jelas ritual itu sudah di laksanakan. Dan sepertinya malam ini Kirana baik-baik saja, secara majikan nya pun tak menghubungi nya tadi malam.
Jika terjadi sesuatu majikannya pasti mengabari diri nya. Mang Nur segera menuju halaman dan menyapu daun-daun yang berguguran di sana.
Sementara Bi Sari kembali meneruskan pekerjaan nya, walau hati nya masih bertanya-tanya tentang sesajen itu.
Yanuar sudah bangun sedari adzan subuh berkumandang. Setelah sholat dia segera keluar kamar saat mendengar suara Mang Nur menyapu di luar rumah.
Yanuar berjalan menuju halaman belakang rumah. Berniat membantu Mang Nur.
" Den udah bangun. " sapa Bi Sari saat Yanuar melewati dapur.
" Udah Bi. Itu mamang lagi nyapu halaman ya? " Ucap Yanuar.
" Iya den. Mau bibi buatin kopi ? " Tawar Bi Sari.
__ADS_1
" Nggak usah makasih Bi. Aku mau bantu Mang Nur. " Yanuar berlalu dari hadapan Bi Sari.
Bi Sari tadi nya mau mencegahnya tapi Yanuar sudah keburu keluar dan membawa sapu lidi yang tersimpan di pintu belakang.
" Pagi Mang. Biar aku bantu nyapu di halaman depan ya. " Tegur Yanuar menghampiri Mang Nur.
" Jangan Den, ini tugas saya. " Mang Nur sungkan.
" Udah gak apa-apa. Saya bosan gak ada kegiatan. Mamang juga pasti lelah kalau harus nyapu halaman seluas ini. " Ucap Yanuar.
" Ya udah terserah Aden aja.." Mang Nur melarang pun rasa nya tidak mungkin.
Yanuar segera ke halaman depan rumah tersebut. Dia menyapu halaman sembari menikmati kesejukan pagi hari di sana. Yanuar baru sadar desa ini benar-benar nyaman. Wajar saja kalau Pak Bahari ingin kembali ke kampung halaman.
Setelah di rasa bersih, Yanuar duduk di kursi teras depan rumah. Tak lama kemudian Bi Sari membawa kan kopi dan pisang goreng yang masih panas.
" Den Yanuar pasti capek. " Ujar Bi Sari seraya menyimpan nampan berisi secangkir kopi dan sepiring pisang goreng di meja.
" Lumayan berkeringat Bi, itung-itung olahraga pagi. Makasih ya Bi, jadi ngerepotin. " Yanuar segera menyambar kopi hitam buatan Bi Sari.
" Sama-sama. Saya senang kok." Yanuar tersenyum ramah.
" Den harusnya jangan kecapean, kan baru sembuh. " Kata Bi Sari.
" Aku udah sehat Bi, jangan khawatir. " Ucap Yanuar sambil memakan pisang goreng.
" Ya udah di habisin ya makanan nya, Bibi mau kebelakang lanjutin kerjaan." ucap Bi Sari.
Yanuar hanya memberi anggukan pelan, karena mulutnya masih sibuk mengunyah pisang goreng.
Bi Sari kagum pada Yanuar masih muda, ramah, rajin ibadah, mengingatkannya pada Fathir keponakan nya.
Pak Bahari bangun dan keluar dari kamar. Dia sedikit heran karena melihat pintu depan terbuka. Saat berjalan ke ruang tamu, dia melihat Yanuar dari kaca jendela.
Pak Bahari pun menghampiri Yanuar yang tengah bersantai di teras.
__ADS_1
" Wah rupanya kamu sudah bangun. " Pak Bahari duduk di kursi teras.
" Iya Om. Ini saya lagi menikmati udara pagi. Disini sejuk sekali beda dengan di kota. " Ucap Yanuar.
" Iya udara di sini kan belum banyak polusi. " Kata Pak Bahari.
" Oh iya Om, ini pisang goreng buatan Bi Sari. Yanuar bawain kopi buat Om dulu ya. " Yanuar segera beranjak ke dapur.
" Makasih.." ujar Pak Bahari sambil tersenyum.
Yanuar menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat saat melintas di ruang tengah. Kamar Kirana, dia tak sabar ingin tau bagaimana kondisi Kirana sekarang.
Setelah membawa secangkir kopi di dapur, Yanuar segera kembali ke teras. Dia menyimpan kopi itu di meja bersama kopi dan pisang goreng tadi.
" Duduk kita ngopi bareng sambil menikmati udara pagi. " kata Pak Bahari.
" Iya Om. " Yanuar tersenyum.
" Om gak pernah tuh kayak gini sama Bagas. Jam segini pasti dia belum bangun. Apalagi gak kuliah. " Ujar Pak Bahari seraya melihat arloji.
" Iya Bagas masih tidur , mungkin dia tidur nya agak malam jadi kesiangan." kata Yanuar.
" Begadang atau nggak sama aja dia mah. " celoteh Pak Bahari sambil diikuti tawa mereka berdua.
Yanuar malah membayangkan kalau saja dirinya menjadi menantu Pak Bahari mungkin akan seperti ini.
' Ah jangan ngawur ' gumamnya dalam hati. Rasanya bodoh sekali berfikiran sampai sejauh itu. Apalagi Kirana saat ini masih SMA, masih panjang perjalanan nya.
Begitupun dirinya masih kuliah dan belum punya pekerjaan tetap. Dia memang sesekali bekerja freelance di cafe untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi gaji nya gak akan cukup jika harus memenuhi kebutuhan rumah tangga.
' Semakin kacau fikiranmu Yanuar. ' berkali kali ia musnahkan harapannya namun semakin ia enyahkan malah semakin besar harapan nya untuk menjadi pendamping Kirana kelak.
Yanuar masih asyik dengan khayalannya, sedang Pak Bahari asyik menikmati pisang goreng buatan Bi Sari sambil menyeruput kopi hangat.
Suasana pagi itu nampak hangat dengan kedekatan serta keakraban mereka berdua. Bu Ratna mengintip dari balik jendela ruang tamu.
__ADS_1
Sesekali menyembulkan senyuman di bibirnya. Hal yang jarang dilihat bahkan dilakukan antara Pak Bahari dan Bagas. Yanuar memang membuat orang tua Bagas terkagum padanya. Anak laki-laki nya saja selalu sibuk sendiri jarang ada kedekatan seperti yang Yanuar lakukan saat ini bersama Pak Bahari.