KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
POV KIRANA


__ADS_3

Malam sudah larut, aku bersuci dengan air wudhu berniat untuk melaksanakan shalat tahajud diteruskan dengan berdzikir.


Aku terduduk bersimpuh menghadap kiblat. Mulai bertasbih melafadzkan kalimat istigfar ' Astaghfirullah haladzim '.


Ku tenangkan fikiran, ku singkirkan semua hal tentang duniawi hingga kosong dan berkonsentrasi pada hati yang terus beristigfar.


Lambat laun semua indra pun tertutup dan fokus pada hati yang terus berdzikir. Tak ada suara di sekeliling yang terdengar.


Tiba-tiba seluruh tubuh ku seolah bereaksi. Seperti ada sesuatu merayap di setiap sel , seperti kesemutan di sekujur tubuh tapi aku yakin ini bukan kesemutan.


Semakin lama semakin banyak yang merayap dan bergerak seolah mencari celah untuk keluar. Tulang punggung ku pun seolah tertarik oleh sesuatu semakin kencang, tubuh ku seperti sedang di ikat tali dengan kencang sehingga tulang ku seperti mereggang kuat.


Aku sedikit kaku dan buyar dalam berkonsentrasi kala itu. Tapi kemudian aku coba memusatkan fikiranku kembali pada satu titik yaitu hati.


Tiba-tiba aku melihat ada seseorang berpakaian putih seperti daster putih, rambut panjang nya menutupi seluruh wajah sosok itu. Dia berada tepat di belakang ku.


Sontak ku buka mata ku, dengan jantung berdebar kencang, aku segera menoleh ke belakang. Tak ada siapapun di sana. Saat berdzikir mataku terpejam, tapi herannya aku bisa melihat sosok itu lewat hati ku, sangat jelas sekali bahkan lemari dan seluruh posisi benda di belakang ku pun terlihat jelas.


Apa itu yang di sebut mata batin? Entahlah yang pasti saat ini aku sangat ketakutan.


Segara ku raih ponsel. Aku menghubungi Ustadz Sahir melalui pesan singkat. Sebelum pulang beliau sempat berpesan jika ada sesuatu yang mengganggu ku saat berdzikir maka aku harus segera menghubungi beliau.


Aku mengetik beberapa chat pada Ustadz Sahir mengatakan apa yang aku lihat dari mata batin ku.


Selang beberapa menit chatku berbalas. Beliau bilang saat berdzikir batin dengan fokus memang akan memunculkan sosok-sosok gaib yang akan mengganggu dan membuyarkan konsentrasi.


KRIINGG


Panggilan telpon dari Ustadz Sahir, segera ku terima panggilan tersebut.

__ADS_1


" Assalamualaikum. " ucap Ustadz Sahir.


" Wa'alaikum salam Ustadz. " jawab ku dengan gemetaran.


" Kirana, tak perlu takut dengan sosok yang muncul saat kamu berdzikir. Ustadz memantau mu dari sini, percaya lah takan terjadi apa-apa. " kata beliau meyakinkan.


" Tapi Ustadz..sosok itu mengerikan,, " timpal ku.


" Sebelum berdzikir tanamkan juga dalam hati. Lafadz Lahaula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim artinya tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. " Ucap Ustadz Sahir.


" Jiwa kita, hidup dan mati kita serahkan semua nya pada Allah SWT. Jangan pernah takut oleh apapun, ingat ada Allah membersamai orang-orang yang sedang mengingat dan memuji asma-Nya. " Lanjut Ustadz tersebut.


" Baiklah Ustadz." Aku pun sedikit tenang mendengar setiap penjelasan Ustadz Sahir.


" Seperti nya kamu sudah kelelahan. Nanti besok lanjutkan lagi, sekarang tidur lah dan istirahat. " kata Ustadz Sahir.


" Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu tidurlah..Assalamualaikum. "


" Wa'alaikum salam. "


Sambungan telepon pun terputus. Ustadz Sahir benar, sepertinya aku sudah lelah. Aku beranjak dari duduk namun, kaki ku sepertinya agak keram karena duduk hampir satu jam.


Mungkin karena aku belum terbiasa duduk berdzikir . Setelah selesai membereskan mukena dan sajadah. Aku pun segera menuju ranjang dan berbaring. Tak ada ketakutan lagi, hati ku pun lebih tenang. Mata ku mulai terasa berat dan aku pun terlelap.


****


Hari kedua pun tak jauh beda. Aku melihat sosok berwarna hitam bertubuh tinggi besar tepat di samping ku saat duduk berdzikir.


Lagi-lagi aku melihat nya saat memejamkan mata. Aku tidak tertidur apalagi bermimpi. Bahkan kesadaranku masih penuh.

__ADS_1


Sayang nya aku masih takut setiap kali melihat sosok mengerikan yang datang mengganggu ibadah ku. Tapi kali ini aku memilih untuk tetap melanjutkan berdzikir. Aku rasa masih kuat dan belum mengantuk.


Kembali ku fokuskan fikiran ku. Yang terdengar ada lah suara-suara hatiku yang sedang berdzikir.


Kali ini aku kembali merasakan sesuatu yang merayap di sekujur tubuh. Bergerak dan terus bergerak mengikuti aliran darah ku. Hingga pada satu titik, aku mulai merasa mual.


Aku pun segera berlari ke kamar mandi karena tak tahan.


" Hoek..hoek..." aku muntah tapi tak ada yang keluar dari muntahku itu.


Setelah agak reda, aku kembali ke kamar dan meneguk air putih. Kata Ustadz Sahir , ruqiyah ku bereaksi sehingga aku muntah, memuntahkan kotoran dalam tubuh ku (makhluk yang menggerogoti di setiap sel tubuhku yang jumlah nya beribu-ribu. )


Kata beliau mereka sudah lama menjadi parasit di tubuh manusia. Saat manusia makan dan minum, mereka pun menikmati nya. Jumlah mereka bisa beribu-ribu jika si yang empunya raga tidak pernah membersihkan diri(bathin).


Maka tak heran banyak orang yang mudah tersulut nafsu, terkena penyakit hati, berkata kotor dan sebagai nya. Manusia seperti itu hanya mementingkan lahiriyah saja tanpa perduli pada batiniyah.


Begitulah penjelasan Ustadz Sahir melalui pesan singkat. Setiap selesai berdzikir aku selalu menghubungi beliau dan menceritakan apa saja yang aku rasakan saat berdzikir. Dari sana Ustadz Sahir melihat ada kemajuan dari dzikir ku, apalagi setelah aku berhasil memuntahkan kotoran-kotoran itu. Kata nya itu baru sebagian , masih banyak lagi yang belum keluar.


Selain mentalku yang di uji, tubuhku pun benar-benar di uji saat berdzikir. Tapi tak mengapa saat ini sedikit demi sedikit aku mulai merasakan khasiat nya. Hati mulai terasa tentram, tak ada kegelisahan.


Tubuhku juga terasa lebih ringan saat berjalan, seperti melayang. Entahlah sulit sekali aku menjelaskan nya. Selain itu aku juga mulai kecanduan berdzikir, rasa nya dzikir itu nikmat bahkan saat aku beraktifitas di siang hari pun hati ku tak pernah lepas mengingat Allah. Hanya Allah yang aku ingat sampai tak perduli dengan apa pun. Seperti sedang mencintai seseorang yang terus merindukan dan selalu ingin berkomunikasi. Seperti itulah perasaanku pada Sang Khalik.


Nikmat iman dan islam yang baru ku sadari saat ini. Keluarga dan orang-orang di sekeliling ku pun mengatakan ada banyak perubahan pada diri ku, kata nya wajahku memancarkan ketenangan dan kesejukan.


Namun pujian mereka tak membuatku melambung tinggi, aku malah sadar bahwa diri ku hanya serpihan kecil lebih kecil dari debu jika di bandingkan Kesucian dan Keagungan Tuhan.


Aku tak ada apa-apa nya, bahkan tubuh ini, jiwa , hidup serta mati ku hanya milik Allah. Tak ada satupun miliku.


Semoga hari-hari berikutnya lebih baik lagi. Dan aku bisa terlepas dari masalah yang sedang menjeratku akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2