KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
KOSAN


__ADS_3

Kirana membersihkan badan, dengan di bantu oleh Ibu nya. Dia baru sadar dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.


Warna nya yang biru keunguan nampak jelas di kulit putih bersih Kirana. Dia sendiri tidak tau apa penyebab lebam di tubuh nya itu. Pantas saja seluruh badan terasa remuk dan pegal.


Belum lagi dia kadang mengigil padahal cuaca sedang dalam keadaan panas. Kadang juga dia merasa sangat kepanasan.


Selesai membersihkan diri dia pun mengenakan pakaian tidur. Kirana ingin duduk di ruang tengah sambil nonton televisi, dia bosan seharian berada di kamar.


Keadaan psikis Kirana memang turun naik. Kadang dia biasa saja, kadang pula murung dan tak berbicara sedikitpun jika sudah mengalami hal buruk.


Bu Ratna membawa Kirana ke ruang tengah, dia memapah putrinya berjalan karena kondisi tubuh Kirana yang masih lemah.


Disana sudah ada Pak Bahari duduk di sofa. Pak Bahari segera bangkit dan membantu Kirana duduk di sofa.


Bu Ratna menyetel televisi, mencari chanel yang menayangkan siaran komedi. Agar Kirana terhibur fikirnya.


Setelah menemukan chanel yang di inginkan, ia pun duduk di sofa bersama anak dan suami nya.


" Kalau kondisi kamu tidak memungkinkan untuk pergi ke kota besok, kita batalkan dulu jadwal ke psikiater nya." Ucap Pak Bahari membuka percakapan.


Kirana menoleh ke Ayahnya yang berada di samping kanan.


" Aku masih kuat kok. Lagian sekalian aku refreshing, biar gak jenuh dan sedikitnya bisa melupakan apa yang terjadi. Kalau aku di sini terus malah buruk seperti nya. " Kata Kirana yang mulai yakin dengan usulan-usulan orang yang menyayangi nya.


" Baguslah kalau begitu besok jam delapan kita berangkat ke kota. Untung Bagas pergi bawa motor, jadi mobil ada di rumah. Nanti teman-teman kamu kasih tau, biar jam delapan kita langsung berangkat. " Ujar Pak Bahari.


" Jam berapa nanti Kirana ke klinik ? " tanya Bu Ratna.


"Jam tiga sore, keburu kayaknya. Kita paling nyampe sana sekitar jam satu atau setengah dua. Bisa istirahat dulu di kosan Bagas. Disana kan cukup luas. " tutur Pak Bahari.


" Kirana udah chat Novi sama Fathir, biar mereka datang sebelum jam delapan. " kata Kirana sambil kembali menyimpan handphone nya di meja.


" Kenapa gak ke rumah oma sama opa aja dulu. " ujar Kirana lagi, mengusulkan agar berkunjung kerumah orang tua Bu Ratna.


" Rumah oma sama opa agak jauh lokasinya, belum lagi kita ngejar waktu buat ke klinik. Sedangkan klinik itu lebih dekat dengan kosan Kakakmu. " jelas Pak Bahari.


" Nanti kalau kamu sembuh, kita jalan-jalan ke rumah oma sama opa." kata Bu Ratna.


" Nanti mereka sedih kalau liat kamu sakit, iyakan? " Bu Ratna menambahi.

__ADS_1


Betul juga apa yang di ucapkan Ibu, Kirana tidak mungkin menambah beban fikiran Oma dan Opa nya yang sudah lanjut usia.


Sedangkan di sini saja, dia sudah cukup membuat keluarga nya khawatir. Kirana pun mengangguk memahami maksud perkataan Ibu nya.


****


Jam delapan kurang sepuluh menit Novi dan Fathir sudah sampai di kediaman keluarga Pak Bahari.


Nampak Pak Bahari sedang memanaskan mesin mobilnya di pekarangan rumah.


Fathir dan Novi menyalami Ayah dari Kirana itu. Selang beberapa menit Kirana dan Bu Ratna juga di ikuti Bi Sari di belakang mereka, keluar dari rumah.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Pak Bahari menyetir, Fathir duduk di sebelah Pak Bahari. Sementara Kirana, Bu Ratna dan Novi duduk di belakang.


Bi Sari yang sudah memasukan barang bawaan ke bagasi, langsung melambaikan tangan saat mobil mulai melaju.


Setelah menempuh waktu beberapa jam, akhirnya mereka sampai di kosan Bagas.


Bagas bersama kedua temannya menyambut kedatangan mereka.


Bagas mendelik kepada Fathir, dia tak menyangka bocah itu ikut bersama orang tuanya dan Kirana.


" Alhamdulillah baik.." Jawab Pak Bahari mewakili istrinya.


" Kirana..lama gak ketemu." Ucap Yanuar sambil mengulurkan tangannya.


Kirana menjabat uluran tangan Yanuar sambil tersenyum, begitupun pada Aryo. Tatapan Yanuar pada Kirana sangat dalam, sangat terlihat sekali tatapannya penuh arti.


Namun Kirana tidak menyadari itu, Fathir memperhatikan tatapan Yanuar kepada Kirana. Sebagai laki-laki ia tau apa arti tatapan itu.


Mereka pun masuk ke kosan Bagas. Sementara Aryo pergi ke mini market dekat sana, untuk membeli minuman dan makanan ringan.


" Kosan kamu bersih dan rapi, padahal cowok semua yang tinggal disini. " Kata Bu Ratna.


" Jelas lah ,kan ada Aryo yang rajin beres-beres. " Kata Bagas sambil duduk di karpet yang sengaja di gelar untuk alas duduk mereka.


Aryo pun datang membawa makanan dan minuman. Ada beberapa snack,roti,air mineral dan minuman soda yang di beli oleh Aryo.


" Kamu mau minum? Saya bantu buka botol air nya. " Yanuar sangat perhatian melihat Kirana kesulitan membuka botol air mineral.

__ADS_1


" Makasih Kak, saya bisa sendiri. " tolak Kirana yang mulai risih dari tadi di perhatikan oleh Yanuar.


Dia baru sadar setelah berada di kosan, tatapan Yanuar tidak pernah lepas pada nya. Kirana kira kalau Yanuar menyangka nya sedikit tidak waras sampai-sampai dia terus memperhatikan nya.


Kirana salah mengartikan tatapan itu. Sekarang dia lebih sensitif dari biasanya.


Maklum saja kan hampir semua orang menyangka diri nya sakit.


Fathir semakin yakin kalau Yanuar punya perasaan khusus pada Kirana, tapi gadis itu tidak menyadarinya.


Yanuar memiliki paras yang tampan dan pakaian yang rapi, penampilan nya pun sangat jauh jika di bandingkan dengan diri nya yang hanya berasal dari Desa.


Fathir mulai membandingkan Yanuar dengan dirinya. Tentu saja karena mereka sama-sama mencintai Kirana.


Kirana sendiri belum menyimpan perasaan apapun pada kedua nya. Terlebih lagi dia tidak pernah tau perasaan mereka pada nya. Apalagi saat ini dia sedang sangat depresi dengan apa yang ia alami.


Jangan kan masalah percintaan, urusan sekolah pun dia belum bisa konsentrasi. Yang ia inginkan saat ini hidupnya kembali normal seperti sebelumnya.


" Kamu sudah urus pendaftaran ke klinik? " Tanya Bu Ratna pada Bagas.


" Sudah dong..kemarin sebelum pergi ke kampus aku udah urus jadwal Kirana. " jawab Bagas.


" Seperempat jam lagi waktunya, mending kita langsung kesana. " kata Pak Bahari.


" Yang lain tunggu di sini saja, biar aku,Ayah sama Ibu yang antar Kirana." Perintah Bagas seraya melirik ke arah Fathir.


" Aku mau teman-teman ku ikut. " bantah Kirana.


" Ngapain bawa banyak orang ke klinik,hah?? " Bagas mulai kesal.


" Udah turuti saja keinginan adikmu. " Ucap Bu Ratna.


" Bagas kamu tunggu saja di sini. " Ucap Pak Bahari.


" Dari klinik kami langsung pulang." Lanjutnya.


Bagas tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah Ayahnya yang mengambil keputusan.


Mereka pun berpamitan pada Bagas dan teman-teman nya. Lalu segera pergi ke klinik yang jaraknya kurang lebih seratus meter dari kosan Bagas.

__ADS_1


__ADS_2