KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
ARWAH MALIKA


__ADS_3

Arumi merasakan sakit di sekujur tubuh. Dia membuka pelan kedua mata nya. Dia melihat ke sekeliling ruangan UGD. Setelah kesadaraanya penuh, dia baru mengetahui kalau diri nya saat ini sedang berada di rumah sakit.


Arumi mengingat apa yang sudah terjadi sebelum akhirnya ia terbaring lemah disini. Dia menatap ke arah Aryo, Yanuar dan Bagas yang berada satu ruangan dengan nya. Mereka rupanya belum juga siuman.


Bu Ratna kembali ke ruang UGD , sementara Pak Bahari menemui beberapa Polisi di lobi sekalian mengurus administrasi.


" Nak Arumi sudah sadar. " Suara Bu Ratna mengalihkan perhatian Arumi yang sedang memandangi teman-teman nya.


" Tante siapa? " Tanya Arumi.


" Tante.. Ibu nya Bagas. Gimana keadaan kamu, ada yang sakit ? Mau tante panggilkan dokter ? " Tanya Bu Ratna.


" Nggak usah Tante..! A-aku baik-baik saja. " Arumi mencoba menahan rasa remuk di sekujur tubuh nya.


Mata nya terus menerus menoleh ke arah Bagas dan yang lain. Namun dia baru sadar, ada yang kurang di sini.


" Malika sama Satriyo dimana Tante ? " Tanya Arumi.


Bu Ratna terdiam. Mulut nya tak mampu berkata-kata. Melihat reaksi Bu Ratna seperti itu, Arumi semakin penasaran. Dia sangat cemas pada Malika dan Satriyo.


" Tante..apa mereka di luar? " Tanya Arumi kembali.


Aryo seolah mendengar sesuatu di telinga nya. Dia pun sadar dan melihat Arumi sedang bersama Bu Ratna di sebrang ranjang yang berhadap-hadapan. Aryo tak bersuara, dia hanya memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka.


" Malika dan Satriyo..me-reka meninggal. " bak petir menggelegar ucapan Bu Ratna barusan. Membuat Arumi dan Aryo tercengang.


" Ti-tidak mungkin Tante. " Kata Arumi tak percaya.


" Benar Nak, mereka memang sudah pergi akibat kecelakaan itu. " lanjut Bu Ratna.


Arumi menangis mendengar kabar buruk dari Ibu nya Bagas. Dia tidak menyangka kalau acara touring mereka berakhir tragis. Apalagi ini adalah ide diri nya sendiri. Rasa bersalah dan penyesalan yang di rasakan Arumi.


Begitupun Aryo, dia mengusap kedua mata, menahan tangis yang hampir jatuh di pelupuk mata nya itu.


Arumi dan Bu Ratna menoleh ke arah Aryo, mereka baru tau kalau Aryo sudah siuman bahkan mendengarkan pembicaraan antara mereka.


Sementara Bagas dan Yanuar masih belum sadarkan diri . Luka yang mereka alami memang lebih berat ketimbang Aryo dan Arumi.


" Maafin gue Satriyo..maafin gue Malika.." lirih Aryo.


" Polisi bilang kalian mengalami kecelakaan beruntun. Entah bagaimana kronologis nya hingga mengakibatkan kalian mengalami peristiwa ini. " Ujar Pak Bahari yang sudah berada di ruangan itu.


" Untung saja ada mobil pick up milik penjual sayur lewat saat itu. Sopir dan kenektur nya menolong dan membawa kalian kesini. " Tutur Pak Bahari menceritakan apa yang Polisi jelaskan pada beliau saat mengurus administrasi di lobi tadi.


Aryo maupun Arumi tidak bisa mengingat pasti kejadian yang baru saja mereka alami. Semuanya terjadi begitu saja, dan kesadaran mereka seolah sudah mulai hilang sedari melewati kawasan hutan.

__ADS_1


Pak Bahari dan Bu Ratna menyampaikan pada mereka kalau besok orang tua mereka akan datang ke Rumah Sakit. Orang tua mereka tidak bisa datang malam ini juga karena jarak yang jauh dan lagi malam sudah sangat larut, belum lagi cuaca di luar sana masih hujan deras disertai petir.


Terkecuali, orang tua korban meninggal. Mereka segera menuju ke Rumah Sakit walau harus menempuh beberapa jam perjalanan.


Untung saja Polisi tak sulit menemukan identitas mereka, dan menemukan beberapa nomor yang sering di hubungi di ponsel para korban.


Pak Bahari dan Bu Ratna tak bisa meninggalkan Bagas namun mereka pun tak mungkin meninggalkan Kirana. Walau pun di rumah ada Mang Nur dan Bi Sari menjaga Kirana, tetap saja mereka khawatir terjadi sesuatu pada Kirana.


Akhirnya Pak Bahari memutuskan untuk mengantar isteri nya pulang, setelah itu ia akan kembali lagi ke Rumah Sakit Bina Medika.


Arumi dan Aryo hanya saling menatap dari ranjang masing-masing, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua semenjak Pak Bahari dan Bu Ratna meninggalkan ruangan itu.


Mereka berdua sangat terpukul dengan keprgian Malika dan Satriyo. Belum lagi melihat Yanuar dan Bagas yang belum juga siuman. Menambah kegetiran dalam hati mereka.


Hampir setengah jam Pak Bahari belum kembali ke Rumah Sakit. Beliau mengemasi barang milik Bagas terlebih dahulu, untuk di bawa ke rumah sakit.


Arumi menatap langit-langit ruang UGD, sementara Aryo mulai memejamkan mata nya walau tak ada rasa kantuk sedikitpun. Ia hanya lelah dan butuh istirahat.


" Malika..kenapa aku bisa disini? Mana yang lain ? " Tanya Bagas.


Suara Bagas membuat Aryo dan Arumi kaget. Pasalnya dia yang baru siuman tiba-tiba berbicara dan menyebut nama Malika.


Sontak Arumi maupun Aryo langsung menoleh ke ranjang dimana Bagas terbaring.


Arumi melihat satu sosok perempuan di sebelah Bagas, sosok itu sangat mirip dengan Malika. Pakaian yang ia kenakan pun sama persis dengan yang di kenakan oleh Malika terakhir kali.


Arumi sangat yakin kalau itu arwah dari Malika. Dia bisa melihat nya. Namun Aryo tidak seperti Arumi. Aryo tak bisa melihat sosok Malika, yang ia lihat Bagas nampak berbicara sendiri.


Sedangkan pandangan Bagas sendiri. Dia melihat Malika dalam keadaan baik-baik saja. Tetap terlihat cantik, hanya kulit putihnya agak sedikit lebih pucat.


" Malika..syukurlah kamu baik-baik saja. Wajah kamu sedikit pucat, apa dokter sudah memeriksa kamu? Apa ada yang sakit ? " Pertanyaan Bagas tak kunjung di jawab oleh Malika.


Gadis itu hanya terdiam tanpa suara. Dia hanya mengelus helaian rambut Bagas. Dan kemudian meneteskan air mata.


Suara tangisan Malika sangat menyeramkan terdengar jelas di telinga Arumi. Arumi menarik selimut dan menutup wajahnya. Dia tak sanggup melihat arwah sahabatnya itu. Ia tau Malika belum siap menerima kematian nya itu.


" Malika kamu mau kemana hey..Malika..jangan tinggalkan aku.." Teriak Bagas yang melihat Malika pergi keluar ruangan itu dan menghilang di balik tirai. Namun Bagas sama sekali tak menyadari hal itu, semua seakan normal dalam penglihatannya.


Aryo masih tak habis fikir, bisa-bisa nya Bagas berbicara sendiri. Dia mengira Bagas seperti itu karena terbentur kepalanya saat kecelakaan tadi.


" Bagas.. ngapain teriak-teriak. " Kata Aryo sedikit lemah suara nya.


" Itu barusan Malika malah keluar,,loh kok lo juga bisa disini ? " Tanya Bagas yang kesadaran nya belum kembali seratus persen.


" Aw..aduh.." Bagas memegangi kepalanya yang terasa sakit.

__ADS_1


" Kita kecelakaan, Satriyo dan Malika meninggal. " Jelas Aryo.


" Hah ? Gila lo.." ucap Bagas sambil masih menahan sakit di bagian kepala.


Pak Bahari baru datang ke ruangan mereka dengan membawa makanan,air mineral dan juga pakaian ganti.


" Syukurlah kamu sudah siuman." Ucap Pak Bahari pada Bagas.


" Ayah..barusan Ayah ketemu Malika di luar? " Pertanyaan Bagas membuat Pak Bahari terkejut.


" Maksud kamu ? " Pak Bahari menautkan alis.


" Itu pacar Bagas barusan keluar, kasian dia kalau sendirian. Ayah tau kan Malika. " Tutur Bagas.


" Nak..kalian mengalami kecelakaan. Coba lihat sekelilingmu. Itu Yanuar belum sadarkan diri, itu Aryo, dan di sebrang situ depan kamu ranjangnya. Arumi. " Pak Bahari menujuk satu persatu ranjang pesakitan teman-teman Bagas.


Bagas pun menoleh ke arah yang ditunjukan satu persatu oleh Ayah nya. Dia baru sadar kalau sebagian sahabat nya juga berada di sini. Sebelumnya dia baru melihat Aryo saja, dan tak memperhatikan ranjang yang lain.


" Loh Satriyo mana? apa dia juga baik-baik saja seperti Malika. Jadi cuma aku, Yanuar, Aryo dan Arumi yang terluka? Kok bisa ya kita kecelakaan. Bagas sama sekali gak ingat apa yang terjadi. " Dia mencoba mengingat peristiwa itu namun tetap saja kepalanya sakit tiap kali berusaha mengingatnya.


" Bagas..sabar ya. Satriyo dan Malika sudah meninggal karena kecelakaan itu." Kata Pak Bahari.


Bagas membulatkan mata nya. Sama sekali dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ayah nya.


" Ayah jangan bercanda, barusan Malika disini. " kata Bagas keukeuh.


Pak Bahari mulai menyerah menjelaskan semua pada Bagas. Arumi dan Aryo pun hanya terdiam tak bersuara.


Dokter dan perawat baru muncul berniat mengecek keadaan mereka.


" Nah ini dia Doker. Dok..mana Malika?" Tanya Bagas.


Dokter menoleh ke arah Pak Bahari. Lalu dia mengecek beberapa alat yang tersambung pada tubuh Bagas.


" Malika dan Satriyo sudah meninggal. Mereka ada di kamar mayat. Sebentar lagi keluarga nya datang dan akan membawa jenazah mereka. " Ucap Dokter yang kemudian mengecek Yanuar,Aryo juga Arumi.


Apa yang dikatakan Dokter sangat sulit di percaya oleh Bagas. Baru saja dia bertemu Malika. Bahkan Malika tampak baik-baik saja. Namun dari tadi yang ia dengar hanya kabar buruk tentang Malika dan Satriyo dari mulut mereka.


" Semoga kalian lekas sembuh, besok saya cek kembali. " Lalu Dokter dan perawat itu pun keluar.


" Kamu dengar Dokter bilang apa? " Tanya Pak Bahari.


" Ini pasti cuma mimpi,iyakan ini mimpi buruk? " kata Bagas tak terima.


" Bagas..bagaimanapun sakit nya dan berat nya ditinggalkan seseorang. Kamu harus ikhlas dan menerima kenyataan. Malika dan Satriyo sudah pergi. " Ucap Pak Bahari serius.

__ADS_1


Pak Bahari pun menceritakan kedatangan Malika dan Satriyo ke rumah nya sesaat sebelum ada kabar kecelakaan.


Tentu saja apa yang Pak Bahari ceritakan membuat Aryo, Bagas dan Arumi terkejut. Mereka bertiga sangat terpukul dengan kejadian yang telah merenggut dua nyawa sahabatnya itu. Terlebih lagi mereka berdua malah mendatangi rumah Bagas dalam keadaan bukan manusia lagi.


__ADS_2