
Kirana tertidur pulas setelah beberapa hari kurang tidur karena banyak gangguan dari makhluk tak kasat mata.
Seseorang mendekati Kirana. Dia berbaring di samping Kirana sambil mengelus helaian rambut panjang yang menutupi wajah Kirana.
Sentuhan lembut nya membuat Kirana nyaman dan semakin terjaga. Sosok itu mulai memberanikan diri untuk mengecup kening Kirana. Namun Kirana membuka mata nya pelan.
Gadis itu amat terkejut saat melihat siapa yang berada di sebelahnya bahkan hampir mencium nya.
" Kak Yanuar !!! " Ucap Kirana membulatkan bola mata nya.
" Apa yang kakak lakukan ? " Lanjut Kirana seraya beranjak dari ranjang.
" Maafkan aku Kirana. Sebenarnya aku hanya ingin melindungi mu, aku tak bermaksud apapun. Aku takut ada makhluk yang mengganggumu lagi. " Jelas Yanuar.
" Apa Kakak yang sudah menolongku tadi di kamar mandi?? " Tanya Kirana.
Pria itu hanya mengangguk pelan. Lalu kedua mata mereka saling beradu. Ada sesuatu yang Kirana tangkap dari tatapan itu.
Tiba-tiba Kirana terbangun. Dia sadar tadi dia bermimpi tentang Yanuar. Mimpi yang seolah begitu nyata. Kirana memegangi dahi nya .
Dia menatap kesekeliling kamar , tak ada Yanuar di sana. Yang ada hanya Bu Ratna di sebelah nya sedang tertidur.
Kirana merebahkan tubuh nya. Lalu kembali tertidur.
Sukma Yanuar yang belum bisa kembali pada raga nya. Terus mengikuti Kirana, dia ingin melindungi Kirana walau diri nya dalam keadaan tanpa raga. Kali ini dia tau persis apa yang di alami oleh gadis yang ia cintai.
Sesekali ia kembali ke Rumah Sakit di mana raga nya terbujur kaku. Dia sangat ingin kembali bersatu dengan raga yang jantung nya masih berdetak itu. Tapi entah kenapa begitu sulit untuk menyatukan batiniah dan lahiriyah nya.
Dia berjalan terombang ambing tanpa arah dan tujuan. Mencari celah agar bisa masuk ke dalam raga nya kembali. Dia belum siap pergi dari dunia ini, dan sepertinya Tuhan pun masih memberi kesempatan hidup itu walaupun sangat tipis kemungkinan nya.
Yanuar berharap Kirana bisa menemui raga kasar nya yang terbujur kaku tak berdaya itu. Sehingga membuat diri nya mempunyai alasan lebih untuk tetap bertahan hidup.
****
__ADS_1
Hari ini jadwal Bagas untuk konsul ke Rumah Sakit. Tadi nya hanya Pak Bahari dan Bagas saja yang akan pergi, namun Kirana juga ingin ikut bersama mereka dengan alasan ingin menjenguk Yanuar.
Mereka bertiga pun berangkat ke Rumah Sakit Bina Medika. Mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan.
Kirana memandangi suasana pedesaan yang asri, hamparan sawah menguning dan terlihat beberapa orang sedang bertani di area persawahan itu.
Dia teringat pada Fathir. Kejadian saat dirinya berjalan di pematang sawah bersama Fathir tiba-tiba menghiasi memori nya. Bibir mungilnya menyembulkan sedikit senyuman tatkala mengingat hal itu.
Mobil yang di kendarai Pak Bahari pun memasuki area parkir Rumah Sakit. Kirana segera turun dan membantu Bagas menaiki kursi roda.
" Ayah, Kirana langsung ke ruangan Kak Yanuar sambil menunggu Kak Bagas di periksa. " Kata Kirana meminta izin.
" Baiklah. Nanti Ayah chat kamu kalau Bagas selesai. " Kemudian Pak Bahari membawa Bagas ke ruang pemeriksaan .
Sementara Kirana berjalan ke arah koridor Rumah Sakit menuju ruangan dimana Yanuar berada.
Kirana di anjurkan memakai pakaian khusus serta masker untuk ke ruangan Yanuar yang steril.
Mata Kirana berkaca-kaca saat mendapati Yanuar yang berbaring tak berdaya dengan banyak alat medis menempel di tubuh nya.
Butiran bening pun lolos jatuh di mata indah nya. Tatapan sendu Kirana melihat wajah Yanuar yang sangat pucat. Gadis cantik itu tidak tega melihat kondisi Yanuar seperti ini.
Sukma Yanuar yang sedang berjalan di sebuah kegelapan. Mengikuti cahaya kecil yang datang seolah menjemput diri nya.
Namun di belakang sana Malika dan Satriyo terus mengajak Yanuar untuk ikut bersama mereka.
" Yanuar...jangan kembali, tetaplah bersama kami. Kami hanya berdua dan tidak ada teman. Aku mohon. " Ucap Malika sambil mengulurkan tangan ke arah pria itu.
" Yanuar..apa kamu tega meninggalkan kami berdua tersiksa kesakitan di sini?" Ujar Satriyo.
Yanuar menoleh ke arah kedua teman nya, lalu ia pun kembali menoleh ke arah cahaya kecil yang berada di sisi lain.
Sementara Kirana yang berada di alam yang nyata. Menggenggam erat jemari Yanuar sambil terus memanggil nama nya.
__ADS_1
Kirana merasa berhutang budi pada pria itu. Semalam pria di hadapan nya itu telah menyelamatkan nya dari makhluk menyeramkan.
Entah kenapa Kirana begitu yakin kalau Yanuar lah yang datang menyelamatkan nya saat itu. Lalu mendatangi nya lewat mimpi.
Kembali ke alam di mana Yanuar berada. Alam bawah sadar yang terus menggiringnya pada dua pilihan.
Antara mengikuti Malika dan Satriyo atau mengikuti cahaya kecil yang kini mulai mengeluarkan suara memanggil nama nya. Suara Kirana yang membersamai langkah cahaya itu.
Akhirnya Yanuar pun memilih untuk mengikuti cahaya itu. Dan..jemari nya mulai bergerak pelan.
Kirana terkejut melihat reaksi Yanuar. Dia segera menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil petugas medis.
Tak lama kemudian Dokter dan beberapa perawat masuk. Kirana mengatakan pada mereka kalau Yanuar baru saja menggerakan jemari nya.
Lalu Dokter memeriksa lebih lanjut keadaan pria yang terbujur di atas ranjang pesakitan itu. Kirana di bawa keluar ruangan oleh salah satu perawat karena akan dilakukan penanganan intens pada Yanuar.
Kirana tak henti berdo'a untuk kesembuhan Yanuar. Selang beberapa menit Dokter keluar dari ruangan.
" Syukurlah sekarang Yanuar sudah siuman dari koma nya. Ini sebuah keajaiban. Karena kemungkinan untuk sembuh sangat tipis sekali menurut pantauan kami. Tapi tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. " Ucap Dokter.
" Syukurlah. Makasih banyak Dok sudah berusaha keras menyembuhkan teman saya. " Kata Kirana senang.
" Sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban saya. Tapi untuk sementara jangan ajak bicara Yanuar dulu. Biarkan dia istirahat. Dan yang membesuk pun harus tetap bergiliran. " Ujar Dokter.
" Baik Dok ."
" Kalau begitu saya permisi. "
Dokter dan perawat pun pergi meninggalkan Kirana sendirian. Kirana menatap Yanuar lewat kaca yang berada di antara ruangan nya dan kamar Yanuar.
Kirana tersenyum bahagia do'a nya akhirnya di kabulkan. Yanuar sembuh, tak sia-sia ia datang kemari. Saking senangnya Ia memberitahu Pak Bahari lewat chat .
Kirana pun menelpon Fathir dan menceritakan apa yang ia alami semalam saat Yanuar menolong nya sampai saat ini Yanuar bangun dari koma.
__ADS_1
Fathir hanya tersenyum kecut di sebrang telepon sana. Entah harus sedih atau kah bahagia mendengar kabar dari Kirana.