KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
PERKEBUNAN TEH


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kehidupan Kirana serta keluarga mulai normal. Hari ini keadaan Yanuar sudah mulai membaik. Dia diperbolehkan pulang oleh Dokter.


Yanuar di bawa pulang ke kediaman Pak Bahari. Walaupun kondisi nya belum 100% pulih dan masih harus bedrest. Sementara waktu Yanuar tinggal di kamar tamu.


Nanti setelah benar-benar pulih, baru ia akan kembali ke kota. Keluarga Pak Bahari sudah menganggap Yanuar sebagai bagian dari keluarga mereka.


Malam itu keluarga Pak Bahari makan malam dengan khidmat. Yanuar pun ikut makan malam di ruang makan, karena dia merasa tidak enak jika terus berada di kamar. Apalagi Bi Sari selalu mengantarkan makanan ke kamar untuk nya.


Yanuar tidak ingin merepotkan keluarga Pak Bahari. Dia ingin segera sembuh total dan tidak terus menerus membiarkan tubuh nya bermanja-manja di tempat tidur.


" Nanti pagi aku mau jogging sama teman-teman. " Ujar Kirana sambil melap sudut bibirnya dengan tisu.


" Boleh saja. Ayah juga dulu sering jogging keliling kampung. " Kata Pak Bahari setelah semua selesai makan.


Bagas yang tak begitu tertarik dengan pembicaraan Kirana hanya terdiam. Sementara Bu Ratna hanya tersenyum melihat Kirana kembali semangat.


Sedangkan Yanuar hanya menyayangkan diri nya tidak bisa ikut bersama Kirana dan teman-teman nya. Mengingat kondisi nya belum fit.


" Malam ini Kirana tidur sendiri saja. " Kirana mulai yakin kalau diri nya sudah baik-baik saja.


" Kamu yakin ? " Tanya Ibu nya.


Kirana hanya menangguk.


" Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera panggil Ibu. " Ucap Bu Ratna.


" Oke. Kalau gitu Kirana duluan. " Kirana meninggalkan mereka yang masih betah di meja makan.


****


Fathir, Kirana, dan Novi lari pagi mengitari kampung. Bada shalat subuh Fathir dan Novi menjemput Kirana di rumah nya.


" Udara nya segar sekali. " Ucap Kirana mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan.


" Kita ke perkebunan teh biar nanti pas matahari terbit kita bisa lihat sun rise . " Ujar Fathir.


" Ide bagus. " timpal Novi.


Mereka pun berlari kecil menuju perkebunan teh . Kirana memperlambat langkah nya, dia mulai sedikit lelah karena jalan menuju kesana sedikit menanjak.


" Kita istirahat sebentar, aku lelah. " teriak Kirana yang mulai tertinggal di belakang.


Fathir dan Novi menoleh ke arah gadis itu. Lalu mereka berdua saling melirik dan tersenyum. Rupanya Kirana tak biasa lari pagi seperti mereka, apalagi melewati tanjakan.


" Ayo nanti keburu matahari muncul. " Seru Novi.


" Bentaaaarrr aja, please !! Aku gak kuat." Kirana mulai ngos-ngosan di bawah. Sementara kedua temannya sudah berada di puncak tanjakan.


" Kami tunggu di sini. Kamu jalan aja kalau gak kuat lari. " Seru Fathir.

__ADS_1


" Huft..." Kirana bertolak pinggang.


Rasanya kaki Kirana ingin sekali selonjoran sebentar dan duduk di bebatuan di pinggir jalan. Tapi terpaksa dia harus terus meniti menapaki jalan yang sedikit curam itu.


Hiiiiiiihiiiiihiiiii


Suara cekikikan terdengar jelas di telinga Kirana. Sejenak ia menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah semak-semak di kiri dan kanan jalan.


Novi dan Fathir keheranan melihat Kirana malah mematung di pertengahan jalan.


Kirana segera melanjutkan dan mempercepat langkahnya saat terdengar kasak-kusuk di semak-semak. Seperti ada seseorang di balik semak itu. Pencahayaan yang samar membuatnya tak bisa melihat dengan jelas.


Padahal saat itu dia sangat lelah, dengan terpaksa dia berlari kecil menanjaki jalan yang tinggal beberapa langkah lagi menuju kedua temannya.


" Aku mendengar sesuatu. " Kirana makin ngos-ngosan. Rasa lelah dan ketakutan bercampur menjadi satu.


" Makanya ayo kita secepatnya pergi dari sini. " Ujar Novi sambil menarik lengan Kirana.


Fathir memandang ke sekeliling tempat itu, lalu ia mengikuti kedua gadis yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan tanjakan itu.


Novi melihat ada sosok Kuntilanak di pohon besar tepatnya di pertengahan jalan yang curam itu.


Sekitar seratus meter lagi untuk sampai ke area perkebunan teh. Fathir menghentikan langkahnya. Dia lupa kalau jalan menuju kesana akan melewati TPU yang cukup angker.


" Loh kenapa berhenti? capek juga ? " Tanya Novi.


" Bukan. Kita hanya akan melewati TPU di depan sana. " Jawab Fathir.


" Bukan aku yang takut. Tapi kamu sama Novi, aku khawatir nanti kalian melihat sesuatu di sana. " Ujar Fathir.


" Gak usah khawatir sama aku. Kalaupun ada makhluk halus disana paling aku cuma bisa liat mereka aja. " Ujar Novi.


" Gak akan kerasukan? " Fathir meyakinkan.


" Nggak. " Novi memutar mata malas.


" Aku gak takut asal kalian gak ninggalin aku kayak di tanjakan tadi. " Kirana memelas walau di hati nya ada rasa was-was.


" Baiklah kita jalan pelan aja. " Ucap Fathir.


Saat melintasi TPU, Kirana berjalan di antara kedua teman nya. Fathir di sebelah kiri dan Novi di sebelah kanan.


TPU itu berada di kiri jalan. Baru saja beberapa langkah. Hawa dingin menyapa leher bagian belakang Kirana. Bulu kuduk nya mulai merinding . Belum lagi harum bunga melati menembus penciuman nya sangat tajam.


" Kalian cium wangi bunga? " Tanya Kirana berbisik.


Kedua teman nya menggelengkan kepala, sambil terus berjalan.


Kirana menggenggam kuat tangan kedua teman nya itu saat mulai mencium bau bangkai. Tadi wangi sekarang malah bau bangkai. Membuat dirinya mual. Kirana menutup mulut dengan sebelah tangan nya.

__ADS_1


Novi menoleh pada Kirana yang melepaskan genggaman nya. Saat Kirana akan kembali meraih lengan Novi, tiba-tiba jemari yang dingin yang ia sentuh.


Kirana menoleh ke bawah. Rupanya bukan tangan Novi yang ia pegang.


Deg !


Kirana menghentikan langkahnya. Fathir menoleh keheranan. Sedang Novi mulai tau kalau Kirana menyentuh tangan seseorang, saat dia melihat kesamping.


" Lepaskan cepat..kita lari.. " Novi berbisik setelah melihat tangan yang begitu pucat di sentuh Kirana.


Makhluk yang Novi lihat saat ini adalah seorang perempuan berjalan di belakang mereka.


" Lariiii...." Novi memberi aba-aba.


Mereka pun berlari mengambil langkah seribu sampai akhirnya kawasan itu berhasil mereka lewati.


Matahari hampir menampakan sinar nya. Mereka sampai di perbukitan dengan hamparan kebun teh yang sangat luas.


Ketiga remaja itu mengatur nafas setelah berlari lumayan cepat di kawasan TPU tadi.


Rasa lelah dan takut mulai hilang saat melihat pemandangan nan indah di depan mereka. Matahari mulai berani menampakan sinar nya di ufuk timur.


" Indah sekali..." Ucap Kirana sambil merentangkan tangan nya menikmati kesejukan udara serta cahaya matahari yang mulai menghangatkan kulit.


Fathir menatap Kirana penuh kekaguman melihat gadis itu begitu cantik saat wajah nya tersorot sinar matahari dan rambut panjang nya terkibas sepoyan angin.


Novi menyadari kekaguman Fathir pada Kirana. Dia tidak pernah melihat pria itu begitu lembut dan begitu dalam menatap perempuan.


Novi meninggalkan mereka berdua , dia mencari tempat yang nyaman untuk melepas lelah. Tak jauh dari sana ada pohon rindang dan bebatuan besar di bawah nya. Novi duduk di atas bebatuan itu.


Kirana masih memejamkan mata menikmati udara yang sejuk. Beberapa saat dia membuka mata nya. Dari atas dia bisa melihat pemukiman penduduk.


Kirana menoleh ke arah Fathir. Saat itu Fathir sedikit kikuk karena ketauan tengah menatap gadis di hadapannya.


" Apa yang kamu lihat? " Tanya Kirana tersenyum.


" Emm i-itu.. " Fathir bingung mau bicara apa.


" Makasih ya udah ajak aku ke sini. " Ujar Kirana kembali membuang pandangan nya jauh ke depan.


" Kamu suka? " Tanya Fathir.


" Tentu saja. " Jawab Kirana kembali tersenyum ke arah pria di samping nya.


" Aku juga suka melihat kamu tersenyum seperti itu..sangat cantik." Kata Fathir memelankan perkataannya di akhir kalimat.


" Apa ? " Kirana pura-pura tidak mendengar padahal dia mendengar ucapan Fathir tadi walau pelan.


" Iya...aku suka kamu kembali ceria lagi. Tersenyum seperti ini. Tidak seperti kemarin-kemarin murung dan tertekan. " Jelas Fathir.

__ADS_1


Kirana menyunggingkan senyum terindah nya. Lalu ia berbalik berjalan ke arah dimana Novi berada. Kirana duduk di bebatuan bersama Novi. Sementara Fathir masih mematung terpaku di sana. Dia terpesona pada kecantikan Kirana yang begitu alami.


__ADS_2