
Novi tak bisa berkata apapun setelah mendengar keterangan dari Bu Nuri. Dia tau saat ini hati Fathir hancur.
Apalagi Fathir menyukai Kirana, keluarga dari pembunuh Ayah nya. Novi segera pamit pulang, dia mengurungkan niatnya untuk ke rumah Kirana bersama Fathir.
Fathir sendiri segera masuk ke kamar setelah kepergian Novi dari rumah nya. Benak nya mengingat Kirana, gadis yang selama ini ia cintai .
' Haruskah aku membenci Kirana sama seperti Ibu ? ' batin nya.
Tapi jauh di lubuk hati nya ada rasa iba pada gadis itu. Ya..Kirana tak berdosa bahkan dia sendiri saat ini membutuhkan pertolongan agar terlepas dari jerat iblis yang membelenggu keluarga nya.
Namun Fathir butuh waktu untuk merenung dan mengikhlaskan semua peristiwa yang menimpa Ayah nya dulu.
Jika bukan karena keluarga Kirana, mungkin dia bisa melihat wajah Ayahnya yang dari lahir hingga saat ini ia sendiri tak mengetahui nya.
Hanya lewat foto hitam putih yang sudah usang, dia mengira-ngira wajah ayah nya. Foto itu memang sudah rusak dan tak utuh lagi sehingga gambar nya terlihat samar.
Di kediaman Kirana.
Bu Ratna memanggil anak gadis nya yang tidak kunjung keluar kamar. Padahal sudah waktu nya makan malam.
" Kirana..sayang..kamu baik-baik saja kan? " Sahut Bu Ratna di luar kamar.
" Kirana nggak apa-apa Bu, Kirana juga belum lapar. Ibu sama Ayah duluan saja. Kirana mau istirahat. " Teriak Kirana di dalam kamar dengan suara parau.
Bu Ratna yakin ada sesuatu terjadi pada putri nya. Ia cemas, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Kirana mengunci diri nya di kamar.
Nampak ke khawatiran di raut wajah Bu Ratna. Pak Bahari menatap lekat wajah istri nya.
" Mana Kirana ? " Tanya Pak Bahari yang sedari tadi menunggu di ruang makan.
" Dia gak mau keluar kata nya belum mau makan. Ibu khawatir dia kenapa-kenapa. " lirih Bu Ratna.
__ADS_1
" Sudah lah mungkin memang dia belum lapar. Kalau ada apa-apa dia pasti bilang sama kita dan gak mungkin berani sendiri di kamar. " ucap Pak Bahari.
Bu Ratna pun mengangguk walau hati nya masih belum tenang. Dia mencoba berfikiran positif seperti suami nya.
Pak Bahari sendiri teringat ucapan Kirana tadi siang. Putri nya menanyakan tentang ilmu leluhur mereka. Pak Bahari tak ingin membuka masa lalu nya kembali.
Semenjak ia tinggal di kota membuka lembaran baru kehidupan nya, dan semua kenangan ia tutup rapat.
Sampai saat bertemu dengan Bu Ratna pun beliau tak pernah ingin memperkenalkan nya pada kedua orang tua di kampung.
Hingga suatu hari berita kecelakaan kedua orang tua sampai di telinganya. Banyak isu kalau kepergian mereka akibat dari ilmu yang mereka miliki.
Simpang siur berita dengan berbagai versi. Yang jelas Pak Bahari mengikhlaskan kepergian mereka. Hubungan mereka memang tak begitu harmonis membuat Pak Bahari pergi meninggalkan Desa Jatiasih.
" Pak kok ngelamun. " ujar Bu Ratna membuyarkan lamunan suami nya.
" Ng-nggak Bu, ayo makan. " elak Pak Bahari.
Mereka berdua pun makan bersama. Sementara Bi Sari juga Mang Nur sudah pulang sejak sore tadi.
Kirana menyisir rambutnya yang basah seusai di keramas, kepalanya terasa dingin tak seperti sebelumnya terasa pusing dan berat. Wajar saja dia seperti itu, karena apa yang ia hadapi bukan hal sepele. Ini menyangkut nyawa banyak orang.
Tiba-tiba di pantulan cermin terlihat dua sosok wanita tua. Nyi Laksmi dan Dewi Larasati, mereka tersenyum menyeringai ke arah Kirana. Sontak Kirana mundur beberapa langkah.
Tubuh nya menabrak nakas dekat ranjang.
" Kemarilah Nak..kami akan memberimu hadiah. " Ujar Nyi Laksmi.
" Ti-tidak. " tolak Kirana.
" Hanya kamu yang bisa menyelamatkan nasib keluarga kita. Mengabdi lah..dengan begitu kamu akan selamat begitu pun kami akan tetap hidup di sini. " lanjut Nyi Laksmi yang di ikuti anggukan Dewi Larasati.
__ADS_1
" Aku tidak mau mengabdi pada iblis ! " suara Kirana lantang.
Sontak mata dua perempuan itu menatap tajam, bola mata keduanya memancarkan amarah. Lebih mengerikan lagi mereka seolah akan keluar dari dalam cermin tersebut.
Kirana meraih vas bunga yang berada di nakas, lalu melemparkan nya ke arah cermin.
" Musnahlah kalian...." teriak Kirana.
Prrraaaaangggg
Suara pecahan kaca terdengar sampai ke seluruh ruangan rumah. Kirana terengah-engah. Dua sosok itu seketika menghilang.
Sementara Pak Bahari dan istri nya berlarian ke arah sumber suara. Mereka mendengar kaca pecah di kamar Kirana.
" Kirana apa yang terjadi? Buka pintu nya. " Suara Bu Ratna dan Pak Bahari bergantian sambil menggedor pintu kamar.
Kirana berjalan ke arah pintu lalu membuka nya, saat pintu mulai terbuka. Kirana menatap tajam Ayah nya. Bu Ratna heran melihat cara Kirana menatap suami nya.
" Ada apa Nak ? " tanya Bu Ratna.
" Mereka ingin aku mewarisi ilmu sesat. Ayah puas ? Atau mungkin Ayah sengaja membawa Kirana kesini untuk memenuhi keinginan mereka? " cerca Kirana.
Pak Bahari hanya terdiam mendengar perkataan putri nya dengan nada suara yang tinggi. Padahal Kirana tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu sebelum nya. Hal itu membuat Bu Ratna terkejut apalagi ucapan Kirana tentang ilmu sesat. Benar-benar membuat otaknya harus bekerja keras mencerna semua nya.
" Demi apa? Demi kekayaan kah sehingga Ayah tega mengorbankan anak nya sendiri bahkan mungkin akan mengorbankan banyak nyawa yang tak berdosa ? " Tatapan Kirana mengintimidasi.
Plaaakk
Pak Bahari menampar wajah Kirana. Bu Ratna menutup mulut dengan kedua tangan nya, sedangkan Kirana langsung menatap kembali mata Ayah nya.
Kini tangis pun lolos terjatuh dari mata indah Kirana. Bukan karena tamparan yang membuat pipi nya terasa panas. Tapi sikap Ayah nya yang lagi-lagi tak berusaha untuk memberi penjelasan atas semua ini. Kirana sangat berharap ada pembantahan dari mulut Pak Bahari.
__ADS_1
Tapi yang Kirana lihat dari wajah itu, suatu kebenaran yang terus di tutupi oleh nya. Kirana segera masuk dan membanting pintu kamar nya. Kedua orang tua nya kaget sampai mundur beberapa langkah.
Pak Bahari menyesali perbuatan nya barusan.Tak seharusnya diri nya menampar Kirana. Sedang Bu Ratna tak berani berkata apapun, dia hanya bisa menangis melihat perkelahian sengit antara Ayah dan anak.