
" Kalau bukan karena rasa kemanusiaan, Ibu gak akan mengizinkan kamu untuk pergi mengantar Kirana kemarin. " Ucap Bu Nuri sambil menuangkan air dari teko jadul berwarna keemasan.
Fathir yang baru pulang dari sekolah hanya menghela nafas mendengar ucapan Ibu nya.
Bu Nuri menyodorkan cangkir berisi air teh tawar kepada putra satu-satu nya itu. Lalu Fathir pun meneguknya untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokan.
" Ibu sendiri yang mengajarkan Fathir untuk selalu menolong orang lain. Fathir ingin membantu Kirana agar lekas sembuh, walau tak banyak yang bisa Fathir lakukan. " Tutur Fathir sambil menyimpan cangkir di meja kayu.
" Ibu cuma khawatir sama kamu. Novi saja sakit kan sekarang setelah nganter Kirana semalam. Tadi Ibu dengar waktu belanja di tukang sayur keliling. Orang sini membicarakan Novi yang kata nya kerasukan. Apa itu benar ? " Kata Bu Nuri.
" Iya Novi semalam memang kerasukan, tapi bukan karena Kirana . Mungkin karena saat itu kami melewati jalan yang angker. Ibu tau sendiri lah Novi gimana. " Terang Fathir.
" Ibu boleh melarang apa saja, tapi Fathir mohon. Jangan larang Fathir untuk menolong Kirana . Maaf Bu, Fathir tau Ibu khawatir. Tapi Ibu harus percaya, Fathir akan baik-baik saja. Ibu do'a kan Fathir saja. " Pinta Fathir seolah tau Ibu nya keberatan jika dia dekat dengan Kirana.
Fathir tak tau persis apa penyebab beliau tak suka pada keluarga Kirana. Padahal Mang Nur dan Bi Sari adiknya sendiri bekerja di keluarga itu.
Bu Nuri hanya terdiam tak bisa menentang keinginan Fathir yang sepertinya sudah tak bisa di halangi lagi.
Dia sangat hafal karakter anak nya itu. Jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama . Belum lagi Fathir orangnya tidak gampang menyerah dan akan terus berusaha selama tujuan nya belum tercapai.
Bu Nuri berdiri dari duduk dan langsung ke dapur untuk menyelesaikan rutinitas nya sebagai Ibu Rumah Tangga.
Fathir menatap nanar punggung wanita yang sudah melahirkannya itu sampai menghilang di balik pintu dapur.
Fathir tau Ibu kecewa pada diri nya. Tapi apa yang Fathir lakukan juga bukan suatu kesalahan menurutnya. Dia segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian dan istirahat.
__ADS_1
****
Di kampus Bagas.
Bagas, Yanuar , Aryo , Malika , Satriyo dan Arumi sedang berkumpul di Cafe kampus.
Mereka berenam bersahabat baik sejak meniti ilmu di kampus itu. Malika adalah kekasih Bagas , dia seorang anak dari pengusaha besar.
Hobby konvoi dengan motor mewah yang mempersatukan mereka berenam.
Kali ini mereka berenam sepakat menghabiskan waktu week end bersama dengan berkonvoi menuju Desa Jatiasih.
Bagas awal nya tidak setuju dengan ide Arumi yang menginginkan konvoi ke daerah tempat tinggal baru nya.
Tapi karena desakan teman-teman nya yang lain yang juga penasaran dengan hunian baru sahabat nya itu. Bagas pun tak bisa berkutik. Apalagi kalau Malika ikut merengek kepadanya.
Namun Arumi enggan mengatakan hal yang sebenarnya pada kelima sahabatnya itu. Kalau selama ini ada banyak kejanggalan yang ia temukan pada Bagas.
Beberapa kali Arumi melihat sosok gaib yang selalu mengikuti Bagas saat di kampus. Arumi yakin Bagas tidak akan percaya pada nya jika ia memberitahukan hal itu.
Rasa penasaran Arumi kian menjadi saat mendengar cerita dari Aryo, kalau Kirana adik Bagas sedang sakit dan di bawa ke psikiater. Entahlah ada firasat lain mengatakan pada Arumi , kalau Kirana sedang mengalami gangguan dari makhluk gaib bukan sakit jiwa.
" Kapan kita berangkat ? " Tanya Satriyo.
" Nanti sore. " Kata Bagas.
__ADS_1
" Oke, gue boncengan sama siapa nih ? " Tanya Satriyo lagi.
" Terserah lu, gue mah pasti sama Beb Malika..iya kan Beb. " Jawab Bagas sambil menyimpan lengan nya di bahu Malika. Gadis itu tersipu.
" Huuuhhh. " Ucap yang lain serempak.
" Gue bareng Arumi . " Ucap Aryo.
" Gak enak banget gue bonceng si Yanuar , cewek kali-kali yang gue boncengin. " Kata Satriyo .
" Suruh aja si Yanuar pake rok. " Kata Aryo sembarangan.
" S*alan . " Yanuar melempar kulit kacang yang sedang ia makan ke arah Aryo.
" Sorry Bro..abisnya ni si Satriyo. Udah tau cewek di sini cuman ada dua orang. Lagian gue sama Arumi tuh teman sejak SD jadi gue gak percaya sama lu kalau boncengin dia. " Kata Aryo.
" Ribet banget sih..gak usah pergi ajalah sekalian. " Tutur Bagas yang memang tak ingin teman-temannya tau keadaan kampung halaman nya saat ini.
" Yah gak asik lu..oke lah gue sama si Yanuar. " Kata Satriyo.
" Ikhlas nih bro, jangan kepaksa loh. " kata Yanuar.
" Iyeee..gak percaya banget ni anak. " gerutu Satriyo.
Malika, Satriyo dan Arumi segera pulang untuk berkemas mempersiapkan apa saja yang akan di bawa untuk konvoi nanti sore.
__ADS_1
Begitupun Bagas , Aryo dan Yanuar juga segera kembali ke kostan untuk bersiap-siap.