
" Permisi mbak, saya keluarga pasien bernama Kirana. Kira-kira sudah di panggil apa belum? " Kata Pak Bahari pada seorang recepsionist Klinik Sehat Medika.
" Sebentar saya cek ya Pak. " Lalu ia pun mengotak ngatik komputer di hadapannya.
" Pasien dengan nama Kirana pada nomor antrian tiga. Sekarang baru antrian ke dua. Silahkan tunggu sebentar lagi kami panggil Pak. " Ucap recepsionist setelah menemukan data Kirana.
" Baik terimakasih. " Lalu Pak Bahari kembali ke tempat duduk yang berderet rapi di lobi klinik.
Kirana dan yang lain pun sudah duduk di deretan kursi tunggu tersebut. Saat itu hanya ada beberapa pasien saja yang datang.
" Nomor antrian tiga. " Ucap recepsionist setelah pasien dari dalam ruangan keluar.
Kirana yang di gandeng oleh Bu Ratna segera berdiri. Namun langkahnya terhenti, dia ingin Novi ikut bersamanya.
" Maaf Nona hanya boleh satu orang saja yang masuk menemani pasien. " kata recepsionist mengingatkan.
Novi mengelus lengan Kirana dan menguatkan lewat tatapan lembutnya. Kirana pun masuk ke dalam ruangan.
" Hai nama kamu Kirana ya..cantik sekali namanya sama seperti orangnya. " sambut dokter Firlly hangat.
__ADS_1
Dokter cantik itu berusia sekirar 35 tahun, dia sangat ramah dan telaten saat menangani pasien-pasien nya.
" Makasih, Dok. " ucap Kirana sambil tersenyum tipis.
Keringat dingin dan ketegangan yang Kirana rasakan. Dokter Firlly menangkap apa yang sedang Kirana fikirkan. Ia tersenyum.
" Kamu tenang yah, jangan kaku seperti itu. Sini kamu tidur di sini dan pejamkan mata kamu. Buat diri kamu rileks serileks mungkin. " Ucap Dokter Firlly sembari mengiring Kirana ke tempat tidur pasien.
Bu Ratna hanya terdiam memperhatikan Dokter Firlly dan Kirana. Air mata nya pun tak sadar menetes di pipi, saat Kirana mulai rileks dan menceritakan apa saja yang pernah ia alami. Sesuai apa yang Dokter Firlly instruksikan pada nya.
Mata Kirana terpejam namu mimik muka Kirana ketakutan. Kejadian demi kejadian yang di alami nya di ceritakan dengan gamblang.
Apa yang keluar dari mulut Kirana sama seperti yang pernah ia ceritakan di rumah pada Bu Ratna dan keluarga. Bu Ratna tak habis fikir kenapa hal-hal yang tak masuk akal lagi yang terus mengusik fikiran putrinya. Tentu saja hanya beberapa kejadian yang ia dengar. Karena putrinya itu lebih banyak bercerita pada Fathir dan Novi.
" Sudah cukup sayang, sekarang kamu boleh buka mata kamu. " Ucap Dokter Firlly.
Lalu Kirana pun membuka mata yang sudah sangat basah karena air mata yang tak sadar keluar saat dia mengungkapkan semua kejadian yang menimpa diri nya.
Dokter Firlly membantu Kirana bangun lalu memapahnya kembali duduk di samping Bu Ratna.
__ADS_1
" Maaf..sebelumnya..apa ada keluarga yang lainnya menunggu di luar?" tanya Dokter Firlly.
" Ada Ayahnya. " jawab Bu Ratna.
" Kalau begitu Ibu ajak Kirana keluar biar saya bicara sama Ayahnya Kirana sebentar. " pinta Dokter Firlly.
Lalu Bu Ratna dan Kirana keluar ruangan, Bu Ratna memanggil suami nya agar masuk ke ruangan dokter.
Recepsionist tidak segera memanggil nomor antrian berikutnya setelah di beri tahu oleh Dokter Firlly.
Pak Bahari pun masuk ke ruangan Dokter itu. Banyak hal yang di jelaskan oleh Dokter Firlly terkait kondisi Kirana. Menurut pemeriksaan medis Kirana hanya terkena depresi ringan akibat hal yang di alaminya.
Walaupun ia sendiri tidak paham dengan apa yang di alami oleh gadis itu. Biasanya kasus yang datang di akibatkan trauma, kekerasan, atau yang lainnya. Bukan malah menceritakan makhluk halus seperti yang di ceritakan Kirana tadi.
Setelah menulis beberapa resep dan menyerahkan nya pada Pak Bahari. Dokter Firlly menyarankan agar Kirana juga di tangani oleh ahli ilmu agama. Misalnya di rukiyah.
Dokter Firlly memang tidak tau pasti tentang hal seperti itu, tapi dia teringat pengalaman beberapa rekannya yang pernah mengalami hal gaib. Mereka memilih pergi ke ustadz untuk di rukyah.
Pak Bahari pun menerima saran dari Dokter baik hati itu. Kemudia beliau pamit dan keluar dari ruangan tersebut sambil membawa resep yang di berikan pada nya.
__ADS_1
Setelah menebus obat dan menyelesaikan administrasi, mereka pum segera pulang. Hari sudah mulai sore, diperkirakan mereka baru akan tiba malam hari di Desa nanti.