KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
GUDANG


__ADS_3

Akhir-akhir ini Kirana lebih sering menghabiskan waktu nya di kamar sendirian. Setelah terjadi adu mulut antara dia dan Ayah nya beberapa hari lalu.


Sekalipun saat sarapan atau makan malam bersama kedua orang tua nya gadis itu lebih banyak diam dan bicara seperlu nya saja .


Pak Bahari memijit pusing keningnya. Belum selesai satu masalah, sudah datang masalah baru. Perselisihan antara beliau dengan putri nya.


Jika saja Pak Bahari mau berterus terang dan tidak merahasiakan tentang latar belakang keluarga mereka di masa lalu, mungkin Kirana tidak akan kecewa dan salah paham pada Ayah nya itu.


Kendati pun begitu, Pak Bahari memiliki alasan mengapa diri nya tak mau menguak rahasia keluarga nya.


Pak Bahari dilema saat ini. Antara harus berkata jujur atau kah tetap merahasiakan semua ini.


" Den, sekarang malam jum'at. Bukan kah kita harus mempersiapkan sesajen lagi , '' ucap Mang Nur membuyarkan lamunan majikan nya.


Pak Bahari lupa kalau hari ini kamis dan nanti malam adalah malam jum'at. Dimana mereka harus kembali melakukan ritual sesajen.


Pak Bahari merogoh saku celana, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.


" Saya lupa Mang. Ini uang untuk sesajen malam ini dan malam jum'at berikutnya , tolong urus semuanya. Takutnya minggu depan saya lupa lagi. Nanti kalau habis Mamang tinggal bilang sama saya, " ucap Pak Bahari.


" Baik Den. " Mang Nur menerima uang dari Pak Bahari.


" Maaf saya terus merepotkan Mang Nur. " kata Pak Bahari.


" Tidak merepotkan kok, ini juga sudah tugas saya semenjak orang tua Aden masih hidup. " kata Mang Nur sambil membungkukan badan.


" Maaf Den, soal Non Kirana. Apa tidak sebaik nya jujur saja. " Lanjut Mang Nur memberanikan diri memberi saran.


" Saya masih memikirkan nya. " Pak Bahari kembali teringat hal itu.

__ADS_1


" Maaf kalau saya lancang. " Mang Nur merasa tidak enak.


" Nggak apa-apa. Justru saya selalu butuh saran dan bantuan Mamang. Makasih sudah mengingatkan, untuk sementara saya masih tetap belum bisa mengatakan semua nya pada Kirana juga istri saya," tutur Pak Bahari.


Mang Nur menganggukan kepala nya pelan. Bagaimanapun semua keputusan ada di tangan majikan nya. Mang Nur hanya sedih melihat hubungan antara majikan dan putri nya sedang tidak baik.


" Kalau begitu saya permisi. " Mang Nur akan mempersiapkan perlengkapan sesajen.


" Tunggu Mang !! " Panggil Pak Bahari.


Sontak Mang Nur berbalik badan setelah berjalan beberapa langkah.


" Nanti Mamang sama Bi Sari bermalam di sini. " Pinta Pak Bahari.


Mang Nur membungkukan badan, tanda hormat serta menyetujui permintaan majikan nya. Lalu kembali melangkah ke dapur menemui Bi Sari untuk membantu nya mempersiapkan sesajen. Mang Nur yang sudah ingat sedari siang, beliau sudah membawa air jampi dari Ki Jaka sore tadi.


Hanya tinggal membeli beberapa bahan yang tidak tersedia di rumah.


Sekitar pukul satu dini hari. Bi Sari terbangun ingin buang air kecil. Ia keluar dari kamar menuju kamar mandi dekat dapur. Tapi langkah nya terhenti saat melihat pintu gudang sedikit terbuka.


Bi Sari penasaran, ia melangkah mendekati pintu gudang. Seketika mata nya terbelalak, mulutnya di tutup dengan kedua telapak tangan. Bi Sari melihat Kirana sedang berjongkok di depan sesajen sambil melahap semua makanan yang tersaji di sana.


Cara makan yang tidak lazim di lakukan oleh Kirana. Apalagi saat Kirana menyantap daging ayam mentah , seperti anj*ng yang kelaparan. Walau lampu gudang di matikan , tapi ruangan itu tersorot cahaya dari luar yang masuk ke setiap celah . Apalagi pintu gudang sedikit terbuka.


Masti sedikit samar tapi Bi Sari yakin kalau di dalam sana adalah Kirana. Gadis itu seperti menyadari keberadaan Bi Sari yang masih mematung di ambang pintu.


Kirana menghentikan gigitan pada ayam nya, sudut matanya melirik ke arah di mana Bi Sari berada lalu ia menyeringai. Sangat mengerikan, dia pun kembali menyantap setiap makanan di sesajen.


Bi Sari melangkahkan kaki pelan-pelan agar keberadaannya tak di ketahui oleh Kirana yang saat ini tengah kerasukan. Setelah kembali masuk kamar, dia membangunkan suami nya yang tengah terlelap.

__ADS_1


Mang Nur terbangun setelah tubuhnya beberapa kali di goncangkan oleh Bi Sari.


Mang Nur pun segera keluar kamar setelah Bi Sari menceritakan apa yang ia lihat barusan. Namun saat itu Kirana sudah tidak berada lagi di gudang.


Pintu gudang masih terbuka namun tak nampak Kirana di sana. Mang Nur masuk ke dalam gudang, beliau hendak menyalakan lampu.


Entah kenapa lampu itu tak kunjung nyala, padahal stop kontak sudah di pijat berkali-kali. Mungkin lampu nya putus fikir Mang Nur. Bi sari mengekori nya di belakang.


Sesajen sudah terlihat berantakan seperti minggu kemarin. Pemandangan itu kembali terlihat oleh Bi Sari. Dia pun berfikir kalau minggu kemarin sesajen itu juga di habiskan roh yang masuk ke tubuh Kirana.


Mata mereka berdua menyapu ke seluruh sudut gudang, saat tepat berada di depan sesajen yang berantakan.


" Pak..i-itu..." Bi Sari menunjuk ke atas dinding gudang , lebih tepatnya sebelah pojokan.


Nampak Kirana disana dengan wajah yang seram tak seperti Kirana biasanya. Tubuhnya menempel di dinding atas gudang, dengan tangan dan kaki merentang menahan ke dinding tersebut.


" Sialan..berani-berani nya kau masih mengganggu keluarga ini. Padahal kami sudah memberi mu hidangan setiap malam jum'at. " Suara Mang Nur lantang.


Teriakan Mang Nur terdengar sampai ke kamar Pak Bahari.Beliau dan istri nya segera mencari arah sumber suara. Mereka pun sampai di depan gudang dan masuk ke ruangan itu.


Mereka berdua tak kalah terkejut melihat Kirana berada di dinding dengan wajah mengerikan. Di tambah lagi suara cekikikan keluar dari mulut gadis itu, tentu saja bukan suara Kirana.


" Aku akan tetap mengganggu keluarga ini. Hiii..hiii...hii.." mata nya menatap tajam, manik mata itu memerah wajahnya pucat rambutnya berantakan.


" Kenapa? Bukankah sudah kami ikuti kamauan mu? sesajen sudah kami sediakan..sekarang cepat pergi !" Teriak Pak Bahari.


" Hiii...hiii...hii.. Aku mau kalian merasakan apa yang kami rasakan..nyawa harus di bayar dengan nyawa...keluarga ini sudah membunuh kami, membuat kami tersiksa dan mati dengan tidak sempurna. Saat ini kami akan membalas dendam..Hii...hiii...hii.." suara yang keluar di mulut Kirana berubah ubah, seprti beberapa orang bergantian bicara.


Mereka terkejut mendengar penuturan arwah-arwah penasaran itu.

__ADS_1


Kini tubuh Kirana turun sedikit demi sedikit, sontak Pak Bahari dan yang lain nya mundur.


Tiba-tiba dari arah lain datang sosok Nyi Laksmi, Ki Demang serta Dewi Larasati. Kemunculan ketiga sosok itu semakin membuat Pak Bahari dan yang lain nya tercengang.


__ADS_2