KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
MALAM JUM'AT


__ADS_3

Sore itu Mang Nur membawa sebotol air mineral dari kediaman Ki Jaka. Mengingat nanti malam adalah malam Jum'at, dimana ritual memberi sesajen akan di laksanankan oleh keluarga Pak Bahari.


Selain dari air jampi, Mang Nur pun memabawa beberapa hidangan untuk melengkapi ritual tersebut. Sementara Bi Sari menyiapkan bunga tujuh rupa, kopi serta teh pahit yang sudah tersaji di nampan.


" Den, sesajen sudah siap semua lengkap. Mau di simpan dimana? " Tanya Mang Nur pada Pak Bahari.


Pak Bahari berfikir sejenak. Seingatnya dulu orang tuanya memiliki kamar khusus untuk melakukan ritual. Namun kamar itu sekarang sudah beralih fungsi menjadi kamar tamu.


" Simpan di gudang saja. " Jawab Pak Bahari .


" Baik Den. " Mang Nur membungkukan badan.


Kemudian ia segera kembali ke dapur membawa nampan sesajen dan menyimpannya di sebuah gudang yang bersebelahan dengan kamar Mang Nur.


Mang Nur duduk bersimpuh di depan sesajen.


" Aku bawakan makanan untuk kalian. Makanlah..tapi ingat jangan pernah mengganggu lagi tuan rumah di sini. Terutama Nona Kirana. " Ucap Mang Nur.


Dia kemudian berdiri dan mematikan lampu gudang tersebut lalu segera keluar dari sana.


Sementara Pak Bahari dan Bu Ratna yang sudah duduk di ruang makan , penuh harap agar ritual ini bisa memulihkan keadaan.


Tak lama kemudian Kirana, Yanuar, dan Bagas bergabung bersama mereka di ruang makan untuk makan malam.


Mereka duduk di tempat masing-masing, Bi Sari menghidangkan menu makan malam yang menggugah selera. Bagas dan yang lainnya segera menyantap makanan di meja.


Terkecuali Kirana, dia sangat gelisah. Entah apa yang meracau dalam hati nya. Dia sendiri tidak mengerti, padahal menu yang di hidangkan Bi Sari adalah makanan favorit Kirana dan keluarganya.


Namun entah kenapa Kirana tak bernafsu untuk makan hidangan tersebut.


" Loh kamu gak makan? "Tanya Bu Ratna.


" Gak tau kenapa nafsu makan Kirana hilang. Padahal tadi saat cium wangi masakan Bi Sari , kayaknya Kirana udah gak sabar. Tapi rasa lapar itu hilang sekarang. " Ucap Kirana.


" Loh kok bisa? Ini makanan kesukaan mu, sengaja Ibu suruh Bi Sari masak makanan ini. " Tutur Bu Ratna di sela-sela makan nya.


" Makan sedikit saja, biar gak sakit. " Ujar Pak Bahari.


" Nggak deh, kayaknya Kirana kembali ke kamar saja. " Kirana berdiri dan meninggalkan mereka yang berada di ruang makan .


Bu Ratna hanya menggelengkan kepala melihat putri nya. Sementara Bagas tak perduli, dia asyik menyantap makanan nya.


Yanuar sendiri merasa khawatir melihat Kirana . Takut ada sesuatu yang terjadi pada gadis yang di sukai nya.


" Nanti Ibu bawakan makanan ke kamar nya saja. " Ucap Bu Ratna.

__ADS_1


Pak Bahari menganggukan kepalanya setelah mendengar ucapan Istrinya. Setelah selesai makan Bagas dan Yanuar bermain gitar di paviliun.


Bu Ratna segera membawa makanan ke kamar putri nya. Sementara Pak Bahari masih duduk di ruang makan. Bi Sari membereskan meja makan setelah selesai ia dan suami nya pamit pulang.


" Kami malam ini gak nginap disini, kami pamit pulang. Kalau ada perlu apa-apa telepon saja saya Den. " Ucap Mang Nur.


" Iya, makasih Mang. " Ujar Pak Bahari.


Lalu sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan rumah itu. Pak Bahari pun beranjak dari ruang makan menuju kamarnya.


Di kamar Kirana.


" Nak, Ibu bawakan makanan untukmu."


ujar Bu Ratna menenteng nampan makanan.


Kirana yang sedang menelungkup sambil memainkan handphone, menoleh ke arah Ibu nya.


" Simpan dulu Bu, nanti Kirana makan kalau sudah lapar. " Ucap Kirana.


" Kamu mau ibu temani tidur? "Tanya Bu Ratna sambil menyimpan nampan di meja.


" Nggak usah Bu makasih, Kirana baik-baik saja kok. Malam ini mood Kirana juga gak begitu buruk. " Jawab Kirana yang masih asyik menatap layar handphone nya.


Kirana mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah Ibu nya. Bu Ratna pun keluar dari kamar itu.


Beberapa menit kemudian Kirana menyimpan handphone nya di atas nakas.Kirana menguap, mata nya terasa berat. Dia pun akhirnya tertidur pulas.


Sementara di paviliun. Bagas dan Yanuar masih asyik memainkan gitar sambil nyanyi-nyanyi kecil.


" Kapan kita masuk kuliah? " Tanya Yanuar sambil menyimpan gitar.


" Minggu depan, itupun kalau memang lo ngerasa lebih fit. " Jawab Bagas.


" Gue udah baikan kok, gak perlu khawatir. Gue malu numpang di sini terus. " Ujar Yanuar.


" Bukan nya di sana juga lo numpang di kostan gue ? " celetuk Bagas terkekeh.


" Iya sih. Gak ikhlas ? " kesal Yanuar.


" Canda bro, lagian lo ngomongnya kayak gitu. Lo itu udah gue anggap sodara. Nyokap bokap gue juga udah nganggap lo bagian dari keluarga. Jadi gak perlu sungkan gitu mas bro. " terang Bagas sambil menepuk pundak Yanuar.


" Thank's ." Yanuar tersenyum.


Setelah hari mulai larut mereka bersiap menuju kamar masing-masing. Tapi langkah Bagas terhenti saat berada di depan pintu kamar nya.

__ADS_1


" Mas Bro.." panggil Bagas pada Yanuar.


" Ya.."


" Malam ini lo tidur di kamar gue. " ujar Bagas.


" Loh emangnya kenapa? " Yanuar mengernyitkan dahi.


" Nggak apa-apa sih.." Bagas cengengesan.


" Ogah ah..geli gue. " Yanuar bergidik.


" Hish.. malam ini aja ." kesal Bagas.


" Apaan sih ogah, lagian ngapain harus sekamar sama lo. Malu di liat orang. " Yanuar malah menggoda Bagas.


" S*alan lo..di kostan kita satu kamar gak ngapa-ngapain juga. " Bagas keukeuh.


" Beda lah kalau di sana ada ranjang lain, lah di sini masa satu ranjang. Lagian kenapa mesti di temenin segala? " Yanuar heran.


" Udah jangan banyak nanya. Mau gue usir malam ini juga.. " Bagas menarik lengan Yanuar agar masuk ke kamar nya.


Yanuar tak bisa menolak , terpaksa dia menuruti kemauan Bagas.


Sebenarnya Bagas ingat ucapan Kirana tentang arwah Malika yang selalu ada di dekat nya. Makanya dia minta Yanuar menemani nya. Apalagi malam ini malam Jum'at, sepengetahuannya hantu berkeluyuran di malam itu.


Mereka tidur saling membelakangi satu sama lain. Yanuar sudah tidur lebih dulu, sementara Bagas masih mencari-cari rasa kantuk yang tak kunjung datang.


Dia tak berani mematikan lampu kamar, padahal biasanya ia selalu mematikan lampu saat tidur.


' S*al kenapa gue jadi penakut gini sih? Malika please jangan muncul ya, kita udah gak satu alam..kamu yang tenang saja di sana. ' gumam nya dalam hati.


Dia menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. Kali ini Bagas benar-benar merasa dibuat takut dengan arwah Malika. Gara-gara ucapan Kirana tempo hari.


Samar terdengar suara tangisan perempuan di telinganya. Bagas semakin ketakutan, suara itu serasa dekat bahkan mungkin tepat di sampingnya.


Bagas membalikan badan, menghadap Yanuar dengan tubuh masih tertutup selimut tebal. Dia menggoyang-goyangkan bahu Yanuar. Tapi temannya itu sudah terlelap dan tak menyadari kalau Bagas membangunkan nya.


Bagas sangat kesal karena Yanuar tak kunjung bangun. Beberapa saat suara tangisan itu pun hilang. Dia sangat lega, perlahan dia membuka sedikit selimutnya. Mengintip di balik selimut, dengan rasa takut dia coba memberanikan diri untuk melihat ke sekeliling kamar nya.


" Syukurlah.." Bagas menghela nafas.


Lalu ia pun segera memjamkan mata setelah di rasa semuanya baik-baik saja. Beberapa menit kemudian akhirnya ia pun terjaga dalam tidur nya.


Tanpa ia sadari, Malika benar-benar berada di sampingnya. Arwah gadis itu terduduk di ranjang sambil menangis. Bagas tak bisa melihat nya dengan mata telanjang.

__ADS_1


__ADS_2