
Terdapat beberapa luka di tangan dan kaki Bagas juga teman-teman yang lain. Bu Ratna terus menangis di samping anak laki-laki nya itu. Pak Bahari mencoba menghubungi pihak keluarga yang lain.
Seorang dokter yang menangani mereka menghampiri Pak Bahari dan Bu Ratna.
" Permisi Pak, Bu..ada yang ingin saya sampaikan. " Ucap dokter itu.
" Iya Dok.." jawab kedua nya.
" Ada dua orang lagi yang tewas di lokasi kejadian. " Ujar Dokter.
Belum juga reda kepanikan sudah ditambah lagi dengan kabar dua orang teman Bagas yang tewas di lokasi kejadian. Bu Ratna semakin getir mendengar kabar pilu itu.
Mereka berdua di antar oleh beberapa perawat menuju kamar mayat.
Sementara di rumah Kirana. Bi Sari hendak membawa coklat panas dan makanan ringan di dapur, Kirana menunggu nya di ruang tengah sambil menonton televisi.
Namun Bi Sari tak juga kunjung kembali ke ruang tengah. Beberapa kali Kirana menengok ke arah lorong, berharap Bi Sari segera kembali dari dapur.
Akhirnya Kirana pun memutuskan untuk menyusul Bi Sari ke dapur, apalagi setelah melihat seseorang melintas cepat di lorong tersebut.
Saat berjalan melintasi belokan paviliun dia menghentikan langkahnya. Terdengar suara tangisan memilukan dari kamar Bagas, suara perempuan.
' Apa itu Kak Malika? Kenapa dia menangis ? ' Gumam nya dalam hati.
Baru saja dia akan melangkah tiba-tiba handphone nya berbunyi. Kirana merogoh saku piyama untuk membawa benda pipih itu.
__ADS_1
" Iya Bu ? gimana kabar Kak Bagas.? " Kirana segera menanyakan Bagas setelah tau kalau Ibu yang menelpon nya.
" Bagas belum sadar. " Suara Bu Ratna sangat cemas.
" Kirana...kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah melihat Malika atau Satriyo keluar kamar ? " Tanya Bu Ratna dengan suara bergetar dan begitu panik.
Kirana menoleh ke arah pintu kamar tamu dan kamar Bagas.
" Aku baik-baik saja Bu. Mereka belum keluar kamar dari tadi, ini aku baru mau cek mereka. Soalnya barusan Kirana dengar Kak Malika menangis. " Tutur Kirana.
Tentu saja ucapan Kirana membuat Bu Ratna semakin cemas, berharap semua itu hanya mimpi buruk bagi nya. Lutut dan tubuh Bu Ratna bergetar, keringat bercucuran kala melihat seseorang terbujur kaku di kamar mayat.
Malika. Dia sudah tewas di kecelakaan tersebut. Sementara beberapa jam yang lalu Malika baru saja datang ke rumah nya dengan keadaan basah kuyup bersama Satriyo.
Malika dan Satriyo sangat mengenaskan. Pak Bahari dan Bu Ratna sangat shock mengalami hal yang selama ini sama sekali tak mereka percayai. Namun begitu jelas terjadi dan benar-benar nyata.
" Kirana...Ibu minta segera temui Bi Sari dan jangan pernah sedikitpun jauh dari nya. Cepat Nak ! " Kirana sedikit bingung mendengar nada bicara Ibu dan juga perintah dari beliau. Seperti ada sesuatu yang terjadi dan di sembunyikan oleh nya.
" Ba.." Kirana tak melanjutkan perkataannya saat melihat Malika keluar dari kamar.
Baju yang di pakai Malika masih basah kuyup, malah kini sedikit berwarna merah bercucuran di lantai.
Kirana terkejut dan sedikit mundur, tatkala melihat wajah Malika yang hancur jauh berbeda dengan tadi sesaat sebelum masuk kamar.
Darah semakin bercucuran di tubuh Malika, sebelah bola mata nya menonjol keluar. Belum lagi Satriyo juga muncul di belakang Malika. Kulit wajah Satriyo mengelupas , daging dan darah terlihat jelas.
__ADS_1
" Kirana..apa yang terjadi..hallo.." Suara Bu Ratna di sebrang telepon semakin panik tatkala Kirana tak lagi meneruskan kalimatnya.
Sementara sambungan telepon belum terputus, namun Handphone Kirana berada di bawah cengkraman tangan , dan tak lagi di tempelkan di telinga nya.
Malika dan Satriyo semakin mendekat ke arah nya. Mereka berbicara pada nya.
" Ini semua gara-gara kamu.."
" Kamu harus bertanggung jawab.."
Ucap mereka bergantian. Sama sekali Kirana tidak mengerti apa maksud mereka berbicara seperti itu pada nya.
Tiba-tiba seseorang dari arah dapur menarik lengan Kirana.
" Aaaaaaakkk...hmmpp.." Kirana yang sempat menjerit di bungkam mulutnya oleh Bi Sari.
" Ssttt..mereka sudah meninggal. " Bi Sari menunjukan layar handphone.
Disana ada chat dari Pak Bahari pada Bi Sari dan Mang Nur yang mengatakan kalau Malika dan Satriyo tewas di lokasi kejadian saat terjadi kecelakaan.
Tubuh Kirana bergetar hebat melihat chat itu, dia memeluk erat Bi Sari sambil menangis ketakutan. Sementara Mang Nur mengecek ruang paviliun dan kamar Bagas juga kamar tamu.
Namun tak seorangpun berada di sana. Yang tertinggal hanya bercak darah di lantai dan di sprei tempat tidur masing-masing kamar.
Mang Nur menjaga Kirana dan Bi Sari yang kini sudah berada di kamar Kirana. Jangankan untuk tidur, malam itu Kirana benar-benar kembali terguncang dan ketakutan.
__ADS_1