
Novi segera menuju rumah Fathir. Dia ingin mengajak laki-laki itu pergi bersama nya ke rumah Kirana.
Sesampai di rumah Fathir, Novi di persilahkan masuk oleh Bu Nuri. Gadis itu pun duduk di ruang utama rumah sederhana itu. Tak lama Fathir pun datang setelah di panggil oleh Ibu nya.
Fathir sedikit heran melihat kedatangan Novi, tak biasanya gadis itu berkunjung ke rumah nya.
" Kita harus segera ke rumah Kirana. " Ajak Novi saat Fathir baru duduk di hadapan nya.
Fathir mengernyitkan kening nya. Sementara langkah Bu Nuri terhenti saat mendengar ucapan Novi. Tadi nya ia berniat mengambil minuman untuk gadis itu. Tapi saat Novi menyebut nama Kirana, ia segera mendengarkan pembicaraan kedua remaja itu.
Novi menceritakan semua nya pada Fathir. Ada keraguan pada diri Fathir setelah mendengar cerita Novi barusan. Tapi apa yang di ucapkan Novi memang sering ia dengar dari mulut masyarakat setempat.
Bu Nuri segera ke dapur setelah menguping pembicaraan mereka. Lalu ia kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas teh hangat untuk Fathir dan Novi.
" Silahkan di minum, Nov. " Ucap Bu Nuri sembari ikut duduk di antara mereka.
" Makasih Tante. " Kata Novi.
Fathir sedikit kikuk saat Ibu nya ikut bergabung disana. Apalagi saat ini mereka sedang membahas Kirana.
Bu Nuri menangkap ekspresi wajah anak nya yang salah tingkah. Dia tersenyum kecut lalu memulai pembicaraan.
__ADS_1
" Maaf, tante tadi sempat mendengar pembicaraan kalian tentang keluarga Ki Demang. " Ujar Bu Nuri dengan wajah serius.
Novi dan Fathir hanya terdiam .
" Ada hal yang perlu kalian tau, terutama kamu Fathir. " lanjut wanita itu.
Novi dan Fathir saling menatap satu sama lain, lalu pandangan mereka kembali tertuju pada Bu Nuri.
" Apa yang Novi katakan benar. Keluarga itu memang menganut ilmu yang memakan banyak korban. Hanya demi kekayaan juga kejayaan keluarga mereka tega menghancurkan masa depan orang lain. " mata Bu Nuri mulai berkaca-kaca.
" Maksud Ibu apa ? " Fathir sedikit tak terima dengan perkataan Ibu nya.
" Keluarga Kirana kejam. Penduduk di sini hanya bisa patuh karena takut di jadikan korban berikutnya oleh mereka. " Bu Nuri dengan wajah penuh kebencian.
Bu Nuri menatap tajam putra nya. Membuat Novi tertunduk tak mampu melihat sengitnya mereka berdua.
" Masih mau membela keluarga pembunuh Bapak mu, hah ? " kini air mata pun jatuh di pipi wanita itu.
Beliau terisak, wajahnya pilu dan penuh kepedihan. Sangat terlihat jelas sekali luka yang begitu dalam , yang bertahun-tahun ia sembunyikan dari putra nya. Kini terpaksa ia buka kembali kenangan kelam itu.
Fathir terhenyak mendengar penuturan Ibu nya , bak di sambar petir di siang hari. Berkali-kali ia mencoba memahami maksud perkataan Bu Nuri.
__ADS_1
Novi pun tak kalah terkejut nya. Dia membulatkan mata nya, menoleh ke arah Fathir dan Bu Nuri secara bergantian.
" Maksud nya ? " Suara Fathir nampak serak.
" Saat kamu masih di dalam kandungan, Ayahmu sempat bekerja di rumah Ki Demang bersama Mang Nur." Bu Nuri mengusap pipi nya yang basah.
" Ayahmu pernah mengatakan kalau Keluarga Ki Demang memuja setan, beliau melihat dengan mata kepala sendiri saat mereka melakukan ritual dengan seorang tumbal terbaring di depan meja persembahan nya. Tumbal itu salah satu pekerja yang tewas beberapa hari sebelum nya di kebun karet milik mereka. Mengetahui ayahmu memergoki ritual mereka, akhirnya mereka pun menjadikan ayah mu sebagai tumbal berikut nya. " Tutur Bu Nuri panjang lebar.
" Padahal beliau tidak sedang sakit tapi tiba-tiba saja meregang nyawa secara mengenaskan. Terdapat benjolan di seluruh tubuh nya, kulit nya tiba-tiba melepuh seprti terbakar. Ibu sempat membawa nya ke dokter namun dokter tak menemukan penyakit apapun pada diri beliau. Dari sana mulai lah penduduk desa ini mengetahui latar belakang keluarga Ki Demang. Ayah mu sempat mengatakan apa yang ia lihat di rumah Ki Demang pada beberapa teman sepekerjaan nya. " air mata Bu Nuri seolah terkuras habis saat ini.
" Tapi tidak ada bukti kuat kalau itu perbuatan mereka Bu. " Tukas Fathir.
" Tentu saja ada saksi yang mengakui semua nya, namun tetap saja menutupi kejahatan yang sudah jelas memakan banyak korban. " suara Bu Nuri lantang.
" Si-siapa ? " Fathir mulai menahan air mata nya agar tak jatuh.
" Tanya saja pada Mang Nur. " Bu Nuri berdiri dan berlalu meninggalkan mereka.
Lagi-lagi Fathir dan Novi di kejutkan kembali dengan ucapan Bu Nuri. Apalagi Mang Nur itu adik ipar nya sendiri.
Mereka berdua terus berperang dengan isi kepala masing-masing. Mencoba mencerna dan memahami semua nya. Bahkan Fathir juga harus menerima kenyataan yang teramat pahit.
__ADS_1
Sementara Bu Nuri menjatuhkan diri nya di atas kasur kapas yang sudah tua. Dia mengingat pengakuan serta kesaksian Mang Nur pada diri nya. Yang saat itu tak bisa berbuat apa-apa untuk membela keluarga nya sendiri.
Mang Nur lebih memilih untuk mengabdi pada keluarga Ki Demang karena balas budi pada keluarga tersebut. Selain itu Mang Nur juga tak ingin hidup nya sia-sia menjadi tumbal berikutnya jika ia berani buka mulut dan membocorkan rahasia keluarga itu.