
Setelah keprgian Aryo dan juga Arumi dari Rumah Sakit Bina Medika. Kirana segera menghampiri Yanuar. Beberapa alat medis terhubung pada tubuh pria itu.
" Kasihan Kak Yanuar. " Ucap Kirana.
Fathir hanya memandangi Kirana yang menyentuh tangan Yanuar. Tak ada alasan untuk nya cemburu saat ini. Tapi tetap saja Fathir merasa tak nyaman melihat mereka. Dia segera membuang muka ke arah lain.
Bagas menyadari hal itu, dia memiringkan bibir nya dan tersenyum sinis.
Sementara Pak Bahari nampak sedang istirahat di kursi dekat ranjang Bagas. Ia teramat lelah karena semalaman tak bisa tidur. Bahkan saat ini pun dia masih memikirkan musibah yang telah menimpa Bagas dan teman-temannya. Di tambah lagi memikirkan semua ucapan Arumi. Belum lagi Kirana yang masih sakit. Dan juga perihal kejadian baru-baru ini yang tak masuk logika. Semua memenuhi benaknya.
Sebagai orang tua, Pak Bahari benar-benar sedang di uji kesabaraan. Masalah datang bertubi-tubi. Berbagai peristiwa pun terjadi.
" Kirana mau ke toilet dulu. " Kata Kirana.
" Toilet nya di dekat sini. Kamu tinggal lurus lalu belok kanan. " Kata Pak Bahari.
" Perlu aku antar ? " Tanya Fathir khawatir terjadi sesuatu.
" Nggak usah, makasih. " Kata Kirana.
Lalu gadis itu pun segera keluar ruangan dan mencari toilet. Sesuai petunjuk Ayah nya tadi. Dia berjalan lurus lalu berbelok ke arah kanan. Dan benar saja pintu toilet sudah terlihat. Tanpa Kirana sadari Fathir mengikuti nya dari belakang.
__ADS_1
Kirana masuk ke dalam toilet. Nampak beberapa wastafel berjajar di sana. Dia segera membuka salah satu pintu di toilet tersebut.
Setelah selesai buang air kecil. Dia berniat keluar. Namun suara berisik terdengar dari toilet sebelahnya. Dia mengernyitkan dahi mendengarkan suara berisik di sertai suara air mengalir.
Kirana tak mau memusingkan hal itu, ia harus segera pulang karena hari sudah mulai gelap. Kirana menuju wastafel untuk mencuci muka dan juga tangannya.
Kirana menatap ke arah cermin, nampak seseorang keluar dari toilet sebelah nya tadi. Seorang wanita yang sangat familiar. Wanita itu melangkah dan berdiri di samping Kirana.
Kini Kirana bisa melihat jelas wajah wanita itu dari cermin.
" Ma-malika.." Kirana terkejut sekali melihat siapa yang ada di sebelahnya tanpa menoleh ke arah nya sedikitpun.
Kirana segera berlari keluar. Dengan jantung berdegup dan nafas tak beraturan. Dia sangat ketakutan.
BRAAKK
Kirana menabrak seseorang saat berlari. Nafasnya terengah-engah.
" Hey..apa yang terjadi ? " Rupanya Fathir yang ia tabrak. Fathir sengaja menunggu Kirana di lorong Rumah Sakit.
" A-aku..aku lihat Malika di toilet. " Jawab Kirana gugup.
__ADS_1
Fathir tau siapa Malika, dia sempat dengar cerita dari Kirana kalau korban dari kecelakaan itu salah satu nya bernama Malika. Dan dia tewas di tempat kejadian.
" Ayo sebaiknya kita pulang . " Fathir dan Kirana segera berpamitan pulang pada Pak Bahari.
Di perjalanan pulang. Kirana memeluk Fathir sangat erat. Ia masih ketakutan dengan kejadian tadi.
Fathir mencoba menenangkan Kirana dengan menggenggam jemari tangan Kirana yang melingkar di perutnya.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah. Fathir langsung pamit pulang, dia tau kalau Ibu nya pasti akan menunggunya pulang cepat.
****
Kegelapan menyelimuti malam itu. Suara lolongan anjing menambah kesan misteri suasana malam.
Kirana memilih tidur di kamar Bu Ratna. Saat itu Bi Sari dan Mang Nur tidak ada di sana karena sudah beberapa hari mereka menginap di rumah itu. Sejak saat Kirana berobat ke psikiater mereka menjaga kediaman Pak Bahari.
Kirana dan Ibu nya tak bisa tidur. Rasa kantuk tak kunjung datang menyergap. Karena rasa takut yang berlebihan mengalahkan semua nya.
Bu Ratna sebelumnya tak pernah merasa ketakutan seperti sekarang ini. Apalagi saat ini mereka di rumah berdua saja. Fikiran mereka sudah mulai mengira-ngira. Bagaimana jika ada Malika atau Satriyo lagi, atau mungkin makhluk lain yang lebih menyeramkan. Itulah yang mereka takutkan.
Banyak suara-suara aneh terdengar dari luar sana. Tepatnya di ruang tengah. Mereka berdua enggan keluar kamar . Tak perduli suara apapun di luar sana. Yang jelas saat ini mereka benar-benar berharap segera ngantuk dan tidur. Dan berharap tak ada apapun yang mengerikan nanti nya.
__ADS_1