
Beberapa hari berlalu, Bagas dan Yanuar memutuskan untuk kembali ke kota. Mereka harus mengikuti ujian di kampus nya yang akan di laksanakan minggu-minggu ini.
Pak Bahari mengantar mereka berdua dengan mobil nya, karena beliau khawatir jika mereka pergi dengan sepeda motor. Setelah berpamitan pada orang rumah mereka pun meninggalkan desa Jatiasih.
Bu Ratna meminta Bi Sari dan Mang Nur untuk menginap di rumah nya malam ini. Karena Pak Bahari kemungkinan akan bermalam di kosan Bagas.
Mengingat perjalanan mereka ke kota memakan waktu lama, pastinya Pak Bahari akan kemalaman jika harus pulang pergi. Bu Ratna khawatir dengan kondisi kesehatan suami nya, jadi dia menyarankan untuk menginap satu malam di tempat Bagas.
Setelah menempuh beberapa jam, akhirnya Pak Bahari , Bagas dan Yanuar pun sampai di tempat tujuan. Mereka beristirahat karena perjalanan panjang yang sangat melelahkan.
****
Siang pun berganti malam. Langit sudah tampak gelap, tanpa bulan ataupun bintang menghiasinya.
Terdengar suara binatang malam serta lolongan anjing yang membuat malam itu terasa mencekam.
Malam belum terlalu larut, namun Kirana nampak sudah terjaga dalam tidur nya. Begitupun Bu Ratna, rasa kantuk sudah mulai membuat matanya berat.
Mang Nur dan Bi Sari pun sudah berada di kamar belakang untuk beristirahat setelah seharian di sibukan dengan pekerjaan masing-masing. Rasa kantuk pun menyergap, mereka berdua terjaga dalam tidur.
Dalam lelap nya tidur, Kirana merasa ada seseorang yang tengah membangunkan nya.
Dia pun terbangun, berjalan menapaki ruang tamu lalu masuk ke ruang tengah. Terlihat seseorang duduk di kursi goyang. Seorang nenek tua dengan memakai kebaya merah.
__ADS_1
Kirana bersembunyi di balik pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Dia tak mau dirinya terlihat oleh sosok nenek tua tadi.
Dari arah lain muncul seseorang. Seorang wanita paruh baya, wajahnya sangat familiar. Kirana pernah melihat wajah wanita itu di foto yang terpajang di paviliun. Ya..dia adalah Dewi Larasati, Kirana yakin. Dan nenek tua itu Nyi Laksmi.
" Larasati, kamu akan meneruskan ilmu turun temurun keluarga kita. Ilmu Trisaka Mayang..kamu harus siap dengan segala peraturan dan resiko ilmu itu. " tutur Nyi Laksmi yang tengah duduk di kursi goyang.
" Dengan kamu menerima ilmu ini, berarti kamu sudah melakukan pengabdian pada leluhur kita, dan menyelamatkan mereka dari kemusnahan. Mereka memang sudah tidak lagi hidup di alam ini, tapi mereka hidup abadi di alam lain selama Trisaka Mayang masih berjaya di muka bumi. Berbaktilah Nak. " Lanjut Nyi Laksmi.
" Iya Ambu..Larasati siap. Tapi bagaimana kalau saya sudah tidak ada, siapa yang akan meneruskan ilmu ini, sementara saya tak punya keturunan perempuan. Saya hanya memiliki putra satu-satu nya yaitu Bahari. " Ujar Dewi Larasati.
" Ilmu ini sebenarnya harus terus berlanjut dan tak boleh berhenti di satu keturunan pun. Akan ada petaka bagi keluarga kita dan arwah leluhur. Jika tak ada penerus setelah kamu, maka ilmu itu akan meminta tumbal pada diri mu sendiri. Satu-satu nya yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran adalah keturunan Bahari kelak. Dia akan menjadi pewaris mutlak." Jelas Nyi Laksmi.
" Semoga saja kelak Bahari punya anak perempuan. Tapi bagaimana jika saat itu saya atau pun suami saya sudah tiada? Bagaimana kita menurunkan ilmu itu pada keturunan Bahari? " Kata Dewi Larasati.
" Jika tidak berhasil menurunkan Trisaka Mayang pada nya, maka bersiaplah dengan kehancuran arwah kita.." lanjut Nyi Laksmi.
Sementara Dewi Larasati yang bersimpuh di hadapan nya tertunduk patuh mendengarkan ucapan Ibu nya. Tiba-tiba tatapan mereka berdua tertuju ke arah dimana Kirana bersembunyi.
Sontak Kirana terkejut, dia takut keberadaannya di ketahui oleh kedua nenek moyang nya tadi. Apalagi setelah mendengar penuturan mereka yang sangat mengejutkan. Dirinya harus menjadi pewaris mutlak Ilmu Trisaka Mayang, yang ia sendiri pun tak tau ilmu apa itu sebenarnya.
Dewi Larasati nampak bangun dari duduk nya, dia berdiri dan berjalan ke arah Kirana berada. Sontak gadis itu sangat ketakutan, dia berjalan mundur menghindar dari sosok Dewi Larasati.
Suara tawa Nyi Laksmi terdengar melengking memekakan telinga Kirana. Mereka seolah mengetahui keberadaan dirinya.
__ADS_1
" Tidaaaakkkk. " Kirana terbangun dari tidur nya. Nafas nya tak beraturan.
Ia baru sadar kalau tadi hanyalah mimpi buruk. Tapi serasa begitu nyata bagi nya. Karena kenyataannya itu bukanlah mimpi semata. Dia di bangunkan dan masuk ke alam lain, alam dimana nenek moyang nya berada.
Pandangan Kirana menyapu ke seluruh kamar, dia takut sosok Nyi Laksmi ataupun Dewi Larasati ada di sana.
Tubuhnya bergetar, keringat dingin mengucur, jantungnya berdebar tak beraturan. Dia benar-benar ketakutan.
Sementara Bu Ratna masih terlelap di samping nya. Beliau tak mengetahui kalau Kirana terbangun saat ini.
Kirana tadi nya ingin membangunkan Ibu nya, tapi melihat wajah Bu Ratna yang teramat lelah. Ia pun mengurungkan niatnya.
Kirana kembali berbaring, dia berusaha memejamkan mata. Seluruh tubuhnya sengaja di tutupi oleh selimut tebal.
Suara-suara langkah mulai terdengar, begitu dekat. Seperti ada yang sedang berjalan ke arah nya. Kirana menggenggam kuat ujung selimut, dia benar-benar ketakutan. Belum lagi suara rintihan serta tangisan sayup terdengar di telinga nya.
Kirana semakin merapatkan mata nya. Menahan rasa takut yang semakin menjadi.
Allahu akbar Allahu Akbar..
Terdengar adzan berkumandang , seiring dengan hilang nya suara langkah, rintihan serta tangisan yang sebelumnya ia dengar.
Kirana sedikit lega, ia menghela nafas panjang. Rupanya malam tlah pergi dan berganti subuh. Suara adzan mengusir makhluk-makhluk astral itu.
__ADS_1