KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
BU RATNA


__ADS_3

" Bahari..kau sudah membuat rencanaku berantakan. Kau harus menerima akibat dari perbuatan mu. " tutur Nyi Laksmi.


" Eyang, sadarlah apa yang kau lakukan itu kesalahan besar. Apa kau tidak menyayangi anak cucu mu? " Pak Bahari berusaha menyadarkan Nyi Laksmi.


" Justru karena itu, aku menurunkan ilmu untuk Kirana. Agar hidup kalian terjamin dan tetap berjaya di dunia tanpa merasakan penderitaan. " kata Nyi Laksmi.


" Jalan yang kau tempuh salah. Eyang menganut aliran sesat, dan saya tak akan membiarkan Kirana meneruskan ilmu itu. Sekalipun kehidupan kami akan berubah menjadi miskin itu lebih baik dari pada harus memuja iblis. " tegas Pak Bahari.


Nyi Laksmi membulatkan bola mata nya. Amarah nya bergejolak seperti bara api yang menyala.


" Ini balasan mu pada kami ? " sela Dewi Larasati mulai angkat bicara.


" Aku mohon lepaskan keluarga ku, biarkan kami hidup normal seperti orang-orang. Jangan libatkan kami dengan perjanjian kalian bersama iblis." pinta Pak Bahari.


Nyi Laksmi mengangkat lengan nya, mencekik Pak Bahari dari jarak cukup jauh. Pak Bahari mulai merasa sesak sulit bernafas padahal jarak antara keduanya sekitar dua meter tapi Nyi Laksmi bisa mencekik nya.


" Uhuk..uhuk..le-paskaaan a-ku !" rintih Pak Bahari dengan mata terpejam.


Bu Ratna terbangun mendengar suami nya mengigau.


" Mas..bangun mas.." Ujar Bu Ratna keheranan karena suami nya mencengkram leher sendiri.


Pak Bahari pun bangun setelah beberapa kali Bu Ratna memanggil dan membangunkan nya. Rupanya Pak Bahari mimpi buruk.


" Kamu mimpi ? " tanya Bu Ratna setelah sang suami terbangun.


" Iya Bu..aku mimpi tapi seperti nyata. " jawab Pak Bahari dengan nafas masih ngos-ngosan.


" Mimpi apaan sih sampe ngigau gitu ? " Bu Ratna menyodorkan segelas air putih.


" Mimpi orang tua ku..sudahlah mungkin aku kecapean jadi mimpi yang nggak-nggak. " ucap Pak Bahari tak mau memusingkan. Dia sedikit lega saat tau kalau kejadian tadi hanya mimpi.


" Mangkanya kalau mau tidur berdo'a dulu. " ucap Bu Ratna mengingatkan.


" Udah Ibu tidur aja lagi, ini masih malam. " ucap Pak Bahari sambil menyimpan gelas di nakas setelah minum beberapa tegukan air putih.


Bu Ratna yang masih ngantuk pun kembali berbaring dan tidur. Sementara Pak Bahari masih kepikiran dengan mimpi nya barusan.

__ADS_1


Beliau teringat pada Kirana dan segera beranjak untuk mengecek putri nya.


Saat keluar kamar, udara dingin menerpa kulit Pak Bahari. Beliau menoleh ke arah jam yang menunjukan pukul satu dini hari. Lalu kembali melangkah ke arah kamar Kirana.


Awalnya beliau ingin mengetuk pintu kamar Kirana tapi sepertinya itu akan mengganggu putri nya. Kemungkinan Kirana masih berdzikir atau mungkin sudah tidur. Beliau hanya mendekatkan kupingnya di pintu kamar Kirana, untuk mengetahui keadaan di dalam.


Sunyi senyap tak terdengar suara apapun. Tapi ketika diri nya hampir menjauhkan telinga dari pintu, terdengar suara kursi yang di seret.


Beliau kembali merapatkan telinga nya , tiba-tiba seseorang menepuk pundak nya.


Pak Bahari terkejut bukan main. Ia menoleh ke belakang, rupanya Bu Ratna yang menepuk pundak beliau.


" Ibu bikin kaget. " ujar Pak Bahari mengelus dada nya.


" Ngapain disini? Panggil Kirana suruh dia tidur. " ucap Bu Ratna pelan.


"Aku tadi mau ngecek Kirana saja tapi mungkin Kirana sudah tidur Bu. Udah yuk kita balik ke kamar. " Ujar Pak Bahari.


" Belum, dia masih berdzikir. " kata Bu Ratna .


" Ibu tau darimana? " Pak Bahari mengernyitkan kening.


" Iya..siapa? " Sahut Kirana dari dalam.


Pak Bahari yang mendengar suara Kirana segera menjawab.


" Ini Ayah..ayah cuma mau ngecek kedaan mu saja. Ayah kira kamu sudah tidur. " ucap Pak Bahari.


Sementara Bu Ratna hanya menyeringai. Kirana yang masih mengenakan mukena segera bangkit dari duduk dan melangkah ke pintu.


" Kirana masih berdzikir. " Ucap Kirana setelah membuka pintu kamar.


" Berhenti berdzikir.." tiba-tiba suara Bu Ratna mengejutkan mereka berdua. Tatapan Bu Ratna begitu tajam melihat kearah Kirana.


" Ibu bilang apa sih ? " kata Pak Bahari.


"Aku bilang berhenti berdzikir. " suara Bu Ratna tidak seperti biasanya. Ada yang berbeda dengan gerak-gerik nya.

__ADS_1


Kirana menangkap itu, ia yakin di hadapan nya kini bukan Ibu nya.


" Ayah.." tiba-tiba suara Bu Ratna terdengar dari arah lain. Bu Ratna yang asli baru saja keluar kamar karena mendapati suami nya tak ada di kamar.


Sontak Pak Bahari menoleh ke arah sumber suara, lalu menoleh ke Bu Ratna yang ada di hadapan nya.


" Hiiii...hiii..hiii...."


Tiba-tiba dia berubah wujud menjadi Nyi Laksmi. Sontak Pak Bahari mundur beberapa langkah.


Kirana segera membaca surat-surat pendek serta ayat kursi di dalam hati.


Nyi Laksmi melotot ke arah Kirana, dia berusaha mencengkram gadis di hadapan nya tapi sayang dia tak bisa menyentuh gadis itu.


Tangan nya terasa panas seperti terbakar saat berusaha untuk menyentuh Kirana. Bu Ratna dan Pak Bahari hanya melongok menyaksikan mereka.


Kirana tak henti berdo'a, setiap ayat yang keluar dari mulutnya seolah menghanguskan tubuh nenek tua itu.


" Aaaaakkkkkk " teriak Nyi Laksmi kesakitan seraya menghilang berubah menjadi asap.


Kedua orang tua Kirana segera menghampiri putri mereka.


" Kamu baik-baik saja nak? " tanya Bu Ratna khawatir.


" Aku gak apa-apa Bu, tak perlu cemas." Kirana menyentuh lengan Ibu nya.


" Syukurlah. " ucap Bu Ratna lega.


" Rupanya dia ingin mengganggu dan menghentikan dzikir mu. " kata Pak Bahari.


" Mereka mulai tersiksa di sini semenjak kita berhijrah ke jalan Allah. Itu kata Ustadz. " jelas Kirana.


Pak Bahari dan Bu Ratna hanya mengangguk.


" Ya sudah kalau begitu lanjutkan dzikir mu, kalau sudah lelah segera istirahat. " ujar Bu Ratna.


" Iya nak, maaf Ayah ganggu kamu. " timpal Pak Bahari.

__ADS_1


" Iya..Ayah sama Ibu juga istirahat lagi. Kirana masuk dulu, selamat malam. " Kirana pun menutup pintu kamar.


Pak Bahari dan Bu Ratna segera kembali ke kamar mereka.


__ADS_2