
Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Yanuar masih setia menunggu Bagas yang tak kunjung sadar. Sementara Aryo beberapa kali mengucek mata nya yang sudah terasa sangat berat, namun tetap dia tahan agar tidak tidur.
Yanuar membaca kitab suci di samping ranjang Bagas. Sesekali ia menyentuh lengan sahabat nya untuk memastikan nadi nya masih berdenyut. Yanuar menghela nafas panjang, sudah beberapa jam tak ada perubahan pada Bagas.
Bagas masih tetap saja tak sadarkan diri, seperti sedang koma. Keadaan seperti ini benar-benar membingungkan. Jika sakit mungkin masih bisa di bawa ke rumah sakit, tapi yang terjadi pada Bagas ini lain.
Tubuh Bagas sehat-sehat saja hanya kesadarannya yang hilang.
" Kalau ngantuk tidur saja. " ucap Yanuar pada Aryo.
" I-iya gue ngantuk banget..tapi masa iya gue tidur di saat kayak gini. " Aryo menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Udah gak apa-apa. Tidur gih, biar gue yang jagain Bagas. " titah Yanuar.
" Nanti kita giliran ya..lu bangunin gue kalau udah ngantuk. " ucap Aryo.
Yanuar hanya mengangguk pelan dan kembali mengaji. Sementara Aryo segera naik ke ranjang nya. Entah kenapa malam ini Aryo benar-benar tak mampu menahan rasa kantuk nya. Padahal dia terbiasa bergadang.
__ADS_1
Sementara di rumah Pak Bahari.
Kedua orang tua Bagas sangat cemas dengan keadaan putra mereka yang tak kunjung sadar. Apalagi saat ini mereka tak bisa berada di samping nya.
Pak Bahari terus menerus melirik arloji nya, berharap pagi segera tiba. Beliau ingin segera pergi ke kota dan membawa Bagas ke rumah.
Bu Ratna tak henti menangis, tak ada yang bisa beliau perbuat selain berdo'a memohon perlindungan kepada Tuhan.
Sementara Kirana yang berada di kamar hendak mengambil air wudhu untuk menjalankan shalat tahajud dan di lanjutkan dzikir.
Biasanya dia bisa khusuk melakukannya, namun sekarang fikiran nya di penuhi oleh Bagas. Hati nya terasa sesak dan ketakutan, takut terjadi sesuatu pada kakak nya.
Sementara dia sendiri lah yang harus menyelamatkan Bagas, walaupun dia sendiri tak tau bagaimana cara diri nya menolong Bagas. Terasa berat tanggung jawab dan beban yang ia pikul saat ini.
Menyelamatkan nyawa seseorang bukanlah hal yang mudah. Apalagi nyawa kakak nya sendiri.
Kirana tak mau menyerah begitu saja. Dia akan berusaha untuk mencari petunjuk dari Tuhan. Dia tak ingin melihat kedua orang tua nya bersedih, dia juga tak rela jika harus kehilangan Bagas.
__ADS_1
Kirana menghela nafas dan menghembuskan nya pelan.
Dia segera memejamkan matanya. Membuang segala fikiran negatif dan mencoba mengosongkan fikiran .
Dengan hati terus berdzikir juga bertawakal pada Tuhan. Apapun yang terjadi nanti itulah kehendak Tuhan.
Kirana percaya Tuhan tidak tidur, dan tak mungkin membiarkan hambanya tersiksa oleh makhluk laknat itu.
Ketika diri nya mulai rileksdan fikiran nya kosong. Kirana pun perlahan mulai masuk ke satu dimensi.
Sebuah cahaya putih menyilaukan pandangan nya, walau dengan mata tertutup dia bisa melihat jelas kilauan cahaya tersebut.
Cahaya itu awalnya kecil dan berada di satu titik, namun semakin mendekat dan mendekat lagi tepat di hadapan nya.
Saat itu pula Kirana masuk ke alam Kencana Mayang. Satu bangunan megah namun terkesan kuno tepat di hadapan nya.
Kirana menoleh ke belakang, di sana ada gua yang tak asing bagi nya. Saat ini seolah Kirana baru saja keluar dari mulut gua tersebut. Ia ingat saat itu pernah tersesat dalam tempat itu. Rupanya gua tersebut adalah jalan menuju alam kencana mayang dan istana nya tepat berada di depan mulut gua tersebut.
__ADS_1