
Bu Ratna mondar-mandir di depan ranjang Kirana. Dia begitu cemas karena putri nya belum juga siuman.
" Bu..duduk dulu, tenangkan diri mu. Sebentar lagi pasti Kirana sadar. " Ucap Pak Bahari pada sang istri.
Bu Ratna menghentikan langkah, dia menatap tajam suami nya.
" Sebenarnya apa yang kamu rahasiakan dari kami ? " tanya Bu Ratna menyelidik.
Pak Bahari terdiam, rasanya seperti sedang di todong senjata oleh istri nya.
" Jawab Mas !! " tegas Bu Ratna lantang.
Mang Nur dan Bi Sari yang juga berada di sana hanya tertunduk.
" Maafkan aku, semua ini karena ulah keluarga ku. " Sesal Pak Bahari.
" Jadi apa yang mereka katakan itu benar? lantas kenapa kamu tidak bisa menghentikan semua ini, Mas ? Bagaimana dengan anak-anak kita, hah? " Bu Ratna terkulai lemas. Dia menangis sejadi-jadi nya.
" Aku sendiri benar-benar tidak ingin terlibat dengan perjanjian mereka pada iblis. Tak pernah terpikir akan seperti ini jadi nya. " ucap Pak Bahari.
" Dari dulu aku tidak pernah setuju dengan ritual yang mereka lakukan semasa hidupnya. Maka nya aku memilih pergi ke kota untuk menghindari mereka yang sangat tak sepaham dengan ku. Sama sekali aku tidak tau seluk beluk ilmu yang mereka anut. " lanjut Pak Bahari.
" Kenapa kamu tidak pernah bilang sebelum nya? " Bu Ratna terisak.
" Itu karena ku pikir semua sudah selesai setelah orang tua ku meninggal. Aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Maafkan aku..aku janji akan mencari solusi dari semua ini. " tutur Pak Bahari.
" Aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sampai terjadi sesuatu pada anak-anak kita, terutama Kirana. Aku tak akan membiarkan dia mewarisi aliran sesat keluarga mu. " tegas Bu Ratna seraya mengusap kasar air mata di pipi.
" Maaf jika saya lancang ikut campur dalam masalah ini. Saya akan membantu kalian semampu saya. Pasti ada jalan keluar dari masalah ini. " ucap Mang Nur hati-hati.
Bu Ratna menoleh ke arah nya. Dia menyipitkan bola mata nya.
" Mamang terlibat dalam masalah ini bukan ? Pasti mamang tau apa yang bisa menghancurkan makhluk-makhluk itu tanpa harus mengorbankan anak ku." Bu Ratna tak lagi lembut seperti biasanya.
" Saya tidak begitu yakin, tapi saya akan berusaha mencari solusinya. Besok saya akan temui Ki Jaka kembali, siapa tau beliau bisa membantu. " Ujar Mang Nur tertunduk.
" Jangan Mang ! Lebih baik mamang cari ustadz saja. Aku tak yakin Ki Jaka mampu mengatasi masalah ini. " cegah Pak Bahari.
__ADS_1
" Cari ustadz paling hebat di desa ini. Yang bisa merukiyah dan mengusir makhluk gaib. " Lanjut Pak Bahari penuh harap.Dia teringat nasihat dokter Firlly.
" Baik " jawab Mang Nur.
Mang Nur dan Bi Sari segera keluar dari kamar Kirana menuju dapur. Mang Nur terus memikirkan siapa ustadz yang bisa di andalkan. Dia teringat seseorang, Ustadz Sahir. Beliau lah orang yang tepat, tapi sayang Mang Nur tak mengetahui di mana sekarang beliau tinggal.
Tanpa sepengetahuan majikan nya, dia tetap akan mencoba menemui Ki Jaka dahulu. Sementara dia belum menemukan ustadz, tak ada salahnya mencoba meminta bantuan Ki Jaka.
Bi Sari sibuk dengan rutinitas nya di dapur, sementara Mang Nur bergegas pergi ke rumah Ki Jaka.
Sesampai nya di kediaman Ki Jaka. Nampak sosok yang ia cari berada di depan teras rumah.
" Sampurasun Ki. " Sapa Mang Nur.
" Ada apa pagi-pagi kau kesini Nur ? " suara berat Ki Jaka.
Mang Nur menceritakan kejadian semalam, ia meminta tolong pada dukun tersebut.
" Maaf Nur. Aku tidak bisa ikut campur dengan masalah mereka. Nyi Laksmi pernah mendatangi ku, dia akan marah pada ku jika menghalangi tujuan nya. " tegas Ki Jaka.
" Kau tau sendiri akibat nya jika melawan Nyi Laksmi. " lanjut nya.
Mang Nur pun pamit. Beliau segera menuju rumah Bu Nuri untuk menanyakan tentang Ustad Sahir. Beliau tau kalau Fathir salah satu santri dari Ustadz Sahir.
Dengan sedikit keraguan di hati nya, Mang Nur memberanikan diri menemui Fathir. Walau bagaimana pun sikap Fathir nanti pada nya , dia akan menerima dengan lapang.
" Ada apa Mang ? " tanya Bu Nuri membuka pintu rumah.
" Fathir mana ? " Mang Nur balik bertanya.
Dari dalam Fathir muncul dengan tatapan dingin.
" Fathir mamang ingin bicara. " ucap Mang Nur.
" Silahkan masuk. " Bu Nuri mempersilahkan Mang Nur masuk ke dalam.
Mereka duduk di kursi ruang tamu. Fathir hanya terdiam, mengenyahkan perasaan benci dan kekesalan terhadap pria tua di hadapan nya. Dia mencoba memaafkan Mang Nur, bagaimana pun pria tua itu sudah membantu membesarkan diri nya dan mencukupi segala kebutuhan nya dari kecil hingga dewasa.
__ADS_1
" Tentang kejadian masa lalu, Mang Nur mohon maaf yang sebesar-besar nya. " pria tua itu membuka percakapan dengan wajah penuh penyesalan.
" Insya Allah saya maafkan. " tutur Fathir.
" Syukurlah. Mamang tau kamu anak yang baik dan mulia hatinya." puji Mang Nur dengan mata berkaca-kaca menahan air mata nya agar tak jatuh.
" Pagi-pagi kesini hanya untuk hal itu? " selidik Bu Nuri yang curiga ada maksud lain dari kedatangan Mang Nur.
" Saya kesini juga ingin menanyakan Ustadz Sahir. Saat ini keluarga Pak Bahari membutuhkan bantuan Ustadz Sahir. Mamang tau kamu santri beliau, pasti kamu tau kemana beliau pindah. " tutur Mang Nur.
Bu Nuri mengehela nafas kasar. Lagi-lagi keluarga pembunuh itu, batin nya.
Sementara Fathir sedikit kaget saat Mang Nur menanyakan Ustadz Sahir. Dia teringat Kirana, khawatir terjadi hal buruk pada gadis itu.
" Untuk apa mereka mencari Ustadz Sahir ? " selidik Bu Nuri.
" Terjadi sesuatu pada putri mereka Kirana. Maaf saya tidak bisa menjelaskan secara detail. Ini privasi mereka. " jawab Mang Nur.
" Privasi ? " Bu Nuri tersenyum sinis.
" Sudah bisa ku tebak apa yang menimpa keluarga itu. Kenapa tak kau biarkan saja mereka sengsara karena ulah nya sendiri. " Gerutu Bu Nuri.
Mang Nur hanya terdiam tak bisa mengelak apa yang di lontarkan Bu Nuri memang benar ada nya.
" Bu..tak baik bicara seperti itu. " ucap Fathir mengingatkan.
" Kamu masih perduli pada keluarga pembunuh Ayah mu ?" mata Bu Nuri membulat.
" Kita sebagai manusia harus bisa memaafkan kesalahan sesama, kita juga harus saling menolong. Tak baik terus menerus menyimpan dendam pada orang lain, itu akan menghalangi pahala kita. Percuma kita rajin beribadah jika hati kita masih di penuhi kebencian, hati kita kotor di selimuti dendam. Ikhlaskan apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika terus seperti ini, sama saja kita tidak menerima takdir Tuhan. " jelas Fathir.
" Astagfirullahaladzim.." berulang kali Bu Nuri beristigfar dan menitikan air mata nya.
Mang Nur semakin kagum pada sosok keponakan nya itu. Tak sia-sia ia ikut membesarkan nya.
" Maaf Mang, saya juga tidak tau kemana beliau pindah. Saya sendiri pun masih mencari informasi tentang beliau. Walau saat ini benar-benar buntu. " terang Fathir.
Mang Nur hampir putus asa di buat nya. Dia terdiam merenungkan kemana harus mencari ustadz Sahir ataupun dia harus bisa menemukan Ustadz yang ilmu nya sepadan dengan Ustadz Sahir.
__ADS_1
Fathir dan Mang Nur akan sama-sama mencari tahu keberadaan Ustadz Sahir. Begitupun Bu Nuri yang kini sudah luluh hati nya, dia akan membantu mencari solusi dari masalah yang sedang di hadapi keluarga Pak Bahari.