KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
BENCI


__ADS_3

Kirana sangat kecewa karena hari ini dia tidak bisa ikut perkemahan sekolah seperti yang lain.


Bu Ratna masuk ke kamar Kirana, melihat anaknya murung ia segera mendekati nya.


" Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya Bu Ratna duduk di sampingnya.


" Teman-teman sekolahku hari ini pergi ke perkemahan. Sedangkan aku sudah seperti orang gila yang di isolasi dan di jauhkan dari keramaian. Bisa-bisa Kirana gila beneran. " gerutu nya kesal.


" Hus..kalau bicara itu yang baik-baik." Tegur Bu Ratna.


Kirana mendengus, diri nya benar-benar tidak bisa menikmati masa remaja nya kini.


Bu Ratna memaklumi perubahan sikap Kirana yang dratstis. Dulu anak itu tak pernah berucap seenaknya, bahkan selalu menjaga perasaan lawan bicara nya. Apalagi pada orang tua.


Tapi sekarang Kirana jadi lebih sensitif dan tak segan mengutarakan secara langsung kekesalannya.


" Bukannya Fathir dan Novi juga gak ikut kesana? " Ujar Bu Ratna mengetahui itu dari Bi Sari.


Seketika mata Kirana membulat tak percaya. Dia memang belum sempat menghubungi kedua temannya, menanyakan ikut atau tidaknya mereka ke perkemahan.


" Benarkah? " Kirana meyakinkan.


" Iya tadi Bi Sari bilang. Fathir sedikit kurang enak badan jadi gak ikut ke sana. Kalau Novi kamu kan tau sendiri dia takut terjadi sesuatu di sana. " Jelas Bu Ratna.


" Fathir sakit apa? " Tanya Kirana.


" Kata Bi Sari dia demam. Mungkin masuk angin. " jawab Bu Ratna.


" Kalau gitu boleh dong Kirana jenguk Fathir. Selama ini Fathir suka jenguk Kirana kalau sakit, dia juga sering bantu Kirana. " Gadis itu bersemangat.


" Boleh..nanti Ibu suruh Bagas buat antar kamu. Solanya Ayahmu hari ini mau pergi ke kebun teh sama Mang Nur. " ucap Bu Ratna.


" Makasih Bu..." Kirana memeluk Ibu nya.


Gadis itu tersenyum bahagia saat di izinkan menengok Fathir. Tentu saja Bu Ratna tak kalah bahagia melihat senyuman kembali terukir di wajah cantik Kirana.


Beberapa saat kemudian setelah makan siang bersama, Bu Ratna memerintahkan Bagas untuk mengantar Kirana ke rumah Fathir.


" Bagas, tolong antar Kirana menjenguk Fathir. Ibu dengar dia sakit. " Titah Bu Ratna selesai makan.


" Aku? Ke rumah anak ingusan itu? " Bagas menunjuk wajahnya .


" Ssstttt..!!! " Bu Ratna melirik ke dapur khawatir Bi Sari mendengar ucapan Bagas.


Beliau tau kalau Fathir itu keponakan Bi Sari.


" Kenapa? Kakak gak mau nganter aku?" Kirana mulai kesal.


Bagas hanya mencibir ke arah adik nya. Kirana semakin kesal dengan kelakuan Kakak laki-laki nya itu.


Bu Ratna memijit pusing keningnya, kalau Bagas sudah seperti itu mana mungkin ia mau di paksa menuruti perintahnya. Tapi bagaimana dengan Kirana, putrinya pasti kecewa jika tidak bisa menjenguk Fathir.

__ADS_1


Yanuar yang berada di tengah-tengah mereka, mencoba memberi solusi.


" Biar saya yang antar Kirana, Tante. Itupun kalau Tante izinkan dan Kirana mau. " Yanuar mulai angkat bicara.


" Tentu saja Tante izinin. Kirana juga gak akan keberatan. Iya kan? " Ujar Bu Ratna dengan senang hati.


" Iya.. " Kirana menyetujui tawaran Yanuar.


" Makasih ya Yanuar. " Ucap Bu Ratna.


" Sama-sama. " Yanuar tersenyum.


Sementara Bagas mendengus kesal pada teman nya itu. Namun dia malas untuk berdebat lagi. Dia lebih memilih pergi dari ruang makan dan menuju kamarnya.


Yanuar dan Kirana pun pergi ke rumah Fathir setelah sebelumnya di beri tau alamat Fathir oleh Bi Sari.


Mereka berdua pergi dengan memakai sepeda motor milik Mang Nur. Karena mobil di pakai Pak Bahari ke kebun teh bersama Mang Nur.


Setelah menempuh sekitar sepuluh menit akhirnya mereka pun sampai di sebuah pemukiman penduduk.


Mereka ingat patokan yang di beritahukan Bi Sari. Rumah Fathir dekat dengan mushola Al-Insan. Dari sana hanya terhalang tiga rumah saja.


Mereka pun sudah berada di depan rumah sederhana, setelah bertanya pada salah satu penduduk yang kebetulan lewat memastikan kalau rumah itu kediaman Fathir.


Kirana mengetuk pintu rumah semi permanen itu.


Nampak seseorang membuka pintu rumah. Seorang wanita seumuran Ibu nya di balik pintu. Kirana yakin itu adalah Ibu Fathir.


" Ada di dalam. Maaf dengan siapa ya?" Selidik Bu Nuri menatap Kirana dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Gadis di hadapan nya seumuran dengan Fathir, tapi penampilannya sangat beda dengan gadis di kampung ini. Bu Nuri curiga kalau dia itu Kirana.


" Saya Kirana teman Fathir. Saya mau jenguk Fathir, kata Bi Sari dia sakit. " Kirana nampak ramah dengan senyuman nya.


Namun peringai Bu Nuri seketika berubah. Kecurigaannya benar, gadis yang datang saat ini adalah Kirana.


" Oh..maaf Fathir sedang istirahat, dia tidak bisa di jenguk saat ini. " Ketus Bu Nuri sembari menutup pintu rumah.


Kirana melongok melihat peringai Ibu Fathir yang seolah tak menyukai kedatangan nya. Namun sebelum pintu itu tertutup, Fathir muncul dari dalam.


" Siapa yang datang Bu.." Tanya Fathir setelah mendengar samar percakapan antara Ibu nya dan Kirana dari dalam kamar.


Bu Nuri kaget saat Fathir tiba-tiba keluar kamar. Fathir sendiri kaget melihat kedatangan Kirana ke rumah nya, bahkan ia datang bersama Yanuar yang kini berdiri di belakang gadis itu.


" Kirana? " Ucap Fathir.


Kirana tersenyum walau sedikit tak enak hati karena sikap Bu Nuri pada nya barusan.


Bukannya memepersilahkan masuk, Bu Nuri malah pergi ke dalam dengan wajah kesal. Fathir merasa tak enak hati pada Kirana karena sikap Ibu nya.


" Mari masuk. " Ucap Fathir mempersilahkan mereka berdua masuk.

__ADS_1


Kirana dan Yanuar pun masuk ke dalam. Mereka duduk di kursi rotan yang sudah nampak tua.


" Ini aku bawa buah-buahan buat kamu. Kata Bi Sari kamu sakit, jadi aku kesini buat jenguk kamu. " kata Kirana.


" Makasih , Bi Sari berlebihan aku cuma meriang biasa . " ucap Fathir .


Mereka nampak canggung untuk bicara, tak seprti biasanya. Mungkin karena tadi perlakuan Bu Nuri pada Kirana membuat mereka berdua sama-sama tidak enak hati.


Di tambah lagi Yanuar berada di antara mereka.


Karena tak ada topik pembicaraan yang pas saat itu, mereka lebih banyak diam.


Kirana pun memutuskan untuk pulang.


" Kalau gitu kami pulang dulu. Lekas sembuh ya. " Ucap Kirana sambil berdiri.


" Iya, makasih udah mau datang. " Ujar Fathir.


" Bilang sama Ibu mu aku pamit pulang. " Kirana sedikit melihat ke dalam mencari sosok Bu Nuri.


" Nanti aku sampaikan. Seperti nya Ibu ku sibuk di belakang." Fathir benar-benar malu pada Kirana karena sikap Ibu nya.


Kirana dan Yanuar pun segera keluar, Fathir mengantar mereka sampai depan teras rumah.


Kirana melambaikan tangannya saat motor mulai melaju. Fathir membalas lambaian tangan gadis itu, dengan pandangan nanar Fathir melihat gadis itu duduk di belakang Yanuar . Ada rasa panas dan kesal di hati nya. Apalagi sebelah tangan Kirana melingkar di pinggang Yanuar.


' Ck ' Fathir berdecak kesal dengan perasaannya saat ini. Dia segera masuk ke dalam setelah Kirana dan Yanuar tak terlihat dari pandangan nya.


Di tatapnya sebuah parcel buah pemberian Kirana. Dia pun menenteng keranjang parcel dan menyimpan nya di dekat meja makan kayu.


Terlihat Bu Nuri terduduk di kursi meja makan itu. Peringai nya masih tak enak di lihat apalagi saat mata nya melihat parcel buah di hadapan nya.


" Maaf Bu,, Fathir masih belum mengerti dengan sikap Ibu pada Kirana. Kalian baru kali ini bertemu, tapi sepertinya Ibu tak menyukai Kirana. " Fathir duduk berhadapan dengan Bu Nuri.


Wanita itu menghela nafas panjang, Ia menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi dan melempar pandangannya ke arah lain.


" Mungkin perasaan mu saja. Kenapa kamu jadi berburuk sangka begitu? " Bu Nuri kembali menatap Fathir dengan tatapan tajam.


" Bukan begitu, Fathir heran saja dengan sikap Ibu yang tak biasa. Padahal kalau teman Fathir yang lain datang kesini, Ibu menyambut mereka dengan baik. Malah Ibu selalu sajikan kudapan atau minuman buat mereka. " Jelas Fathir.


" Iya. Ibu memang kurang suka sama Kirana. Jelas? " Bu Nuri pun akhirnya tak bisa menyembunyikan perasaan nya.


Fathir mengernyitkan kening, rasa heran dan tak percaya akan ucapan Bu Nuri barusan.


" Kenapa? Memangnya Kirana salah apa sama Ibu? Dia anak yang baik. Kalau Ibu gak percaya tanya saja Bi Sari. " Ujar Fathir.


" Suatu saat nanti kamu akan tau alasan nya. Sudah sana ke kamar istirahat. " Bu Nuri berlalu dari hadapan Fathir.


Sementara Fathir masih terdiam, hati nya terus bertanya-tanya. Apa alasan Ibu nya sampai membenci Kirana. Kenapa harus menunggu nanti? Kenapa gak sekarang saja ia katakan?


Rasa penasaran Fathir semakin besar. Ada rasa kecewa di hati nya setelah tau Ibu nya membenci gadis yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2