
Raga Kirana masih berada di dunia fana. Bersimpuh menghadap kiblat, hatinya terus berdzikir sementara ruh nya menyambangi satu tempat bernama Kencana Mayang.
Istana yang dindingnya bebatuan. Dengan ukiran gambar sedikit aneh. Serta banyak patung berbentuk binatang di setiap sisi ruangan dan pintu masuk istana tersebut.
Kirana mulai melangkah, menapaki setiap ubin ruangan. Istana itu bak labirin, begitu banyak pintu dan ruangan. Tapi tak ada seorang pun di sana, bahkan tak ada suara sedikitpun. Senyap..hanya suara langkah nya yang terdengar.
Kirana menoleh ke atas langit-langit yang menjulang tinggi. Gelap seperti tak berujung.
Setelah agak jauh melangkah, Kirana mulai mendengar suara seseorang. Ya..suara Bagas meminta tolong.
Kirana menghentikan langkah nya, mencari arah sumber suara. Saat ini diri nya berada tepat di tengah, di depan nya ada satu jalan lurus begitupun di kanan dan kiri nya.
Kirana tak bisa memastikan dari mana asal suara tadi. Karena begitu luasnya istana tersebut. Kirana mencoba memejamkan mata nya.
Menenangkan hati serta fikiran nya. Dan dia menemukan satu petunjuk. Suara Ustadz Sahir membisik di telinga kanan nya. Memberitahunya untuk terus berjalan lurus dan tak berbelok sebelum di perintahkan kembali.
Kirana pun membuka mata dan mengikuti perintah tersebut. Dia mulai melangkah lurus ke sebuah pintu.
Satu jalan berukuran seperti gang kecil, dengan dinding bebatuan dan lampu minyak sebagai penerangan di setiap sisi.
Suara Bagas semakin terdengar jelas setelah Kirana berjalan agak jauh. Tiba lah diri nya di satu ruangan besar dan terdapat banyak makhluk berbentuk aneh di sekelilingnya.
Kirana melihat ada Bagas di antara makhluk-makhluk mirip siluman tersebut. Bagas terkulai dan terbaring lemah di ranjang kayu dengan beralas kain putih. Di kelilingi oleh makhluk berbentuk binatang namun menyerupai manusia.
Langakah Kirana terhenti, dia harus memikirkan cara bagaimana diri nya bisa menyusup masuk ke sana. Saat ini saja dirinya sudah di hadang oleh dua makhluk bertubuh tinggi besar dengan cula di kepala nya.
Dua makhluk itu menggeram, mata mereka memancarkan cahaya merah.
Kirana mencoba mengenyahkan rasa takut nya, dalam batin nya terus menyebut asma-Nya.
Kedua makhluk itu semakin mendekat dan penuh amarah.
" Innalillahi wa innaillaihi rojiun.." teriak Kirana.
Sontak kedua makhluk tadi yang hampir saja menghajar Kirana, lenyap seketika. Menjadi gumpalan asap hitam pekat disertai erangan kesakitan yang menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Suara makhluk itu mengakibatkan para siluman tersadar akan kehadiran Kirana. Mereka menatap tajam Kirana dan melangkah menuju ke arah dimana gadis itu berdiri.
Kirana membulatkan mata nya , melangkah mundur. Jumlah siluman itu sangat banyak tak terhitung oleh jari. Mereka seolah akan menyerbu dan menyerang diri nya.
Mulut Kirana tak henti berdo'a memohon pertolongan, seperti nya dia akan kewalahan jika harus melawan pasukan siluman itu.
Ketika jarak antara keduanya hampir dekat, Kirana mulai merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh makhluk-makhluk itu. Seperti sedang berdekatan dengan kobaran api.
Di antara makhluk itu ada yang berbentuk seperti kera berekor serta berbulu, ada yang menjulurkan lidah seperti ular, ada lagi yang mengaum dengan taring di mulut nya.
Saat jarak mereka semakin dekat lagi, Kirana menyilangkan lengan di depan wajahnya. Saat itu pula munculah satu cahaya menyilaukan pandangan semua yang berada di sana.
Seseorang dengan mengenakan jubah putih tiba-tiba datang di antara mereka, wajahnya memancarkan cahaya sehingga tak dapat di kenali bahkan di lihat dengan jelas lekuk wajah orang itu.
Tak satupun sanggup menatap wajah nya karena begitu besar cahaya yang terpancar dari nya.
Kirana sendiri pun tercengang melihat kehadiran sosok tersebut. Entah malaikat ataukah dewa penyelamat yang di turunkan Tuhan. Kirana tak tau pasti siapa sosok tersebut.
Yang pasti saat kedatangannya, para siluman seketika berhamburan. Tubuh-tubuh mereka terbakar dan lenyap begitu saja.
Gadis itu mencari-cari keberadaan nya. Pandangan nya menyapu ke seluruh ruangan, namun tak dia temukan.
Kirana segera berlari ke arah di mana Bagas terbujur. Hanya tinggal beberapa langkah lagi dia sampai, tapi Nyi Laksmi tiba-tiba muncul menghadang jalan nya.
Kirana segera menghentikan langkah nya. Menatap tajam ke arah nenek tua di hadapan nya. Nenek tua berkebaya merah, dengan bawahan kain serta selendang melingkar di leher.
Nenek tua yang tak lain adalah eyang nya sendiri, yang kini di penuhi rasa benci dan amarah.
" Berani nya kau memporak porandakan istana ku, melenyapkan semua prajurit ku. " suara Nyi Laksmi lantang.
" Lepaskan Kakak ku !! Atau akan ku hancurkan kau !! " teriak Kirana.
" Hiii...hiii..hiii..berani sekali kau. Sadarkah kau sedang berhadapan dengan siapa? " Nyi Laksmi semakin marah.
" Kau iblis..musuhku !! " ucap Kirana.
__ADS_1
" Kurang ajar !! Aku leluhurmu, berani nya kau bicara seperti itu . " Nyi Laksmi menghentakan tongkat nya.
" Lepaskan kakak ku jika kau memang leluhurku, kau takan menyakiti nya. " teriak Kirana.
" Baik. Aku akan melepaskan Bagas. Tapi dengan satu syarat. " ujar Nyi Laksmi menyeringai.
" Apa itu ? " tanya Kirana.
" Syaratnya kau harus ikut dengan ku sebagai ganti nya. Kau harus meneruskan ilmu leluhurmu. "
" Cih..aku takan pernah sudi !! "
" Kalau begitu kau takan bisa pergi dari sini. Siapapun yang sudah masuk ke alam Kencana Mayang takan bisa kembali..Hiii..hiii...hiii.."
" Laknaaattt !!! "
Kirana mengepalkan tangan nya, dalam kepalan nya tersebut di penuhi dengan ayat-ayat penghancur makhluk semacam Nyi Laksmi.
Kirana sendiri tak menyadari hal itu. Dari setiap penjuru kekuatan itu muncul. Karena di tempat lain Ustadz Sahir, orang tua Kirana, Yanuar serta Arumi dan para santri di pesantren tengah bermunajat kepada Tuhan. Memohon pertolongan untuk Kirana dan Bagas.
Kirana mengibaskan kepalannya ke arah Nyi Laksmi dengan jarak cukup dekat. Kilatan cahaya keluar dari kepalan tersebut dan menjerat tubuh Nyi Laksmi. Kirana terperanjat tak menyangka dengan apa yang ia lakukan.
Nyi Laksmi menjerit, merintih dan berteriak kesakitan. Tubuhnya berusaha lepas dari cahaya yang semakin menjerat dan membakar diri nya.
Seketika Dewi Larasati dan Ki Demang muncul.
" Kirana..lepaskan eyang mu.." pinta Dewi Larasati.
" Iya Kirana, kami mohon lepaskan. Ini bahaya untuk kami juga untuk mu. Pemilik Trisaka Mayang pasti akan datang. " lanjut Ki Demang.
Kirana tak mengerti apa maksud mereka berdua. Yang pasti Kirana tak mungkin melepaskan Nyi Laksmi begitu saja.
Seperti buah simalakama. Jika Kirana melepaskan perempuan tua itu, ia sendiri yang akan celaka. Begitupun jika tidak di lepaskan maka iblis pemilik ilmu sesat itu akan muncul dan bukan tak mungkin dia juga akan mencelakakan nya.
"
__ADS_1