KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
KETERANGAN BAGAS


__ADS_3

Suara sirine Ambulance di luar sana membuat hati Bagas teriris. Bagas tak bisa melihat Malika untuk yang terakhir kali, karena kondisi yang tak memungkin kan untuk nya beranjak dari tempat tidur.


Orang tua Malika dan Satriyo membawa jenazah anak mereka. Setelah sebelumnya bertemu dengan Pak Bahari serta teman-teman Malika dan Satriyo yang masih selamat dalam kecelakaan.


Awalnya keluarga Malika terutama Mami nya, sangat menyalahkan kejadian ini pada Bagas. Dia tidak terima kalau anak nya pergi secepat ini. Namun akhirnya mereka pun sadar jika takdir kematian hanya Tuhan yang menentukan.


Lain hal dengan keluarga Satriyo yang sudah mengikhlaskan kepergian anak mereka. Pak Bahari mewakili Bagas meminta maaf pada kedua keluarga yang sedang berduka. Bagaimanapun tak ada yang mau kejadian ini menimpa mereka.


Malam itu terasa panjang, Bagas yang masih terpukul dengan kepergian Malika dan Satriyo tak bisa tidur hingga pagi tiba. Begitupun dengan Aryo dan Arumi. Dalam ruangan itu tak ada sepatah kata pun pembicaraan antara mereka.

__ADS_1


Mereka bersedih dan terhanyut dalam lamunan masing-masing. Hingga tak terasa malam semakin habis, dan berganti pagi.


Keluarga Aryo dan Arumi sudah datang ke Rumah Sakit Bina Medika. Sementara Yanuar memang tak punya keluarga, dia yatim piatu dan berasal dari panti asuhan. Pak Bahari sudah menganggap Yanuar seperti anak nya sendiri.


Keluarga Aryo maupun Arumi akan memindahkan anak-anak mereka ke Rumah Sakit yang lebih dekat dari rumah masing-masing.


Polisi segera menemui Bagas setelah tau Bagas siuman. Karena hanya Bagas lah satu-satu nya saksi kunci kecelakaan itu terjadi. Polisi sempat menanyai Aryo, namun Aryo berada di posisi belakang dan menabrak motor Satriyo atau Bagas yang sudah lebih dulu terjatuh. Aryo sendiri tidak tau motor siapa yang ia tabrak dari belakang karena kabut tebal menyelimuti saat itu.


Bagas mencoba mengingat kejadian malam itu. Walau kepalanya masih terasa nyeri.

__ADS_1


" Saya tidak tau persis penyebabnya Pak. Yang jelas saat itu saya menabrak sesuatu tepat di depan motor saya dan Satriyo. Entah mobil atau pohon tumbang. Keadaan waktu itu penuh kabut jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapan saya. " Terang Bagas dengan pandangan lurus ke depan sambil mengingat detail kejadian.


" Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi. Saya baru sadar sudah berada di sini. " Lanjutnya.


Kedua Polisi yang bertugas saling menatap satu sama lain. Karena tak ada mobil ataupun pohon tumbang saat itu. Bahkan mobil sayur yang melintas pun dari arah yang sama dengan mereka.


Menurut keterangan sopir mobil tersebut, tak ada kendaraan roda empat yang melintas dari arah berlawanan. Sopir itu pun menuturkan kalau kabut di area itu juga tidak begitu tebal. Malah dia sendiri bisa melihat mereka kecelakaan itu dari jarak beberapa meter.


Ada sedikit kejanggalan dari kasus kecelakaan itu. Polisi sempat menduga kalau mobil pick up itu yang menabrak dari belakang. Tapi menurut keterangan Aryo, tak ada yang menabrak mereka dari belakang. Bahkan Aryo pun sempat melihat mobil pick up itu berada beberapa meter di belakang.

__ADS_1


Untung saja si sopir segera menginjak rem saat melihat tiga motor dengan enam korban tergeletak di jalanan. Mereka segera menghubungi pihak Kepolisian dan membawa mereka ke Rumah Sakit terdekat.


Dua anggota Kepolisian segera meninggalkan ruang UGD setelah mengintrogasi Bagas dan yang lain. Kasus itu kemungkinan buntu. Untung saja pihak dari korban meninggal tidak menuntut atau memperkarakan peristiwa kecelakaan. Sehingga tidak memberatkan siapapun.


__ADS_2