KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
RUQIYAH


__ADS_3

Fathir dan Novi datang ke rumah Kirana setelah mendengar kedatangan Ustadz Sahir. Mereka ingin mengikuti ruqiyah berjama'ah. Kirana memberi tahu kedua sahabat nya itu melalui chat.


Betapa bahagia nya hati Fathir bisa bertemu lagi dengan guru mengaji nya. Ustadz Sahir pun selalu melontarkan pujian pada Fathir, karena Fathir termasuk salah satu santri yang cepat tanggap pada ajaran nya.


Ba'da sholat isya mereka berkumpul di ruang tengah. Di sana sudah di gelar permadani untuk mereka duduk dan melakukan ruqiyah berjama'ah.


Masih dalam keadaan suci setelah berwudhu dan menutup aurat mereka memulai acara itu.


Ustadz Sahir mulai membacakan do'a serta ayat-ayat Tuhan. Semua orang memejamkan mata mereka dan meresapi setiap ayat yang terlantun dari mulut sang Ustadz.


Baru beberapa menit saja Kirana sudah mulai merasakan tidak nyaman pada diri nya. Begitupun Novi, Pak Bahari juga Mang Nur. Mereka merasakan pusing dan mual.


Sementara kedua santri Ustadz Sahir menangkap satu sosok tinggi besar melintas ke hadapan mereka.


Tiba-tiba Kirana berteriak histeris, menjerit, meronta dan menangis. Ustadz Sahir menyelesaikan dahulu tugasnya yang hampir selesai, setelah selesai ia segera meminta orang tua Kirana untuk memegangi lengan anak nya.


Gadis itu sudah kerasukan. Tatapan mata nya tajam menatap ke arah sang Ustadz tatkala Ustadz Sahir kembali membacakan ayat suci dengan suara pelan bahkan hampir tak terdengar.


" Siapa kau berani nya mengusik keberadaan kami ? " suara itu tak asing lagi di telinga. Ya..suara Nyi Laksmi.


" Saya tidak mengusik, justru saya ingin menolong keluarga mu. " ucap Ustadz Sahir.


" Hii...hii..hii..jangan ikut campur urusan keluarga ku jika tidak..kau akan tau sendiri akibat nya.." Ucap Nyi Laksmi yang merasuki raga Kirana.


" Perbuatan syirik yang kau lakukan sudah melampaui batas, bukan hanya saat hidup di dunia bahkan sampai saat ini kau masih mempersekutukan Allah. Kau sendiri lah yang akan menanggung akibat dari perbuatanmu. Akan aku binasakan pemuja iblis seperti mu. " kata Ustadz Sahir.


" Lancang..." teriak Nyi Laksmi.


Pak Bahari dan Bu Ratna hampir kewalahan saat memegangi Kirana. Akhirnya Kirana pun lepas, dia segera maju beberapa langkah tepat di hadapan Ustadz Sahir.


Tinggal selangkah lagi jarak ke Ustadz tersebut namun Ustadz Sahir segera membacakan do'a. Beliau memohon perlindungan kepada Allah SWT.


Tanpa tersentuh oleh beliau, Kirana langsung terpental ke belakang. Untung saja kedua orang tua nya sigap menangkap tubuh Kirana yang terpental.


Kirana pun tak sadarkan diri. Mang Nur dan Pak Bahari segera membaringkan Kirana di sofa ruangan itu.

__ADS_1


Belum habis ketegangan saat itu, kali ini Novi menangis dan merintih. Seolah meminta tolong pada semua orang yang berada di sana.


" Tolong kami...kami di sini terpenjara. Kesakitan dan tersiksa..kami mohon lepaskan kami dari belenggu mereka." Ucap Novi yang sedang kerasukan salah satu arwah tumbal.


" Baiklah. Semoga Allah mengizinkan, saya akan coba untuk menyempurnakan kalian hingga kalian bisa berada di alam yang semesti nya. Bersama roh yang lain di alam penantian. " ucap Ustadz Sahir.


" Saya tidak terima..saya belum siap meninggal..keluarga ini harus merasakan apa yang aku rasakan.." tiba-tiba suara Malika lah yang terdengar dari mulut Novi.


Rupanya banyak yang ingin merasuki tubuh Novi. Mereka ingin menyampaikan maksud yang berbeda-beda.


" Hilangkan dendam mu , itu hanya akan membuatmu tersiksa. Ikhlaskan semua nya, setiap manusia akan mengalami kematian. Hanya waktu dan cara nya yang berbeda-beda. " ucap Ustadz Sahir.


" Aku di sini kesakitan, kedinginan..tak ada teman.." Suara dan tangisan Malika.


" Ikhlaskan maka kamu akan terbebas dari segala kesakitan mu. Jika tidak, ini akan semakim memberatkan mu di hari perhitungan kelak. Tapi jika kau ikhlas menerima takdir, Insya Allah..akan di ringankan." tutur Ustadz Sahir.


Nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Malika harus bisa menerima kenyataan bahwa diri nya takan mungkin bisa hidup lagi. Dia pun segera keluar dari tubuh Novi.


Novi terkulai lemas tak sadarkan diri. Bi Sari segera membawa minyak angin dan menciumkan nya pada Novi.


Setelah Novi dan Kirana sadar. Mereka pun kembali duduk membentuk lingkaran di permadani.


Ketegangan pun mencair menjadi obrolan hangat. Ustadz Sahir akan lebih mudah memberi arahan jika keadaan sudah mulai tenang.


" Saya sarankan agar Bapak sekeluarga menjaga sholat lima waktu. Sholat itu bukan untuk diri saya, tapi untuk kebaikan Bapak dan keluarga. Sholat itu untuk diri masing-masing. Yang akan merasakan hikmah nya itu diri kita sendiri dan jika meninggalkan sholatpun yang akan rugi juga diri sendiri bukan orang lain. " ucap Ustadz Sahir.


" Baik Ustadz. " kata Pak Bahari di ikuti anggukan yang lain.


" Saya mengingatkan pak, bukan memaksakan. Masalah Bapak dan ibu mau mendengarkan Ya Alhamdulillah, jika tidak pun tak jadi masalah untuk saya pribadi. Jangan sampai nanti Bapak sama Ibu sholat karena di perintah sama saya. Jadi nya sesat kan..bukan Lillahita'ala. " Ujar Ustadz lalu meneguk kopi nya.


" Jadi kan sholat sebagai kebutuhan. Seperti kita butuh makan setiap hari, dari kebutuhan menjadi kebiasaan. Lama-lama kita akan merasakan rindu mendengar adzan dan ingin segera berkomunikasi dengan Sang Khalik. Memuji kekuasaan-Nya dan Keesaan-Nya serta bersyukur atas segala nikmat-Nya." lanjut Ustadz Sahir.


" Insya Allah kami akan menjaga sholat kami, sesuai dengan ucapan Ustadz karena Allah ta'ala." ujar Bu Ratna.


" Untuk Kirana ada tambahan. Ada tugas lebih nih dari Ustadz. Anggap saja ini adalah PR sekolah.." Ustadz tersenyum.

__ADS_1


" Apa itu Ustadz ? " tanya Kirana.


" Kamu harus berdzikir setiap malam, lebih bagus lagi setelah tahajud. Ini harus di lakukan oleh Kirana sendiri. Yang bisa mengobati diri sendiri ya kita sendiri. Ustadz hanya membantu semampu dan sebisanya saja. " tutur Ustadz Sahir.


" Baik Ustadz. Bacaan apa yang harus saya baca saat berdzikir? " tanya Kirana.


" Pintar Kirana. Pertanyaan yang bagus." Ustadz kembali menyunggingkan senyum sambil mengacungkan jempol.


" Baca saja Istigfar..Astaghfirullah haladzim..terus menerus. " kata Ustad Sahir kembali.


" Hanya itu? " Kirana heran.


Sementara yang lain hanya mendengarkan percakapan mereka sembari menikmati hidangan.


" Yap..hanya itu. Tapi..baca nya dengan hati jangan dengan lisan agar Kirana bisa fokus. Kirana juga harus berkonsentrasi saat berdzikir. Kosongkan fikiran dari hal apapun, khusuk..fokus.." kata Ustadz Sahir.


Kirana mengangguk tanda mengerti.


" Berapa lama Kirana berdzikir ? " tanya Kirana lagi.


" Sekuat Kirana saja. Nanti kan Kirana pakai tasbih..Kirana kuat nya sampai berapa tuh..kalau udah di rasa lelah ya berhenti aja istirahat. Awal-awal pasti pegel karena gak terbiasa. Tapi lama kelamaan akan bertambah tuh level nya..dari cuma seratus kali jadi seribu dan seterusnya." Ustadz Sahir memang pandai , cara bicara beliau dengan anak muda akan berbeda dengan saat beliau bicara pada orang tua atau seumuran nya.


Semua itu membuat orang yang di ajak bicara dan di beri nasihat mudah mengerti dan menerima semua nasihat nya.


" Baik Ustadz. " kata Kirana.


" Dan ingat..baca nya itu di hayati jangan cuma di ucapkan tapi di hayati kata perkata nya sehingga akan terasa makna nya dan hikmah nya. " kata Ustadz Sahir.


Kirana pun menganggukan lagi kepalanya. Rasa nya begitu tenang mendengar semua perkataan Ustadz tersebut.


Ustadz Sahir memang sengaja memberi tugas lebih pada Kirana. Mengingat anak itulah yang menjadi incaran para makhluk halus. Kirana sendiri yang bisa membuat benteng pertahanan pada tubuh nya. Benteng yang terbuat dari ayat-ayat Tuhan yang akan terus di lafadzkan di hati nya nanti saat berdzikir.


Kalimat ' Astaghfirullahaladzim ' yang berarti memohon ampunan pada Allah SWT. Insya Allah akan membersihkan semua makhluk yang berada di dalam tubuh Kirana. Menurut Ustadz Sahir , kalimat itu dasar dari pada ruqiyah atau bisa di bilang ruqiyah sederhana pada diri sendiri.


Dengan memohon ampunan dan perlindungan kepada Allah SWT, niscaya Kirana akan melunturkan semua aura negatif yang ada pada diri nya.

__ADS_1


Sekitar pukul sebelas malam. Ustadz Sahir pun pamit. Beliau akan menginap di rumah yang dulu pernah ia tinggali. Rumah itu milik salah satu pegawai Desa Jatiasih yang juga masih santri beliau. Nama nya Pak Hamid, dulu beliau lah yang meminta Ustadz tersebut untuk tinggal di sana.


Novi dan Fathir pun pamit pulang. Pak Bahari dan keluarga sangat berterimakasih pada Ustadz Sahir. Pak Bahari memberi sebuah amplop berisi uang yang banyak pada Ustadz tersebut, namun Ustadz Sahir menolak dengan halus. Beliau hanya menerima oleh-oleh makanan khas desa Jatiasih pemberian dari mereka, untuk uang beliau tidak mau menerima nya. Dengan alasan ikhlas karena Allah SWT untuk menolong sesama. Untuk makanan bisa ia jadikan oleh-oleh nantinya untuk keluarga nya di rumah serta di bagikan pada santri dan santriwati nya di pesantren.


__ADS_2