
Ustadz Sahir tiba di kediaman Pak Bahari. Beliau datang bersama kedua santri dan satu sopir nya.
Pak Bahari dan keluarga menyambut kedatangan mereka. Ustadz Sahir terlihat sangat berwibawa, kelemah lembutan serta aura yang terpancar dari wajah beliau begitu menyejukan hati bagi siapa saja yang melihat nya.
Pak Bahari mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang utama. Sementara Kirana masih berada di kamar nya dengan di temani Bi Sari.
Tak lama kemudian Bu Ratna mengajak Kirana ke ruang tamu, dan Bi Sari ke dapur membawa makanan serta minuman untuk para tamu.
" Ini Kirana Ustadz. " ucap Bu Ratna.
Ustadz Sahir tersenyum ramah pada Kirana. Gadis itu duduk di antara kedua orang tua nya. Sementara Ustadz Sahir dan dua santri nya duduk di bersebrangan dengan mereka.
" Mohon maaf sebelum nya. Bolehkah saya menanyakan sesuatu? " Ustad Sahir membuka percakapan.
" Tentu saja Ustadz. " ucap Pak Bahari.
" Apakah rumah ini pernah di adzani ? " pertanyaan Ustadz Sahir membuat Pak Bahari tertampar dan sadar akan kelalaian nya.
Pak Bahari menatap ke arah Mang Nur yang juga berada di sana. Mang Nur menggelengkan kepala memberi kode pada majikan nya. Ustadz Sahir menangkap bahasa tubuh mereka berdua. Beliau tersenyum ramah.
" Jika belum pernah, izinkan kedua santri saya mengumandangkan adzan di setiap ruangan rumah ini. Jika Bapak berkenan. " ucap Ustadz Sahir .
__ADS_1
" Iya saya izinkan..silahkan..! Mang Nur tolong antar para santri ini masuk ke dalam. " Ucap Pak Bahari.
Mang Nur pun segera mengantar kedua santri tersebut masuk ke dalam ruangan lain di rumah itu. Masing-masing santri adzan di ruangan yang berbeda, mereka berbagi tugas.
Saat hendak mengumandangkan adzan, salah satu santri merasa ada yang sedang mengintai nya. Namun ia tak memperdulikan, ia segera mengumandangkan adzan di satu pojokan kamar Kirana.
Suara jeritan, rintihan serta tangisan mengiringi setiap lantunan adzan santri-santri itu. Begitu jelas terdengar di telinga mereka. Setelah selesai mereka kembali ke ruang tamu.
Salah satu santri bernama Imam berbisik kepada Ustadz Sahir tentang apa yang mereka rasakan tadi saat mengumandangkan adzan.
Ustadz Sahir menanggapi nya dengan tenang. Beliau mengulas senyum .
" Pak Bahari..mohon maaf jika saya lancang. Apakah di rumah ini ada yang rutin melaksanakan shalat dan membaca ayat suci ? " Ucap Ustadz Sahir hati-hati.
Tak ada jawaban dari mereka berdua, sang Ustadz memahami arti diam nya sepasang suami istri tersebut.
" Rumah itu adalah surga bagi pemilik nya, dikatakan seperti itu jika kita mendapat ketenangan lahir juga batin saat berada di rumah. Tapi jika sebaliknya, maka ada yang harus di perbaiki. Salah satu yang bisa menciptakan ketenangan yaitu dengan beribadah. " tutur Ustadz Sahir.
Bi Sari yang berada di sana teringat pada Yanuar. Sepengetahuan nya hanya Yanuar yang pernah beribadah di rumah itu. Tapi sekarang Yanuar tidak ada di sana.
" Sholat menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar. Secara batiniah sholat bisa menumbuhkan ketenangan pada jiwa kita, dan senantiasa menjauhkan dari gangguan makhluk halus. Malaikat rahmat dengan senang hati akan datang ke rumah yang penghuni nya rajin beribadah serta rajin membaca ayat suci. " lanjut Ustadz Sahir.
__ADS_1
Bu Rarna menitikan air mata saat Ustadz Sahir memberikan pencerahan, hati nya tersentuh dengan setiap penuturan yang di lontarkan Ustadz tersebut. Begitupun yang lain nya Pak Bahari, Mang Nur, Bi Sari serta Kirana. Selama ini mereka telah jauh dari Sang Khalik.
" Saya mengakui selama ini saya dan keluarga memang jauh dari agama. Tetapi kami juga tidak percaya akan hal berbau mistis, sebelum kejadian demi kejadian terjadi kami tidak percaya adanya makhluk gaib. " ujar Pak Bahari.
Ustadz Sahir tersenyum. Ia menghela nafas pelan.
" Sebagai makhluk Tuhan kita harus percaya akan adanya hal gaib. Itu salah satu tanda keimanan manusia. Gaib itu salah satu sifat Tuhan, tapi dengan percaya pada hal gaib bukan berarti kita percaya bahwa ada kekuatan gaib yang melebihi dari kekuasaan Allah. Itu yang tidak boleh. Kita mengimani adanya Tuhan, malaikat, surga serta neraka serta ciptaan Tuhan yang lainnya yang tak bisa kita lihat dengan lahiriyah itulah yang saya maksud percaya pada hal gaib. " Kata Ustadz Sahir.
Pak Bahari dan keluarga nya mulai memahami . Selama ini mereka sudah salah kaprah. Jangankan menjalankan perintah-Nya, mengimani pun belum.
" Nanti malam, kita akan melakukan ruqyah secara berjama'ah. " tutur Ustadz Sahir.
" Berjama'ah ? Bukan kah Kirana yang akan di ruqiyah ? " tanya Pak Bahari heran.
" Tidak hanya Kirana. Kita juga harus melakukan ruqiyah. Ada beberapa orang yang tidak tau jika diri nya sudah di kuasai makhluk gaib, Kirana itu sudah jelas kita semua tau dia di ganggu makhluk gaib sedangkan kita yang ada di sini belum tentu tidak mengalami hal yang sama. Jika dalam ilmu medis boleh di bilang gejala yang di timbulkan berbeda-beda tergantung seberapa kuat jiwa kita menghadapi gangguan itu dan seberapa besar gangguan itu masuk ke setiap sel tubuh kita. " kata Ustadz Sahir menerangkan.
" Saya sendiri pun tak menutup kemungkinan mendapat gangguan dari makhluk gaib. Saya juga manusia biasa yang tak lepas dari salah dan dosa. " lanjut Ustadz Sahir.
Pak Bahri dan yang lainnya terkagum melihat sosok Ustadz yang penuh kerendahan hati. Penuturan yang lembut dan halus sehingga perkataannya mudah di pahami oleh mereka yang masih awam ilmu agama nya. Itu lah keistimewaan Ustadz tersebut.
Beliau tak pernah menyimpan rasa benci saat melihat orang yang sedang jauh dari Tuhan. Beliau mengajak dan mengingatkan mereka dengan cara yang benar. Tanpa menyakiti atau menyinggung hati orang-orang yang sedang khilaf.
__ADS_1
Suara adzan maghrib pun berkumandang. Mereka akan melakukan shalat berjama'ah di rumah Pak Bahari. Dua santri membantu Pak Bahari dan Mang Nur berwudhu. Mereka rupanya sudah lupa cara berwudhu. Sementara Bi Sari dan Bu Ratna berwudhu bersama Kirana. Kirana tentu nya masih hafal tata cara berwudhu karena di sekolah masih di ajarkan.
Ustadz Sahir sebagai imam dan yang lainnya sebagai makmum. Mereka melaksanakan shalat dengan khusuk. Hati mereka merasa tenang setelah mengambil wudhu dan menjalankan sholat.