KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)

KIRANA (PERJALANAN SUPERNATURAL)
APA YANG MEREKA INGINKAN ?


__ADS_3

" Minggu depan ada acara kemah di sekolah kita. Kamu mau ikut? " Tanya Maya pada Kirana.


" Aku mau ikut, tapi harus minta izin dulu ke ortu. " Jawab Kirana.


" Semoga orang tua kamu ngizinin, iya kan Nov ? " Ucap Maya.


" Aku sendiri aja gak tau ikut apa enggak. Habisnya taun kemarin saja hampir kesurupan. " Tutur Novi cemberut.


" Benarkah ? " Kirana membulatkan mata nya.


Novi hanya manggut-manggut dengan mulut masih di kerucutkan.


" Memangnya nanti di mana lokasi perkemahan nya? " Tanya Kirana.


" Di perbatasan kampung kita sama kampung sebelah. Dekat perkebunan karet milik Almarhum Ki Demang. " Tutur Maya.


" Milik kakek Kirana dong. " Ucap Novi.


Maya baru sadar kalau Kirana itu memang cucu Ki Demang. Orang terpandang di kampung itu. Walaupun Maya sendiri tidak tau wajah Ki Demang namun nama itu sering ia dengar sedari kecil.


Sepulang sekolah.


Kirana buru-buru menemui Ibu nya yang tengah merawat bunga hias di halaman belakang bersama Bi Sari.


" Ibu..Kirana mau ikut perkemahan sekolah minggu depan nanti. " Pinta Kirana.


Bu Ratna menoleh ke arah Bi Sari. Lalu kembali menatap Kirana.


" Nanti kita tanya Ayah mu dulu. " Ujar Bu Ratna.


Kirana membuang nafas kasar. Lalu ia segera masuk ke rumah menuju kamarnya.


BRUUKKK


Ia lempar tas kesembarang tempat. Lalu menghempaskan tubuh nya di atas ranjang. Tanpa mengganti seragam nya terlebih dahulu.


Tatapan nya lurus ke arah langit-langit kamar. Lamunan nya mulai kosong. Tiba-tiba dia tersentak saat mendengar suara kursi goyang di luar kamar. Tepatnya di ruang tengah dekat pintu masuk ke kamar nya.

__ADS_1


Kirana bangun, ia beranjak menuju pintu.


CEKLEK


Dia membuka pintu pelan-pelan. Saat pintu itu terbuka sedikit, matanya langsung di suguhkan dengan pemandangan yang sangat mengerikan.


Seseorang tengah duduk di kursi goyang itu. Wajah nya mengelupas , kulitnya begitu rekat dengan tulang, seperti tanpa daging. Saat sosok itu mulai menoleh ke arah nya. Kirana segera membanting pintu dan lari ke ranjang.


Nafas nya terengah-engah, jantung nya berdegup kencang, tubuh nya gemetaran. Siang bolong begini makhluk itu berani sekali muncul fikir Kirana.


TOK TOK TOK


Suara seseorang mengetuk pintu kamar. Kirana terhenyak, dia tak berani membuka pintu. Dia takut sosok tadi yang berada di balik pintu.


" Si-siapa ?" Teriak nya.


" Ini Ayah. " Jawaban dari luar.


Kirana menarik lalu membuang nafas. Ia segera membuka pintu. Namun tak seorang pun ada di sana.


Dia pun tak melihat Ayah nya di sana. Kirana segera berlari menuju kamar Bagas.


" Kakak..kak Bagas.." Kirana memukul pintu kamar Bagas.


" Masuk.." Ujar Bagas.


Kirana lantas masuk ke kamar Bagas, rupanya Kakak nya itu sedang sibuk dengan tugas kuliah nya yang numpuk karena banyak tertinggal setelah kecelakaan kemarin.


Namun Kirana mengurungkan niat untuk masuk ke kamar Bagas. Saat dia berada di ambang pintu, dia melihat Malika di ranjang Bagas. Sementara Kakak nya berada di meja belajar.


Malika yang terlihat mengerikan dengan tetesan darah yang terus mengucur sampai membanjiri sprei serta ranjang Bagas.


Kirana menggeleng-gelengkan kepala nya, ia kembali menutup pintu dengan wajah ketakutan. Bagas heran melihat adiknya yang tak jadi masuk ke kamar.


Saat akan berbalik Kirana di kejutkan oleh Yanuar yang tiba-tiba ada di belakang nya.


" Ya Tuhan.." Kirana terkejut.

__ADS_1


" Kamu kenapa?" tanya Yanuar heran.


" Ti-tidak apa-apa. " jawab Kirana yang segera mengambil langkah melewati ruang makan dan dapur, ia menuju halaman belakang untuk menemui Ibu nya.


" Ibu. " Wajah Kirana terlihat pucat.


" Ada apa dengan mu? Pucat sekali, kamu sakit? " Bu Ratna menghampiri Kirana sambil menempelkan telapak tangan di kening putri nya.


" Tadi Kirana melihat sosok menyeramkan di kursi goyang, terus Kirana juga mendengar suara Ayah memanggil Kirana sambil mengetuk pintu kamar. Kirana juga melihat Malika di kamar Kak Bagas. " Lirih Kirana.


" Ayah sedang ke perkebunan bersama Mang Nur . Mana mungkin memanggil kamu. " Bu Ratna mengetahui kecemasan anaknya.


Ia segera merangkul pundak Kirana dan mengajak nya masuk ke dalam rumah.


Sementara Bi Sari yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua hanya terdiam mematung di antara tanaman hias.


Bi Sari khawatir majikan nya mengalami kejadian seperti kemarin-kemarin.


Bu Ratna mengambil segelas air putih dan menyodorkan nya pada Kirana. Mereka duduk di meja makan. Kirana nampak lemas, dia meneguk segelas air yang di berikan Ibu nya dengan tatapan masih kosong dan lamunan nya mengingat kejadian barusan.


Yanuar masuk ke ruang makan melihat Bu Ratna dan Kirana sedang berada di sana.


" Maaf Tante kalau boleh tau apa yang terjadi? " Tanya Yanuar.


" Kirana melihat makhluk gaib lagi barusan. Tante kira semua sudah kembali normal. " Jawab Bu Ratna nampak putus asa.


Sementara Kirana masih terdiam, dia tidak menggubris perkataan Yanuar bahkan sedikitpun dia tidak mood untuk bicara. Kirana pun berfikir kalau kehidupannya akan kembali normal seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak.


" Apa tante punya solusi untuk memecahkan masalah ini? Kasihan Kirana. " Ucap Yanuar sambil duduk di kursi bergabung dengan mereka.


" Entahlah..tante harus bicara sama Om. " Kata Bu Ratna sambil mengelus rambut Kirana yang masih tak bergeming.


Yanuar dan Bu Ratna masing-masing memikirkan ide, mencari solusi untuk kesembuhan Kirana.


Bu Ratna tak habis fikir, kenapa makhluk itu terus mengganggu Kirana. Padahal dia sendiri pun pernah melihat hal gaib akhir-akhir ini, tapi tidak berkelanjutan seperti Kirana.


Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari Kirana. Bu Ratna terus memutar otak memikirkan semua itu, sama persis dengan yang Kirana fikirkan ini.

__ADS_1


__ADS_2