
Alzam hanya menatap lalu menundukkan kepalanya kembali tanpa membalas ucapan Azkia. Melihat itu Azkia ingin sekali melempar sepatunya di wajah Alzam saat ini. Jika saja tidak mengingat pesan Kenzo untuk menjaganya.
“Lelaki aneh!,” Umpat Azkia dalam hati.
Sepanjang mata kuliah berlangsung, jika orang-orang dalam ruangan itu saling mendiskusikan materi mereka, berbeda dengan Alzam dan Azkia yang begitu. Mereka sama sekali tidak melakukan hal itu, Azkia sedikit mengangkat kepalanya melirik Alzam yang sedang menunduk mengerjakan materi yang di kerjakan.
“ Alzam apa kamu sudah selesai?,” Tanya Azkia.
Alzam lagi-lagi tak menyahut pertanyaan Azkia. Pria itu malah membuang buku ke arah Azkia untung saja wanita itu sigap menangkap buku yang Alzam lempar ke arahnya.
“Yah! Bisakah kau tidak melempar seperti itu!,” Ucap Azkia.
Azkia mengembuskan nafasnya dengan kasar. Jika saja membunuh itu tidak berdosa, rasanya Azkia ingin mencekik leher Alzam saat ini. Saat membuka buku yang Alzam berikan, betapa terkejutnya wanita itu melihat materi yang sudah Alzam tulis dengan cepat apalagi bukan hanya materinya saja yang Alzam kerjakan tetapi dengan materi Azkia juga aduh ia tulis.
“Wow ! Kau hebat !,” Puji Azkia.
Keheningan terjadi saat semua serius, Azkia berjalan ke arah Alzam ingin bertanya sesuatu. Pria itu sedang asik dengan bukunya tidak mengetahui bahwa Azkia mendekat ke arahnya. Saat Azkia sudah berada di samping Alzam, wanita itu mencium parfum Alzam begitu harum.
“ Wangi tubuh mu wangi sekali!,” Reflek Azkia mengatakan hal itu. Alzam spontan kaget melirik ke arah Azkia. Entah mengapa rahang Alzam mengeras lalu berdiri memukul meja begitu keras menatap Azkia.
Brak....
Azkia sangat kaget dengan sikap Alzam. Ada apa dengan pria ini?, Apa aku melakukan hal yang salah?, Pikir Azkia.
Semua yang berada dalam ruangan itu begitu kaget, semua berbalik menatap Azkia dan Alzam begitu pula dosen yang mengajar di kelas mereka. Alzam yang mulai tersadar saat dirinya di tatap seperti itu. Lelaki itu langsung segera pergi keluar dari kelas. Sementara Azkia masih terpaku diam teka mengucapkan kalimat apapun.
“Azkia ada apa?” Tanya Rizkia.
“Ah..! Em-..! Alzam sedang tidak sehat, maaf membuat semuanya terganggu!,” Ucap Azkia.
Azki menoleh ke arah pintu keluar, tak melihat Alzam di sana. Ada rasa khawatir yang mengganggu di hati Azkia. Wanita itu meminta izin keluar untuk mencari Alzam.
🍂🍂🍂🍂
Dalam toilet Alzam menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengingat kembali perkataan Azkia, membuatnya marah. Apa wanita itu sedang menghinanya saat ini?, Pikir Alzam.
Memori masa kecil Alzam teringat kembali. Alzam menutup kedua telinganya saat suara-suara aneh itu mulai menghantuinya lagi.
“Alzam bau..!”
“ Jangan mendekat dengan orang bau seperti dirinya!,”
“Dasar pembunuh!”
“Bau busuk dari tubuhnya karena dia seorang pembunuh!,”
“Pergi! Pergi Kalian semua! Aku bukan pembunuh! Aku tidak membunuh siapa pun!, Pergi!,” Pekik Alzam menutup kedua telinganya. Lelaki itu terduduk di toilet melipat kedua kakinya.
Azkia yang sejak tadi mencari Alzam akhirnya menemukan lelaki itu berada dalam toilet. Sebelum masuk ia mengecek keadaan. Azkia melihat sepi segera masuk ke dalam toilet pria, di sana Azkia melihat Alzam sudah memeluk kedua lututnya menenggelamkan wajahnya.
“Alzam!,” Panggil Azkia lembut.
Alzam mengangkat wajahnya, walau tertutup oleh masker, Azkia dapat melihat mata sembab pria itu. Baru saja Azkia ingin mendekat ke arah Alzam lelaki itu menyebut nama Kenzo.
“Panggil Kenzo tolong!,” Lirih Alzam.
__ADS_1
Azkia tanpa pikir panjang segera berlari meninggalkan Alzam menuju ke kelas Kenzo yang berada di lantai atas. Saat di tengah perjalanan ternyata ia menemukan Kenzo yang sedang membawa beberapa berkas di tangannya.
“Kak Kenzo!,” Panggil Azkia.
Kenzo berbalik saat namanya di sebut. Azkia mengatur nafasnya lalu menjelaskan kepada Kenzo tentang kondisi Alzam saat ini. Mendengar itu Kenzo segera berlari meninggalkan Azkia.
Saat tiba di toilet Kenzo melihat Alzam sudah begitu berantakan. Kenzo mendekat lalu memeluk sepupunya itu dengan begitu erat. Azkia sejak tadi mengekor di belakang Kenzo melihat Alzam yang begitu rapuh dengan kedua matanya sendiri.
Sebenarnya apa yang terjadi dengannya,? Bukankah tadi sikap nya sangat menyebalkan,? Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini?, Pikir Azkia dalam hati.
“ Ayo pulang! Aku akan mengantar mu !,” Ujar Kenzo memampang tubuh Alzam.
Untung saja keadaan masih sepi karena beberapa mahasiswa masih berada dalam ruangan. Azkia terpaku diam membantu Kenzo memasukkan Alzam dalam mobil. Sejak tadi Alzam hanya terdiam, tatapannya begitu kosong.
“Sebenarnya apa yang terjadi?,” Batin Azkia.
“Azkia!,” Panggil Kenzo.
“Iya kak!,” Sahut Azkia.
“Mohon kejadian ini jangan sampai di tau oleh siapa pun!,” Ujar Kenzo.
“Siap kak aku tidak akan memberitahukan siapa pun!,” Sahut Azkia.
“Aku memercayai mu! Aku pergi dulu, buat alasan Alzam sedang sakit !,” Ujar Kenzo lalu segera masuk ke dalam mobil.
Azkia menatap pergi mobil Kenzo yang sudah menghilang dari pandangannya. Banyak sekali pertanyaan dalam benak wanita itu. Tapi dirinya masih sungkan jika harus bertanya kepada Kenzo, tentang Alzam.
“Apa dia...!” Gumam Azkia.
Azkia segera kembali menuju kelas lalu berbicara kepada dosen tentang kondisi Alzam yang tiba-tiba sakit. Setelahnya wanita itu pergi menuju bangkuny, berdekatan dengan Rizkia, tidak mungkin wanita itu duduk sendiri di pojokan setelah Alzam meninggalnya begitu saja.
"Sakit!" Sahut Azkia singkat.
"Sakit! Yakin Lo enggak bohong?," Tanya Rizkia menatap Azkia bingung, perasaan sebelumnya Alzam baik-baik saja.
" Iya Rizkia! Udah deh perhatikan dosen kembali! " Ujar Azkia.
Jam mata kuliah aduh selesai, Azkia dan Rizkia menuju kantin merebahkan otak mereka di sana. Apalagi Rizkia, wanita itu segera memesan minuman dingin untuk mereka.
Azkia yang baru saja menyandarkan kepalanya di atas meja. Kedatangan Rizkia berserta minuman dinginnya membuat Maya Azkia berbinar dengan sempurna.
" Nih buat Lo! Refresh kan otak tuh penting!," Ujar Rizkia.
"Thanks! Kamu tau banget aku lagi butuh yang dingin!," Ucap Azkia, segera menyeruput minumannya begitu nikmat.
Saat sedang menikmati minuman, kedua wanita itu mendegar bicara para gadis yang berada di belakang mereka. Sejak tadi mereka membicarakan tentang Kenzo dan sepupu yang katanya sangat misteri itu.
Sebenarnya itu bukan kali pertama Azkia mendengarnya, sejak masuk kampus wanita itu sudah mendengar rumor tentang sepupu Kenzo yang tak di ketahui bagaimana bentuk dan rupanya, makanya saat Kenzo memperkenalkan Alzam sebagai sepupunya Azkia begitu kaget hanya saja ia tak ingin terlalu nampak apalagi ketahuan oleh Kenzo.
" Gua penasaran deh dengan sepupu Kenzo itu?," Ujar Rizkia.
"Hmm! Kenapa Lo ikut penasaran?," Tanya Azkia.
" Sini gua jelasin, perusahaan papa gua tuh bekerja sama dengan perusahaan milik paman dari Kenzo! Lo tau Setiap kali acara perusahaan, anak dari tuan Abraham atau paman Kenzo itu tidak pernah membawa anaknya!, Gua hanya lihat Kenzo yang selalu bersama pamannya itu!," Jelas Azkia.
__ADS_1
"Jadi kamu kenal kak Kenzo?," Tanya Azkia kembali.
" Kenal lah, kamu sering bertemu di setiap acara perusahaan! Hanya gua gak pernah tegur, dingin banget kaya es kutub!," Ujar Rizkia sambil membayangkan wajah Kenzo membuatnya merinding ngeri.
"Emang, kamu sama sekali gak tau wajah sepupu Kenzo tuh kaya gimana?," Tanya Azkia kembali.
" Bukan hanya gua, keluarga besar Abraham gak pernah melihat sepupu Kenzo itu! Namanya pun tak ada yang tau,! Tapi gua pernah sekilas dengar ceritanya bahwa sepupu Kenzo itu sebenarnya kelainan!," Ujar Rizkia sedikit memelankan suaranya.
" Kalainan! Maksudnya kamu ?," Tanya Azkia makin penasaran. Rizkia mendekatkan wajahnya ke telinga Azkia.
" Rumor yang beredar yang gua dapat, katanya tuh Sepupu Kenzo mengidap suatu penyakit! Makanya selama ini selalu di sembunyikan oleh ayahnya!," Jelas Rizkia.
"Penyakit! Apa jangan-jangan!" Seru Azkia dalam hati. Azkia mengingat kembali saat melihat Alzam seperti tadi, penyakit sebenarnya apa yang sedang Alzam alami?, Otak Azkia terus berpikir, hingga tak sadar dengan Rizkia yang sejak tadi mengajaknya bicara.
"Azkia...! Hello, Azkia!," Panggil Rizkia.
"Ah..! iya!.." sahut Azkia.
" Lo baik-baik saja?," tanya Rizkia.
" Iya aku baik-baik saja, em..! Trus apa kak Kenzo tau tentang sepupunya itu?" Tanya Azkia.
" Enggak tau! Gua gak pernah tanya dan anak-anak di sini juga gak ada yang berani menanyakan hal itu kepada Kenzo!," Jelas Rizkia.
" Oh gitu yah!," Sahut Azkia.
"Btw, sebentar gua pulang agak cepat yah! Bokap gua ngajak jalan jadi gua harus cepat pulang!," Ucap Rizkia.
"Iya enggak apa!" Sahut Azkia.
✨✨✨✨✨
Alzam masih tertidur pulas di atas ranjangnya, demam tinggi tiba-tiba saja menyerang Lelaki itu. Abraham begitu panik, menelfon dokter pribadi mereka untuk mengecek kondisi Alzam.
Kenzo tidak henti mengompres kening Alzam menggunakan air dingin. Sejak tadi Lelaki itu gak kunjung sadar dari pingsannya. Kenzo mengingat kembali cerita Azkia, lelaki itu tak menyalahkan Azkia yang tidak tau apa-apa tentang kondisi Alzam.
Hanya saja Kenzo menyalahkan dirinya sejak tadi karena tak becus menjaga Alzam hingga seperti ini. Tak lama kemudian dokter pribadi keluarga Abraham datang, segera memeriksa Alzam.
"Bagaimana dengan Alzam?, Dia baik-baik saja bukan?," Tanya Abraham kahwatir.
"Dia baik-baik saja! Mungkin rasa syok dan traumanya membuat keadaannya seperti ini! Saya akan memberikan obat setelah dia sadar sebaiknya Alzam segera di bawa ke psikiater! Aku hanya takut traumanya kembali seperti dulu!," Jelas dokter pribadi keluarga Abraham.
Abraham dan Kenzo menatap Alzam dengan wajah sendunya. Apa seberat itu kehidupan yang di lalui nya, sampai kapan semua ini akan berkahir.
" Aku berharap seseorang bisa mengubah mu Alzam! Mengubah kehidupan mu !" Batin Kenzo.
Bersambung..
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
__ADS_1
🎟️ Vote
☕🥀 Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini