
Perkuliahan berjalan seperti biasanya Azkia fokus menatap penjelasan dosen sejak tadi, namun berbeda satu lelaki dalam ruangan itu. Entah mengapa ia selalu tersenyum dibalik maskernya menatap punggung Azkia.
Untung saja lelaki itu menutup wajahnya kalau tidak mungkin wanita yang berada dalam ruangan itu meleleh melihat senyumannya yang begitu mempesona.
Sejak awal mata kuliah di mulai Alzam sama sekali tidak fokus memerhatikan dosen yang menerangkan. Lelaki itu hanya fokus menatap punggung Azkia, wanita yang sudah berhasil membuat Alzam tersenyum lebar hari ini.
“Terimakasih!,” Gumam Alzam.
Setelah jam kuliah telah usai, Alzam segera berjalan keluar ruangan saat Kenzo sudah menunggunya seperti biasa di depan pintu ruangan. Alzam keluar dengan jalan begitu santai meninggalkan Kenzo tanpa melihat atau memandang sepupunya itu seperti biasa.
Kenzo yang merasa tidak aneh dengan sikap Alzam, ia tetap berjalan mengikuti langkah Alzam dari belakang. Sesampainya di parkiran mereka segera naik ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Kenzo melirik ke arah sepupunya yang tersenyum begitu lebar sambil menutup kedua matanya. Rasa penasaran Kenzo menyelimuti dirinya, ada kejadian apa sampai Alzam bisa tersenyum seperti ini.
“ Tumben senyum? Uang jajan kamu ditambahi sama paman yah?,” Tebak Kenzo.
Mendengar pertanyaan Kenzo, Alzam berbalik menatap Kenzo. Lelaki itu menyempitkan matanya sambil tersenyum lebar, Kenzo melihatnya sedikit merinding dengan sikap Alzam yang tak pernah ia lihat selama sepuluh tahun itu.
“Kau membuatku merinding! Singkirkan senyum seperti itu dari wajahmu!,” Ujar Kenzo, tapi tak membuat Alzam memudarkan senyumannya itu.
Alzam malah meraih sesuatu di dalam tasnya, Kenzo yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya sambil melirik sekilas ke arah sepupunya.
“Perhatikan jalanan, aku tak ingin mati sebelum mendapatkan gelar sarjana ku!,” Ucap Alzam yang masih mencari sesuatu di dalam tasnya.
“Kamu ngapain sih! Sikap mu hari ini sedikit aneh! Kau membuatku merinding!,” Balas Kenzo yang masih fokus menyetir.
“Tara!,” Ujar Alzam begitu semangat menunjuk sebuah kado berwarna biru dengan corak buah yang menghiasi kotak kado yang terbungkus begitu rapi.
“Hadiah? Dari siapa? Kamu udah punya fans yah?,” Tanya Kenzo.
“ Cih, bukan! Ini hadiah dari Azkia, dia mengucapkan rasa terimakasih padaku! Terimakasih juga kau sudah memberitahukan padanya!,” Ucap Alzam begitu semangat.
Entah mengapa Kenzo merasa hari ini Alzam benar-benar sangat berbeda, sikapnya seratus delapan puluh derajat berubah. Biasanya Alzam hanya tertidur dalam mobil tanpa berbicara satu kata pun apalagi tersenyum seperti tadi, itu bukan karakter Alzam yang Kenzo kenal selama ini.
__ADS_1
“ Sama-sama! Coba buka dia memberikan mu apa sampai harus di bungkus seperti itu!,” Pinta Kenzo dengan rasa penasarannya yang begitu tinggi.
Alzam segera membuka hadiah pemberian Azkia dengan semangat, saat hadiahnya terlihat jelas, Alzam membulatkan matanya. Buku yang baru rencana ia beli sekarang sudah berada ditangannya saat ini.
Edisinya memang begitu terbatas. Apalagi ditambah Azkia yang memberikannya, sudah fiks banget rasa bahagia Alzam semakin besar.
“ Buku komik! Apa dia tau kau menyukai komik?,” Tanya Kenzo.
“ Kami pernah bertemu saat di toko buku! Kau ingat, aku sedikit bercerita tentang kepadanya!,” Jelas Alzam.
Rasa bahagia bercampur aduk dengan begitu lembut di hati Alzam, entah perasaan yang tak pernah ia rasakan. Apa ini rasanya bahagia sesungguhnya?. Senyumannya tak pernah lepas dari sudut bibirnya saat ini.
“ Sepertinya kau sangat menyukainya, sejak tadi kau tersenyum menatap buku pemberian Azkia!,” Ujar Kenzo menggoda sepupunya itu.
“ Aku menyukai komik jadi menurutku ini hadiah yang lumayan bagus!,” Ujar Alzam santai walau sebenarnya dalam hatinya bermekaran bunga-bunga yang entah itu apa.
“ Apa karena kau menyukai hadiahnya atau orang yang memberikan hadiah nya?” Tanya Kenzo tersenyum ejek ke arah Alzam.
Kenzo tersenyum menang saya berhasil menggoda sepupunya, dia sangat tau tanpa Alzam sadari rasanya kepada Azkia sudah mulai berkembang dengan baik.
“ Semoga hari-hari mu ke depannya akan lebih baik lagi Alzam!,’ batin Kenzo melirik ke arah sepupunya yang sudah menutup kedua matanya sambil menyilang kan tangannya di atas dada.
Ditempat lain di Sebuah kos yang begitu sederhana Azkia malah selalu bersin saat sedang asik menonton film kesukaan sejuta umat kaum hawa dari negara ginseng itu.
Tidak henti Azkia selalu bersin, entah apa yang terjadi tapi sedikit membuat Azkia kesal dengan hal itu.
“Ah sial! Apa ada orang yang menceritakan aku! Sejak tadi hidungku selalu bersin!,” Ujar Azkia. Wanita itu sedikit memercayai mitos yang katanya saat bersin tiba-tiba berarti ada seseorang yang sedang membicarakan tentang dirinya.
“ Semoga hal yang baik!” Ucap Azkia lalu kembali fokus menonton drakor kesukaan nya.
“ OMG! Oppa kamu ganteng banget! Ya Allah sisakan satu untukku! Kalau gak ada gak apa-apa tapi bolehkan sisa kan satu aja untukku!” Begitu histeris Azkia saat melihat adegan aktor favoritnya sedang berlaga romantis dengan lawan mainnya.
🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Embusan angin malam yang begitu tenang, udara sejuk menyelimuti kota saat ini. Tapi tak membuat Alzam getar sejak tadi lelaki itu menikmati setiap embusan angin yang menerpa permukaan kulitnya.
Rambut halus yang sejak tadi ikut bermain dengan anak angin menambah kesan Alzam begitu terlihat seksi dan sangat mempesona.
Alzam menatap buku yang sejak tadi ia pegang di tangannya, senyum yang sejak siang tadi tak pernah pudar dari raut wajahnya.
Abraham dan para pelayan di rumahnya sedikit khawatir melihat sikap Alzam yang berubah entah mungkin mereka merasa lain dengan sikap Alzam yang tersenyum seperti itu.
Abraham yang sedikit bingung dengan sikap anaknya bertanya kepada Kenzo, hanya saja untuk saat ini Kenzo yang tak ingin jujur kepada Abraham sebelum Kenzo benar-benar memastikan bahwa rasa Alzam kepada Azkia seperti layaknya lelaki kepada seorang wanita.
Alzam menutup kedua matanya sambil memegangi dadanya, ia ingin tau rasa apa yang terjadi padanya saat ini. Saat membayangkan wajah Azkia degup jantungnya seketika berubah sedikit lebih kencang. Ada rasa asing yang tak pernah Alzam rasakan.
“Ada apa denganku! Rasanya begitu asing tapi aku menyukai rasa ini!” Gumam Alzam.
Alzam lalu kembali menatap bukunya, ia membuka lembaran awal, lalu membuka setiap lembar buku. Lelaki itu menikmati bacanya sambil menikmati embusan angin seorang diri.
Seketika Alzam mengingat kembali perkataan nya kepada Abraham siang tadi. Alzam tersenyum dan merasa lega dirinya bisa selangka lebih maju untuk bisa membuka dirinya kembali kepada dunia. Tentu semuanya berkat Azkia, wanita yang hampir selama empat bulan ini masuk dalam kehidupan Alzam.
“ Terimakasih Azkia! Aku merasa lebih baik saat ini!,” Gumam Alzam.
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
🥀☕ Hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1