
Alzam menatap takjub ruangannya begitu besar dan sangat rapi, sungguh luar biasa Abraham menyulap ruangan sebagus ini dalam semalam demi anaknya.
Alzam menyusuri setiap sudut ruangan itu hingga matanya tertuju pada satu kursi yang akan mengubah segala kehidupannya.
“ Apa kau ingin mencobanya?,” Tanya Kenzo.
Alzam berjalan lalu menduduki bangku kebesarannya sendiri. Namanya terpampang jelas di atas meja yang di tulis sangat indah.
“ Kau terlihat begitu keren!,” Goda Kenzo tentu saja Alzam hanya tertawa kecil.
Kedua pria itu kemudian saling mengobrol banyak hal, tak lupa juga Kenzo memberikan beberapa jadwal yang harus Alzam hadiri. Mengingat namanya sudah di umumkan secara otomatis setiap pertemuan klien yang akan bekerja sama dengan Jaya Group Alzam akan hadir sekaligus Abraham ingin mengajarkan Alzam bagaimana cara untuk mengurus perusahaan dengan baik.
“ Baru beberapa jam yang lalu aku mengumumkan diriku sebagai pewaris kenapa harus sebanyak ini jadwalnya!,” Protes Alzam saat mendengar Kenzo membacakan jadwalnya begitu banyak.
“ Kan aku sudah bilang padamu! Jangan protes, besok kita harus mempersiapkan diri! Setelah dari kampus kita akan bertemu klien apa kamu tak ingin bertemu dengan dia terlebih dahulu?,” Tanya Kenzo.
“ Tentu aku harus bertemu dengannya! Kali ini tanpa menggunakan masker, aku ingin membuatnya terpesona dengan ku!,” Ucap Alzam tersenyum membayangkan dirinya akan bertemu dengan Azkia.
“ Kenapa kau tidak menghubungi nya saat ini?,” Tanya Kenzo kembali.
“ Aku tidak memiliki nomornya! Sudah hampir beberapa bulan ini kami berteman, tapi bertukar nomor pun kami tidak pernah! Unik bukan!,” Jelas Alzam. Mendengar itu Kenzo hanya menggelengkan kepalanya, hubungan apa sebenarnya yang Alzam dan Azkia jalani.
“ Kenapa kau tidak meminta nomornya?,” Tanya Kenzo.
“ Aku hanya tidak ingin membuatnya tidak nyaman dengan ku karena hanya meminta nomor telepon miliknya! Aku juga udah cukup bahagia bertemu dengannya Setiap hari di kampus!,” Jelas Alzam menyandarkan tubuhnya di bangku kebesarannya itu.
“ Anak aneh! Apa seperti ini orang yang sedang jatuh cinta!,” Gumam Kenzo, pria itu walau tampangnya tampan tapi tak pernah sekalipun jatuh cinta kepada seorang wanita.
Saat sedang asik mengobrol, Kenzo dan Alzam melihat ke arah pintu saat seseorang menyala mereka dari arah sana. Yah tidak lain dan tidak bukan mereka adalah Anita dan Jack.
“ Aku ingin menyapa ponakan tersayang ku! Bagaimana kabar mu hari ini ? Apa semua berjalan dengan lancar?,” Tanya Anita dengan langkahnya yang sudah mulai mendekat ke arah Alzam.
Kenzo ingin membalas ucapan Anita tapi Alzam menahannya. Alzam ingin kali ini berhadapan langsung dengan adik dari ayahnya itu.
__ADS_1
“ Semuanya berjalan dengan baik Bi! Sudah sangat lama tidak berbicara langsung seperti ini! Aku mempersilahkan bibi ku untuk duduk sebagai sikap sopan ku terhadapmu!,” Ujar Alzam dengan lembut.
“ Tidak terimakasih! Aku hanya ingin melihat wajah ponakan ku yang selama ini mengurung dirinya! Kenapa sekarang kau muncul, kenapa tidak selamanya kau terpuruk dengan keadaan mu!,” Ujar Anita dengan sinis sementara Jack yang berada di belakang ibunya menatap tajam ke arah Alzam.
Mendengar pertanyaan Anita, Alzam berjalan mendekat ke arah Anita, Tinggi tubuh Alzam terbilang sangat sempurna sampai tinggi Anita pun hanya berada sebatas dada Alzam.
Alzam menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Anita sambil membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.
“ Aku bangkit untuk membalas dendam kepada seseorang yang telah membunuh ibuku tujuh belas tahun yang lalu! Apa kau pikir aku tidak mengetahuinya!” Ujar Alzam.
Anita membeku seketika saat mendengar perkataan Alzam. Wanita Paruh baya itu menahan amarahnya menatap Alzam.
“ Ibu sama anak benar-benar tidak jauh berbeda! Kalian pikir kalian siapa, kau dan ibumu hanya merampas harta yang seharusnya jadi milikku!,” Pekik Anita.
“Kenzo!,” Panggil Alzam. Kenzo yang paham dengan apa yang Alzam maksud pria itu memanggil pengawal untuk mengusir Anita dan Jack dari ruangan Alzam saat ini.
Saat para pengawal baru menyentuh tangan Anita Jack dengan cepat menghempaskan tangan parah pengawal itu dari ibunya.
“ Apa yang kau lakukan Alzam? Bagaimana pun ibuku adalah adik dari Ayah mu! Hargai dia!,” Pekik Jack, namun Alzam hanya tersenyum pahit ke arah Jack saat mendengar ucapan yang seakan hubungan keluarga sangat di junjung tinggi. Apa mereka lupa Alzam hampir mati karena ulah siapa.
Anita dan Jack yang mendengar dan melihat raut wajah Alzam begitu ketakutan. Mereka berdua segera pergi tanpa mengatakan hal apapun.
Kepergian Anita dan Jack seketika mengubah ekspresi wajah Alzam menjadi sedih. Pria itu berjalan menuju kaca tembus pandang yang langsung memandang kearah jalanan ibu kota dari atas gedung yang begitu tinggi.
Kenzo masih terdiam menatap punggung Alzam. Sepupunya sudah banyak berubah. Entah mengapa Kenzo merindukan Alzam yang dulu. Alzam yang cuek, bicaranya irit dan mungkin masih banyak lagi.
“ Apa aku akan menjadi monster seperti mereka?,” Tanya Alzam. Kenzo mendengar pertanyaan itu menjadi bingung ingin menjawab seperti apa.
“ Ingatkan aku jika aku sudah berubah Kenzo! Aku tidak ingin menjadi monster yang haus akan kekuasaan! “ Ujar Alzam menoleh ke arah sepupunya itu.
“ Aku akan mengingatkan mu! Tetaplah seperti Alzam yang aku kenal!,” Sahut Kenzo berjalan kecil hingga sudah berada di samping Alzam saat ini.
“ Pemandangan dari sini begitu indah bukan?,” Tanya Alzam.
__ADS_1
“ Indah, sangat indah!,” Jawab Kenzo.
Akhirnya kedua pria itu menatap pemandangan dari atas gedung tanpa mengatakan hal apapun, mereka berdua tenggelam dalam pikirkan mereka masing-masing.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keesokan harinya di lorong koridor kampus terlihat begitu sunyi, hanya suara Azkia yang sejak tadi berkokmat-kamit seperti membaca mantra.
Tiada henti Azkia mondar-mandir seperti setrika rusak. Sejak tadi Azkia menunggu kehadiran Alzam. Saat pagi tadi, jam pelajaran kampus, Alzam memberikan surat pendek untuk Azkia.
“ Jam istirahat bertemu di lorong koridor kampus” kira-kira seperti itulah pesan singkat Alzam.
Namun, hampir tiga puluh menit Alzam tak kunjung hadir tentu itu membuat Azkia sangat kesal. Alzam yang sudah membuat janji untuk bertemu tapi dia juga yang telat untuk hadir.
“ Sebenarnya pria ini dimanah sih?,” Gerutu Azkia sambil melihat arloji yang terus berputar di pergelangan tangannya.
“ Tapi sebelum itu aku harus memberikan dia ucapan! Bagaimana yah yang bagus! Selamat yah Alzam! Aku bukan, atau gini selamat untukmu!,” Ujar Azkia yang sebenarnya sejak tadi ia memikirkan kata-kata apa yang cocok untuk mengucapkan rasa selamat kepada Alzam.
Saat Azkia sedang sibuk dengan dirinya yang memikirkan ucapan apa untuk Alzam di tempat lain Alzam yang sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Azkia namun tertahan oleh beberapa mahasiswa wanita yah sejak tadi sudah mengantre untuk memberikan hadiah kepada Alzam.
Yah, memang orang kaya dan tampang rupawan Alzam mengundang banyak kumbang untuk datang menghampiri pria itu sementara Kenzo dari kejauhan hanya tertawa melihat Alzam yang kerepotan mengurus para wanita yang sejak tadi meminta untuk menerima hadiah mereka.
Alzam yang memang dingin hanya memasang wajah datar dan menyuruh para wanita untuk berjaga jaraknya. Walau Alzam sudah mulai terbiasa dengan suasana ramai namun rasa insicure dalam dirinya masih ada belum hilang sepenuhnya.
“ Apa dia masih menunggu ku!,” Batin Alzam.
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
__ADS_1
🎟️ Vote
🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini