
Pandangan Azkia menerka ke seluruh ruangan, sepertinya dirinya berada di sebuah kamar yang tidak begitu asing untuk dirinya sendiri. Hingga saat matanya tertuju pada sosok malaikat yang melahirkan hingga merawatnya selama delapan belas tahun itu.
“ Ibu!,” Panggil Azkia pelan.
“ Sayang! Sayang kamu sudah sadar nak!,” Sahut ibu Azkia begitu bahagia melihat anaknya sudah siuman.
Saat kerusuhan yang dibuat oleh Rey saat di acara pesta. Atas permintaan ibu Azkia, saudara Azkia mengikuti mobil Rey yang membawa istrinya pergi.
Namun, saat mobil Rey sudah masuk dalam parkiran halaman rumah mereka, saudara Azkia memilih pulang. Setidaknya mereka sudah melihat bahwa Rey tidak melempar Azkia keluar dari rumahnya.
Setibanya di acara pesta yang mulai tentram walau banyak orang masih menceritakan kejadian tadi setidaknya acara pernikahan sepupu Azkia berjalan sebagaimana mestinya.
Ibu Azkia bertanya tentang anaknya, walau saudara Azkia mengatakan bahwa mereka sudah pulang ke rumah perasaan ibu Azkia belum tenang.
Rasa khawatir, cemas menguasai dirinya. Ibu Azkia merasa anaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya ibu Azkia memilih untuk melihat anaknya sendiri sebelum pulang ke kampung mereka.
Yah, demi acara ponakan mereka ibu Azkia berserta anaknya rela ke kota sekaligus Ingin berjumpa dengan anak mereka yang sudah hampir setahun lebih tidak bertemu.
Saudara Azkia membawa mobil mengantar ibu dan ayah mereka menuju rumah Azkia. Namun, tampak rumah yang begitu sunyi, hening tidak ada suara apapun. Lampu luar rumah tidak terpasang hingga pandangan sedikit gelap jika melihat dari luar rumah saat ini.
“ Ibu Azkia sudah tidur! Ayo kita pulang, besok pagi aku akan menghubungi Azkia dan ibu bisa berbicara padanya,!” Ajak anak lelaki Kaka pertama Azkia.
Berat hati, ibu Azkia pergi meninggalkan rumah mewah itu. Perasaan ibu Azkia begitu tidak tenang apalagi sejak tadi hujan terus mengguyur kota itu saat ini.
Namun, saat perjalanan pulang ibu Azkia melihat seseorang wanita yang berjalan di tengah derasnya hujan, hingga wanita itu tergelatak tak berdaya di jalan raya.
Ibu Azkia menyuruh untuk berhenti dan menyuruh anaknya untuk melihat wanita itu. Saat anak laki-laki ibu Azkia keluar mobil begitu terkejut dirinya melihat adik kesayangannya sudah tergeletak tak berdaya, wajahnya begitu pucat hingga badan Azkia terasa begitu dingin.
Dengan cepat Kaka Azkia menggendong tubuh Azkia lalu memasukkan ke dalam mobil. Ibu dan ayah Azkia begitu terkejut melihat kondisi anaknya seperti ini.
Tanpa pikir panjang akhirnya malam itu Azkia di bawah pulang bersama kedua orangtuanya ke rumah mereka yang sudah tak begitu jauh lagi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Azkia segera di gantikan bajunya sambil ibu Azkia terus menghangatkan tubuh anaknya.
“ Ibu! Hiks...hiks..! Ibu maafkan Azkia!,” Ujar Azkia begitu lemah tak berdaya di atas ranjang, memeluk ibunya begitu erat sambil menumpahkan segala kesedihannya yang selama ini ia pendam sendiri.
Rasa sesak berkecamuk di dalam dirinya. Harus dari mana Azkia bercerita tentang penderitanya selama ini. Dan apakah dirinya akan di terima pulang oleh keluarganya.
Saudara dan ayah Azkia yang melihat tangisan Azkia pecah dalam pelukan ibunya hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Merek ikut bersedih melihat tangisan Azkia yang begitu menyakitkan.
“ Ibu! Hiks..hiks.. ! Rey begitu menyakitiku! Hiks..hiks...hiks..! Maaf kan aku tidak mendengar apa yang ibu dan Kaka ucapkan! Hiks...hiks...! Apakah Azkia salah Bu, Azkia hanya ingin berkumpul bersama keluarga! Apakah hak itu mempermalukan suami Azkia! Hiks...hiks..hiks...!,” Ujar Azkia di sela tangisnya.
Ibu Azkia memeluk tubuh anaknya sambil terus menggelengkan kepalanya menjawab semua pertanyaan Azkia. Hanya suara tangisan Azkia yang menggema dalam rumah itu saat ini.
Kemarahan begitu menyelimuti ayah dan saudara laki-laki Azkia, ingin rasanya merek membagi dua tubuh Rey. Jiak saja mereka tidak memikirkan itu suami Azkia mungkin saat ini Rey tubuhnya sudah di buang untuk makan siang para buaya yang kelaparan di kampung mereka itu.
🍂🍂🍂🍂🍂
Sebulan telah berlalu Azkia hanya merenungkan diri di dalam kamar, senyuman yang selama ini terlihat cantik di dirinya tak terlihat lagi hanya kemurungan dan kesedihan yang amat mendalam terpampang di wajah Azkia saat ini.
Ibu Azkia yang baru saja masuk ke dalam kamar Azkia membawa sepiring nasi untuk anaknya, sudah beberapa hari Azkia tak enak makan.
Ibu Azkia berjalan menuju kearah Azkia yang sedang terduduk di depan jendela kamarnya. Air mata Azkia terus saja jatuh mengingat semua kepahitan hidup yang ia jalani selama ini.
“ Nak! Ayo makan ibu sudah masak makanan kesukaan mu loh!,” Ujar ibu Azkia seraya duduk di samping anaknya sambil menaruh piring di atas meja kecil yang tak jauh dari mereka.
“ Azkia tak ingin makan Bu!,” Sahut Azkia mengusap kembali air matanya yang terjatuh membasahi pipinya saat ini.
Ibu Azkia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan nya kembali. Wanita pari baya itu menarik Azkia dalam pelukannya lalu menegakkan anaknya. Ibu Azkia tau bagaimana perasaan anaknya saat ini.
“ Apa Azkia masih ingin kembali kepada Rey?,” Tanya ibu Azkia.
Dengan cepat Azkia menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin kembali ke kehidupan seperti neraka itu. Sungguh sangat menyakitkan.
__ADS_1
“ Jika memang Azkia tak ingin kembali lagi bersama Rey! Ayah dan Kaka mu ingin mengurus surat perceraian kalian!” Ujar ibu Azkia begitu lembut.
Sementara Azkia mendengar penuturan ibunya membuatnya memecahkan tangisannya. Walau Rey begitu jahat padanya tetapi cintanya untuk pria itu begitu besar. Begitu ruginya Rey menyia-nyiakan Azkia yang begitu mencintai dirinya begitu tulus.
“ Apa kamu masih mencintainya?,” Tanya ibu Azkia.
“ Azkia, hiks...hiks...! Mencintai Rey, tapi aku sadar ibu jika aku terus bertahan Azkia hanya bisa terus menderita! Aku selalu salah di mata Rey!” Ujar Azkia memeluk erat tubuh ibunya itu. Memecahkan segala kesedihannya sungguh sangat ini wanita itu terlihat begitu menyedihkan dengan perasaannya sendiri.
Sakit begitu sakit, mengapa tuhan menakdirkan kehidupannya begitu menyakitkan. Namun, takdir kejam itu tak berhenti sampai di situ. Entah mengapa perasaan Azkia begitu tak enak rasanya ingin memuntahkan segala makanannya. Melihat itu ibu Azkia sedikit khawatir menyuruh suaminya untuk membelikan tes kehamilan.
Tentu saja saat Azkia mencoba untuk mengeceknya, tanda diia garis merah begitu terlihat jelas. Seketika air mata Azkia jatuh entah rasa bahagia atau rasa sedih bercampur aduk dalam dirinya. Ibu Azkia memeluk putrinya untuk menguatkan anaknya.
“ Kita harus ke rumah Rey saat ini untuk meminta pertanggung jawabannya!,” Ujar ayah Azkia begitu tegas. Kaka Azkia menyetujui apa yang Ayahnya katakan.
Ayah dan Kaka Azkia bersama ibunya pergi ke kota untuk berbicara kepada Rey dan keluarganya. Sementara Azkia tidak ikut ia tetap ingin berada di kampung bersama iparnya yang menjaga Azkia saat ini.
" Apakah Rey akan merima aku dan anaknya!," Gumam Azkia dalam hati.
Bersambung...
Jangan lupa untuk :
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
☕🥀 Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1