
Satu Minggu berlalu sejak kejadian malam itu Azkia berusaha untuk selalu menghindar dari Alzam. Seakan mereka tak saling mengenal satu sama lain. Azkia benar-benar menganggap Alzam seperti orang asing.
Namun, semua itu tak membuat Alzam untuk menyerah mendapat hati sang pujaan hati. Alzam berusaha menegur Azkia dengan caranya sendiri. Seperti saat beberapa hari yang lalu Alzam mencoba mengajak Azkia ke toko komik kesukaan mereka akan tetapi Azkia malah menolaknya.
Frustasi, itu sangat jelas saat ini pria itu begitu frustasi menghadapi Azkia. Selama hidupnya dua puluh tahun, ia tidak pernah sekalipun merasakan perasaan kacau seperti ini.
sebuah kamar begitu megah dan sangat elegan seorang pria sedang merebahkan dirinya di atas sana. beberapa kali ia menghembuskan nafasnya begitu kasar sepertinya saat ini ia sedang berada dalam kondisi tidak baik.
" Azkia....! Azkia..! Aku benar-benar mencintaimu! kenapa kau begitu sulit untuk mempercayai diriku!," gumam Alzam lalu mengucak rambutnya begitu kasar.
" Jika mencintainya berusaha lah untuk membuatnya berdamai dengan masa lalunya!," ujar Kenzo yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Alzam. Sepertinya pria itu melihat keadaan Alzam beberapa hari ini sedang tidak baik-baik saja.
" Kenzo! Sejak kapan kamu berada di sana?,". tanya Alzam begitu kaget saat melihat sepupunya berada di sana.
" Paman menyuruhku untuk memanggil mu makan malam bersama! Tapi sepertinya saat ini kau sedang tidak baik-baik saja!," jelas Kenzo lalu berjalan perlahan menuju ke arah ranjang Alzam.
Alzam hanya menghembuskan nafasnya kasar, entah bagaimana situasi saat ini. Hubungannya dengan Azkia wanita yang menguasai hatinya sedang tidak baik-baik saja.
" Apa aku bisa melakukannya? bagaimana caranya aku membuat Azkia berdamai dengan masa lalunya! Diriku saja untung ada Ayah dan kamu menolongku dari masa lalu dan juga Azkia yang membuat aku seperti ini!," ujar Alzam dengan wajah sendunya.
" Entahlah Alzam, aku juga belum berpengalaman untuk hal seperti itu! tapi jika kamu bicarakan dengan Azkia dari hati ke hati mungkin bisa!," saran Kenzo lalu memukul seidkit pundak Alzam untuk menguatkan sang sepupu.
" akkhhh! Dia membuatku hampir gila!," ucap Alzam.
Entah kenapa Kenzo malah ingin tertawa melihat kondisi Alzam saat ini. Yah seperti itulah yang Kenzo tidak inginkan saat dirinya harus jatuh cinta dan berurusan dengan seorang wanita, pusing dan memikirkan hal tak begitu penting, pria itu tidak ingin merepotkan hidupnya.
" Apa kau ingin menemui seseorang yang tepat untuk membantu hubungan mu dengan Azkia?," tanya Kenzo.
" siapa? Apa dia bisa melakukannya?," tanya balik Alzam.
" Berpakaian rapi lah, aku akan mengatakan kepada paman malam ini kamu dan aku makan di luar! Aku menunggu mu di bawa!," ujar Kenzo segera keluar dari kamar meninggalkan yang moodnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.
🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Lima belas menit telah berlalu ketiga orang tersebut hanya saling menatap tanpa mengatakan hal apapun. Apalagi Alzam hanya menatap dengan tajam di balik masker dan topi yang ia kenakan saat menatap orang yang Kenzo maksud untuk memperbaiki hubungannya dengan Azkia.
" Apa kalian berdua akan menatap seperti ini terus?," tanya Kenzo. Pria itu sudah sangat pusing melihat kedua orang yang berada di hadapannya saat ini.
" Kenzo kenapa kamu membawakan pria ini hadapanku! gara-gara pria itu Azkia sama sekali tak pernah tersenyum seperti biasanya!," ujar seorang wanita yang duduk di hadapan Alzam saat ini dengan tajam.
Mendegar nama Azkia, Alzam seketika luluh. Ia sangat penasaran dengan kondisi Azkia saat ini. Sejak seminggu lalu Alzam benar-benar tidak bisa mendekati Azkia.
" Apa dia baik-baik saja?," tanya Alzam.
" Dasar cowok brengs**! kau sudah membuat teman ku menangis dan sekarang kau bertanya seakan kau tak melakukan kesalahan!," ujar wanita itu dengan begitu tajam.
" maaf kan aku!," ujar Alzam menuduhkan kepalanya, rasa bersalah menyelimuti Alzam. Ia merasa bodoh karena mengutarakan perasaannya kepada Azkia, apalagi saat malam itu Alzam hampir saja ingin melakukan hal yang mungkin tak pernah bisa Azkia maafkan.
" Rizkiya! Aku tau Alzam salah tapi perasaan Alzam begitu tulus! Apa kamu bisa membantu Alzam! Aku bukan membela Alzam memang benar apa yang Alzam lakukan kepada Azkia itu sangat salah!," ujar Kenzo berusaha untuk menenangkan Rizkiya.
" Kamu tau sendiri masa lalu apa yang Azkia hadapi! Selama ini aku mengetahuinya tapi aku tak pernah memberitahukan Azkia sampai dia akan menceritakan semuanya kepadaku! Tapi dengan beraninya kau menggali masa lalu Azkia yang sudah ia tanam dengan baik! Wanita itu berusaha untuk melupakannya!," geram Rizkiyah.
Mendegrkan itu Alzam semakin rasa bersalah, apa yang ia lakukan waktu malam itu benar-benar melukai perasaan Azkia.
Seketika Rizkiyah terdiam saat melihat Alzam sampai mengeluarkan air matanya. Rasa empati Rizkiya masih ada untuk Alzam saat ini.
" Apa kamu benar-benar mencintainya? Walau kamu sudah tau jika Azkia seorang Janda!" Tanya Rizkiyah.
" Aku tetap mencintainya! Aku tidak peduli dengan status dan masa lalu Azkia seperti apa! Aku mohon padamu untuk membantuku!," pita Alzam.
Setalah Rizkiyah berpikir panjang melihat ketulusan Alzam. Wanita itu segera beranjak dari kursinya sambil menata kearah Alzam.
" Aku akan menghubungimu setelah mendapatkan momen yang baik untuk mu dan Azkia agar bisa berbincang berdua!," ujar Rizkiyah lalu segera pergi meninggalkan cafe bersama bodyguard yang selalu menemani nona muda itu.
Mendegrkan perkataan Rizkiya, Alzam sedikit bahagia, ada kelegaan yang pria itu rasakan. Ia sangat berharap secepatnya ada kabar baik untuknya bertemu dengan sang pujaan hati.
" Azkia! Kamu akan tetap menjadi milikku!," ujar Alzam dalam hati.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂
Di tempat lain seorang wanita duduk termenung di sudut perpustakaan ternama di kota itu saat ini. Saat jam kampus selesai Azkia segera pergi ke perpustakaan untuk menenangkan pikirannya yang beberapa hari ini begitu kacau.
Azkia menatap kearah luar jendela menatap sepasang ibu dan anak sedang asik bermain bola di taman bermain. Yah, perpustakaan yang Azkia kunjungi memiliki tempat bermain di sampingnya.
Sudut bibir Azkia membentuk sebuah senyuman indah saat melihat ibu dan anak tesebut.
" Aku merindukan mu! Apa kamu baik-baik saja? Sehat selalu di sana Nak, tunggu bunda sukses!," gumam Azkia.
" Hayo Lo merindukan siapa?" tanya Rizkiyah yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Azkia.
" astagfirullah! Rizkiya Cristiani! Kau membuat jantungku copot!," ujar Azkia seidkit kesal melihat tingkah sahabat satunya ini yang begitu jahil.
" Maaf sayang! Aku tadi setelah selesai urusan segera menghampiri mu di sini!" jelas Rizkiya.
" Btw kamu sedang merindukan siapa?," tanya Rizkiyah.
" aku hanya merindukan ibu dan bapak ku di desa!" ujar Azkia lalu segera memalingkan wajahnya menatap kearah luar jendela kembali.
" Beneran! Atau kamu sedang merindukan Alzam.? Iyakan!" goda Rizkiya tentu saja seketika Azkia malah hanya terdiam sambil tersenyum pahit.
" Pasti saat ini Alzam begitu jijik dengan diriku!" batin Azkia.
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 Komentar
❤️ Favorit
__ADS_1
🎟️ Vote
🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini