Kisah Cinta Alzam & Azkia

Kisah Cinta Alzam & Azkia
" Rasanya Memiliki Teman "


__ADS_3

Halaman kampus sudah di mulai di penuhi oleh beberapa mahasiswa yang akan masuk dalam gedung universitas ternama di kota itu. Sementara Azkia melihat kearah kanan dan kiri seperti menunggu seseorang sejak tadi.


Wanita itu melihat arloji di pergelangan tangannya sejak tadi tapi sepertinya seseorang yang ia tunggu tak kunjung datang.


“ Apa hari ini dia masuk?,” Gumam Azkia.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna biru tua memasuki halaman kampus. Azkia begitu tersenyum akhir setelah menunggu lama, Alzam sudah datang bersama Kenzo.


Azkia berlari kecil ke arah parkiran mobil untuk memberikan Alzam hadiah yang ia beli kemarin. Sebenarnya Azkia bingung ingin memberikan Alzam hadiah di situasi seperti apa. Ingin menghubunginya mengajak untuk bertemu tapi Azkia sama Sekali tidak memiliki nomor Alzam.


Pertemanan yang sudah mereka jalani tapi memiliki nomor kontak pun di antara mereka sama sekali tidak ada.


“Alzam!,” Panggil Azkia saat melihat pria bermasker itu keluar dari mobil.


Alzam berbalik menatap Azkia yang berjalan ke arahnya.


“ Dia begitu cantik!,” Gumam Alzam.


“ Sepertinya akan ada adegan romantis!,” Ujar Kenzo mengedipkan matanya ke arah Alzam.


“ Diamlah!,” Ujar Alzam dingin.


Kenzo teridam namun senyum ejeknya kepada Alzam seakan tak pernah pudar. Saat Azkia sudah berada di hadapan mereka, Kenzo berpamitan duluan menuju kelasnya dengan alasan yang tak masuk akal. Pria itu seperti sengaja membuat waktu khusus di antara kedua insan itu.


“ Ada apa ?,” Tanya Alzam dengan sifat dinginnya yang memang susah untuk di ubah. Sementara Azkia sepertinya sudah terbiasa dengan sikapnya yang kadang bisa bersikap dingin atau pun hangat.


“ Buak telapak tangan mu!,” Pinta Azkia.


“ Buka! Untuk apa?,” Tanya Alzam.


“ Ayo buka dulu!” Pinta Azkia dengan merengek yang tanpa sadar ia lakukan di hadapan Alzam saat ini.


“ Kenapa dia imut Seperti ini!,” Batin Alzam. Lelaki itu sesaat memalingkan wajahnya saat tingkah Azkia seperti itu. Jantung Alzam benar-benar tidak bisa terkendali dengan stabil.


Dengan perlahan Alzam membuka telapak tangannya ke arah Azkia. Telapak tangan yang terlihat begitu besar sangat jauh berbeda dengan porsi telapak tangan milik Azkia.


Saat Azkia memberikan hadiahnya, Alzam begitu bingung. Pria itu memerhatikan hadiah yang Azkia berikan. Sebuah mainan kunci, style karakternya sangat mirip denga dirinya saat ini.


“ Saat aku ke mall kemarin bersama Rizkia, aku melihat ini! Dia begitu persis seperti dirimu! Pria bertopeng dengan sikap anehnya!,” Tutur Azkia.


Alzam memerhatikan dengan saksama hadiah yang Azkia berikan. Selandainya saja Alzam seperti lelaki normal pada umumnya mungkin saat ini sudah Alzam pelik dan menculiknya tapi ini Alzam seorang pria yang memiliki sifat insicure yang begitu tinggi terhadap dirinya sendiri.

__ADS_1


“ Terimakasih!,” Ucap Alzam begitu tulus. Rasa bahagia di hatinya entah bagaimana Alzam mengekspresikan nya. Lelaki itu sungguh bingung.


“ Sama-sama! Apa kau menyukainya?,” Tanya Azkia.


“ Lumayan!” Sahut Alzam yang tak jujur. Padahal saat ini dia begitu menyukai hadiah yang Azkia berikan.


“ Syukurlah!,” Balas Azkia.


“ Oh iya! Terimakasih juga atas buku yang kau berikan padaku! Aku menyukai ceritanya!,” Ujar Alzam.


“ Sama-sama! Aku berterima kasih padamu lebih dulu karena sudah menolong ku! Baiklah sebelum kita menjadi bahan perhatian mahasiswa lainnya sebaiknya aku pergi duluan ke dalam kelas! Bye Alzam!,” Ucap Azkia. Ia menampilkan senyum indahnya lalu pergi meninggalkan Alzam seorang diri di sana.


Setelah kepergian Azkia. Alzam reflek melompat kegirangan, hingga tak sengaja siku tangannya mengenai pintu mobil miliknya.


“ Aw...! Sial!” Ucap Alzam, pria itu pun segera bergegas menuju kelasnya setelah kepergian Azkia beberapa menit yang lalu.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kenzo yang sedang duduk bersama Alzam di kantin kampus tepatnya bangku terpojok di sana mereka berdua memilih tempat itu sebagai tempat ternyaman buat Alzam agar tidak menjadi pusat perhatian walau sebenarnya dimanah pun pria itu berada tetap akan menjadi pusat perhatian bila berjalan dengan Kenzo seorang senior yang cukup terkenal di kampus itu.


Saat mereka berdua di sana beberapa pria menghampiri Kenzo dan Alzam.


“ Bro!,” Ucap seorang pria yang menepuk pundak Kenzo begitu keras


“ Kenalin dong teman Lo! Sudah beberapa bulan ini Lo hanya bilang nanti Lo kenalin tapi sampai saat ini Lo enggak kenalin juga! Lo anggap gua dan Temi ini apa!,” Protes seorang pria yang duduk di hadapan Alzam saat ini. Pria itu bernama Angga.


Angga seorang anak konglomerat keluarganya lumayan cukup berada hingga bisa masuk ke dalam kampus ini. Dia berteman dengan Kenzo dari awal saat masuk kampus, hubungan pertemanan mereka cukup lumayan baik.


“ Sorry! Gua tanya dulu sama teman gua! Dia mau gak berteman dengan kedua teman laknat kaya kalian berdua!,” Balas Kenzo dengan tawa kecilnya.


Kenzo lalu bertanya kepada Alzam, untuk berkenalan dengan kedua sahabat Kenzo yang selama ini menemani dirinya di kampus.


Alzam hanya mengangguk namun tak mengeluarkan kata apapun. Pria itu sebenarnya bahagia bisa berteman dengan seseorang hanya saja rasa ke tidak perayaan dirinya selalu saja menghantuinya.


“ Baiklah tapi cukup kalian memperkenalkan nama trus cabut dari sini!,” Ujar Kenzo.


“ Wah kok gitu konsepnya! Gak kita makan bareng atau kita jalan kemana gitu buat menyambut dia dalam geng kita! ,” Ucap Teman Kenzo yang bernama Temi


“ Baiklah! Kalian berdua begitu cerewet! Kenapa enggak masuk aja di grup Marsha aja tuh supaya bisa yell anak basket!,” Ujar Kenzo tentu membuat Temy dan Angga merasa ngeri membayangkan diri mereka bergabung di grup Marsha.


“ Yah kali Ken, kami pakai bedak tebal seperti Marsha apalagi setebal lima senti kaya gitu! Bisa jadi topeng monyet kami” Ucap Angga tentu spontan membuat Alzam tertawa kecil tapi dapat terdengar oleh ketiga pria yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


“ Lah iya! Oh iya nama Lo Alzam kan! Lo mau lihat bagaimana tem Marsha menyemangati anak basket dengan para gengnya! Lo akan melihat penampakan UFO di sana! Apalagi wajah Marsha berbentuk segitiga sangat lancip! Hahahaha!,” Ujar Temi tertawa terbahak-bahak jika membayangkan wajah Marsha.


“ Sudah lah jangan mengejek orang lain! Ayo makan gua yang traktir!,” Ucap Kenzo.


“ Asik! Tumben nih anak baik!,” Sahut Angga yang berpindah tempat duduk ke samping Alzam.


Tentu itu membuat Alzam sedikit risi entah mengapa rasanya sangat aneh dan tidak nyaman. Tidak seperti saat dirinya duduk bersama Azkia.


“ Kenapa aku seperti ini!,” Batin Alzam. Namun Alzam berusaha menahan semuanya bersikap seolah-olah dia baik-baik saja.


Kenzo melirik ke arah Alzam. Ia sangat tau Alzam merasa risi tapi Kenzo sengaja ingin membuat Alzam terbiasa dengan suasana seperti ini


“ Oh iya, teman Lo kenapa selalu memakai masker sampai-sampai Alzam terkenal dengan sebutan cowok of the masker!,” Tanya Temi, ia memang laki-laki yang super kepo dan sangat tau rumor yang beredar di kampus.


“ Gantengnya kelewatan! Kalau dia sampai membuka masker bisa gila wanita satu kampus kita ini!,” Jawab Kenzo asal tentu membuat Alzam melotot ke arah Kenzo ingat yah laki-laki itu ke kantin hanya menemani Kenzo untuk makan tapi ia tak ikut makan karena harus membuka maskernya itu membuat Alzam tidak nyaman.


“ Sumpah Lo! Wah ini seperti kisah di filem bioskop yang belum lama ini gua nonton! Semua wanita jatuh pingsan saat pria utamanya membuka helm !,” Ucap Temi yang memercayai perkataan Kenzo.


Kenzo memukul kepala sahabatnya itu dengan kuat. Entah mengapa Temi bisa lulus dengan nilai terbaik tapi masih saja bisa di bohongi seperti ini.


“ Gua hanya bercanda!,” Ucap Kenzo.


“ Yah gua kira benar! Tapi gua jadi penasaran dengan wajah Alzam.!” Sahut Angga yang meilirk ke arah Alzam dengan sangat intens.


“ sudah lah Lo berdua mau makan atau enggak! Gua gak jadi teraktir kalau banyak ngomong mulu!,” Ucap Kenzo tentu membuat Angga dan Temi langsung terdiam membahas persoalan lain.


Mereka juga sesekali mengajak Alzam bercerita walau lelaki itu hanya terdiam dan kadang menyahut satu dan dua kata setelah itu Alzam hanya memerhatikan Kenzo dan kedua temannya berinteraksi.


Alzam merasa sangat bahagia, selama sepuluh tahun mengunci dirinya dalam kesendirian membuat ia tak memarasakan indahnya sebuah pertemanan yang sesungguhnya.


“ Apa seperti ini yang namanya memiliki seorang teman!,” Gumam Alzam.


Bersambung...


Jangan lupa untuk:


👍 Like


💬 Komentar


❤️ Favorit

__ADS_1


🎟️ Vote


🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini


__ADS_2