
“Jangan sekarang sial!,” Batin Alzam.
Alasan tersentak kaget saat seseorang memegangi Pundak nya, reflek Alzam menghempaskan dengan kuat agar bisa menjauh dari dirinya saat ini.
“Pergilah! Kumohon jangan mendekati ku!,” Pinta Azam.
Saat merasa Azkia sudah pergi Alzam sedikit lebih tenang. Sepanjang mata kuliah berlangsung Alzam hanya tertunduk sesekali menatap ke depan lalu menuduhkan kepalanya kembali.
Saat perkenalan nama, degup jantung Alzam tak karuan, haruskah lelaki itu berdiri memperkenalkan namanya di depan semua orang.
“Aku tidak melakukannya!,” Batin Alzam.
Giliran Alzam untuk memperkenalkan dirinya. Lelaki itu tak kunjung berdiri, akhirnya Azkia sebagai keting di kelasnya mewakilkan Alzam.
“Namanya Alzam pak! Dia tidak bisa memperkenalkan diri karena kondisinya yang tidak begitu sehat!,” Ujar Azkia.
Alzam menatap punggung wanita itu, sedikit senyum alzam terbentuk, senyum yang tertutup oleh masker hingga tak ada satupun orang yang melihatnya.
Setalah jam pelajaran selesai, semua mahasiswa berhamburan keluar kelas. Alzam masih menunggu Kenzo untuk menjemput dirinya. Ia juga mengirimkan pesan singkat kepada Kenzo untuk segera menuju ke dalam kelasnya.
Alzam yang sedang fokus memainkan ponselnya, begitu kaget saat seseorang mengulurkan tangannya.
“Hai, aku Azkia salam kenal yah!,” Ujar Azkia
Alzam hanya terdiam menatap uluran tangan Azkia. Apa sekarang Azkia sedang mengajaknya berbicara. Apa dia tidak merasa aneh dengan dirinya saat ini?, Pikir Alzam.
Lelaki itu tetap terdiam, masih belum percaya bahwa ada seseorang yang mengajaknya memperkenalkan diri selain bersama Kenzo. Sepupu yang Alzam anggap sangat aneh tetapi sebenarnya Alzam sangat sayang hanya saja rasa insicure Alzam menahan untuk menunjukkan rasa seperti itu.
“Apa kamu tidak tau cara memperkenalkan diri, sini aku ajarkan!,” Ujar Azkia menarik tangan Alzam lalu bersalaman tak cukup lama, hanya beberapa detik Alzam langsung menarik tangannya. Entah mengapa rasanya begitu aneh.
“Apa dia tidak jijik menyentuhku!,” Batin Alzam.
Rasa paniknya mulai muncul, untung saja saat itu Kenzo sudah berada di depan kelas. Dengan cepat Alzam pergi tanpa berkata apapun kepada Azkia. Sesampainya di Kenzo Alzam langsung menarik tangan sepupunya untuk meninggal kelas.
“ada apa?, Apa Alzam malu sekarang Karena sudah tertangkap basah berdua denga seorang wanita!,” Goda Kenzo.
Langkah mereka terhenti, Alzam segera berbalik menatap sepupunya
Sangat tajam.
“Aku ingin pulang sekarang!,” Tegas Alzam melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Setibanya di sana fans Kenzo dari beberapa mahasiswi baru menunggu di depan mobil.
Melihat beberapa orang berkumpul di mobil Kenzo merasa sangat kesal. Apa yang mereka lakukan di sana?, Apa sekarang ada ajang pertemuan para idol ?, Gerutu Azam.
“Usir mereka!,” Pinta Alzam.
Kenzo berjalan menuju pakiran terlebih dahulu. Dengan tegas Kenzo menyuruh beberapa mahasiswi untuk pergi walau seperti itu mereka tetap ingin memberikan hadiah kepada senior idola mereka katanya seperti itu.
Mau tak mau Kenzo menerimanya, mengucapkan terimakasih sebagai rasa sopan nya. Mahasiswi tadi histeris lalu pergi meninggalkan Kenzo, saat berjalan di samping Alzam mereka bingung melihat penampilan lelaki itu. Bukan Karena aneh, hanya saja Alzam memakai masker sejak tadi. Apa dia tidak merasa kepanasan?.
Alzam yang mendapat tatapan seperti itu membuang wajahnya ke samping agar tak melihat mereka.
“Sampai kapan dia akan hidup seperti ini?,” Gumam Kenzo.
Alzam bergegas masuk ke dalam mobil. Begitu pula Kenzo segera masuk dan langsung meninggalkan kampus. Alzam melihat kado yang tersusun di belakang kursi menumpang. Ia tidak menyangka sepupunya Kenzo akan memiliki fans sebanyak ini di kampus.
“Apa kau di kampus tebar pesona atau belajar?,” Tanya Alzam.
“Hmmm! Aku belajar tapi ketampanan ku menjadi bahan sorotan orang-orang!. Hal itu tak bisa aku hindari bukan!,” Sahut Kenzo sambil menyetir mobil.
Mendengar jawaban Kenzo, rasanya Alzam ingin memuntahkan isi perutnya. Entah mengapa keakraban mereka terjalin. Hampir selama sepuluh tahun Alzam tak mengizinkan dirinya untuk bercanda ataupun berbicara kepada Kenzo. Tapi saat ini lelaki itu bisa bercanda bahkan mengejek Kenzo tanpa rasa takut.
Alzam membuka maskernya saat merasa begitu gerah. Kenzo melirik ke arah sepupunya, jika di perhatikan Alzam begitu tampan. Jika di bandingkan dengan Kenzo, Alzam lebih tampan dari sepupunya itu.
“Wajah mu begitu tampan! Kau bisa menjadi idola kampus dengan wajah seperti ini!,’ goda Kenzo.
“Sudahlah! Aku hanya ingin berkuliah dengan tenang!,” Balas Alzam.
Sesaat keheningan terjadi, saat di lampu merah, pandangan Alzam mengarah ke luar jendela. Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kenzo melirik sedikit, bisa di lihat sudut bibir Kenzo terangkat sedikit. Membuat Kenzo sangat penasaran apa yang sepupunya itu pikirkan saat ini.
“ Apa ada hal yang begitu bahagia hingga wajah kutub es bisa tersenyum seperti itu?,” Tanya Kenzo.
“ Tidak! Aku tersenyum melihat kecerahan langit! Apa itu tidak boleh?,” Tanya Alzam.
__ADS_1
“Aku pikir kau tersenyum mengingat Azkia!,” Goda Kenzo kembali.
“Azkia! Maksud mu wanita itu, dia bernama Azkia!,” Ujar Alzam.
“Iya!,” Sahut Kenzo
“Oh!” Balas Alzam.
“ Apa kau tertarik padanya?” Tanya Kenzo, lelaki ku itu benar-benar sangat suka menggoda sepupunya.
“Apa aku terlihat tertarik padanya!,” Sahut Alzam dengan datar.
Alzam yah tak ingin mendengar pertanyaan konyol Kenzo, ia mengambil airphone di dalam tasnya dan memakaikannya. Sepanjang perjalanan Alzam menikmati alunan musik pop yang sedang tren di abad ini.
Hampir 30 menit mereka menyusuri jalanan ibu kota akhirnya kedua lelaki itu sampai di tempat tujuan. Alzam mengerutkan keningnya menatap keluar. Di mana Kenzo membawanya?, Bukankah ini bukan rumah mereka?, Batin Alzam.
“Aku lapar, kita singgah sebentar di sini!,” Ujar Kenzo.
“Apa kau gila! Aku tak suka keramaian!,” Sahut Alzam tak percaya menatap ke arah sepupunya.
“Ayolah, Alzam kau harus melawan rasa insicure mu! Lagian apa yang kamu pikirkan sangat tidak benar! Percayalah padaku!,” Jelas Kenzo.
Mendengar perkataan Kenzo Alzam hanya terdiam. Ia juga ingin sekali menjadi orang normal seperti biasa. Berbau layaknya manusia sosial pada umumnya. Hanya rasa takut terus saja menguasai Alzam, lelaki itu tak bisa mengalahkan rasa takutnya.
“Pergilah! Aku akan menunggu dalam mobil!,” Ucap Alzam memakai kembali airphone nya yang sempat ia lepas tadi.
“Kau tak ingin ikut ke dalam?,” Tanya Kenzo.
Tidak ada sahutan dari Alzam. Kenzo akhirnya menyerah, lalu memutar mobilnya keluar dari restoran itu. Kenzo sengaja mengajak Alzam ke tempat keramaian untuk bisa terbiasa dan berbaur hanya saja sepertinya Kenzo harus ekstra sabar menghadapi sikap Alzam seperti ini.
“Entah sampai kapan kau akan seperti ini Alzam!,” Batin Kenzo.
🥀🥀🥀🥀
Malam harinya, di meja makan Alzam hanya terdiam menikmati makan malamnya dengan tenang. Tapi tidak dengan kedua lelaki itu yang saling melempar pandang. Sebenarnya papa Alzam ingin mengajak Alzam ke perusahaan nya, mengikuti rapat.
Sejak beberapa tahun belakangan ini keluarga papa Alzam selalu di tuntut untuk mencari penerus pemegang saham baru yang akan memimpin sebagai CEO baru.
Papa Alzam merekomendasikan anaknya, tetapi keluarga besar mereka sangat tau kepribadian Alzam seperti apa. Sejak kecil Alzam hanya mengurung dirinya tanpa bertemu siapa pun ataupun berbicara kepada siapa pun.
Sebenarnya papa Alzam ingin memilih Kenzo sebagai CEO sementara, hanya saja Kenzo tak memiliki hak apapun. Kenzo ponakan dari mendiang istrinya, lelaki itu tak memiliki hak untuk itu. Sepupu dari pihak papa Alzam semua ingin menyingkirkan Alzam sebagai penerus perusahaan yang sudah di wasiatkan oleh mendiang Kakek Alzam sebelum meninggal.
“ Apa sudah ada perkembangan dari Alzam?,” Tanya Abraham berbisik di telinga Kenzo.
“ Belum ada! Ini baru sehari, aku akan berusaha membuatnya berubah!,” Sahut Kenzo.
“Baiklah! Paman percaya padamu!,” Ujar Abraham
Alzam menyudahi makannya, lalu segera beranjak dari kursi menuju kamarnya. Baru saja Alzam berdiri, Abraham menahannya.
“Ada apa Ayah?,” Tanya Alzam.
“ Ayah ingin berbicara hal penting dengan mu!,” Ucap Abraham
“Katakanlah sekarang! Alzam ingin istirahat!,” Ujar Alzam.
Ia sangat tau pasti saat ini Abraham ingin membicarakan tentang perusahaan. Alzam sangat tidak tertarik jika sudah membahas hal itu. Kekuasaan, pengkhianatan dan keegoisan mengubah seseorang menjadi monster menghancurkan apapun untuk mendapat kekayaan. Alzam tak ingin berubah menjadi seperti itu.
“Apa kau bisa mengikuti rapat lusa nanti?, Kau tau kan hanya kamu satu-satunya penerus yang Ayah miliki dan mendiang Kakek juga sudah menjatuhkan hak waris kepadamu!,” Jelas Abraham
Mendengar itu Alzam menghela nafasnya panjang.
“Berikan saja kepada sepupu lain Ayah! Alzam tak ingin mengurus hal yang membuat kehidupan ku rumit!,” Tegas Alzam lalu segera pergi meninggalkan meja makan.
Kenzo dan Abraham hanya terdiam mendengar jawaban singkat Alzam. Apa lelaki itu tak memikirkan perasaan Abraham saat berbicara seperti itu.
“Tenang lah Paman, Alzam pasti akan mengikuti rapat itu! Aku akan membujuknya!,” Ucap Kenzo.
“Paman sangat berharap padamu ,” balas Abraham.
Di dalam kamar, Alzam menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan ucapan Abraham. Menjadi penerus perusahaan, apa Alzam bisa lakukan itu semua?, Kepercayaan dirinya sejak sepuluh tahun yang lalu sudah hilang begitu saja.
Saat ini Alzam sangat tidak percaya diri apalagi melihat tatapan bibi dan paman mereka membuat nyali Alzam menciut.
“Ah! Aku tidak tau, aku tidak berguna menjadi anak papa ataupun harapan kakek!,” Gumam Alzam.
__ADS_1
Saat menutup matanya, entah mengapa bayangan Azkia wanita yang di temui nya di kampus tadi terbayang dalam ingatannya.
“Sial! Apa yang terjadi padaku!,” Gumam Alzam.
Lelaki itu segera bangkit dari tempat tidurnya, keluar ke arah balkon kamar yang sudah menjadi tempat favoritnya sekarang. Lelaki itu menghirup udara segar menerpa kulitnya begitu sangat menenangkan jiwa.
ab
“Aku ingin menjadi Alzam seperti dulu! Tapi itu sangat mustahil untukku! Aku tak bisa! Tak bisa menjadi harapan untuk semua orang! Aku hanya sampah tidak berguna!,” gumam Alzam. Tetesan air mata terjatuh kembali. Seperti inilah kehidupan yang Alzam lewati dalam kesedihan dan ke sendirinya. Entah apa takdir Tuhan, biaralah semua menjadi kejutan yang terindah untuk Alzam atau malah mungkin sebaliknya.
🌞🌞🌞🌞
Keesokan harinya langit pagi serta sinaran sang Surya begitu terang menyinari Setiap sudut kota metropolitan kala itu dan Kicauan burung menambah kesan pagi yang begitu menawan.
Alzam sudah bersiap rapi, memakai berbagai wewangian, Tak lupa sebagai ritual akhirnya Alzam memakai masker wajah. Setelah sudah siap, lelaki itu turun dari kamar menuju lantai bawah. Alzam sudah di sambut oleh Kenzo dan Abraham di meja makan.
Alzam yang memang tak banyak bicara, hanya duduk lalu menyantap makanannya dengan nikmat setelahnya mereka berdua segera ke kampus. Sepanjang perjalanan Alzam hanya menikmati alunan musik dari airphone miliknya.
Kenzo yang tak ingin mengganggu Alzam, lebih memilih fokus menyetir dari pada menggoda sepupunya itu. Perjalanan yang sangat cepat karena jalanan pagi itu tak begitu macet. Setibanya di kampus seperti biasa Kenzo akan mengantar Alzam menuju kelasnya.
“ setelah jam kuliah selesai aku ingin berbicara padamu di kantin kampus! Tenang aja aku akan mencari tempat teraman!,” Ujar Kenzo setelahnya berlalu pergi meninggalkan Alzam.
Alzam langsung masuk ke dalam kelas. Tak sengaja saat berjalan Alzam menabrak sala seorang mahasiswa yang ingin keluar dari kelas.
“Jalan pake mata !,” Ucap mahasiswa itu dengan lantang menatap ke arah Alzam.
“Maaf!,” Sahut Alzam tertunduk.
“Hei! Gua di depan Lo bukan di bawa! Bisa enggak Lo minta maaf nya tuh natap gua!,” Pekik seorang mahasiswa itu menarik baju Alzam hingga tas yang Alzam tenteng terjatuh di ke bawah.
“ Ma-..! Maaf!,” Ucap Alzam menatap mahasiswa yang ada di hadapannya saat ini.
“Lo pakai masker! Sok ganteng Lo ya! Oh iya gua juga belum pernah lihat Lo ospek!” Ujar mahasiswa itu, ingin menarik masker yang terpasang di wajah Alzam. Namun, dengan cepat alzam menahan dengan tangannya.
“Jangan menyentuh ku !,” Ucap Alzam tajam.
“Wah sok jago loh yah! Lo gak tau gua senior di sini! ,” ucap mahasiswa itu dengan lantang.
Semua mata tertuju pada Alzam dan mahasiswa senior itu. Azkia yang abei datang melihat Alzam sudah di bentak . Azkia bertanya kepada salah satu mahasiswa tentang permalasahan yang terjadi.
Alzam yang tak ingin membalas dan tak ingin berdebat, segera mengambil tasnya yang terjatuh berniat untuk pergi begitu saja. Hanya saat Alzam mengambil tas nya yang terjatuh, senior itu langsung mendorong tubuh Alzam hingga terjatuh di lantai.
"Lo harus gua beri perhitungan !," Ujar senior itu lalu mengunjkabtahgaj Alzam dengan begitu keras.
Alzam meringis kesakitan meringis kesakitan, melihat itu Azkia membantu Alzam dengan sekuat tenaga Azkia mendorong tubuh lelaki itu.
"Alzam,!" Ujar Azkia membantu Alzam berdiri.
"Apa kau baik-baik saja?," Tanya Azkia hanya saja Alzam sama sekali tak menjawab karena rasa sakit di tangannya begitu luar biasa.
"Sial!," seru Alzam dalam hati.
"Cewek sialan! Berani Lo dengan gua ha! " Pekik senior itu.
" Maaf senior terhormat! Tapi sepertinya teman saya tidak bersalah!, Dia sudah meminta maaf bukan !," Seru Azkia.
" Gua gak mau tau kalian berdua! Gua beri perhitungan!," Ucap senior itu.
Saat mahasiswa itu berjalan ingin melayangkan tinju ke arah Azkia yang berusaha melindungi Alzam. Seseorang dari arah samping menahan tangan mahasiswa itu.
" Lo berani menyentuh sepupu gua!,"....
Bersambung...
Jangan lupa untuk:
👍 Like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ Vote
🥀☕ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini.
__ADS_1
penampilan Alzam saat ke kampus 🤭