
Musim semester sudah memasuki ronde kedua, tidak terasa waktu begitu cepat telah berlalu. Keakraban Azkia dan Alzam sudah sangat terlihat jelas oleh beberapa mahasiswa. Yah tentu saja mulut usil para makhluk ciptaan Tuhan itu tidak tinggal diam melihat si primadona kampus dan si cowok misterius akrab seperti itu.
Apalagi saat ini, Alzam tidak segan menegur Azkia terlebih dahulu dan berjalan di sampingnya tanpa ada rasa beban apapun. Begitu pula Azkia tidak ada sikapnya yang menolak atas kehadiran Alzam di sampingnya.
Kenzo dan Rizkiyah yang sudah sangat tau isi hati kedua sahabatnya hanya bisa mendukung walau kadang keduanya mengatakan tidak memiliki rasa apapun, hanya sebatas sebuah sahabat. Tapi jika dilihat dari sikap keduanya sangat jauh berbeda dengan perkataan mereka.
Seperti halnya pagi ini, Alzam membuat semua para pelayan di dapur di rumah kediaman Abraham menjadi sangat heboh. Saat tuan mereka sejak pagi tadi memegang alat dapur dan menyuruh para pelayan untuk mengajarnya membuat nasi goreng.
Kenzo yang melihat hal itu menikmati drama pagi yang Alzam buat di meja makan. Kenzo sangat tau, lelaki itu masih mengingat jelas pembicaraan Alzam kemarin. Saat Azkia bercerita tentang kegiatan paginya yang sangat jarang sarapan sepertinya membuat Alzam berinisiatif untuk membuatkan Azkia sarapan pagi hari ini.
" Wah, Azkia kau wanita luar biasa! Gua penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya dengan keakraban kalian berdua!," Batin Kenzo sambil menyeruput teh paginya.
Sementara para pelayan Abraham, sudah beberapa kal menyuruh Alzam untuk duduk dan membiarkan mereka mengerjakan apa yang Alzam mau. Hanya saja pria itu bersikeras untuk memasak, Alzam juga mengancam jika tidak mengejar nya untuk membuat nasi goreng maka pekerjaan mereka yang akan jadi taruhannya.
" Baiklah, setelah menyiapkan bahan langkah selanjutnya apa?," Tanya Alzam melirik ke arah salah satu pelayan yang berdiri di sampingnya.
" Tuan muda, selanjutnya biar saya saja yang mengerjakannya! Tuan cukup duduk dan melihatnya!,βujar pelayan itu dengan lembut.
" No.! Jelaskan padaku selanjutnya apa yang harus aku lakukan!," Pinta Alzam dengan tegas.
" Tap-" belum sempat pelayan itu berbicara dengan cepat Alzam, mengambil panci lalu menaruhnya di atas kompor untuk segera memasak mengingat dirinya harus berangkat pagi untuk membawakan Azkia bekalnya.
" Tuan! Saya mohon jangan lakukan ini, bisa-bisa saya akan di pecat oleh Tuan besar! " Ucap pelayan itu dengan rasa khawatir.
"Bi, aku akan bertanggung jawab! Bibi tinggal Katakan padaku apa yang harus aku lakukan!" Ujar Alzam dengan wajah senyumnya yang begitu manis. Sungguh Semua para pelayan wanita rata-rata sudah berusia senja begitu takjub melihat senyum Alzam yang sudah hampir lama mereka bekerja di sana tidak pernah melihat senyuman dari tuan muda mereka.
Akhirnya para pelayan membantu Alzam untuk memasak, mereka tidak bisa melarang tuan muda yang ternyata begitu keras kepala. Hampir sejam lebih Alzam menyelesaikan masakannya, lumayan lama.
" Sentuhan terakhir dariku!," Ucap Alzam saat meletakkan telur dadar di atas nasi goreng yang berada di rantang makanan begitu cantik.
__ADS_1
Setelahnya Alzam membuka celemek nya dan menaruh bekal makanan Azkia dia atas meja dan memerintahkan para pelayan untuk mengawasi agar tak seorang pun menyentuh hasil karyanya itu. Alzam segera bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Abraham yang baru saja turun dari kamar saat sejak tadi mendengar keributan sejak pagi bertanya kepada Kenzo yang baru juga turun dari kamarnya. Lelaki itu sudah bersiap ke kampus.
Tentu Kenzo menceritakan tentang Alzam yang ingin belajar masak hanya saja Kenzo masih belum jujur tentang keakraban Alzam dan Azkia. Kenzo hanya ingin membiarkan Alzam yang akan mencurahkan hatinya tentang Azkia kepada Abraham.
" Hahahaha! Apa Alzam melakukan semuanya?," Tawa Abraham begitu besar namun entah mengapa membuat para pelayan takut dan menundukkan kepalanya saat Kenzo menceritakan semuanya.
" Iya paman! Semua pelayan di sini sudah berusaha membujuk Alzam untuk tidak melakukan hal itu tapi Alzam bersikeras! Bukan kha itu suatu peningkatan bagi Alzam paman!," Tutur Kenzo di akhir kalimatnya sekaan mengisyaratkan kepada para pelayan untuk tidak merasa khawatir.
" Apa yang kamu katakan benar Kenzo! Baiklah aku akan menaikkan gaji para pelayan di rumah ini karena sudah membantu putraku! Apa yang Alzam katakan turuti selagi itu tidak membuatnya rugi! Apa kalian paham!," Ucap Abraham dengan tegas.
" Baik Tuan!," Sahut semua pelayan di ruangan itu.
Tidak lama, Alzam sudah turun dengan penampilannya seperti biasa. Wajahnya masih ia tutup dengan masker. Ia masih belum cukup untuk percaya diri menampilkan wajahnya di tempat umum.
" Kenzo, ayo berangkat!," Ajak Alzam.
Alzam tak lupa juga berpamitan pada Abraham, setelah itu mereka berdua segera berangkat meninggalkan kediaman Abraham.
Saat keluar dari pagar yang menjulang tinggi ke atas itu, tanpa sadar sepasang elang mata ternyata sedang mengintai Alzam dan Kenzo.
" Ikuti mobil itu! Aku yakin Kenzo pasti bersama dengan Alzam!,"....
ππππππ
Azkia sudah bersiap, menghirup udara di luar kos nya. Baru saja Azkia ingin mengunci pintu. Tiba-tiba saja seseorang menyentuh pundaknya, lalu membawa Azkia masuk ke dalam kosnya tanpa mengatakan satu kata pun.
Azkia membulatkan matanya saat pria itu menutup kedua mulut Azkia. Wangi parfum yang sudah tak asing baginya. Wangi rambutnya bari kali ini Azkia menghirupnya begitu segar.
__ADS_1
" Jangan ribut! Okey!," Ujar seseorang itu lalu Azkia hanya mengangguk kepalanya.
Sesaat kemudian, Azkia mendengar di balik jendela seseorang yang sedang berbicara dengan nafas ngos-ngosan. Apa yang terjadi?. "Apa dia sedang di kejar oleh orang-orang berjas hitam itu?" Pikir Azkia saat mengintip sedikit dari jendela kecil di kosan miliknya.
Saat para orang-orang berjas hitam itu pergi, seseorang itu melepaskan Azkia hanya saja jarak di antara mereka berdua begitu dekat hingga seseorang itu bisa merasakan hembusan nafas Azkia.
" Alzam!" Gumam Azkia.
Tatapan mata yang seakan tak ingin lepas, Alzam menatap mata Azkia begitu dalam dan Azkia juga begitu terpanah dengan tatapan Alzam. Entah naluri dari mana Alzam miliki, pria itu menyentuh pipi Azkia begitu terasa hangat.
Saat Alzam mulai mendekatkan wajahnya ke arah Azkia, reflek tanpa sadar Azkia memejamkan matanya. Namun sesaat kemudian Azkia tak merasakan apapun malah ia hanya mendapatkan tawa kecil dari Alzam.
" Ada kotoran di jilbab mu! Maaf tiba-tiba aku menerobos kos mu tanpa izin!," Ujar Alzam. Pria itu berusaha tenang saat jantungnya sudah hampir ingin copot dari tempatnya. Sebenarnya Alzam sesaat terbuai dengan kecantikan Azkia. Hanya saja saat ingin mengikuti nalurinya sebagai seorang pria, ke tidak percayaan diri Alzam muncul. Akhirnya ia melepaskan Azkia dengan alasan sebuah kotoran.
Alzam sedikit menjauh dari Azkia saat sering handphone nya berbunyi, ia segera mengangkat saat melihat nama Kenzo di layar ponselnya.
Azkia berusaha mengontrol perasaannya saat Alzam sedang menelefon. Wajahnya pasti saat ini begitu merah apalagi dengan bodohnya Azkia menutup kedua matanya seperti itu.
" Ah dasar Azkia! Ada apa dengan mu!," Batin Azkia.
Bersambung....
Jangan lupa untuk:
π Like
π¬ Komentar
β€οΈ Favorit
__ADS_1
ποΈ Vote
βπ₯ Berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini