
Hujan lebat seketika membasahi ibukota sore kala itu, Azkia begitu kesal dengan dirinya sendiri Karen menolak tawaran Rizkiya untuk pulang bersamanya.
Padahal jika ia pulang bersama Rizkiya, ia tak perlu kedinginan diluar perpus saat ini. Apalagi langit semakin semakin gelap.
Tetesan hujan seakan tak akan pernah berhenti bersama angin begitu kencang ikut meramaikan suasana, Azkia menatap kearah langi lalu sesekali wanita itu mengusap kedua tangannya untuk mencari kehangatan.
" Padahal siang tadi begitu panas!," gumam Azkia.
tidak lama saat Azkia duduk menunggu hujan reda sepasang jeket terasa begitu hangat menyelimuti tubuh Azkia.
Azkia berbalik menatap kearah belakang, menatap Alzam yahh tersenyum di balik masker yang selalu ia gunakan.
" kamu! Kenapa bisa ada di sini?," tanya Azkia.
" Aku sedang mencari sesuatu dan ternyata aku malah terjebak hujan dan melihat mu duduk sendiri jadi aku menghampiri mu!," jelas Alzam begitu santai. tanpa ada persetujuan Azkia, pria itu malah langsung duduk di samping Azkia.
" Kamu memiliki mobil kenapa kau tidak menghubungi Kenzo untuk menjemput mu?," tanya Azkia
" Sepertinya aku memilih pilihan tepat untuk tidak menghubunginya!," balas Alzam dengan wajah tersenyum menatap Azkia.
sudah begitu lama Alzam merindukan untuk mengobrol seperti ini bersama Azkia, walau terbilang baru seminggu lebih Alzam tak berbicara kepada Azkia tapi rasanya sudah hampir setahun mereka tidak tegur sapa seperti biasanya.
"Maafkan aku!," ujar Alzam membuka pembicaraan.
" Kau meminta maaf kepada ku! untuk apa ?" tanya Azkia.
" Maaf aku melakukan kesalahan yang melukai perasaan mu! Maaf aku tidak mencoba mencari tau masa lalu mu tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada mu!," ucap Alzam begitu tulus, sudah sangat lama Alzam memendam semua ini untuk di sampaikan kepada Azkia.
Azkia tersenyum lalu menatap kearah langit, cuacanya begitu sangat gelap di tambah dengan awan hitam yang menutupi kota metropolitan kala itu.
" Aku tidak marah padamu! Aku hanya tidak ingin kau mencintaiku! Aku merasa tidak pantas dengan lelaki manapun apalagi dengan kondisi ku seperti ini!," jelas Azkia, senyum pahit seakan ia menertawakan kehidupannya sendiri. Takdir yang Tuhan ciptakan untuk dirinya sangat mempermainkan perasaanya saat ini.
" Kenapa kau mengatakan hal seperti itu! Kau sangat pantas untuk di cintai! Apa Hanya karena kau pernah menikah lalu kau menganggap dirimu tidak pantas untuk di cinta!," ujar Alzam, pria itu begitu kesal mendegrkan penuturan Azkia. Wanita itu terlalu merendahkan dirinya sendiri.
Azkia menatap kearah Alzam, beningan Ari mata terlihat di sana, tanpa rasa takut Alzam memeluk Azkia begitu erat. Alzam sangat paham saat ini Azkia hanya butuh untuk berdamai dengan masa lalunya.
" Hiks...hiks...hiks..! Aku selalu dikatai sebagai wanita sial! Aku wanita rusak yang sudah tidak pantas untuk di pakai!," ujar Azkia di tengah tangisannya dalam pelukan Alzam.
Alzam mengusap punggung Azkia untuk menenangkan orang yang sangat ia cinta.
" Jangan mendegrkan ucapan orang seperti itu! Kamu bukan sebuah barang, bila rusak kamu akan tidak berguna! Dimataku kamu berlian berharga yang Tuhan kirimkan untukku!," tutur Alzam begitu lembut tentu mendegrkan ucapan Alzam, Azkia malah bertambah sedih.
__ADS_1
Selama ini hanya Alzam yang mengatakan hal baik tentang statusnya. Wanita yang pernah menikah dan gagal dalam pernikahannya bukanlah wanita baik di kampung tempat Azkia tinggal.
" Jangan mengatakan hal baik padaku!," ujar Azkia ia melepaskan pelukannya dari Alzam lalu menghapus jejak air matanya sendiri.
" apa boleh aku mendegrkan kisah mu dari mulutmu sendiri! tapi jika kau mengizinkannya, jika berat bila kau menceritakannya kepada ku tidak apa-apa! Aku bisa mengerti!," ucap Alzam.
Azkia mulai menenangkan perasaan lalu menatap wajah Alzam. Hidungnya begitu merah, mata nya sembab Azkia saat ini berusaha untuk mengendalikan segala emosional nya jika membahas tentang masa lalunya.
" Kisah yang tak begitu bagus! Takdir yang tak berpihak dan cinta yang mungkin tak tulus padaku!," jelas Azkia .
mendegrkan itu Alzam mengangkat alisnya mulai mencerna perkataan Azkia.
" Saat itu aku menduduki bangku SMA kelas tiga......"
Flash Back On
E****mpat tahun yang lalu
Gadis cantik yah begitu periang, memiliki teman begitu banyak, siapapun disekolahkan itu pasti akan mengenal Azkia Nanda Putri. Wanita berprestasi dan juga sangat populer.
Azkia bagai bunga kembang mawar sekolahannya saat itu, begitu cantik namun sangat susah untuk di dekati. Berbagai lelaki berusaha untuk menaklukkan Azkia namun tak siapapun bisa menaklukkan hatinya.
Saat Azkia masih menduduki bangku sekolah SMP kelas satu, wanita itu menyukai pacar sepupunya. Ia sangat kagum dengan kebaikannya apalagi lelaki itu begitu ramah dan senyumnya sangat ramah kepada siapapun.
Tetapi saat putus dengan sepupunya sejak saat itu Azkia tak pernah bertemu dengan pria tersebut. Hingga saat Azkia menduduki bangku sekolah atas akhir, takdir malah mempertemukan mereka tanpa sengaja.
Mereka mulai mengobrol hingga bertukar nomor, bahagia Azkia rasakan hingga ia tak merasakan ada hal yang aneh dari teman lamanya ini. Azkia telah di butakan oleh namanya cinta.
Saat berapa bulan mereka berteman, akhirnya Azkia bersama teman lamanya menjalin sebuah hubungan spesial. Azkia selama pacaran sebenarnya diperlukan tidak baik oleh kekasihnya itu. Namun karena hati yang tak searah dengan pemikiran membuat Azkia tidak mempedulikan gak tersebut.
Saat Azkia sudah lulus Sekolah, kekasihnya itu mengajak Azkia untuk menikah. Awalnya Azkia menolak tetapi kekasihnya meyakinkan Azkia dan berjanji akan menyekolahkan Azkia sampai menegang gelar sarjana.
Mendegar itu tentu Azkia sangat bahagia, walau keluarga Azkia sudah melarangnya karena mereka tau seperti apa sifat laki-laki yang Azkia cintai tetapi Azkia yang sudah terbuai oleh janji manis kekaisarannya malah tidak mempedulikan apa yang keluarganya katakan.
"Azkia! Apa tidak ada laki-laki lain yang lebih baik dari dia!," ujar Kaka pertama Azkia dengan nada begitu tinggi.
" Tidak ada kak! aku mencintainya dan aku yakin saat kamu menikah dia akan berubah!," ujar Azkia penuh percaya diri.
" cih! Jangan bermimpi kamu Azkia, Kaka sudah sangat hafal dengan sifat calon suamimu itu, potong tangan Kaka jika dia berubah!" sambung Kaka kedua Azkia menatap Azkia penuh kemarahan.
" sudah cukup! Aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan! Aku yakin aku bahagia, dia pria baik! Aku mohon kak setujui lah pernikahan kami aku benar-benar mencintainya!," ujar Azkia begitu lembut sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Ibu dan bapak Azkia yang merasa kasihan berusaha menenangkan kedua anaknya.
Ibu Azkia berjalan menghampiri Azkia yang duduk di sofa. Begitu lembut ibu Azkia mengusap kepala putri bungsunya itu.
" Apa kamu mencintai pria itu?," tanya ibu Azkia.
" Aku mencintainya Ibu! Aku yakin dia pasti akan berubah!," ujar Azkia.
Ibu Azkia tersenyum lebar lalu pengusap kepala Azkia sangat lembut. Ia menatap wajah Azkia begitu lekat.
" kenapa ibu menatapku seperti itu?," tanya Azkia.
" Ibu hanya tidak menyangka putri bungsu ibu sudah sebesar ini!," Tutur ibu Azkia sangat lembut. Mendegrkan hal itu Azkia lalu memeluk ibunya begitu erat.
" Ibu!"
" Ibu sangat paham dengan apa yang kamu katakan dan perasaan yang kamu katakan sayang! Tapi pernikahan bukan sebuah mainan, pernikahan bukan hanya satu dua hari tapi untuk selamanya kamu akan hidup bersama dengan orang yang sama, sifat yang sama," tutur ibu Azkia lembut memberikan pengertian kepada sang Putri kecilnya.
" Tapi Azkia mencintainya!," balas Azkia dengan ekspresi sendunya
" Putri kecil ibu boleh ibu bertanya kepada mu?," tanya ibu Azkia memeluk sang putri dengan hangat.
" boleh ibu?," balas Azkia
" Apa Azkia merasa bahwa calon suami Azkia saat ini benar-benar akan bisa membimbing Azkia?".
Deg .....
Bersambung...
Jangan lupa untuk
👍 Like'
💬 Komentar
❤️ Favorit
🎟️ Vote
🥀☕ Berikan Hadiah jika kalian menyukai novel ini
__ADS_1